setelah tiga tahun menjalani rumah tangga bersama dengan Amran, Zahira tetap tidak bisa membuat lelaki itu mencintainya. Amran selalu memperlakukan Zahira dengan sangat kejam. Seakan Zahira adalah barang yang tidak berguna.
sebaik apapun hal yang sudah Zahira lakukan, selalu saja tidak bernilai dan kurang di mata Amran.
" aku ingin bercerai!" ucap Zahira dengan lugas. meskipun tanganya mengepal kuat, namun semua itu adalah refleksi dirinya agar kuat dan tidak goyah dengan rayuan Amran.
" memangnya kau bisa apa setelah bercerai dariku?" Amran selalu bisa menghina Zahira dan melukai harga diri wanita itu.
Amran membuang wanita itu dan Zahira bertekad untuk tidak memberikan kesempatan bagi Amran. Lelaki yang tidak bisa lepas dari hutang budinya pada wanita lain, tidak akan Zahira pikirkan lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lafratabassum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Beberapa telah hari berlalu dengan sepi. Amran dan Zahira sama sekali tidak berkomunikasi. Mereka seperti sedang melakukan gencatan senjata. Amran masih fokus memasang strategi. Dan salah satu caranya adalah dengan mencarikan pendonor dalam waktu singkat.
Sedangkan saat ini Zahira juga fokus mengumpulkan uang. Dia baru saja mendapatkan pekerjaan sebagai pemain biola tunggal di restoran ternama. Setiap harinya dia akan melakukan pertunjukan dengan bayaran yang lebih tinggi daripada di kafe pak Norma.
Hanna memberinya tempat yang bagus. Sebenarnya Zahira tidak ingin merepotkan wanita itu. Namun dia terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
" kamu akan mendapatkan 5 juta dalam sekali tampil Zahira. Dan kamu juga bebas menentukan berapa kali kamu akan bekerja. Ini sungguh penawaran yang bagus. Bukankah kamu memang ingin mandiri dan segera menghasilkan banyak uang?" Hanna meyakinkan Zahira. Meski sebenarnya dia mendapatkan pekerjaan ini lewat salah satu kolega bisnis Kevin, dan tentu saja akan ada udang di balik batu atas bantuan lelaki itu.
Zahira jelas tergiur, namun dia juga tidak mau merepotkan Hanna dengan keadaannya ini " kamu nggak sedang mengatur segala nya untukku kan? "
" enggak Zahira. aku bahkan tidak kenal pemilik restoran itu. Ini murni karena mereka sedang membutuhkan pemain musik" kilah Hanna dengan sangat meyakinkan.
Sejujurnya apa yang Hanna katakan bukanlah kebohongan. Dia sama sekali tidak mengetahui pemilik restoran itu. Semua murni pengaturan dari Kevin.
" baiklah kalau begitu"
Hanna tersenyum senang atas persetujuan Zahira. Dan besoknya Zahira sudah mulai kerja.
Zahira terpaksa mencari pinjaman biola untuk pementasan nya. Karena biola miliknya masih belum kembali. Meskipun dia mengetahui jika biola miliknya pasti di sembunyikan oleh Amran, Zahira tidak mau lagi mencari nya. Takutnya lelaki itu sudah menyiapkan jebakan di sana.
Malam itu sepulangnya dari bekerja, Zahira melihat mobil Bentley hitam terparkir di pelataran kediaman Malik. Tanpa di kasih tau pun dia sudah sangat mengenal siapa pemilik mobil itu.
Dengan langkah malas Zahira memasuki rumah. Begitu sampai di ruang tamu, semua mata menatap ke arahnya. Di sana sudah ada Rani, Amran dan juga Dokter Bam.
Perasaannya mulai gelisah, kehadiran Dokter Bam di sini pasti berhubungan dengan Kesehatan Arfan. Zahira tidak memberikan sapaan, wanita itu langsung duduk di samping Rani.
