Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Cermin Retak
Malam di perbukitan pinus itu terasa lebih sunyi dari biasanya, tipe kesunyian yang mencekam, seolah-olah pepohonan di sekitar safe house sedang menahan napas. Di dalam ruang pertemuan utama yang diterangi lampu temaram, suasana jauh lebih panas. Enam kepala divisi organisasi Valerius duduk melingkar, wajah mereka tegang dan mata mereka terus-menerus melirik ke arah Aruna yang duduk di kepala meja.
Kabar tentang "Aruna kedua" yang menguras akun cadangan di bank swasta pagi tadi telah menyebar seperti api yang disiram bensin. Para pria ini, yang hidup dalam dunia pengkhianatan, mulai mencium bau ketidakstabilan.
"Nyonya," Branko, kepala keamanan yang bertubuh raksasa, memulai dengan nada bicara yang kasar. "Kami butuh penjelasan. Rekaman CCTV bank itu tidak bisa bohong. Wajah itu, sidik jari itu... itu Anda. Bagaimana kami bisa yakin bahwa wanita yang duduk di depan kami sekarang tidak sedang merencanakan untuk melarikan diri dengan sisa uang kami?"
Aruna tidak berkedip. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, memperlihatkan cincin Valerius yang berkilau dingin. "Branko, jika aku ingin melarikan diri dengan uang kalian, aku tidak akan repot-repot membakar gudang emas Julian Thorne dua hari yang lalu. Aku akan bernegosiasi dengannya secara diam-diam. Fakta bahwa ada seseorang di luar sana yang menggunakan wajahku adalah bukti bahwa musuh kita sudah kehabisan peluru dan mulai menggunakan trik sulap."
"Tapi sidik jari itu, Nyonya..." potong kepala divisi keuangan. "Sistem perbankan kami tidak bisa ditembus oleh replika karet. Itu adalah sidik jari biologis yang asli."
Aruna merasakan perutnya melilit. Ia teringat kata-kata Dante tentang saudara kembar yang dijual demi hutang. Jika itu benar, maka Elena bukan hanya sekadar mirip; dia adalah salinan genetiknya.
Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, pintu ruang pertemuan terbuka. Dante masuk, berjalan dengan bantuan tongkat kayu hitam berkepala perak. Meskipun tampak lemah, otoritas yang terpancar dari matanya masih mampu membuat para kepala divisi menunduk serentak.
"Cukup," suara Dante berat dan serak. "Aruna ada bersamaku saat penarikan uang itu terjadi. Siapa pun yang mempertanyakan identitasnya, berarti mempertanyakan penilaianku. Dan kalian tahu apa konsekuensinya."
Dante duduk di kursi sebelah Aruna, tangannya yang dingin menggenggam tangan Aruna di atas meja. Itu adalah tindakan publik pertama yang menunjukkan bahwa mereka adalah satu kesatuan, meskipun Aruna tahu itu hanya sandiwara untuk menjaga kesetiaan anak buah mereka.
"Elena adalah produk dari masa lalu yang tidak kalian ketahui," lanjut Dante. "Dia bekerja untuk Julian Thorne. Tujuannya adalah memecah belah kita dari dalam. Jika kalian terjebak dalam permainannya, maka Julian sudah menang tanpa melepaskan satu tembakan pun."
Pertemuan itu berakhir dengan keraguan yang diredam oleh rasa takut pada Dante. Namun, saat ruangan kosong, Aruna segera menarik tangannya dari genggaman Dante.
"Kau berbohong pada mereka," ucap Aruna dingin. "Kau tidak bersamaku setiap detik pagi tadi. Kau di kamarmu, tak sadarkan diri karena obat pereda nyeri."
"Aku harus melakukannya, Aruna. Tanpa pengakuanku, mereka akan mengeksekusimu malam ini juga demi 'keamanan' organisasi," Dante menatapnya dengan lelah.
"Aku tidak butuh perlindunganmu yang berlandaskan kebohongan, Dante. Aku butuh kebenaran. Bagaimana Elena bisa memiliki sidik jariku?"
