Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 22: Ketimpangan kutukan [3]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...
...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Hari-hari setelah malam di sumur tua berjalan tanpa insiden besar. Tidak ada kejadian mencolok, tidak ada ledakan konflik, tidak ada pengungkapan tiba-tiba. Namun pada diri Zack, perubahan justru berlangsung dalam bentuk yang paling sulit dikenali: gerakan kecil, jeda yang tidak biasa, dan kebiasaan lama yang mulai bergeser
Perubahan itu muncul pertama kali saat ia bertemu Zachary.
Pertemuan mereka singkat, nyaris tidak penting. Sebuah sapaan di lorong, kontak mata sepersekian detik. Namun tepat pada saat itu, kepala Zack berdenyut keras, seperti ada pintu lama yang diketuk dari dalam.
Bayangan melintas.
Sumur batu.
Air gelap.
Suara napas yang bukan miliknya sendiri.
Zack berhenti melangkah. Tangannya refleks menempel di dinding, menahan keseimbangan. Zachary menoleh, alisnya terangkat.
“Lo kenapa?” tanyanya.
Zack menggeleng pelan. “Enggak apa-apa… cuma pusing dikit.”
Ia memaksakan senyum, tapi di dalam kepalanya, sesuatu telah bergerak. Bukan ingatan utuh—hanya potongan, seperti kaca retak yang memantulkan cahaya dari sudut yang salah.
Sejak saat itu, setiap pertemuan menjadi pemicu.
Bayangan perempuan yang cantik jelita walau sudah setengah paruh baya membuatnya terdiam lebih lama dari seharusnya. Ada aura yang familiar, menekan, seolah perempuan itu berdiri di ambang memori yang pernah dikunci rapat. Saat Zack memaksa membayangkan nya ia semakin merasakan sensasi dingin di tengkuknya, sensasi yang sama seperti malam itu.
Dunia di sekitar Zack seperti bergeser sepersekian detik. Bayangan gelap melintas di tepi penglihatannya. Ia melihat tangan seseorang menutup matanya sendiri. Mendengar suara yang tidak asing, tapi tidak bisa ia ingat dari mana.
“Tenang.”
Satu kata itu menggema di kepalanya, membuat dadanya sesak.
Zack mulai bermimpi.
Mimpi-mimpi yang ia pikir seperti film action pada umumnya lalu tidur biasa. Ia melihat simbol yang tidak ia kenali, tetapi terasa akrab. Ia berdiri di tempat yang tidak ia ingat pernah datangi, namun tahu persis di mana harus melangkah. Setiap kali terbangun, jantungnya berdebar keras, dan rasa takut yang tertinggal bukanlah takut akan mimpi—melainkan takut akan ingatan yang sedang kembali.
Mimpi itu semakin lama semakin aneh, Zack merasakan memegang sebuah tombak dan menusukan tombak itu ke area jantung seseorang. Ia terlihat berlumuran darah, dari atas sampai bawah.
Setelah itu, Zack mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
“Kenapa tiap ketemu ibu itu, kepala gue selalu… aneh?” gumamnya suatu malam, berbicara pada bayangannya sendiri di cermin. “Kenapa rasanya kayak gue pernah ada di sesuatu yang lebih gede dari hidup gue sekarang?”
Pertanyaan itu tidak dijawab.
Namun darahnya merespons.
Kutukan yang mengalir dalam tubuh Zack tidak bekerja seperti penyakit. Ia bekerja seperti racun yang menunggu kondisi terpenuhi. Dengan setiap fragmen ingatan yang kembali, segel yang ditanamkan Rakes melemah sedikit demi sedikit.
Tidak pecah, belum— tetapi retakannya mulai terasa.
Dan di balik semua itu, ada satu kebenaran yang belum diketahui Zack, tetapi perlahan mulai menyentuh kesadarannya dari arah yang salah.
Liorlikoza telah membunuh kunci terakhir.
Kunci yang selama ini dicari-cari para keturunan Demar agar kutukan keramat itu tidak pernah mencapai bentuk akhirnya. Bukan kunci fisik, bukan manusia biasa—melainkan pengikat lama yang menjaga agar darah terkutuk itu tidak pernah sepenuhnya sadar akan dirinya sendiri.
Kematian Ian bukan hanya tragedi.
Ia adalah penutup.
Cukup mudah memutuskan kutukannya, hanya mendengarkan keturunan Kartaswiraga mengucapkan terimakasih secara tulus kepada keturunan Demar, tapi sayang nya keturunan terakhir sudah tiada.
