sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.
wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra
Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.
Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedekatanku dan Alga
Mentari menyapaku dengan malu malu. Alga menjemputku berangkat ke sekolah bersama seperti sebelumnya. Terkadang aku berangkat bersama Tanala ataupun Alga.
Karena kemarin Alga berjanji akan menjemputku kini Alga sudah berada di rumahku untuk berangkat bersama. Aku yang sedang bersiap di atas mama berjalan mendekati Alga dan mulai pembicaraan yang serius di pagi ini.
" Alga tante tahu kamu adalah laki laki yang baik. Jaga Ila buat tante ya, Ila sedang kambuh sulit untuk mengontrol emosinya. Tante khawatir." Pesan mama kepada Alga dengan khawatir.
" Iya tante Alga akan menjaganya." Jawab Alga membuat mama sedikit tenang.
" Kemarin malam Ila sempat down, keadaannya sangat mengkhawatirkan Ga. Tante takut Ila akan semakin terpuruk. Tante juga gak tahu Aksa akan pulang kapan. Tante egois Ga hingga membuat anak tante dua duanya menderita. Mungkin tante gak akan bisa memaafkan diri tante jika anak tante kenapa napa di luar sana. Apalagi anak tante yang di sini keadaannya juga memburuk." Curhat mama pada Alga.
" Percayalah tan mereka akan baik baik saja." Ucap Alga menenangkan dan merasa tidak enak karena dia tahu Aksa ada di mana.
Obrolan itu telah usai karena terdengar bunyi sepatuku yang mulai mendekatinya. Mama bergegas pergi dari hadapan Alga untuk tidak membuat kecurigaanku.
"Al, lagi lagi kamu berada di sisiku bukan karena kamu. Tapi karena seseorang." Batinku kecewa pada Alga.
Aku mendengar pembicaraan mereka sedari awal. Aku bersembunyi saat tahu mama menghampiri Alga. Langkahku terhenti beberapa menit lalu saat mama dengan santainya duduk di depan Alga. Seperti yang ada dalam pikirku. Ini tentang aku bukan yang lain. Jadi aku memutuskan mendengarkan mereka dengan diam diam.
"Al ayo berangkat. Aku sudah siap." Ajakku berjalan menghampirinya.
Alga tanpa kata bangkit dari duduknya. Dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir rapi di depan rumahku.
Aku berjalan mengikutinya. Dia membukakan ku pintu mobilnya. Aku terdiam dengan perlakuannya.
"Kamu begitu menjiwai Al, aku takut." Batinku .
Aku takut terlena dengan semua perlakuannya. Aku takut diriku jatuh cinta terlalu dalam kepadanya. Aku masuk ke mobil dengan diam. Aku duduk memandang lurus ke jalanan di depan sana.
" Aku akan diam Ai , tanpa bertanya maupun pergi. Tapi, kamu jangan ragu untuk bercerita jika ingin. " Alga membuka obrolan dengan meyakinkan bahwa Alga akan mendengarkan tanpa banyak bertanya kepadaku.
"Terimakasih, tapi kali ini aku belum bisa bercerita padamu Al. Aku belum siap untuk bercerita. " Jawabku membuat Alga semakin yakin jika aku sedang tidak baik baik saja.
Sepanjang perjalanan di isi dengan keheningan. Kami berdua saling diam menikmati perjalanan. Mobil yang ku tumpangi bersamanya melaju dengan santai membelah kemacetan kota ini.
Terlihat gerbang sekolah yang semakin dekat membuatku bernafas lega. Aku menahan diri sedari tadi agar tidak bertingkah. Jantungku berdetak tak karuan setelah beberapa menit lalu dia menggenggam tanganku dengan lembut.
Mobil ini berhenti, Alga selesai memarkirkan mobilnya dengan benar. Aku buru buru keluar menghindarinya. Pipiku memanas saat aku melihat ke arahnya. Ada getaran aneh yang terjadi di dalam sana. Ini sulit, aku harus mengontrolnya.
