“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 9
Setelah Miranda berani meminta pekerjaan dari sopir pikap dan menerima baju bekas milik orang yang telah meninggal, kepercayaan dirinya tumbuh perlahan. Rasa takut yang semalam mencengkeram dadanya mulai mengendur, digantikan keyakinan kecil bahwa ia masih mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Miranda mulai memberanikan diri menawarkan tenaga ke toko-toko di sekitar pasar dan kepada mobil yang sedang melakukan bongkar muat. Ia mendekat dengan sopan, menunduk sedikit, lalu berkata pelan bahwa ia siap membantu apa saja.
Beberapa sopir mengizinkannya bekerja. Mereka tidak keberatan karena Miranda tidak pernah meminta bayaran tertentu. Setiap kali ditanya soal upah, Miranda selalu menjawab dengan kalimat yang sama,
“Bayar seikhlasnya saja, Pak.”
Awalnya orang-orang mengira ucapan itu hanya cara untuk menarik simpati. Namun setelah melihat cara kerja Miranda yang cekatan dan tidak banyak bicara, anggapan itu perlahan hilang. Ia mengangkat kardus dengan hati-hati, menyusun karung tanpa diperintah, dan tidak pernah mengeluh meski keringat membanjiri wajahnya.
Dari beberapa kali membantu bongkar muat, Miranda berhasil mengumpulkan uang lima puluh ribu rupiah. Baginya jumlah itu terasa seperti harta besar. Ia memandangi lembaran uang di tangannya dengan mata berkaca-kaca. Keyakinan baru tumbuh di hatinya, bahwa di mana ada kemauan, di situ ada jalan.
Namun tidak semua orang senang dengan kehadiran Miranda.
Di sudut pasar, beberapa lelaki berkumpul sambil memandangi Miranda dari kejauhan. Wajah mereka tidak bersahabat.
“Kalau seperti ini terus, pendapatan kita bisa berkurang,” ucap Tarno dengan nada kesal.
Tino meneguk kopinya lalu mengangguk. “Iya. Dia orang baru, langsung saja nawarin kerja tanpa pasang tarif. Ini bisa menghancurkan bayaran kita.”
“Tidak bisa dibiarkan,” sahut yang lain. “Kita harus laporkan ke Bang Karman. Enak saja kita setoran terus, tapi ada orang baru ambil kerjaan malah dibiarkan.”
Yono mengambil ponsel dari saku celananya lalu menelepon Karman. Intinya mereka ingin agar Miranda diberi pelajaran, supaya tidak seenaknya masuk ke wilayah mereka.
Sementara itu Miranda sedang menyeka keringatnya. Punggungnya terasa pegal, tangannya banyak lecet, dan seluruh tubuhnya sakit. Namun hatinya justru merasa bahagia. Ternyata lepas dari rumah Raka dan keluarga angkatnya tidak semenakutkan bayangannya. Ketakutan yang selama ini menghantuinya hanyalah ilusi yang dibangun oleh pikirannya sendiri.
Waktu zuhur tiba. Miranda menuju kamar mandi umum. Kini ia memiliki sebotol air mineral pemberian sopir, sehingga tidak perlu lagi minum air keran atau air hujan seperti semalam.
Ia mandi dengan air seadanya. Sebenarnya ia ingin mencuci baju, tetapi bingung harus menjemurnya di mana. Akhirnya niat itu ia urungkan.
Miranda mengenakan baju bekas milik orang yang telah meninggal. Pakaian itu masih berbau kapur barus. Membayangkan pemiliknya membuat Miranda bergidik ngeri. Jika dulu, mungkin ia akan memilih memakai baju lusuh daripada baju bagus bekas orang mati. Namun sekarang keadaannya berbeda. Ia akan memakai apa pun demi bertahan hidup.
Setelah rapi, Miranda keluar dari kamar mandi, mencari musala kecil di sudut pasar lalu melaksanakan salat zuhur. Di dalam sujudnya ia berjanji tidak akan meninggalkan ibadah.
“Sudah sebatang kara, diceraikan suami, dibuang keluarga. Kalau aku meninggalkan salat, sungguh terlalu. Berarti tidak ada lagi yang bisa kubanggakan,” bisiknya lirih.
Usai salat, Miranda mencari makan siang. Wajah kusamnya kini tampak sedikit lebih segar. Ia masuk ke sebuah warteg sederhana. Kali ini tidak ada drama pengusiran atau dianggap orang gila, karena penampilannya sudah jauh lebih baik.
“Setengah hari saja aku sudah bisa mengumpulkan lima puluh ribu. Ini luar biasa,” pikir Miranda sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
Dalam hati ia berjanji akan bekerja lebih giat lagi.
