Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.
Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SE-MANUSIA INI
Pintu toilet terbuka. Elvario melangkah keluar dengan wajah yang masih sedikit kaku, diikuti Rizal yang berjalan di belakangnya sambil menahan senyum penuh arti. Namun, langkah mereka berdua terhenti seketika saat melihat sosok yang biasanya selalu tenang dan teratur itu kini tengah berlari ke arah mereka.
Adrina tidak berjalan dengan langkah profesionalnya yang biasa. Ia berlari kecil dengan binar mata yang tidak bisa disembunyikan. Wajahnya yang biasa datar dan serius kini tampak lebih hidup, dihiasi senyum lebar yang membuat Elvario tertegun di tempatnya.
Untuk beberapa detik, Elvario seolah lupa dengan rasa kesalnya pada Adrian. Ia terpesona—ini adalah kali pertama ia melihat Adrina mengekspresikan kegembiraan sejelas itu.
“Liat, Mas! Liat ini!” ucap Adrina dengan nada bangga saat ia sudah sampai di depan mereka, hampir kehabisan napas.
Ia menyodorkan layar tabletnya tepat di depan wajah Elvario.
“Ini di X, orang-orang sedang ramai membahas soal film ini. Ada beberapa potongan behind the scene yang bocor,” lanjut Adrina, suaranya naik satu oktav karena antusias. “Netizen banyak memuji Mas Elvario. Mereka bilang acting Mas jauh lebih berbobot dan lebih bagus dari Mas Adrian sekarang!”
Adrina membacakan beberapa komentar dengan penuh semangat, seolah ia baru saja memenangkan sebuah penghargaan besar. “Mereka bilang Mas sudah berubah, lebih dalam, lebih jujur. Aku bangga sekali sama Mas.”
Elvario terdiam. Ia tidak langsung melihat ke arah tablet, melainkan menatap wajah Adrina yang masih tersenyum lebar. Rasa hangat yang berbeda dari biasanya menjalar di dadanya. Bukan karena pujian netizen yang sering ia dengar, tapi karena melihat betapa tulusnya Adrina merasa bangga atas pencapaiannya.
Rizal yang berdiri di sampingnya menyenggol lengan Elvario pelan, berbisik lirih yang hanya bisa didengar temannya itu. “Tuh, liat. Masih mau bilang cuma ‘penjaga jarak’?”
Elvario tidak menyahut. Ia berdeham kecil untuk menutupi rasa gugupnya yang tiba-tiba muncul. Ia lalu mengambil tablet dari tangan Adrina, pura-pura fokus membaca komentar-komentar itu meski hatinya sedang berdegup tidak karuan.
“Gue udah bilang, kan,” gumam Elvario, mencoba kembali ke gaya angkuhnya walau gagal total karena sudut bibirnya ikut tertarik naik. “Gue emang bagus kalau lagi niat.”
“Bukan cuma bagus, Mas,” koreksi Adrina mantap, menatap Elvario dengan mata berbinar. “Mas luar biasa hari ini.”
Mendengar itu, Elvario membuang muka ke arah lain, tak sanggup membalas tatapan jujur itu lebih lama lagi. Sementara itu, Adrian Ghani yang berdiri tidak jauh dari mereka memperhatikan interaksi itu dengan tatapan yang mulai berubah—menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih kuat dari sekadar kontrak kerja di antara aktor rivalnya dan asisten itu.
Elvario masih menatap layar tablet itu, namun fokusnya bukan lagi pada deretan pujian netizen yang memenuhi kolom komentar. Ia melirik Adrina yang masih berdiri di depannya dengan sisa-sisa napas yang belum teratur dan wajah yang berseri-seri.
Keheningan singkat terjadi di antara mereka, di tengah hiruk-pikuk kru yang mulai kembali menyiapkan set untuk adegan berikutnya.
“Ini berkat lo juga,” ucap Elvario tiba-tiba. Suaranya rendah, namun terdengar sangat tulus, tanpa ada nada angkuh yang biasanya ia gunakan untuk menutupi perasaan.
Adrina tertegun, senyumnya sedikit tertahan karena terkejut. “Mas… aku cuma bantu jadwal saja.”
Elvario menggeleng pelan. Ia menyerahkan kembali tablet itu ke tangan Adrina, namun jemarinya sempat bersentuhan sejenak dengan tangan gadis itu. “Enggak. Gue tahu persis kapan gue mulai berubah. Ini hari ke seminggu lo kerja sama gue, dan gue nggak pernah ngerasa se-tenang ini sebelumnya.”
Rizal, yang sejak tadi menyimak, hanya bisa terdiam dengan alis terangkat. Ia tahu betapa sulitnya bagi seorang Elvario Mahendra untuk memberikan kredit atau pujian kepada orang lain, apalagi mengakui bahwa ia membutuhkan seseorang.
“Seminggu ya?” gumam Rizal pelan, melirik jam tangannya. “Terasa kayak setahun kalau inget betapa kacaunya lo sebelum ada Adrina, El.”
Elvario tidak menghiraukan sindiran Rizal. Matanya tetap terkunci pada Adrina. “Makasih sudah bertahan selama seminggu ini. Gue tahu gue nggak gampang buat dihadapi.”
Adrina merasakan pipinya sedikit memanas. Pujian dari netizen tadi memang membuatnya senang, tapi pengakuan langsung dari Elvario—bahwa kehadirannya membawa ketenangan—terasa jauh lebih bermakna.
“Aku juga berterima kasih karena Mas sudah mau mendengarkan,” jawab Adrina dengan nada yang lebih lembut. “Kerja sama ini berhasil karena kita tim, Mas.”
Elvario tersenyum tipis—kali ini sebuah senyum yang benar-benar sampai ke matanya. “Ya. Tim.”
Kehangatan momen itu sedikit terganggu saat asisten sutradara berteriak memanggil nama Elvario untuk kembali ke posisi. Elvario mengembuskan napas panjang, bersiap kembali menjadi karakter di depan kamera, tapi kali ini dengan semangat yang berbeda.
“Jaga tabletnya, Drin,” ucap Elvario sebelum berbalik. “Simpan komentar-komentar itu. Kalau gue mulai down lagi, tunjukin ke gue.”
Adrina mengangguk pasti. “Siap, Mas.”
Saat Elvario melangkah pergi menuju set, Rizal mendekati Adrina dan berbisik, “Drin, gue nggak tahu ramuan apa yang lo kasih ke dia, tapi tolong… jangan berhenti ya. Gue baru lihat dia se-manusia ini setelah sekian lama.”
Adrina hanya tersenyum menanggapi ucapan Rizal, sambil menatap punggung Elvario yang kini berdiri tegak di bawah sorot lampu, siap membuktikan bahwa pujian di internet itu memang bukan sekadar keberuntungan.