NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 15: ANCAMAN BARU, PERISAI BARU

Dua minggu setelah Nurul ditangkap, kehidupan perlahan kembali ke ritme normal yang waspada. Arka sudah diperbolehkan pulang, tapi dengan pengawasan ketat. Rumah Rafa sekarang seperti benteng: kamera keamanan di setiap sudut, sistem alarm terhubung langsung ke pos polisi terdekat, dan tetangga yang sudah dikondisikan untuk saling menjaga.

Aisha masih tinggal di kamar tamu. Laras tidak lagi memandangnya sebagai ancaman, tapi sebagai sekutu yang terlambat. Mereka bahkan mulai berbagi tugas: Aisha membantu mengajari Arka pelajaran sekolah, Laras mengurus Arkana dan Nadia, dan mereka bergantian memasak.

Suatu sore, saat mereka sedang membuat kue bersama di dapur sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya Laras tiba-tiba berkata:

"Aisha, aku ingin kamu pindah ke sini secara permanen. Ada kamar kosong di lantai bawah. Untukmu."

Aisha terkejut. "Tapi... ini rumahmu dan Rafa. Aku tidak pantas"

"Kamu pantas. Kamu ibu Arka. Dan selama ini, kami sudah memisahkanmu darinya cukup sering. Arka butuh ibunya dekat. Dan..." Laras berhenti, memandangi adonan kue. "Aku butuh teman. Aku lelah merasa seperti musuh dalam rumah sendiri."

Pengakuan itu jujur. Dan menyentuh. Aisha mengangguk, air mata di pelupuk mata. "Baik. Tapi dengan syarat: aku bayar sewa. Dan aku bantu biaya rumah tangga."

"Kita bicarakan nanti."

---

Tapi kedamaian itu rapuh.

Seperti firasat yang menggelitik di tengah malam, sesuatu yang tidak beres terasa. Mungkin karena pengalaman dengan Rangga dan Nurul, atau mungkin memang ada ancaman baru yang belum terlihat.

Pagi itu, saat Aisha sedang memeriksa email di laptopnya, sebuah pesan anonim masuk ke akun lama yang sama:

Subjek: "Permainan Berlanjut"

Isi: "Nurul hanya pembuka. Aku pemain sebenarnya. Dan bidakku sekarang adalah bayi kecil itu. Arkana. Dia lucu sekali di fotonya. Aku tunggu waktu yang tepat."

Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tuntutan. Hanya ancaman langsung pada Arkana.

Aisha membeku. Ini bukan lelucon. Ini nyata. Dan pengirimnya bukan Nurul karena Nurul sudah dalam tahanan, tanpa akses internet.

Dia segera menunjukkan pada Rafa dan Laras. Wajah Laras pucat pasi, tangannya menggenggam erat tangan Arkana yang sedang duduk di high chair.

"Tidak... tidak lagi..." bisik Laras, suara hancur. "Dia masih bayi. Kenapa?"

"Karena itu cara paling menyakitkan untuk menyakiti kita," kata Rafa, mengepal. "Menyakiti anak yang paling tidak berdaya."

Mereka langsung melapor ke polisi. Tapi polisi hanya bisa mencatat. "Tanpa identitas pengirim, kami tidak bisa lakukan banyak. Tingkatkan kewaspadaan."

Kewaspadaan. Kata itu sudah menjadi mantra mereka. Tapi seberapa waspada mereka bisa terhadap ancaman yang tidak terlihat?

---

dr. Arman menyarankan langkah ekstrem: "Pindahkan Arkana sementara ke tempat yang tidak terhubung dengan kalian. Tempat yang bahkan tidak kalian ketahui."

"Tidak mungkin," tolak Laras tegas. "Aku tidak akan pisah dari bayiku."

"Tapi ini untuk keselamatannya."

"Dan siapa yang jamin tempat itu aman? Jika mereka bisa meretas email, melacak kamera, masuk ke rumah sakit... mereka pasti bisa temukan Arkana di mana pun."

Perdebatan itu berakhir dengan keputusan: Arkana akan tetap bersama mereka, tetapi dengan proteksi maksimal. Mereka mempekerjakan pengawal pribadi mantan polisi untuk berjaga 24 jam di rumah. Dan mereka membatasi aktivitas di luar rumah hanya untuk hal mendesak.

---

Tiga hari berlalu tanpa insiden. Tapi ketegangan terus meningkat. Setiap bel pintu, setiap telepon, setiap notifikasi membuat jantung mereka berdebar.

Arka, yang sudah terlalu dewasa untuk usianya, memperhatikan semuanya. "Ayah, Bunda, Ibu Laras... kenapa kita semua takut terus?"

"Karena ada orang jahat, sayang," jawab Rafa.

