NovelToon NovelToon
Mawar Di Jalan Bunga

Mawar Di Jalan Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Lari Saat Hamil / Beda Usia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.

Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Tersembunyi

Setelah tiga hari yang melelahkan di rumah sakit, kondisi Gisel berangsur membaik. Infeksinya mereda, dan luka fisiknya mulai mengering, meski luka di hatinya masih basah dan pedih. Keira juga telah mendapatkan izin dokter untuk pulang.

Sebelum mereka menempuh perjalanan menuju Kota Fauna, kota di mana Arlan membangun karier dan kehidupan barunya. Arlan memutuskan untuk membawa mereka menginap semalam di rumah orang tuanya di pinggiran Kota Flora.

Rumah besar itu terasa sunyi, seolah dinding-dindingnya menyimpan terlalu banyak duka yang tak terucapkan.

“Apa ada yang kamu butuhkan? Mungkin air hangat atau camilan?” tanya Arlan sembari merapikan selimut Keira di atas ranjang besar kamar lamanya.

Gisel, yang duduk di tepi kasur dengan wajah yang masih pucat, menggeleng pelan.

“Tidak ada, Om.”

“Baiklah. Kamu istirahatlah bersama Keira. Nanti aku akan membangunkanmu saat makan malam tiba,” ujar Arlan.

Suaranya terdengar lembut, namun ada nada canggung yang tak bisa ia sembunyikan.

Arlan melangkah keluar, menutup pintu perlahan. Ia masih tidak tahu bagaimana cara yang benar untuk menghadapi Gisel. Setiap kali ia melihat gadis itu, memori tentang malam di Jalan Bunga dan pemandangan Gisel yang pingsan di rumah sakit kembali menghantuinya.

Ia merasa seperti pecundang. Maka, ia memilih untuk memberi ruang, membiarkan Gisel bernapas tanpa kehadirannya yang menindas.

Arlan melangkah menuju kamar utama untuk menemui ayahnya, Pak Panji Bramantyo. Di sana, aroma obat-obatan tercium menyengat. Bu Ratna sedang duduk di samping ranjang, memijat kaki suaminya yang kini tak lagi bisa digerakkan.

“Kenapa kamu ke sini, Lan? Bukankah seharusnya kamu menemani istrimu?” tanya Bu Ratna tanpa menoleh.

“Aku ingin melihat kondisi Ayah sebentar,” jawab Arlan.

“A-ayah... ba-baik,” sebuah suara parau dan terbata menyahut dari arah tempat tidur.

Mendengar suara itu, Arlan kembali diterpa rasa bersalah yang menyesakkan. Pak Panji lumpuh bukan karena usia, melainkan karena hantaman stres yang luar biasa.

Setelah kematian Teguh, Pak Panji yang sudah pensiun terpaksa kembali mengambil alih perusahaan. Namun, badai tak kunjung reda. Dokumen-dokumen penting yang sebelumnya dipegang Teguh bocor ke pihak lawan. Dugaan pengkhianatan dari dalam membuat perusahaan itu gulung tikar dalam waktu setahun.

Tak sanggup menerima kenyataan bahwa kerja keras keluarganya hancur berkeping-keping, Pak Panji mengalami hipertensi hebat yang berujung pada kelumpuhan sebagian tubuh. Arlan saat itu hanya bisa menonton dari kejauhan karena fokusnya terbagi untuk menjaga Raisa dan bayi Keira setelah Raisa meninggal.

“Me-nantu... ma-na?” Pak Panji bertanya, sorot matanya yang sayu menatap Arlan penuh harap.

“Sedang istirahat di kamar bersama Keira, Yah. Nanti setelah makan malam, aku akan mengenalkannya secara resmi kepada Ayah,” jawab Arlan sembari menggenggam tangan ayahnya yang kaku.

“Can-tik?" Arlan menganggukkan kepalanya.

“Ja-ga... ba-ik-baik. A-yah... mau cu-cu... la-gi.” Arlan memaksakan senyum, meski dadanya terasa sesak.

“Iya, Ayah. Ayah harus rutin minum obat agar nanti kuat menggendong cucu baru.” Pak Panji tersenyum tipis, sebuah binar lega muncul di matanya seolah satu beban di pundaknya baru saja terangkat.

Pukul lima sore, Arlan kembali ke kamarnya. Saat membuka pintu, ia menemukan Gisel terduduk di tempat tidur, menyeka keringat di dahinya dengan ujung kaos.

“Apa kamu merasa tidak nyaman? Apa perutmu sakit lagi?” tanya Arlan panik.

“Tidak, Om. Hanya... kepanasan,” cicit Gisel.

Arlan menepuk dahinya sendiri. Ia baru sadar bahwa ia lupa menyalakan pendingin ruangan di kamar yang cukup luas itu.

“Maaf, aku benar-benar ceroboh,” ujarnya sembari bergegas menyalakan AC.

Suasana kembali hening, namun kali ini heningnya terasa berbeda. Ada sesuatu yang menggantung di udara, menanti untuk dilepaskan. Gisel meremas sprei dengan jemarinya, sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara.

“Om...”

“Gisel...”

Mereka memanggil bersamaan. Arlan tersenyum kecil.

“Kamu duluan.” Gisel menarik napas panjang.

“Siapa perempuan yang datang ke rumah sakit kemarin? Yang bernama Nancy?”

Pertanyaan itu membuat Arlan tertegun.

“Kami tumbuh besar bersama di lingkungan ini. Tapi aku tegaskan, aku tidak memiliki hubungan spesial apa pun dengannya.”