Suasana hening sesaat lalu kemudian Amran memberikan penutup " kalau begitu kami pamit pergi dulu, "
Belum juga Zahira duduk, Amran lebih dulu meminta pergi. Zahira tidak mengira Amran akan pergi begitu saja. Karena awalnya dia berpikir mereka sedang menunggu kedatangan nya.
Tatapan Zahira dan Amran bertemu. Kedua diam beberapa saat baru setelah nya Amran membuka percakapan. Nadanya begitu lembut dan penuh perhatian. Seperti suami idaman di luar sana Amran menatap Zahira begitu dalam " aku lihat kamu semakin kurus saja. Jangan terlalu keras pada dirimu ya. Aku menunggu kepulangan mu nyonya Renaldi"
ekspresi wajah Amran terlihat aneh bagi Zahira. Tidak marah ataupun mengejeknya. Amran terlihat muram, apa mungkin lelaki itu merindukan nya.
Zahira tidak menjawab apapun, dia hanya menatap kepergian 2 orang itu. Firasatnya tidak enak, Amran pergi dengan sangat tenang tanpa pertikaian.
Barusaja dia memikirkan nya, Rani sudah kembali dan berjalan mendekati nya dengan berkata " Arfan mendapatkan pendonor! Ini kabar baik Zahira. Besok kamu kembali lah ke Villa Renaldi, semua berkas terkait operasi dan pendonor Arfan akan Amran berikan padamu"
Benar bukan!
Amran sengaja menyembunyikan hal ini darinya demi menghindari perselisihan. Jika sudah masuk ke villa Renaldi rasanya dia masuk ke dalam labirin.
Dia harus mencari berbagai cara agar bisa keluar dari sana. banyak sekali jalan buntu yang malah akan membuat nya terjebak di sana.
Karena tidak mendapatkan jawaban Rani memanggil Zahira yang tengah melamun " Zahira! Kau tidak keberatan bukan? !" Zahira mengangguk pelan.
" syukurlah ibu akan membicarakan hal ini pada Arfan" Rani terlihat sangat senang akan hal ini. Dia juga senang bukan kepalang.
Namun kegelisahan hatinya membuat ganjalan dalam hatinya. Zahira tidak mungkin menggagalkan pengobatan Arfan.
Meskipun dia tidak yakin Amran akan memberikan jalan yang mudah baginya. apalagi lelaki itu tidak membicarakan tentang berkas perceraian pada Rani. Padahal surat itu sudah di kirimkan beberapa hari yang lalu.
Membuktikan jika Amran sedang merencanakan sesuatu. Jadi kali ini dia tidak akan berekspektasi lebih.
Zahira datang ke Villa saat jam sarapan. berharap Amran sudah pergi atau setidaknya dia akan terburu-buru pergi ke kantor.
Ternyata dugaannya salah, begitu sampai kediaman semua pelayan nampak senang. Mereka dengan ramah menyambut Zahira.
" tuan sudah menunggu anda sedari tadi nyonya. Bahkan menunda sarapan sampai anda datang" Ucap salah satu pelayan.
Zahira berjalan menuju ruang makan. Begitu melihat Zahira duduk, pelayan segera menyiapkan semua menu nya.
" aku sengaja meminta pelayan memasak makanan kesukaan mu"
Suara Amran terdengar dari ambang pintu ruangan. Sejak tadi dia sudah mengetahui kedatangan Zahira dari jendela ruang kerjanya.
Amran berjalan dengan tenang. Bahkan Zahira menyadari penampilan lelaki itu yang terlihat santai.
" kamu tidak ke kantor hari ini?" Zahira bertanya sesaat setelah Amran duduk di hadapannya.
Lelaki itu menggeleng pelan. Maniknya begitu dalam menatap Zahira. Mereka adu pandang dalam kebisuan.