Dante terdiam sejenak. "Dulu, saat sindikat lama masih berkuasa, ada prosedur pemetaan genetik bagi keluarga yang berhutang. Mereka mengambil sampel biologismu dan Elena saat kalian masih bayi. Julian Thorne kemungkinan besar menemukan data itu dan menggunakannya untuk menciptakan kunci biometrik yang identik. Dia tidak hanya mencuri wajahmu; dia mencuri identitas biologismu."
Aruna merasa mual. Hidupnya benar-benar telah dipreteli sejak ia lahir.
Pukul dua pagi. Aruna tidak bisa tidur. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum saat ia melihat bayangan seseorang di lorong menuju kamar Bumi. Aruna segera mencabut pistol kecil yang selalu ia selipkan di pinggangnya.
"Siapa di sana?" bisiknya.
Bayangan itu berhenti. Seorang wanita keluar dari kegelapan. Ia mengenakan pakaian yang persis sama dengan yang dipakai Aruna malam itu—setelan sutra abu-abu baja. Saat wanita itu menoleh, Aruna merasa seolah-olah ia sedang melihat cermin yang hidup.
"Halo, Saudari," ucap Elena. Suaranya terdengar seperti pantulan suara Aruna yang lebih gelap dan lebih penuh kebencian.
Aruna menodongkan pistolnya tepat ke dahi Elena. "Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Sistem keamanan—"
"Sistem keamanan ini mengenali detak jantungku sebagai detak jantungmu, Aruna. Aku adalah kau, dalam versi yang lebih cerdas," Elena tersenyum, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Aruna meremang. "Kau hidup di rumah mewah ini dengan pria yang membiarkan suamimu mati, sementara aku harus merangkak di selokan Rusia untuk bertahan hidup. Tidakkah kau merasa sedikit bersalah?"
"Kau bekerja untuk Julian. Kau bukan saudari bagiku," desis Aruna, jarinya menekan pelatuk.
"Tarik saja pelatuknya," tantang Elena, melangkah maju hingga moncong pistol itu menempel di keningnya. "Tapi kau harus tahu, jika aku mati di sini, sebuah sinyal akan terkirim ke tim Julian di luar. Mereka tidak akan menyerang Dante. Mereka akan membawa Bumi. Kau tahu betapa mudahnya bagi mereka masuk ke kamar anak itu saat ibunya sedang sibuk mengobrol denganku?"
Tangan Aruna gemetar. Pikiran tentang Bumi yang dalam bahaya membuatnya lumpuh.
"Apa maumu?" tanya Aruna, suaranya pecah.
"Sederhana. Aku ingin kau memberikan flashdisk itu padaku sekarang. Lalu, kau akan pergi dari sini bersama anakmu. Julian sudah menyiapkan paspor dan hidup baru untukmu di Amerika Selatan. Kau bisa menjadi penjahit lagi, Aruna. Kau bisa melupakan darah, mafia, dan pria monster ini."
Elena mengulurkan tangannya. "Berikan padaku, dan kau bebas."
Aruna menatap mata Elena. Untuk sesaat, ia tergoda. Tawaran itu adalah semua yang ia impikan selama ini. Kedamaian. Keamanan bagi Bumi. Jauh dari Dante yang penuh kebohongan. Namun, ia melihat sesuatu di mata Elena—sebuah kilatan kesenangan saat melihat Aruna menderita.
"Kau tidak akan membiarkanku bebas," ucap Aruna pelan. "Julian tidak pernah membiarkan saksi hidup. Kau hanya ingin mengambil disket itu, lalu membunuh kami semua."
Elena tertawa lirih. "Kau lebih pintar dari yang kubayangkan. Tapi kau terlambat."
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Dante muncul dengan pistol di tangannya, wajahnya penuh amarah. Namun, saat ia melihat dua wanita dengan wajah yang identik berdiri berhadapan, ia membeku.