“Tapi kelihatannya tidak seperti itu. Dia terlihat sangat menyukaimu, Om,” Gisel kini memberanikan diri menatap mata Arlan.

“Jika memang ada perempuan yang Om sukai, aku akan mundur. Hubungan kita... hanyalah transaksi yang saling menguntungkan, bukan? Aku menjaga Keira, dan Om mengeluarkan ku dari Jalan Bunga. Tanpa pernikahan pun, kita masih bisa menjalankan kesepakatan itu.”

Arlan merasa jantungnya berdenyut nyeri. Kenapa gadis ini begitu gigih ingin menjauh darinya? Mengapa perceraian dan perpisahan selalu menjadi pilihan pertama di kepala Gisel? Apakah di mata Gisel, ia hanyalah seorang pria asing yang tak bisa diandalkan?

“Gisel, menurutmu pernikahan itu apa?” tanya Arlan dengan nada yang lebih dalam.

“Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, pernikahan kita bukan pernikahan impian,” jawab Gisel jujur.

“Mungkin benar. Tapi dengarkan aku,” Arlan mendekat, meski tetap menjaga jarak agar Gisel tidak merasa terintimidasi.

“Sudah kukatakan, tidak ada perceraian. Apapun alasan yang membuat kita berdiri di sini, kenyataannya kita sudah resmi sebagai suami istri. Di mataku, kamu adalah pakaianku, dan aku adalah pakaianmu. Kita saling menutupi dan melengkapi. Aku tidak peduli dengan masa lalumu di Jalan Bunga, dan aku harap kamu bisa menerima masa laluku yang penuh kegagalan.” Arlan berhenti sejenak, mencari kejujuran di mata Gisel.

“Aku tahu kamu butuh waktu. Aku pun sama. Kita sama-sama belajar. Bagaimana kalau kita coba menjalani ini sebagai sebuah keluarga, bukan sebagai partner?”

Gisel terdiam cukup lama, mencerna kata-kata Arlan yang terasa begitu tulus sekaligus berat. Akhirnya, ia mengangguk pelan sebagai persetujuan. Arlan merasa satu beban besar terangkat dari dadanya.

Sementara itu, di tempat yang jauh dari ketenangan Kota Flora, Jalan Bunga masih menyimpan bara. Di kafe remang-remang tempat Om Arman menghabiskan waktu bersama anak buahnya, seorang pria bernama Jack datang dengan amarah yang meluap.

“Kenapa Om tidak memilihku?! Aku juga bisa melindungi Gisel!” seru Bang Jack sembari menggebrak meja.

Om Arman menatap Jack dengan tatapan meremehkan dari balik asap rokoknya.

“Kamu? Apa yang kamu punya, selain otot dan nyali jalanan?”

“Aku mungkin tidak punya uang sebanyak pria bank itu, tapi aku punya nyawa untuk kuberikan!”

“Nyawa tidak cukup untuk melawan keluarga Sanjaya, Jack!” potong Om Arman tajam.

“Aku saja yang sudah puluhan tahun di sini hampir gagal melindunginya, apa gunanya dirimu yang baru belajar memegang pisau? Gisel butuh perlindungan hukum, butuh status sosial, bukan butuh preman tambahan di hidupnya!”

Jack membeku. Kata-kata Om Arman seperti siraman air es yang mematikan api di dadanya. Ia menyadari posisinya. Jika dibandingkan dengan Arlan Bramantyo, ia memang bukan siapa-siapa. Ia hanyalah mawar berduri lainnya yang tumbuh di selokan Jalan Bunga.

“Tapi pernikahan paksa ini... Gisel akan menderita,” gumam Jack lemah.

“Menderita di rumah mewah jauh lebih baik daripada hancur di ranjang Sanjaya,” sahut Om Arman sembari beranjak pergi.

Jack menatap kepergian Om Arman dengan tangan terkepal. Ia telah kehilangan Gisel. Namun, di dalam hatinya, sebuah tekad baru muncul.

Jika ia tidak bisa memiliki Gisel, maka ia harus memastikan bahwa pria yang membawanya pergi benar-benar menjaga mawar itu. Jika tidak, Jack bersumpah akan menjemput Gisel kembali, meski harus membakar seluruh Kota Fauna.

1
Ai Umana sari
ikan cucut, Lanjut🌻
Suci Maulana
bagus banget plisss update truss😍😍😍
Meymei: diusahakan up 1 bab setiap hari kak 🙏🥰
total 1 replies
snow Dzero
selamat menjalankan ibadah puasa
snow Dzero
bagus dan menarik
snow Dzero
semangat Thor cerita nya bagus
snow Dzero
awalan cerita yang menarik,semoga penulisan dan karakter setiap peran konsisten 💪
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meymei: belum sanggup kek nya kak 🤭
total 1 replies
indy
Rumit juga masa lalu Arlan. Ternyata Keira bukan anaknya Arlan.
indy
sempat bingung kakak😄
Meymei: maaf ya kak🤭entahlah ini sistemnya 😅
total 1 replies
dini Risayatmi
assalamualaikum kak,
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏
Meymei: iya kak, maaf ya saya revisi 🙏
total 1 replies
indy
wah nggantung😄
indy
kasihan gisel
Meymei: iya kak, author jg gak tega
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
fakta bgt emang kalo yg ekonominya bagus selalu di bela tanpa memilah dlu mana yg benar mana yg salah
𝐈𝐬𝐭𝐲
aku mampir thor...
indy
hadir kakak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!