Zack merasakan itu tanpa memahami detailnya. Setiap bayangan yang kembali membawa satu perasaan yang sama, bahwa sesuatu telah diputus secara permanen, dan apa pun yang selama ini tertahan kini tidak lagi memiliki penghalang yang sempurna.
“Kalau ingatan gue balik semua,” bisiknya suatu malam, napasnya berat, “Apa yang bakal kejadian sama gue?”
Tidak ada jawaban.
Semakin waktu berlalu, perubahan pada diri Zack tidak lagi berhenti pada gerakan kecil atau kewaspadaan naluriah. Kutukan para keturunan Demar mulai bekerja sesuai kodrat aslinya: bukan sekadar membayangi, melainkan memakan inangnya perlahan.
Proses itu tidak terasa seperti sakit. Tidak ada rasa nyeri yang jelas, tidak ada luka yang tampak untuk dilihat.
Kali ini yang terkikis justru batas antara diri Zack yang sekarang dan sesuatu yang jauh lebih tua di dalam darahnya. Ia mulai kehilangan ketajaman emosional tertentu, sementara pada saat yang sama pikirannya menjadi lebih fokus, lebih dingin, dan lebih berat oleh pemahaman yang tidak pernah ia pelajari.
Ia mulai menyadari pola takdirnya.
Setiap kali ia berada dalam situasi tertekan, pikirannya tidak mencari jalan keluar biasa. Ia justru memetakan posisi, membaca arah ancaman, dan menghitung risiko dengan cara yang terlalu matang untuk seseorang yang tidak pernah dilatih. Nalurinya tidak lagi sekadar bereaksi—ia mengantisipasi.
Bersamaan dengan itu, potongan-potongan pengetahuan mulai muncul, bukan sebagai ingatan personal, melainkan sebagai kesadaran historis. Zack tidak “mengingat” masa lalu, tetapi ia perlahan-lahan merasakannya.
Ia mengetahui bahwa Demar bukan sekadar nama asing, melainkan kerajaan yang memiliki garis keturunan dibangun di atas pengorbanan dan pengikatan. Sebuah kekuasaan yang bertahan dengan cara menyalurkan beban kepada darah penerusnya.
Kutukan itu bukan kesalahan—ia adalah takdir.
Bharata Jengga muncul dalam pikirannya sebagai kekuatan penyeimbang yang gagal. Penjaga Demar yang terlalu keras, terlalu absolut, hingga akhirnya menjadi alat penghancur bagi apa pun yang tidak bisa mereka lindungi sepenuhnya. Di sanalah ia memahami mengapa darah itu selalu berakhir dengan kematian yang tidak selesai.
Dan Bharata Jengga…
ia muncul sebagai bayangan yang paling tidak bisa ditebak.
Kerajaan yang tidak memilih sisi terang atau gelap, tetapi bertahan dengan menyembunyikan kebenaran, memecah sejarah, dan mengubur keterkaitan antar garis darah. Dari sanalah kunci-kunci lama berasal. Dari sanalah mekanisme penahan kutukan diciptakan.
Pemahaman itu tidak datang sekaligus. Ia menyusup melalui mimpi singkat, refleksi kosong, dan perasaan déjà vu yang tidak bisa dijelaskan. Setiap kali Zack mencoba menolaknya, tubuhnya bereaksi lebih dulu—napasnya menjadi berat, dadanya terasa sempit, seolah kutukan itu tidak mengizinkan penyangkalan terlalu lama.
Pada titik tertentu, Zack mulai bertanya pada dirinya sendiri, bukan dengan panik, tetapi dengan kejujuran yang dingin.
“Kalau ini terus jalan,” gumamnya suatu malam, menatap pantulan wajahnya sendiri, “apa yang bakal tersisa dari gue?”
Tidak ada jawaban yang jelas. Namun satu hal mulai ia pahami tanpa perlu dijelaskan oleh siapa pun: kutukan Demar tidak bertujuan membunuh dengan cepat. Ia bertujuan mengambil alih.
Semakin banyak yang ia ketahui tentang Demar, Kartaswiraga, dan Bharata Jengga, semakin tipis batas antara dirinya sebagai individu dan dirinya sebagai pewaris. Masa lalu ketiga kerajaan itu tidak lagi terasa seperti sejarah asing. Ia terasa seperti sesuatu yang sedang kembali menemukan wadahnya.
Zack belum sepenuhnya runtuh. Belum.