"Aruna?" panggil Dante, suaranya penuh keraguan.
Elena segera mengubah ekspresinya. Ia menjatuhkan diri ke lantai, wajahnya tampak ketakutan luar biasa. "Dante! Tolong! Dia mencoba membunuhku! Dia penyusup itu!" teriak Elena, meniru suara Aruna yang gemetar dengan sempurna.
Aruna terbelalak. "Dante, itu dia! Aku yang asli!"
Dante mengarahkan senjatanya bergantian ke arah mereka berdua. Keringat dingin mengucur di dahinya. Ia mencintai Aruna, ia mengenali setiap inci tubuh wanita itu, namun dalam cahaya remang-remang dan tekanan mental seperti ini, instingnya mulai goyah.
"Katakan sesuatu yang hanya kita berdua yang tahu!" teriak Dante.
"Malam itu di Jalan Kenanga!" teriak Elena cepat. "Kau datang bersimbah darah dan aku menjahit perutmu dengan benang biasa!"
Aruna terpaku. Elena tahu detail itu. Tentu saja dia tahu, Julian pasti sudah menyadap rumahnya selama berbulan-bulan.
"Dante, ingat apa yang kukatakan di restoran!" Aruna mencoba bicara. "Tentang yayasan tua! Tentang tanah Menara Obsidian!"
Elena menyela, "Aku hanya berpura-pura pintar di sana, Dante! Itu idemu, bukan?"
Dante tampak sangat bingung. Ini adalah puncak dari rencana Julian Thorne: menghancurkan satu-satunya hal yang paling dipercayai Dante—penglihatannya sendiri.
Tiba-tiba, Bumi keluar dari kamarnya sambil mengucek mata, memegang boneka beruangnya. "Ibu? Kenapa ada dua Ibu?"
Kedua wanita itu menoleh ke arah Bumi. Elena segera merangkak menuju Bumi. "Bumi, Sayang, datanglah ke Ibu! Wanita itu jahat!"
Aruna berdiri mematung. Ia tidak ingin menakuti Bumi dengan pistol di tangannya. Ia menjatuhkan pistolnya dan merentangkan tangan. "Bumi, tetap di sana. Jangan mendekat pada siapa pun."
Bumi menatap kedua wanita itu. Ia berjalan perlahan menuju mereka. Dante menahan napas, jarinya masih di pelatuk. Jika ia salah menembak, hidupnya berakhir.
Bumi berhenti di depan Elena, lalu menoleh ke arah Aruna. Ia terdiam sejenak, lalu berjalan melewati Elena dan memeluk kaki Aruna erat-erat.
"Ini Ibuku," ucap Bumi yakin.
Elena mendongak, wajahnya berubah menjadi bengis. "Bagaimana kau tahu, bocah sialan?!"
Bumi menunjuk ke arah tangan Aruna. "Ibu asli baunya seperti lavender dan tepung terigu. Ibu yang itu baunya seperti besi dan rokok."
Dante tidak menunggu lagi. Ia melepaskan tembakan. Bang!
Peluru itu mengenai bahu Elena. Elena menjerit dan segera berguling ke arah jendela, memecahkannya dengan tendangan kuat dan melompat keluar ke arah kegelapan hutan di mana tim penyelamat Julian sudah menunggu.
Dante segera berlari menghampiri Aruna dan Bumi, memeluk mereka berdua dengan tangan gemetar. "Maafkan aku... aku hampir saja..."
Aruna melepaskan pelukan Dante dengan lembut namun tegas. Ia menatap ke arah jendela yang pecah. "Dia akan kembali, Dante. Dan kali ini, dia tahu bahwa dia tidak bisa menipuku melalui anakku."
Aruna menggendong Bumi masuk kembali ke kamar, meninggalkan Dante sendirian di lorong yang dingin. Bab 22 berakhir dengan kenyataan pahit: meskipun identitasnya telah terbukti, rasa percaya Aruna pada keamanan yang ditawarkan Dante telah hancur total.