"Tapi kita udah kalahin dua orang jahat. Kenapa masih ada lagi?"

Pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab. Karena dendam seperti penyakit menular? Karena kesalahan masa lalu mereka menarik orang-orang yang sakit untuk menyakiti mereka?

Nadia yang berusia lima tahun pun mulai terpengaruh. Dia tidak mau tidur sendirian, selalu minta ditemani. "Nadia takut ada monster ambil Arkana."

Anak-anak mereka tumbuh dalam ketakutan. Dan itu yang paling menyakitkan.

---

Minggu berikutnya, saat Laras sedang mengantar Nadia ke taman bermain (dengan pengawal), sesuatu yang aneh terjadi.

Seorang wanita paruh baya mendekati mereka, tersenyum ramah. "Wah, anak ibu cantik sekali. Namanya Nadia, ya?"

Laras membeku. "Kami tidak memberi tahu nama anak kami pada orang asing."

"Oh, maaf. Saya cuma... suka anak-anak." Wanita itu mengeluarkan permen dari tas. "Ini untuk Nadia."

"Tidak, terima kasih." Laras menarik Nadia mendekat.

Tapi wanita itu tetap tersenyum, lalu pergi. Tidak ada yang mencurigakan kecuali dia menyebut nama Nadia dengan tepat, padahal Laras tidak memperkenalkan.

Sesampainya di rumah, Laras menceritakan kejadian itu. Aisha langsung waspada. "Dia tahu nama Nadia. Artinya dia sudah mengamati."

"Atau dia cuma nebak. Nama Nadia kan umum."

"Tapi kombinasi dengan ancaman email... ini terlalu kebetulan."

Mereka memutuskan untuk tidak keluar rumah sama sekali untuk sementara. Belanja online. Sekolah Arka dan Nadia dijalani via homeschooling sementara. Bahkan kontrol rutin Arka ke rumah sakit dibatalkan, diganti dengan konsultasi telemedicine.

Mereka mengurung diri. Tapi apakah itu cukup?

---

Malam hari, pukul 11.47.

Sistem alarm rumah tiba-tiba berbunyi, bunyi pendek, lalu mati. Pengawal yang sedang berjaga di luar langsung siaga. "Ada gangguan di pagar belakang."

Rafa dan Aisha bangun, melihat dari monitor kamera. Tidak ada siapa-siapa. Hanya bayangan pohon yang bergoyang tertiup angin.

"False alarm," kata pengawal lewat interkom. "Mungkin binatang."

Tapi Aisha tidak percaya. Rangga dulu juga menggunakan taktik pengalihan. Nurul juga.

Dia pergi ke kamar Arkana. Bayi itu tidur pulas di boksnya, dengan monitor pernapasan yang dipasang sejak ancaman email. Normal. Lalu ke kamar Arka. Tidur. Kamar Nadia. Tidur.

Tapi di lorong menuju dapur, di lantai, ada sehelai kertas seperti sengaja ditinggalkan.

Aisha mengambilnya. Tulisan terpotong, dari guntingan majalah:

"Bayi itu bernapas dengan tenang. Tidak akan selamanya."

Dia berteriak. Rafa dan Laras datang. Mereka memeriksa semua pintu dan jendela. Terkunci. Tidak ada tanda penyusupan.

"Tapi kertas ini... dari mana?" tanya Laras, gemetar.

"Artinya... ada yang sudah di dalam rumah kita," bisik Rafa. "Dan meninggalkan ini sebagai... pesan."

Kengerian itu nyata. Rumah mereka yang sudah dijaga ketat, ternyata masih bisa dimasuki. Dan si penyusup tidak mengambil apa-apa hanya meninggalkan ancaman.

Polisi datang, memeriksa sidik jari. Tidak ada. CCTV di dalam rumah ternyata dimatikan selama 2 menit tepat pukul 11.45 saat alarm berbunyi. Itu bukan kebetulan.

Seseorang dengan kemampuan teknis. Seseorang yang tahu sistem keamanan mereka.

---

Keesokan harinya, mereka memanggil ahli keamanan untuk memeriksa ulang sistem. Dan ditemukan: ada perangkat penyadap di ruang keluarga. Dan kamera tersembunyi di kamar Arkana.

"Siapa yang pasang ini?" tanya ahli.

"Kami tidak tahu," jawab Rafa, merasa terlanggar.

"Perangkat ini dipasang dalam seminggu terakhir. Dan ini merek high end biasa dipakai agen intelijen atau stalker profesional."

Stalker profesional. Kata itu membuat darah mereka beku.

"Siapa yang bisa melakukan ini? Dan kenapa?" tanya Aisha.

"Orang dengan akses ke rumah kalian. Atau orang yang menyewa seseorang dengan akses."

