Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Suasana kantor pagi itu tidak seperti biasanya. Lampu-lampu putih yang biasanya terasa terang dan profesional kini seolah menusuk mata. AC yang dingin terasa menusuk kulit. Bunyi printer, derap sepatu, dan suara ketikan keyboard bercampur menjadi satu, menciptakan riuh rendah yang membuat kepala Kayla sedikit berdenyut. Namun, bukan itu yang membuat dadanya sesak.
Begitu Kayla melangkah masuk ke lobi perusahaan, ia langsung merasakan perubahan. Tatapan-tatapan tertuju padanya bukan sekadar menoleh, tetapi menilai, menghakimi, dan berbisik.
Beberapa karyawan berhenti berbicara saat ia lewat. Yang lain berpura-pura sibuk, tetapi jelas mengawasinya dari sudut mata.
Kayla menggenggam tali tasnya lebih erat. Langkahnya tetap mantap, punggungnya lurus, dagunya sedikit terangkat. Tidak ada tanda ia gentar. Namun di dalam dadanya, jantung berdetak lebih cepat dari biasanya.
Di lift, dua karyawan perempuan berdiri tak jauh darinya. Salah satu dari mereka menatap ponselnya, lalu melirik Kayla, lalu berbisik pada temannya. Kayla melihat itu jelas sekali.
Pintu lift terbuka. Kayla keluar lebih dulu, tanpa berkata apa-apa.
Begitu sampai di mejanya, notifikasi ponselnya kembali bergetar. Bukan satu, bukan dua, tetapi puluhan.
Grup kantor ramai. Grup alumni ramai. Bahkan beberapa pesan pribadi masuk dari nomor yang tak dikenal.
Kayla duduk perlahan, meletakkan tasnya, lalu membuka salah satu pesan. Sebuah foto muncul di layar.
Foto dirinya bukan sebagai Kayla yang berhijab rapi seperti sekarang, tetapi sebagai Queen.
Pakaian minim. Cahaya redup. Tatapan kosong yang dulu ia pakai sebagai topeng agar tetap bisa bertahan hidup.
Jari Kayla bergetar. Ia menggulir ke bawah. Narasi panjang penuh dramatis, dibuat seolah-olah ia adalah perempuan hina yang sengaja memilih hidup kotor. Dadanya terasa dihantam sesuatu yang berat.
“Siapa…?” gumam Kayla pelan, hampir tak terdengar. “Siapa yang sudah melakukan ini kepadaku?”
Rahang Kayla mengeras. Matanya memerah, tetapi tidak ada air mata yang jatuh.
Dulu, Kayla mungkin sudah runtuh di tempat. Menangis di toilet kantor, pulang lebih awal, atau menghilang berhari-hari. Tetapi Kayla yang sekarang bukan lagi gadis rapuh itu. Ia mengunci ponselnya, menarik napas panjang, lalu menegakkan duduknya.
Di pantry, Kayla bertemu Fauzan yang sudah lebih dulu berada di sana, menatap laptopnya dengan serius.
“Pagi, Kay,” sapa Fauzan tanpa mengangkat kepala.
“Pagi,” jawab Kayla, menuang kopi hitam ke cangkirnya dengan tangan yang stabil, tidak gemetar seperti perasaannya.
Beberapa detik hening. Fauzan akhirnya menghela napas, menutup sebagian layar laptopnya, lalu menatap Kayla dengan ragu.
“Kayla, apa berita itu beneran?” tanya Fauzan pelan, hati-hati.
Kayla menatap permukaan kopinya yang beriak kecil, seolah melihat bayangan masa lalunya sendiri.
“Itu cerita masa lalu yang sudah aku kubur,” jawabnya akhirnya, suaranya tenang tetapi tegas. “Entah siapa yang mengorek-ngorek lagi hingga muncul ke permukaan.”
Fauzan mengangguk pelan, memahami. Fauzan yang ahli IT tidak aneh dengan berita seperti ini. Kebanyakan dilakukan oleh orang suruhan atau bayaran, dengan membuat banyak akun palsu.
Kayla menyandarkan punggungnya ke meja pantry, menatap lurus ke depan.
“Lihat saja nama akun-akun itu,” lanjut Kayla. “Nama asal-asalan, dibuat baru-baru ini. Postingan mereka juga cuma soal aku saja.” Nada suaranya ringan, hampir datar, tetapi ada ketajaman tersembunyi di dalamnya.
Fauzan menyilangkan tangan. “Berarti ini bukan kebetulan.”
Kayla tersenyum tipis, tanpa humor. “Sepertinya orang itu merasa keberadaanku menjadi ancaman baginya.”