" Ai kamu harus bahagia." Celetuk Alga berteriak di tengah parkiran itu sambil tersenyum menatapku. Aku dengan malu mengangguk dan pergi meninggalkannya.
"Jantungku berdetak kencang, ini salah." Aku membatin.
Dia merasa tenang jika berada di samping seorang Alga. Tanpa bercerita tanpa perlakuan apapun itu hanya di dekatnya membuat dia tenang.
" Hee, masih pagi La. Senyum senyum sendiri, awas kesambet. " Ucapa Tanala yang dengan tiba tiba berada di sampingku. Aku terkejut kapan Tanala berdiri di sampingku.
" Sejak kapan kamu ada di situ Na?? " Aku bertanya dengan heran kepada Tanala yang tersenyum jahil kepadaku.
" Sejak kamu senyum sendiri setelah melihat Alga yang berteriak kepadamu tadi. Aku melihatnya tanpa terkecuali. " Jawab Tanala menjelaskan masih dengan senyum jahil. Tanala sangat suka meledek ku. Sepanjang jalan dia terus meledek ku membuatku ogah ogahan bersamanya.
Aku duduk diam menghiraukan celotehannya sesampai di kelas. Dia seperti burung yang berkicau di pagi hari. Dia meramaikan pagi hatiku kini.
"La, kamu mempunyai rasa untuknya? " Tanala bertanya dengan tiba tiba. Mataku membesar saat mendengarkan pertanyaannya. Aku terdiam berpikir.
"Tapi dia tidak Na, dia hanya terikat janji" Aku menjawab tanpa mengatakan iya.
"Dia juga suka lo, La." Tanala memberiku pengertian. Dia memberiku harapan.
"Aku takut berharap, Na. " Aku menatap ke luar jendela. Di sana orang yang kita bicarakan sedang duduk santai.
"Dia sangat sempurna untukku. Dia terlalu jauh untuk aku gapai. " Aku memandangnya lekat dari kejauhan.
"Tapi hatinya untukmu La. " Tanala gemas dengan pemikiran ku. Dia meninggalkanku saat mataku terfokus kan pada Alga di luar sana.
Aku masih denial dengan perasaanku pada Alga. Tapi Tanala sudah bisa menebak bahwa perasaan itu benar nyata. Aku telah jatuh cinta pada Alga. Aku hanya belum bisa mengakuinya.
" Kalau suka bilang. Kalian itu sebenarnya sudah saling jatuh cinta hanya ego kalian masing masing yang membuat kalian lamban" Ejek Tanala sambil memelukku memberikan rasa percayanya.
" Apa kabar kamu dengan kaka Na?? Apa kalian jika di pertemukan kembali akan memulai untuk bersama?? " Pertanyaanku terdengar di telinga Tanala. Perhatian Tanala tertuju padaku.
" Rasa ini tetap sama La, tapi aku gak tahu takdir akan berpihak pada pada kami. " Jawab Tanala.
" Lalu bagaimana kamu dengan Alga?? " Tanala bertanya balik memastikan dugaannya benar.
" Entahlah Nala. Rasanya aku tenang bersamanya, tapi aku tidak tahu di hatinya ada aku atau hanya ada bayang masa lalu. " Aku berkata jujur dengan kekhawatirannya selama ini.
Aku bertanya tanya sehebat apa gadis di masa lalu Alga hingga dia belum bisa melupakan. Dan ternyata gadis itu adalah sahabatku sendiri.
" Lucu ya, aku ingin memaki masa lalu Alga. Dan masa lalu itu kamu. " Aku berkata pada Tanala sambil tersenyum.
" Aku dengannya tak mungkin jadi kita, karena hati kita tak saling memiliki. " Terang Tanala untukku.aku percaya pada Tanala karena sepertinya hati Tanala untuk kakak, Aksara Bintang Gautama.