Namun harapan kadang tidak sejalan dengan kenyataan.
Saat Miranda keluar dari warteg, tiba-tiba terdengar teriakan dari kejauhan.
“Itu dia wanitanya!” seru seorang pria gondrong.
Miranda menoleh. Beberapa lelaki bertubuh kekar menatap tajam ke arahnya. Langkah mereka lebar dan penuh intimidasi.
“Gila, mereka preman,” batin Miranda.
Naluri bertahannya langsung memerintahkan satu hal, lari.
“Sial, dia malah lari!” teriak pria gondrong itu.
Miranda berlari sekuat tenaga menjauh dari gerombolan tersebut. Dalam hati ia bingung dan bertanya, mengapa mereka mengejarnya. Namun bukan saatnya mencari jawaban. Yang terpenting sekarang hanyalah bertahan hidup.
Napas Miranda terengah. Kakinya tersandung batu lalu ia terjatuh. Telapak tangannya lecet, lututnya berdenyut sakit.
Orang-orang itu semakin mendekat. Miranda bangkit meski tubuhnya perih.
“Aku tidak mau menyerah,” katanya pada diri sendiri.
Ia terus berlari hingga menemukan sebuah truk besar yang tertutup terpal. Tanpa berpikir panjang, Miranda meloncat naik ke bak truk yang berisi tumpukan daun pisang. Ia merunduk di dekat pintu bak, berusaha menyembunyikan diri.
“Ke mana dia? Berani-beraninya ambil lahan kita. Kalau ketemu, akan kuhajar sampai tidak berbentuk,” terdengar suara seorang lelaki.
Mendengar itu tubuh Miranda gemetar. Mulutnya komat-kamit membacakan doa apa saja yang ia hafal.
“Sepertinya di truk,” kata suara lain.
Jantung Miranda berdegup semakin keras. Ketakutan menyesakkan dadanya.
Langkah para lelaki itu makin mendekat. Dalam kepanikan Miranda berbisik,
“Mungkinkah ini akhir hidupku?”
Tiba-tiba terpal bak truk ditutup rapat dari luar.
“Kamu lihat orang tidak?” terdengar suara Karman.
“Tidak tahu, Bang,” jawab sopir truk.
“Kami mau periksa mobil ini dulu,” kata Karman lagi.
“Tidak bisa, Bang. Saya dikejar waktu. Ini barang milik Pak Handoko,” jawab sopir dengan tegas.
Mendengar nama itu, Karman mengurungkan niatnya. Langkah mereka menjauh. Miranda menghela napas panjang. Untuk sementara ia aman.
Sementara itu di tempat lain, suasana hati Raka sudah kacau sejak pagi. Ia memacu kendaraannya dengan cepat menuju kantor. Setelah memarkir mobil, ia berjalan ke arah alat pemindai mata untuk membuka pintu sekaligus absensi.
Begitu masuk ruangan, ia melirik jam dinding. Hampir pukul delapan. Ini rekor keterlambatan terburuk sepanjang kariernya. Selama ini Raka dikenal disiplin dan tidak pernah datang lewat dari menit pertama.
Andi, rekan kerjanya, sedang sibuk mengetik laporan.
“Tumben telat, Bro,” ucap Andi tanpa menoleh.
“Biasalah, ada masalah di rumah,” jawab Raka sambil menyalakan komputer.
“Ponselmu mati, ya?” tanya Andi.
Raka baru sadar. Ia panik mencari ponselnya. Tas dibongkar, tetapi tidak ketemu.
“Nyari apa lu, Bro?” Andi kini berdiri memperhatikan.
“HP gue mana?” tanya Raka kesal.
“Itu di kantong bajumu,” jawab Andi sambil menunjuk.
“Ah, kenapa gue bisa lupa,” gumam Raka.
“Lu tidak lihat grup, ya?” tanya Andi lagi.
Raka menggeleng sambil berusaha menyalakan ponsel.
Andi menyodorkan pengisi daya. “Baterainya habis, ya? Cas dulu.”
Raka menerima lalu mengecas ponselnya.
“Lu tahu tidak, Pak Riko lagi nyariin lu. Di grup sudah ramai menunggu penjelasan dari lu,” kata Andi.
Raka terdiam. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Selama ini ia tidak pernah memikirkan hal-hal kecil seperti mengisi daya ponsel atau menyiapkan kebutuhannya. Semua berjalan lancar karena ada Miranda yang diam-diam mengurus segalanya.
Baru sekarang Raka menyadari satu kenyataan pahit.
Tanpa Miranda, hidupnya ternyata berantakan.
gemes bgt baca ceeitanya