"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
"Buka mulutmu, Lea. Hanya satu suapan lagi, oke?" Jimmy duduk di tepi ranjang dengan piring berisi omelette keju dan potongan buah segar.
Lea yang masih bergelung di balik selimut dengan rambut berantakan yang justru membuatnya tampak sangat cantik, menggeleng. Ia menatap Jimmy dengan mata sayu yang penuh damba, seolah-olah pria di hadapannya adalah pusat semesta.
"Tidak mau, Jim. Aku masih mengantuk," rengek Lea dengan suara parau dan manja. Ia menarik tangan Jimmy dan mengecup telapak tangan pria itu. "Badanku pegal semua. Ini salahmu karena terlalu bersemangat semalam."
Jimmy terkekeh, rona merah tipis muncul di wajahnya yang biasanya kaku. Ia meletakkan piring itu di meja, lalu mengusap puncak kepala Lea.
"Itu konsekuensi karena kau terus memancingku, gadis nakal. Sekarang makanlah, kau butuh tenaga sebelum ibu dan ayahmu menginterogasi mu di meja makan nanti," ucap Jimmy menasehati.
Lea tiba-tiba merentangkan kedua tangannya ke arah Jimmy, persis seperti anak kecil yang meminta perhatian lebih.
"Gendong, aku tidak mau jalan. Kakiku masih lemas. Mandikan aku, Jim."
Jimmy menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat.
"Lea, jangan mulai. Orang tuamu ada di bawah. Mereka sedang sarapan. Jika aku membawamu ke kamar mandi dan kita menghabiskan waktu terlalu lama di sana, Diego akan mendobrak pintu ini dengan kapak."
"Biarkan saja," gumam Lea sambil menarik leher kemeja Jimmy, memaksa pria itu mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. "Kau suamiku secara batin, kan? Kau sudah berjanji menjagaku. Dan sekarang, aku sedang butuh penjagaan ekstra di bawah pancuran air hangat."
Lea sengaja menggesekkan hidungnya ke hidung Jimmy dengan matanya berkilat nakal. Sementara tangannya mulai merayap nakal ke balik kemeja Jimmy, meraba otot-otot perut pria itu.
Jimmy memejamkan mata. Godaan Lea adalah ujian terberat bagi kontrol dirinya yang sudah di ambang batas.
"Lea, kau benar-benar ingin aku mati di tangan Diego pagi ini, ya?" bisik Jimmy serak. Ia menangkap tangan gadis itu dan menahannya agar tidak bergerak lebih jauh.
"Cukup. Aku akan memandikan mu, tapi hanya memandikan. Tidak lebih. Kita harus segera turun," ucap Jimmy lagi.
Jimmy akhirnya menyerah. Ia membopong tubuh mungil Lea menuju kamar mandi mewah di dalam kamar tersebut. Ia mendudukkan Lea di pinggir bathtub sambil menyalakan air hangat.
Namun, Lea tidak membiarkan Jimmy pergi begitu saja. Saat Jimmy hendak berdiri untuk mengambil handuk, Lea menarik kaos yang dikenakan Jimmy hingga pria itu tertunduk.
"Kau juga berkeringat, Jim. Ayo mandi bersamaku," bisik Lea tepat di bibir Jimmy.
Gairah Jimmy mendidih. Aroma sabun, uap air hangat, dan tatapan menantang dari Lea adalah kombinasi mematikan. Ia mencium Lea dengan dalam, sebuah ciuman yang awalnya lembut, sekejap berubah menjadi penuh tuntutan.
Tangan Jimmy meremas pinggang Lea, mengangkatnya agar lebih dekat. Di tengah kemesraan yang mulai memanas itu, suara denting piring dan tawa samar Diego dari lantai bawah menembus kesadaran Jimmy.
Jimmy melepaskan tautan bibir mereka dengan paksa.
"Tidak, Lea. Tidak sekarang. Aku tidak enak pada Diego dan Elise. Mereka sudah cukup sabar melihat kita berdua menghilang seharian kemarin. Aku akan menunggumu di luar. Pakailah baju yang sopan, mengerti?" ucap Jimmy dengan tegas.
Lea mengerucutkan bibirnya, tampak sangat kecewa namun juga gemas melihat Jimmy yang sangat berusaha menjaga profesionalismenya.
"Kau membosankan!"
"Aku hanya ingin tetap hidup agar bisa menikahi mu secara resmi," balas Jimmy sambil mengecup dahi Lea sebelum keluar dari kamar mandi dengan langkah tergesa-gesa.
Jimmy berdiri di balkon kamar Lea sejenak, membiarkan angin pagi mendinginkan suhu tubuhnya yang melonjak. Ia merapikan pakaiannya, memastikan tidak ada lagi tanda merah yang terlihat jelas di lehernya.
Jimmy tahu, di bawah sana, Diego Frederick sedang menunggunya dengan ribuan pertanyaan yang tersembunyi di balik senyum ramahnya.
Lima belas menit kemudian, Lea keluar dengan gaun sederhana berwarna biru muda, wajahnya tampak segar dan berseri.
Ia menghampiri Jimmy dan langsung melingkarkan lengannya di lengan kekar pria itu.
"Siap menghadapi singa di bawah?" goda Lea.
"Aku sudah menghadapi kakekmu pagi ini, singa di bawah harusnya terasa seperti kucing kecil bagiku," canda Jimmy, meski ia tahu Diego jauh lebih berbahaya jika sudah menyangkut urusan putri tunggalnya.
Mereka turun bersama, berjalan beriringan menuju ruang makan. Jimmy sengaja menjaga jarak beberapa inci agar tidak terlalu terlihat mencolok, tapi Lea terus mencoba merapat.
Begitu sampai di meja makan, Diego mendongak, sementara Elise tersenyum manis menyambut mereka.
"Pagi, Sayang. Kau terlihat jauh lebih segar hari ini," ucap Elise melirik sekilas ke arah Jimmy yang berdiri kaku di belakang kursi Lea.
"Pagi, Ma. Pagi, Pa," jawab Lea sambil duduk di kursinya.
Diego melipat korannya, matanya yang tajam menatap Jimmy dari atas ke bawah.
"Duduklah, Jim. Kau bukan pelayan di sini pagi ini. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam, hingga membuatmu begitu lelah dan baru bangun sekarang."
Jimmy menelan ludah, ia menarik kursi di samping Lea dengan sedikit kaku. Perang urat saraf sepertinya akan segera dimulai. Apalagi melihat William sekarang, seolah ingin memakannya Jimmy.
Di bawah meja, Lea dengan nakal menginjak kaki Jimmy, lalu memberinya senyuman dan berbisik, "Selamat berjuang, Jim."
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