NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 38

Gus Azkar yang hampir saja terlelap seketika terjaga. Getaran ponsel di tangannya terasa seperti serangan mendadak. Ia melihat layar yang menyala terang, menampilkan nomor tak dikenal yang memanggil melalui saluran telepon biasa.

​Dengan rahang yang mengeras dan sorot mata yang mendingin, Gus Azkar menggeser tombol hijau. Ia tidak bersuara, hanya menempelkan ponsel itu ke telinganya sambil menatap wajah lelap Rina yang sama sekali tidak terganggu.

"Hai cantik..." Suara laki-laki dari seberang sana terdengar sangat percaya diri, bahkan cenderung kurang ajar. "Mau gak jadi pacar aku? Entar aku transfer deh, sebut aja mau berapa. Oh iya, kamu selama tiga tahun ini ke mana aja sih? Kok video TikTok kamu yang goyang manja dihapus semua? Sekarang profilnya malah full cadar. Gak asik ah, mending kayak dulu lagi."

Gus Azkar menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang hampir meledak. Suaranya keluar dengan sangat rendah, dingin, dan penuh penekanan—tipe suara yang biasanya ia gunakan saat sedang menghukum santri yang melanggar aturan berat.

"Sudah selesai bicara

nya?" tanya Gus Azkar tenang namun mematikan.

Seketika, keheningan menyelimuti ujung telepon sana. Laki-laki itu terdengar gelagapan. "Lho... ini siapa? Mana Rinanya?"

"Saya suaminya," jawab Gus Azkar tegas. "Dan dengarkan ini baik-baik. Rina yang kamu maksud sudah tidak ada. Dia sekarang adalah istri saya, milik saya sepenuhnya. Kalau kamu masih punya nyali untuk menghubungi nomor ini lagi, saya pastikan kamu tidak akan hanya kehilangan akses ke TikTok-nya, tapi juga kehilangan ketenangan hidupmu."

"M-maaf, Mas... saya nggak tahu kalau Rina sudah..."

"Sekarang kamu tahu. Dan jangan pernah berani menghina cadarnya. Karena kain itu adalah tanda bahwa dia terlalu berharga untuk dipandang oleh laki-laki rendahan seperti kamu."

Klik.

Gus Azkar mematikan sambungan telepon itu dengan kasar. Ia langsung memblokir nomor tersebut, lalu jarinya bergerak cepat menghapus riwayat panggilan agar Rina tidak perlu melihatnya besok pagi. Rasa posesifnya kini benar-benar berada di puncaknya.

Ia menatap Rina, tangannya mengusap lembut kepala istrinya. Ada rasa sesak di dadanya membayangkan betapa banyaknya laki-laki yang memandang rendah istrinya hanya karena masa lalu digitalnya.

"Maafkan Mas, Sayang," bisik Gus Azkar. "Mas harus lebih menjagamu. Besok, kita benar-benar pindah. Mas akan pastikan dunia luar tidak akan bisa menyentuhmu lagi."

Gus Azkar kemudian menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, tetap memeluk Rina yang masih tertidur pulas. Ia tidak bisa langsung tidur; bayangan video goyangan Rina dan foto-foto menggoda tadi bercampur dengan amarah pada laki-laki yang baru saja menelepon.

Ternyata, menjadi suami Rina bukan hanya soal membimbingnya dalam agama, tapi juga soal melindunginya dari serigala-serigala yang masih mengintai di balik layar ponsel.

Gus Azkar tersentak kecil. Ia tidak menyadari bahwa pergerakan tubuhnya yang tegang dan helaan napasnya yang berat telah mengusik tidur lelap Rina. Gadis itu kini mengerjap, menatap suaminya dengan mata yang masih setengah tertutup dan suara serak yang sangat manja.

"Mas... kenapa kok kayak kesel gitu?" tanya Rina pelan. Ia mengusap matanya, lalu mendongak menatap rahang Gus Azkar yang tampak masih mengeras.

Gus Azkar segera mengatur ekspresi wajahnya. Ia meletakkan ponsel Rina kembali ke nakas dengan gerakan yang sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, kilatan di matanya tidak bisa berbohong.

​"Tidak apa-apa, Sayang. Hanya ada nyamuk nakal yang mencoba mengganggu tidurmu tadi," jawab Gus Azkar sambil mengusap pipi Rina, mencoba mengalihkan pembicaraan.

​Rina mengerutkan kening, ia merasa ada yang aneh. Ia melirik ponselnya, lalu kembali menatap suaminya. "Nyamuk atau... Mas buka HP aku ya?" tanya Rina dengan nada curiga yang lucu. "Mas lihat apa? Video goyang aku ya?"

​Gus Azkar terdiam sejenak, lalu ia menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk jujur sedikit, karena rasa cemburunya memang sudah sampai ke ubun-ubun.

​"Mas bukan cuma lihat video goyangmu yang seribu jumlahnya itu, Rina. Tapi tadi ada laki-laki tidak tahu sopan santun yang menelepon," ujar Gus Azkar dengan suara yang kembali mendingin. "Dia bicara hal-hal yang tidak pantas. Dia pikir dia bisa membeli istriku dengan uang transferan."

​Rina seketika terduduk tegak, rasa kantuknya hilang total. Wajahnya pucat. "M-mas angkat? Dia bilang apa? Mas marah ya sama aku?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!