Mereka saling pandang. Siapa yang punya akses? Pengasuh? Tetangga? Tukang kebun? Atau... orang yang pernah masuk sebagai tamu?

Ingatan Aisha melesat. Beberapa hari lalu, ada teknisi AC yang datang untuk servis rutin. Dia sendirian di rumah selama satu jam. Dan dia punya akses ke seluruh ruangan.

Mereka menghubungi perusahaan AC. Ternyata tidak ada jadwal servis minggu lalu. Orang itu palsu.

"Jadi dia sudah merencanakan ini dari jauh," simpul Rafa. "Masuk sebagai teknisi, pasang perangkat, lalu mengintai kita sejak itu."

Laras menangis. "Jadi selama seminggu ini... ada yang mengawasi kita? Melihat Arkana tidur? Mendengar percakapan kita?"

"Ya," jawab ahli keamanan dengan berat. "Dan kemungkinan besar, dia masih mengawasi sekarang."

---

Mereka pindah.

Mendesak. Dalam beberapa jam, mereka mengemasi barang-barang penting dan pindah ke apartemen aman yang disewa Rafa lokasi rahasia, hanya mereka dan polisi yang tahu.

Apartemen itu kecil, tapi dengan sistem keamanan terbaru. Tidak ada yang tahu mereka di sini. Bahkan keluarga terdekat tidak diberi tahu.

Tapi di malam pertama di apartemen baru, saat Arkana rewel karena suasana asing, Aisha berdiri di jendela memandangi kota di bawah. Apakah ini akan berakhir? Atau mereka akan terus lari selamanya?

Rafa mendekatinya. "Kita tidak bisa terus seperti ini. Kita harus menghadapi siapa pun yang mengancam kita."

"Tapi kita tidak tahu siapa dia. Dia seperti hantu."

"Kita akan usut. Aku sudah sewa detektif swasta. Dia akan selidiki semua orang yang mungkin punya dendam pada kita."

"Rafa... berapa banyak orang yang kita sakiti tanpa sadar?"

Pertanyaan itu menggantung. Masa lalu mereka penuh dengan pilihan yang melukai orang Aisha melukai Rafa dengan menghilang, Rafa melukai Aisha dengan ketidaktahuan, mereka berdua melukai Laras dengan masa lalu mereka. Tapi apakah itu cukup untuk memicu dendam sebesar ini?

---

Dua hari kemudian, detektif memberikan laporan pertama.

"Saya menemukan sesuatu. Nama kalian muncul di forum online forum untuk orang tua yang anaknya meninggal karena gagal ginjal. Ada posting anonim tentang 'seorang anak yang mendapat ginjal ayahnya, sementara anakku mati karena tidak dapat donor'."

"Kami tidak bertanggung jawab atas itu!" protes Aisha.

"Tidak. Tapi bagi orang yang kehilangan, melihat keberhasilan kalian bisa terasa seperti penghinaan. Dan ada satu nama yang sering muncul di forum itu Ibu Rina. Anaknya meninggal setahun lalu, pas umur 8 tahun sama seperti Arka. Dan dia sering komentar pedas tentang 'ketidakadilan dalam sistem transplantasi'."

"Apakah dia yang mengancam kita?" tanya Rafa.

"Belum ada bukti. Tapi saya lacak alamat IP-nya dia tinggal di kota ini. Dan... dia mantan perawat juga. Dikenal sangat religius, tapi juga sangat pahit setelah anaknya meninggal."

Ibu Rina. Nama baru. Motif baru: kecemburuan dan kepahitan karena anaknya meninggal, sementara Arka hidup.

"Tapi mengapa ancam Arkana? Bayi tidak ada hubungannya dengan transplantasi," kata Laras.

"Karena itu yang paling menyakitkan," jawab detektif. "Menyakiti bayi yang sehat, sementara anaknya sakit dan meninggal bagi orang yang pahit, itu bisa jadi 'pembalasan' pada dunia yang tidak adil."

---

Mereka memutuskan untuk mencoba pendekatan berbeda.

Alih-alih bersembunyi, mereka akan mencoba menemui Ibu Rina. Dengan pengawalan tentunya.

Detektif memberikan alamat: sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Saat mereka tiba—Rafa, Aisha, dan detektif—seorang wanita kurus berusia sekitar 40 tahun membuka pintu.

"Kami mencari Ibu Rina," kata Rafa.

"Ya, saya. Kalian siapa?" Matanya tajam, lalu terlihat mengenali Rafa. "Oh... kalian. Keluarga yang anaknya dapat ginjal ayahnya."

"Kami ingin bicara," kata Aisha lembut.