Bukan nada marah. Bukan nada takut. Nada perempuan yang sudah terlalu sering jatuh dan memilih untuk berdiri lagi.
Fauzan membuka kembali laptopnya. Jarinya mulai bergerak cepat di keyboard.
“Aku bisa bantu kamu membereskan akun-akun palsu itu,” katanya tanpa menoleh.
Kayla menatapnya, sedikit terkejut. “Aku tidak punya banyak uang untuk membayar kamu, Fauzan.”
Fauzan menoleh, menyeringai lebar. “Cukup bayar sama ayam kecap dan sambal goang buatan kamu.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, Kayla tertawa kecil. “Huuuuh, tahu aja aku masak itu hari ini.”
Suara tawanya ringan, tetapi mengandung ketegaran yang luar biasa.
Untuk menghemat uang, Kayla suka membuat bekal makan siang untuk dirinya dan ketiga adiknya. Jadi, tidak ada uang buat jajan. Uangnya akan mereka gunakan di hari Minggu, buat main dan jalan-jalan seharian.
Di sisi lain kota, suasana jauh lebih panas. Ponsel Ashabi bergetar di atas meja bengkel. Ia sedang memeriksa mesin mobil ketika pesan masuk dari temannya muncul.
[Bi, kamu tahu tidak dengan kisah hidup Kayla di masa lalu?]
Ashabi mengerutkan kening. Belum sempat ia membalas, pesan lain masuk.
[Di grup banyak beredar foto Kayla yang seksi menggoda. Kabarnya dulu dia wanita PSK.]
Beberapa detik kemudian, foto-foto itu terkirim. Foto Queen yang bisa menggetarkan jiwa pria dewasa.
Jantung Ashabi seperti diremas. Foto Kayla tanpa hijab, dengan pakaian minim, tatapan kosong yang menyayat hati. Bukan sensual, lebih mirip jeritan yang dibungkam.
Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras. “Kayla pasti sedih saat ini,” gumamnya lirih, suaranya bergetar oleh kemarahan yang tertahan.
Tanpa berpikir panjang, Ashabi mengambil kunci motor dan melesat keluar bengkel menuju kantor perusahaan milik Pak Zaenal.
Sementara itu, di lantai atas gedung perusahaan, Pak Zaenal baru saja menerima laporan yang sama. Wajahnya berubah gelap. Meja kayu jati di hadapannya hampir ia pukul.
“Cari tahu siapa orang yang sudah mencemarkan nama baik Kayla!” titahnya tegas kepada asistennya. “Kalau perlu laporkan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Biar di penjara sekalian.”
Nada suaranya tidak main-main. Tidak ada kompromi, tidak ada toleransi. Bagi Pak Zaenal, Kayla bukan sekadar karyawan, ia adalah tanggung jawab dan amanah.
Di ruang IT, Kayla berdiri di belakang Fauzan, memperhatikan layar laptop yang dipenuhi baris kode, grafik jaringan, dan peta digital. Fauzan bekerja cepat, menelusuri jejak IP, mengidentifikasi pola, memetakan akun-akun yang saling terhubung.
“Ini bukan kebetulan,” gumamnya. “Akun-akun ini dibuat dalam rentang waktu yang hampir bersamaan. Bahkan beberapa di antaranya menggunakan bot.”
Kayla menatap layar itu dengan wajah tenang, tetapi hatinya bergejolak. “Siapa yang begitu ingin menghancurkannya?”
Pintu ruang IT tiba-tiba terbuka keras. Ashabi berdiri di sana, napasnya sedikit terengah, matanya langsung mencari Kayla.
Begitu melihatnya, Ashabi melangkah cepat mendekat. “Kayla ....” Suaranya rendah, penuh kekhawatiran.
Kayla menoleh, terkejut melihatnya di sana. “Mas Ashabi? Sedang apa di sini?”
Ashabi menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, memastikan ia baik-baik saja. Tatapannya lembut, tetapi ada bara kemarahan di dalamnya.
“Aku baru dengar beritanya,” kata Ashabi pelan. “Jadi, minta izin kepada Om Zaenal untuk menemui kamu di kantor.”
Kayla menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja.”
Fauzan melirik mereka berdua, lalu kembali fokus ke laptopnya.
Di saat yang sama, pintu ruang IT kembali terbuka, kali ini Pak Zaenal yang masuk, diikuti Bu Zahra. Suasana langsung berubah tegang.
Pak Zaenal menatap Kayla lama, penuh perlindungan. “Kamu tidak sendirian, Kayla.”
Kayla menahan air matanya.
Di layar laptop Fauzan, sebuah nama mulai muncul. Satu petunjuk pertama menuju dalang di balik semua ini.
up LG Thor