Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
murka sang naga cemburu
Keheningan Istana Naga malam itu terasa sangat tidak wajar. Begitu kaki Mei Lin melangkah turun dari kereta kuda, ia disambut oleh wajah-wajah pelayan yang pucat pasi dan tubuh yang menggigil ketakutan. Mereka tidak berani menatap matanya, hanya menunjuk ke arah aula utama dengan tangan yang gemetar.
"Yang Mulia... tolong hentikan Beliau," bisik salah seorang pelayan tua dengan suara tercekik. "Kaisar telah kehilangan akal sehatnya."
Mei Lin berlari menuju aula, dan semakin dekat ia melangkah, bau amis darah semakin menyengat, memenuhi udara hingga membuatnya mual. Saat pintu aula terbuka, sebuah pemandangan mengerikan tersaji di depan matanya. Lantai marmer putih yang biasanya mengkilap kini berubah menjadi sungai merah. Di tengah ruangan, beberapa pengawal istana yang bertugas menjaganya tadi sore telah menjadi mayat yang tak utuh lagi.
Jian Feng berdiri di tengah reruntuhan nyawa itu. Jubah kebesarannya basah kuyup oleh darah, bukan darahnya sendiri, melainkan darah pria-pria yang baru saja ia bantai dengan tangan kosong dan pedangnya. Napasnya memburu, matanya merah menyala oleh kegilaan posesif yang tak terkendali.
Begitu Jian Feng melihat kehadiran Mei Lin, ia melemparkan pedangnya yang berlumuran darah ke lantai. Suara denting logam itu menggema memilukan di seluruh ruangan.
"Ada banyak orang yang tak bersalah mati hari ini hanya karena mereka membiarkan seorang pria menyentuhmu!" raung Jian Feng. Suaranya menggelegar, bergetar oleh amarah yang sanggup meruntuhkan tembok istana. "Katakan padaku! Siapa pria itu? Katakan siapa yang berani meletakkan tangannya pada pinggangmu sebelum aku membantai seluruh penduduk di kota itu lagi dan lagi!"
Mei Lin jatuh terduduk, tubuhnya gemetar hebat melihat kekejaman yang tak terbayangkan ini. Ia menyadari bahwa mata-mata Jian Feng tetap melaporkan kejadian "tersandung" itu, meskipun mereka tidak mendengar percakapannya di dalam gubuk.
"Dia... dia hanya membantuku agar tidak jatuh! Tidak lebih dari itu, Yang Mulia!" teriak Mei Lin di tengah isak tangisnya. Suaranya parau, mencoba memberikan penjelasan di tengah keputusasaan. "Tolong hentikan kegilaan ini! Dia hanya orang asing yang lewat!"
Mendengar pengakuan Mei Lin bahwa pria itu memang menyentuhnya—meski dengan alasan membantu—justru membuat Jian Feng semakin murka. Ia melangkah mendekati Mei Lin dengan langkah yang berat, mencengkeram bahu gadis itu hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit Mei Lin yang halus.
"Membantu? Hanya membantumu?!" Jian Feng berteriak tepat di depan wajah Mei Lin, matanya melotot penuh kebencian. "Tidak ada tangan pria lain yang boleh menyentuhmu! Bahkan jika kau jatuh ke dalam jurang sekalipun, kau tidak boleh membiarkan orang lain meraihmu kecuali aku! Kau adalah Tian-Zhi-Bao! Kau adalah milikku sampai ke sel darahmu!"
Jian Feng menghempaskan tubuh Mei Lin ke lantai yang bersimbah darah. Amarahnya belum padam; ia merasa terhina karena ada pria lain yang merasakan kehangatan kulit wanita yang ia puja. Baginya, bantuan pria itu adalah sebuah invasi terhadap wilayah kedaulatannya.
"Cari pria itu!" perintah Jian Feng kepada jenderal yang berdiri gemetar di pintu. "Cari pria dengan ciri-ciri yang dilaporkan mata-mata. Jika kau tidak menemukannya dalam tiga hari, aku akan membakar seluruh desa tempat wanita ini berasal hingga menjadi abu!"
Mei Lin menjerit histeris, mencoba memeluk kaki Jian Feng yang berlumuran darah. "Jangan! Aku mohon, jangan sakiti keluargaku! Aku akan melakukan apa saja, aku akan menjadi apa pun yang kau mau, tapi tolong jangan sentuh mereka!"
Jian Feng menatap Mei Lin dengan tatapan yang sangat dingin namun penuh gairah gelap. Ia mengangkat wajah Mei Lin yang kini ternoda oleh darah di lantai. "Kau akan tetap di sini, di bawah pengawasanku setiap detik. Dan untuk setiap detik kau memikirkan pria itu, satu nyawa akan melayang. Pilihlah dengan bijak, Harta Karunku."
Malam itu, Mei Lin menyadari bahwa gelar Tian-Zhi-Bao bukan hanya sebuah posisi mulia, melainkan kutukan yang mematikan bagi siapa pun yang berpapasan dengannya. Sang naga telah terbakar oleh api cemburu, dan tidak ada yang bisa memadamkannya kecuali kepatuhan mutlak yang menghancurkan jiwa Mei Lin.
Bersambung