Namun ia kini berdiri di jalur yang sama sekali tidak bisa ia hindari.
Kutukan itu tidak menunggu izin.
Ia hanya menunggu hingga inangnya cukup siap untuk memahami—
bahwa begitu seluruh kebenaran terbuka, tidak akan ada jalan kembali menjadi manusia yang sama.
Pemahaman itu tidak datang sebagai pencerahan yang menenangkan. Justru sebaliknya, semakin banyak yang terbuka di dalam diri Zack, semakin jelas pula bahwa kutukan Kartaswiraga terhadap keturunan Demar tidak dimaksudkan untuk diwarisi dengan damai. Ia dirancang untuk berlanjut melalui konflik—melalui ketegangan antara darah, kehendak, dan ingatan yang tidak pernah sepenuhnya menjadi milik satu individu.
Zack mulai merasakan kelelahan yang berbeda dari sebelumnya. Bukan lelah fisik, melainkan kelelahan eksistensial, seolah tubuhnya harus menopang sesuatu yang jauh lebih besar daripada kapasitas satu manusia. Ada hari-hari ketika ia merasa pikirannya bukan lagi ruang pribadi, melainkan persimpangan dari terlalu banyak suara sunyi yang ingin bergerak ke arah yang sama.
Pada titik inilah kutukan mulai menunjukkan sifat aslinya.
Ia tidak sekadar membuka masa lalu ketiga kerajaan—Demar, Kartaswiraga, dan Bharata Jengga—melainkan menempatkan Zack di tengah-tengahnya, sebagai simpul hidup yang masih aktif. Demar menuntut kesinambungan. Kartaswiraga menuntut penutupan dengan cara apa pun. Bharata Jengga, yang selama ini berfungsi sebagai penyeimbang, telah kehilangan perannya sejak kunci terakhir dihancurkan.
Tanpa penahan itu, keseimbangan tidak lagi mungkin dipertahankan.
Zack mulai memahami bahwa apa yang ia rasakan bukanlah kebangkitan penuh, melainkan fase awal dari pengambilalihan. Kutukan itu tidak akan langsung menghapus dirinya. Ia akan membiarkan Zack tetap sadar, tetap berpikir, tetap memilih—namun setiap pilihan akan semakin sempit, diarahkan secara halus menuju hasil yang diinginkan oleh darahnya sendiri.
Ia menjadi lebih peka terhadap struktur kekuasaan yang tak kasatmata. Ia bisa merasakan ketegangan lama di tempat-tempat tertentu, membaca ketidakseimbangan dalam percakapan, bahkan mengenali ketika seseorang berdiri terlalu dekat dengan simpul sejarah yang belum selesai. Semua itu bukan keahlian yang ia pelajari. Itu adalah warisan yang mulai berfungsi.
Di saat yang sama, satu kesadaran baru mulai tumbuh: bahwa dirinya bukan satu-satunya yang terdampak.
Jika kutukan Demar terus menguat melalui dirinya, maka garis Kartaswiraga tidak akan tinggal diam. Naluri protektif mereka akan bereaksi, entah dalam bentuk penjagaan atau penghancuran. Dan Bharata Jengga—meskipun tampak telah kehilangan kendali—masih menyisakan jejak-jejak lama yang suatu saat bisa kembali diaktifkan, dengan konsekuensi yang tidak lagi bisa diprediksi.
Zack berdiri di tengah pusaran itu, tanpa pernah secara sadar memilih peran tersebut.
Semakin ia memahami masa lalu, semakin jelas bahwa masa depan tidak akan memberi ruang bagi ketidaktahuan. Kutukan ini tidak bermaksud menghabisi inangnya dengan cepat, tetapi membentuknya menjadi wadah yang sempurna—cukup sadar untuk memahami apa yang hilang, dan cukup terikat untuk tidak bisa melepaskannya.
Dan di luar kesadaran Zack, ada satu kebenaran lain yang terus mendekat tanpa suara:
selama kutukan Demar masih hidup di dalam dirinya, konflik antara ketiga kerajaan itu belum benar-benar berakhir.
Ia hanya berganti bentuk.
Malam telah melewati titik terdalamnya ketika Zack terbangun dalam keadaan setengah sadar. Asrama berada dalam kondisi hening, hanya diisi oleh dengung lampu dan napas teratur para penghuni yang terlelap. Ia duduk di tepi ranjang lebih lama dari biasanya, menunggu rasa berat di dadanya mereda sebelum berdiri.
