Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kurir paket Diujung Maut
Reza sudah memperhitungkan segalanya dengan ketelitian seorang akuntan yang sedang menghitung kerugian perusahaan. Sebenarnya, hidupnya memang sedang merugi besar. Tabungannya tinggal Rp 50.000 angka yang cukup puitis untuk mengakhiri segalanya. Dia sudah menghabiskan Rp 35.000 untuk membeli seporsi nasi padang dengan rendang ganda (tanpa sayur, karena dia benci daun singkong yang pahit), dan sisanya, Rp 15.000, ia gunakan untuk membeli tali jemuran plastik warna kuning di toko kelontong depan apartemennya.
Apartemen ini terasa sangat luas karena hampir semua barangnya sudah ia jual di situs barang bekas. Televisi, kulkas, hingga kasur bermerek yang dulu ia beli dengan cicilan dua tahun, semuanya sudah berpindah tangan. Yang tersisa hanya satu kursi plastik warna biru yang kakinya agak goyang dan selembar surat di atas meja kayu murahan.
Reza menatap surat itu. Dia sudah mengetiknya dengan Font Time New Roman ukuran 12, rata kanan-kiri, sangat formal. Isinya pun tidak cengeng. Dia hanya menulis :
" kepada siapapun yang menemukan saya , tolong jangan buat upacara pemakaman yang mahal .saya tidak punya uang lagi untuk membayar nya , sisanya maaf jika saya sudah merepotkan ."
"Oke, Za . Ini saatnya," bisik Reza pada dirinya sendiri.
Suaranya memantul di dinding ruangan yang kosong, terdengar seperti suara orang asing. Dia merasa tenang. Tidak ada rasa takut, hanya rasa lelah yang luar biasa. Dia sudah muak dengan notifikasi WhatsApp dari penagih hutang, muak dengan email penolakan kerja yang selalu diawali kata "sayangnya ...", dan muak melihat foto mantan istrinya, Anya, yang tampak begitu bahagia di Instagram bersama pria yang terlihat seperti model iklan pasta gigi.
Reza menyeret kursi biru itu ke tengah ruangan, tepat di bawah kaitan lampu plafon yang ia yakini cukup kuat untuk menahan beban tubuhnya yang menyusut lima kilo dalam sebulan terakhir. Ia memanjat kursi itu dengan hati-hati. Kursi itu berderit, memprotes berat badannya. Reza memasukkan kepalanya ke dalam lingkaran tali jemuran kuning yang kasar. Tekstur plastiknya terasa dingin dan tajam di kulit lehernya.
Ia menarik napas panjang. Ia menutup matanya. Dia membayangkan kegelapan yang abadi. Tidak ada suara tagihan, tidak ada suara tangisan , hanya keheningan.
"Satu... dua..."
tok ! tok! tok!
Gedoran di pintunya terdengar seperti ledakan bom di tengah keheningan itu. Reza tersentak, kursinya bergoyang hebat, dan tali itu hampir mencekiknya lebih awal sebelum ia sempat bersiap.
"Paket ! Go Send Atas Nama Reza Aditya ! Woi , Mas ! Saya Tau Situ Di Dalam !"
Reza mematung. Matanya terbuka lebar, menatap pintu kayu yang kusam itu. Abaikan aja , Za. Dia bakalan pergi juga kalau nggak di jawab pikirnya. Dia kembali memejamkan mata.
"Mas Reza ! Jangan pura pura tuli Mas ! Ini Ayam Geprek Level 10 Pesananya ! Baunya Udah kemana mana ni mas , Mas ! kasian Tetangga Situ Pada Kelaparan.
Reza mendesis. siapa yang pesan ayam geprek ? gumamnya dalam hati. Oh, dia ingat. Dua jam lalu, sebelum dia memutuskan untuk mengikat tali ini, dia menggunakan sisa saldo terakhir di aplikasi gojek nya karena merasa sangat lapar dan dia lupa membatalkannya.
"Mas Reza! Kalau nggak dibuka sekarang, saya teriak maling ya! Aturan baru kantor Mas, kalau paket makanan nggak diterima langsung, saya harus foto bareng penerimanya buat bukti! Jangan bikin poin saya turun, Mas! Anak saya mau masuk SD bulan depan, butuh biaya seragam!"
Gedoran itu tidak berhenti. Malah semakin brutal. Reza merasa rencana "pergi dengan tenang" ini mulai berantakan.
"Pergi saja ! Taruh di depan pintu !" teriak Reza dengan leher yang masih tergantung di tali. Suaranya terdengar aneh, seperti orang yang sedang dicekik pelan.
"Nggak bisa mas ! Saya harus foto dulu ! , ayolah mas cuma sebentar aja , Satu.. satu detik aja !"
Reza mengumpat. Kemarahannya yang selama ini terpendam tiba-tiba meledak. Dia merasa dunia ini bahkan tidak mengizinkannya untuk mati dengan tenang. Dia melepaskan lingkaran tali itu dari lehernya, melompat turun dari kursi yang hampir saja patah dan berjalan menuju pintu dengan langkah kaki yang menghentak-hentak.