Wajah Amran terlihat tidak terurus, jambang dan kumis tipis tumbuh halus menghiasai wajahnya dan lelaki itu terlihat lebih muram. Hanya beberapa hari saja Amran nampak berbeda dari terakhir mereka bertemu.
beberapa saat setelahnya makanan sudah tersaji. Dari aromanya begitu menggugah Zahira. Wanita itu menatap meja makan dengan seksama.
Tidak ada yang salah, semuanya adalah makanan kesukaan. Darimana Amran mengetahui nya?.
" makanlah, selagi hangat" Amran memberikan senyum tipis. Begitu tidak biasa bagi Zahira.
lelaki itu bertingkah aneh sekali. Saat ini mereka terlihat begitu akur dan serasi. Selayaknya suami istri yang sedang sarapan bersama.
Waktu berlanjut, Amran mengajak Zahira masuk ke ruang kerjanya. Zahira lebih sering diam, sikap Amran yang terus merendah membuat Zahira tidak kuasa melemparkan kemarahan.
Namun semuanya berubah saat Amran memberikan 2 berkas yang berbeda padanya.
" apa ini?" Zahira mengerutkan keningnya.
" kamu bisa membacanya. sebelah adalah berkas perceraian dan sebelah lagi pelaksanaan operasi Arfan. Aku hanya akan memberikan tanda tanganku pada salah satu berkas tersebut" jelas Amran yang nampak puas.
Zahira mengambil nafas dalam, saat ini dia tidak tau bagaimana menghadapi Amran. Lelaki ini berubah dan pintar sekali memanipulasi keadaan " Amran sebelumnya aku sempat berpikir untuk berterima kasih padamu dengan tulus karena sudah memperhatikan kesehatan Arfan. Ternyata aku lupa, jika selama ini kamu tidak pernah tulus saat menolong seseorang. Amran, apa ini alasan sikap baikmu padaku ? "
Amran berjalan lalu berdiri di depan Zahira. Wanita itu sampai mendongak untuk bisa menatap wajah Amran yang angkuh. " Zahira, jangan salahkan aku. Kamu sendiri yang membuat ku melakukan hal ini. Zahira kembali lah menjadi nyonya Renaldi yang patuh"
Gejolak amarah langsung memenuhi dada Zahira. Dia seketika ingin berteriak dan memukul kepala Amran dengan keras. " aku tidak mau Amran!. Mau sekeras bagaimana pun kamu mendorong ku. Aku tidak akan bisa menjadi nyonya Renaldi seperti dulu lagi "
" aku harus mengingatkan mu Zahira. Saat ini keberlanjutan keluarga Malik ada di tanganku. kalau kau terus bersikeras, kamu akan kehilangan segalanya " Amran tidak mau kalah. Dia mengungkung Zahira dengan kedua tangan bertumpu pada sandaran kursi sedang Kedua wajah mereka saling bertemu.
" apa kamu sedang mengancam ku?!" dada Zahira terasa semakin sesak. Wanita itu salah mengira dengan sikap Amran sebelumnya, ternyata sudah ada bom waktu yang menunggu di sini.
" jika itu berguna kenapa tidak. Aku tidak akan membiarkan mu pergi dengan mudah dari keluarga Renaldi "
Inilah waktunya. setelah gencatan senjata beberapa waktu yang lalu. Sekarang waktunya menyerang melemparkan semua persenjataan. Amran jelas lebih unggul daripada Zahira yang tidak punya kuasa sedikitpun.
Dengan dilingkupi rasa tidak terima Zahira membalas dengan penuh penekanan " aku sangat membenci mu Amran!. Semua rasa cintaku saat lalu hampir sama besar nya dengan rasa benciku padamu saat ini"
Amran malah tersenyum mengejek dan dengan wajah senang membalas Zahira " tidak masalah kamu membenci ku, selama kamu akan tetap di sisiku, nyonya Renaldi "
cuma istrinya aja kelewat bego, mau²nya di manfaatin sm laki modelan kek gt
na'udzubillah...