Langkahnya pelan saat bergerak menuju meja kecil di sudut ruangan. Tangannya meraih gelas berisi air yang sejak sore tidak tersentuh. Namun tepat ketika jari-jarinya menyentuh permukaan kaca, ada jeda singkat—sebuah getaran halus yang merambat dari telapak tangan hingga pergelangan, seolah ototnya kehilangan sinkronisasi sepersekian detik.
Gelas itu terlepas.
Bunyi pecahan kaca menghantam lantai memecah keheningan malam dengan suara yang tajam dan tidak kenal ampun. Air memercik, serpihan kaca menyebar ke segala arah, dan dalam hitungan detik, suara gerakan panik mulai terdengar dari seluruh penjuru asrama.
Zack terpaku. Dadanya naik turun lebih cepat dari seharusnya. Ia menatap pecahan gelas itu seolah benda tersebut bukan jatuh karena kelalaiannya, melainkan karena sesuatu di dalam dirinya yang bergerak tanpa izin.
Bunyi pecahan kaca itu menggema keras di dalam asrama yang sempit, memantul di dinding dan langit-langit sebelum akhirnya meredup menjadi gema yang menyesakkan. Keheningan malam langsung runtuh. Dalam hitungan detik, suara ranjang berderit dan langkah kaki tergesa menyusul dari berbagai sudut ruangan.
Rakes bangun pertama kali.
Naluri Polariosnya tersentak brutal, jauh sebelum pikirannya benar-benar sadar. Ia langsung duduk, matanya menyapu ruangan dengan tajam. Pandangannya berhenti pada satu titik—Zack.
Zack berdiri kaku di dekat meja, tubuhnya sedikit membungkuk, satu tangan mencengkeram dadanya. Napasnya tersengal, terputus-putus, seolah udara di ruangan itu tiba-tiba menolak masuk ke paru-parunya. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang tak terlihat.
“Apa yang lo lakuin?” suara Rakes rendah, cepat, langsung turun dari ranjang.
Kale menyusul bangun dengan gerakan setengah panik. “Anjir, apaan itu?”
Hamu mengucek mata, lalu terdiam begitu melihat kondisi Zack.
Saka berdiri di ambang ranjangnya, jantungnya langsung berdegup tak beraturan.
“Zack?” Saka mendekat satu langkah. “Lo kenapa?”
Zack mencoba menjawab, tetapi yang keluar hanya tarikan napas kasar. Dadanya naik turun tidak seimbang, matanya sedikit melebar seperti orang yang tenggelam di darat. Pecahan gelas berserakan di lantai, air mengalir membentuk genangan kecil yang memantulkan cahaya lampu.
Rakes sudah berada tepat di depannya. Ia tidak langsung menyentuh Zack. Tatapannya menajam, membaca setiap perubahan kecil pada postur tubuh sahabatnya itu. Ada tekanan yang tidak wajar. Ada gelombang yang terlalu familiar.
“Duduk,” perintahnya singkat.
Zack tidak langsung menurut. Lututnya bergetar, dan sesaat kemudian tubuhnya sedikit limbung. Rakes bergerak cepat, satu tangan menahan bahu Zack agar tidak jatuh.
“Pelan. Fokus napas lo,” ucap Rakes dengan nada terkendali, nyaris dingin, namun sarat tekanan menahan sesuatu yang jauh lebih liar di dalam dirinya. “Tarik. Tahan. Lepas.”
Kale berdiri beberapa langkah di belakang, wajahnya tegang. “Ini bukan panik biasa,” gumamnya.
Hamu mengangguk pelan. “Napasnya kacau.”
Saka menelan ludah, tangannya mengepal. “Ini gara-gara sumur itu?” tanyanya pelan, nyaris berbisik.
Rakes tidak menjawab. Ia hanya menurunkan Zack perlahan hingga duduk di tepi ranjang. Tangannya masih bertahan di bahu Zack, sedikit lebih kuat dari yang terlihat perlu. Di balik ketenangannya, amarah keturunan Kartaswiraga bergejolak hebat, beradu dengan naluri protektif Polarios yang memaksanya tetap rasional.
Zack akhirnya berhasil menarik napas lebih dalam, meski masih gemetar. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menunduk, berusaha menormalkan dirinya sendiri.
“Gue… gak tau,” katanya lirih. “Tiba-tiba aja…”
Rakes menatapnya lekat-lekat. Di matanya, bukan hanya kekhawatiran yang ada, tetapi kewaspadaan tajam terhadap sesuatu yang mulai bergerak di dalam tubuh Zack—sesuatu yang tidak boleh dibiarkan lepas kendali.