Dia membuka pintu itu .....
Di depannya berdiri seorang pria muda dengan jaket hijau yang sudah agak pudar warnanya. Helmnya masih terpasang, kacanya terbuka, memperlihatkan wajah yang penuh keringat dan senyum yang sangat menjengkelkan.
"Nah, gitu dong, Mas. Ini ayam gepreknya. Panas banget nih, level sepuluh. Cabainya saja sudah kayak lautan api," si kurir menyodorkan kotak kertas berminyak itu
Ke tangan Reza.
Reza menatap kotak itu, lalu menatap si kurir dengan mata merah dan bekas tanda merah melingkar di lehernya. Si kurir terdiam sebentar, menatap leher Reza, lalu menatap tali kuning yang menjuntai di tengah ruangan di belakang Reza.
Suasana menjadi sangat canggung.
"Mas... lagi latihan drama ya?" tanya si kurir dengan polos.
"Bukan urusanmu. Sudah fotonya?" jawab Reza ketus.
"Oh, iya. Pegang ayamnya di depan dada ya, Mas. Senyum sedikit... ah, nggak usah senyum juga nggak apa-apa, yang penting kelihatan mukanya. Oke... satu, dua, tiga... cekrek."
Si kurir melihat hasil fotonya di HP, lalu mengangguk puas. "Makasih Mas Reza. Semangat ya dramanya! Eh, maksud saya... semangat makannya! Jangan lupa kasih bintang lima!"
Pria itu berbalik dan berlari menuju lift sambil bersiul kecil. Reza berdiri mematung di ambang pintu yang terbuka. Dia memegang kotak ayam geprek yang panas, sementara udara dingin koridor apartemen masuk ke ruangannya yang kosong.
Dia menutup pintu. Dia duduk di kursi plastik biru itu lagi. Tangannya gemetar saat membuka kotak ayam tersebut. Aroma bawang putih goreng dan cabai yang menyengat langsung menusuk hidungnya. Secara biologis, perutnya merespons. Air liurnya keluar.
"Sialan," gumam Reza. Matanya berkaca-kaca. "Masa aku mati dalam keadaan perut lapar? Tidak elit sekali kalau nanti polisi menemukanku dalam keadaan Lapar ."
Dia mengambil suapan pertama. Rasa pedas yang luar biasa langsung meledak di lidahnya. Air matanya benar-benar tumpah sekarang. Dia makan dengan lahap, menangis tersedu-sedu di antara kunyahan ayam dan nasi yang panas. Ternyata, rasa pedas bisa mengalihkan rasa sakit di hatinya, setidaknya untuk sementara.
Tiba-tiba, HP nya yang tadinya sudah ia matikan dan ia simpan di pojok ruangan, bergetar. Dia sudah me reset HP itu, menghapus semua aplikasi sosial media, tapi rupanya ia lupa mencabut kartu SIM nya.
Ada satu panggilan masuk. Nomor yang sangat ia hafal. Nomor Anya.
Reza ragu. Harusnya dia tidak mengangkatnya. Tapi jarinya yang berminyak karena sambal justru tidak sengaja menggeser ikon hijau.
"Halo?" suara Anya terdengar dari seberang sana. Suaranya tidak ceria seperti di foto Instagram. Suaranya parau Seperti orang yang baru selesai menangis selama tiga hari.
Reza terdiam. Dia menelan kunyahannya dengan susah payah. "Ya?"
"Reza... ini aku," Anya terdiam cukup lama. Hanya terdengar suara napasnya yang berat. "Aku tahu kita sudah selesai dua tahun lalu. Aku tahu aku yang pergi. Tapi... aku tidak tahu harus menelepon siapa lagi."
"Ada apa, Anya?"
"Reza... aku hamil," Anya terisak. "pria...., pria itu... dia pergi begitu saja saat tahu. Dia bilang ini bukan tanggung jawabnya. Aku ketakutan, Za . Aku cuma mau tanya satu hal... kamu masih hidup, kan? Kamu belum melakukan hal bodoh yang pernah kamu katakan dulu, kan?"
Reza menatap tali jemuran kuning yang melambai ditiup angin dari jendela yang terbuka. Dia melihat kotak ayam gepreknya yang tinggal setengah. Dia merasakan denyut jantungnya sendiri yang masih berdetak kencang karena rasa pedas.
"Aku... aku baru saja mau makan ayam geprek, Anya," jawab Reza dengan suara serak.
"Syukurlah," Anya menangis lebih keras. "Jangan ke mana-mana, Za . Tolong jangan ke mana-mana dulu."
Reza menutup teleponnya. Dia menyandarkan punggungnya di kursi plastik yang berderit itu. Rencana matinya baru saja ditabrak oleh dua hal paling tidak terduga di hari yang sama: seorang kurir ayam geprek yang butuh biaya seragam sekolah anaknya, dan seorang mantan istri yang membawa kabar tentang nyawa baru yang mungkin akan mengubah arti kegagalannya selama ini.
Reza menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam setahun, dia tidak merasa ingin menendang kursi itu. Dia justru ingin menyelesaikan ayam gepreknya.