Mereka diizinkan masuk. Rumah itu penuh dengan foto anak laki-laki seusia Arka tersenyum, sehat, lalu foto-foto di rumah sakit, dan terakhir foto pusara.

"Anak saya, Rizki," kata Ibu Rina, suara datar. "Meninggal setahun lalu. Tidak dapat donor. Kami tidak mampu bayar transplantasi swasta. Dan daftar tunggu nasional... terlalu panjang."

"Kami turut berduka," kata Aisha tulus.

"Tapi kalian tidak perlu berduka. Anak kalian hidup. Dengan ginjal ayahnya. Sempurna."

"Kami berjuang juga, Bu," kata Rafa. "Arka hampir mati. Dan kami... kami melalui banyak hal."

"Tapi akhirnya hidup. Anak saya mati."

Diam yang menyakitkan.

"Apakah Ibu yang mengirim ancaman pada kami?" tanya Aisha langsung.

Ibu Rina menatapnya, lalu tertawa kecil pahit. "Ancaman? Tidak. Aku hanya... iri. Tapi aku tidak akan menyakiti anak lain. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan."

"Tapi ada yang mengancam bayi kami. Dan menggunakan nama Ibu di forum."

Wajah Ibu Rina berubah. "Itu bukan aku. Tapi... ada orang lain di forum itu. Dia lebih radikal. Dia bilang sistem transplantasi itu korup. Dan dia sangat membenci kasus-kasus seperti kalian donor hidup dalam keluarga. Dia bilang... itu 'hak istimewa'."

"Namanya siapa?"

"Tidak tahu. Dia pakai nama samaran 'Pembalas'. Tapi dia pernah bilang... dia akan 'membersihkan ketidakadilan' dengan caranya sendiri."

Pembalas. Nama samaran yang mengerikan.

---

Kembali di apartemen, mereka melaporkan temuan ini ke polisi. Tapi "Pembalas" adalah hantu digital tidak ada jejak nyata.

Malam itu, Arka yang mendengar percakapan mereka, berkata:

"Kalau ada orang yang marah karena Arka hidup... Arka mau ketemu dia. Mau bilang, Arka juga mau kasih ginjal kalau bisa. Tapi ginjal cuma satu."

Kebaikan anak itu menyentuh, tapi juga naif. Dendam tidak bisa dilunasi dengan kebaikan.

---

Tiga hari kemudian, kejadian mengerikan terjadi.

Saat Laras sedang online shopping untuk kebutuhan Arkana, dia menerima paket misterius tidak ada nama pengirim, hanya alamat apartemen rahasia mereka.

Dengan hati-hati, mereka membuka di balkon jaga-jaga kalau ada bahan berbahaya.

Isinya: boneka bayi dengan tanda X merah di dadanya. Dan surat:

"Bayi sehat adalah kemewahan. Anak saya tidak dapat kemewahan itu. Maka bayi ini juga tidak pantas."

Polisi segera datang, membawa boneka untuk diperiksa. Ternyata di dalam boneka ada chip pelacak. Si pengirim tahu lokasi rahasia mereka.

Mereka harus pindah lagi. Tapi ke mana? Jika chip sudah dipasang, mungkin mereka sudah dilacak kemana pun.

---

Dalam keputusasaan, dr. Arman menawarkan solusi radikal: pulang ke rumah sakit. "Rumah sakit punya unit keamanan khusus untuk pasien ancaman. Kalian bisa tinggal di sana sementara, sementara polisi menyelidiki."

Mereka setuju. Kembali ke rumah sakit tempat yang penuh kenangan pahit, tapi sekarang menjadi tempat perlindungan.

Di ruang isolasi khusus yang dijaga ketat, mereka berkumpul: Rafa, Laras, Aisha, Arka, Nadia, Arkana. Keluarga besar yang disatukan bukan hanya oleh cinta, tapi juga oleh ketakutan yang sama.

Laras memegang tangan Aisha. "Kita akan baik-baik saja."

"Kita harus," jawab Aisha.

Tapi di luar ruangan, di lorong rumah sakit, seorang perawat baru sedang melihat daftar pasien di tabletnya. Dia tersenyum kecil saat melihat nama "Arkana" di layar. Lalu dia mengetik pesan cepat:

"Target sudah di lokasi. Siap untuk fase akhir."

Perawat itu berjalan pergi, tapi di pergelangan tangannya, ada tato bunga matahari yang sama seperti Nurul.

---

(Di ruang server rumah sakit, seseorang dengan akses admin sedang menghapus rekaman CCTV untuk jam-jam tertentu. Dia bekerja cepat, profesional. Tidak ada yang melihat. Dan di layar komputernya, terbuka foto Arkana diambil dari akun media sosial Laras yang sudah di-private.)

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!