Asrama itu kembali hening, tetapi ketenangan kali ini rapuh. Mereka semua berdiri di sekeliling Zack, menyadari bahwa apa yang baru saja terjadi bukan kecelakaan biasa. Ini adalah tanda. Dan Rakes, yang paling memahami arti tanda itu, menahan amarahnya dalam-dalam, sadar bahwa satu letupan kecil saja bisa mempercepat kehancuran yang sedang mengintai.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menekan. Lampu asrama sudah redup, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar memejamkan mata. Napas Zack terdengar lebih stabil kini, meski tubuhnya masih kaku, seolah siap terbangun kembali kapan saja.
Kale duduk di tepi ranjangnya, punggung membungkuk, kedua tangannya saling bertaut. Tatapannya sesekali mengarah ke Zack, lalu beralih ke Rakes yang duduk diam, menatap kosong ke arah dinding. Ada sesuatu pada sikap Rakes malam itu—terlalu tegang, terlalu terkendali—yang membuat Kale merasa gelisah.
Akhirnya, Kale berdiri.
Ia melangkah pelan mendekati Rakes dan berhenti di hadapannya. Suaranya diturunkan, tidak ingin membangunkan Zack atau memancing perhatian yang tidak perlu.
“Rakes,” katanya pelan tapi tegas. “Ini udah gak normal.”
Rakes tidak langsung menoleh.
“Lo liat sendiri,” lanjut Kale, nadanya mulai bergetar menahan emosi. “Zack kesakitan. Dia gak ngerti apa-apa, tapi badannya jelas lagi dilawan sama sesuatu. Dan lo… lo keliatan kayak udah tau semua jawabannya.”
Hamu menoleh dari sudut ruangan, memilih diam namun waspada. Saka ikut memperhatikan, napasnya tertahan, seolah takut kata-kata Kale akan memicu sesuatu yang lebih besar.
Rakes akhirnya mengangkat pandangan. Sorot matanya gelap, lelah, dan penuh tekanan yang sudah terlalu lama dipendam. Ia menghela napas panjang, tangannya kembali mengepal di atas paha.
“Gue gak bisa jelasin,” ucapnya singkat.
Kale menggeleng, setengah frustasi. “Itu bukan jawaban, Rakes. Lo liat dia barusan? Dia kayak orang kehabisan udara. Lo mau nunggu sampe dia bener-bener kenapa-kenapa?”
Rahang Rakes mengeras. Otot di lehernya menegang, jelas ia sedang berada di batas kesabaran. Amarah Polarios berdesak dari dalam dan itu tidak diperbolehkan, menuntut dilepaskan, sementara pikirannya berusaha mati-matian menjaga kendali.
“Lo pikir gue diem karena gak peduli?” suaranya turun, berat, sarat tekanan. “Justru karena gue peduli.”
Kale menatapnya tanpa mundur. “Kalo gitu, jelasin. Minimal ke gue.”
Hening sejenak.
Udara terasa semakin sempit.
Rakes menunduk, menarik napas dalam-dalam. Bahunya naik turun perlahan, seolah ia sedang menahan sesuatu yang ingin meledak keluar. Ketika ia berbicara lagi, suaranya lebih pelan, hampir seperti gumaman yang dipaksakan keluar.
“Semakin banyak yang tau,” katanya, “semakin cepet semuanya hancur.”
Saka menelan ludah. “Maksud lo… Zack dalam bahaya?”
Rakes tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah Zack yang terbaring membelakangi mereka, lalu kembali menatap lantai.
“Dia lagi berperang sama sesuatu yang lebih tua dari kita semua,” ucapnya akhirnya. “Dan gue… gue harus pastiin kutukan itu ga ngerenggut dia sebelum waktunya.”
Kale mengepalkan tangan. Rasa tidak tega bercampur marah membuat napasnya ikut berat. “Rakes,” katanya lirih tapi penuh tekanan, “lo sendirian ngadepin ini. Dan itu kelihatan.”
Rakes mengangkat kepala. Di matanya, kelelahan dan frustasi bertumpuk tanpa sisa ruang untuk menyangkal.
“Gue emang sendirian,” jawabnya jujur. “Dan gue gak boleh gagal.”
Tidak ada yang membalas. Asrama kembali sunyi, tetapi kali ini keheningan itu penuh pertanyaan yang tidak terjawab, dan ketegangan yang semakin mengikat mereka semua.
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...