Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gedubuk
“Kenapa sekarang jadi bisu semua?” nada tinggi.
Rosse langsung menjatuhkan diri berlutut di lantai. Lututnya menghantam marmer dengan bunyi pelan, tubuhnya gemetar tanpa bisa dikendalikan. Wajahnya pucat, napasnya tersengal.
Mirea hanya menatapnya datar, tanpa ekspresi.
“Tuan Kael, tadi aku yang berbohong,” ujar Rosse dengan suara bergetar, kepalanya menunduk dalam-dalam.
Adela ikut berlutut di sampingnya, meniru posisi Rosse, tangannya mencengkeram ujung gaun sendiri seolah menahan panik.
“Aku hukum diriku sendiri,” pinta Rosse lirih, suaranya hampir terdengar seperti tangisan.
Kael belum sempat bereaksi ketika Mirea melangkah sedikit ke depan.
“Aku yakin mereka juga nggak sengaja,” ujar Mirea tenang.
Kael langsung menoleh ke arahnya. Tatapan mereka sempat bertemu sejenak.
“Cuma ngomong beberapa yang nggak bener, nggak sampai nyakitin aku,” lanjut Mirea, nadanya tetap datar, seolah membicarakan hal sepele.
Aren ikut menoleh ke arah adiknya, menatapnya dengan ekspresi sulit dibaca.
Rosse dan Adela saling pandang sebentar, lalu kembali menunduk.
“Terima kasih, nona Mirea… terima kasih,” ujar mereka hampir bersamaan, masih dalam posisi berlutut, suara penuh kelegaan bercampur rasa takut yang belum benar-benar hilang.
“Walau Nona Mirea baru saja kembali ke keluarga, tapi bijaksananya sudah kayak nyonya besar saja,” ujar salah satu tamu perempuan, suaranya terdengar kagum.
Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan, matanya menatap Mirea penuh penilaian.
“Bahkan lebih keren daripada cewek-cewek kaya lainnya yang ada di sini,” tambahnya lagi, seolah tak ragu melontarkan pujian.
Mirea yang mendengar itu hanya melemparkan senyum tipis. Senyum sopan, terukur, tanpa berlebihan, senyum yang justru membuatnya terlihat semakin anggun di mata orang-orang.
“Pantas saja bos-bos suka istri manja,” celetuk seorang tamu lain di sebelahnya sambil terkekeh kecil.
“Nenek, novel-novel yang dibaca nenek jadi kenyataan,” tambah temannya lagi, ikut tertawa ringan.
Beberapa tamu ikut tersenyum, bisik-bisik kekaguman kembali terdengar di sekeliling aula.
Farel yang berdiri di sebelah Kael mengelus dagunya pelan, raut wajahnya penuh kebingungan. Sejak tadi ia memperhatikan situasi, dan semakin lama justru semakin tak masuk akal di kepalanya.
Ia lalu menyenggol lengan Kael ringan.
“Eh, Tuan Kael,” ujarnya mendekat, menurunkan suara seperti sedang membicarakan sesuatu yang rahasia. “Bukannya kamu ke pesta ini buat batalin pernikahan?”
Nada suaranya jelas heran, alisnya terangkat.
“Kenapa sekarang malah jadi pasangan?” tanyanya lagi, benar-benar tak mengerti arah kejadian.
Kael menjawab tanpa ragu sedikit pun.
“Nggak jadi batalin.”
Suaranya datar, tegas, seolah keputusan itu sudah final sejak awal.
Farel langsung menoleh cepat.
“Hah?!”
Ekspresinya berubah drastis, dari bingung jadi kaget setengah mati. Ia menatap Kael seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
Kael lalu menoleh ke arah Mirea yang berdiri tak jauh dari mereka. Tatapannya tenang, tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya—lebih lembut, lebih yakin.
“Kalau nggak ada Mirea,” lanjut Kael santai, “aku harus ke mana cari tunangan semenarik dia?”
Ucapan itu membuat Mirea ikut menoleh ke arahnya. Sekilas pandang mereka bertemu di udara singkat, tapi cukup untuk membuat suasana di antara keduanya terasa berubah.
......................
Selesai acara pengakuan keluarga Rothwell.
Di ruang tamu kediaman keluarga Rothwell, suasana masih terasa canggung. Ketiga kakak Mirea duduk berderet di sofa, wajah mereka masih sulit mencerna semua yang terjadi hari ini.
Tira Rothwell, ibu Mirea, duduk di seberang mereka dengan ekspresi tenang.
“Adik kalian… memang sungguhan tunangan Tuan Kael,” ujar Tira akhirnya, memecah keheningan.
“Apa?!”
“Hah?!”
“Serius?!”
Ketiganya berseru hampir bersamaan, menatap sang ibu dengan mata membelalak seolah baru saja mendengar lelucon paling tidak masuk akal di dunia.
“Sudah sejak lama,” lanjut Tira santai. “Awalnya janji pernikahan itu dibuat antar keluarga. Tapi waktu dikira Mirea hilang, urusan itu ya… dibiarin saja.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,
“Siapa sangka Mirea ternyata kembali. Jadi otomatis, janji pernikahan itu berlaku lagi.”
Kalimat itu seperti pukulan telak.
Ketiga kakak Mirea langsung bersandar ke sofa dengan lemas, napas mereka serempak terdengar berat.
“Baru saja nemuin dia lagi,” gumam Noel kesal. “Belum sempat kenal lama, belum sempat jaga benar-benar… eh, sekarang sudah mau dibawa orang pergi.”
Nada suaranya penuh keluhan, bercampur rasa tidak rela.
Bertepatan dengan keluhan-keluhan itu, Mirea dari lantai dua mengintip ke bawah. Ia membuka pintu kamarnya perlahan, lalu mengendap-endap keluar, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun.
“Keluarga Blackwood di kota Zhenkai… memang terlalu berkuasa,” ujar Theo dari ruang tamu, nadanya berat.
“Keluarga Blackwood itu banyak kerabatnya, banyak konflik internal,” sambung Aren. “Adik kita polos banget. Angkat ayam saja nggak kuat.”
Mirea yang mendengar itu sudah berhasil melangkah menuju tangga, tubuhnya menempel ke dinding. Ia naik perlahan ke arah balkon, ujung kakinya menapak hati-hati di setiap anak tangga.
Namun tetap saja, terdengar suara kecil.
Gedubuk.
Theo yang sedang bersandar langsung menegakkan tubuhnya.
“Eh… itu suara apa?” tanyanya, menoleh ke arah tangga.
Aren ikut bangkit dari sofa, alisnya berkerut.
“Tidak…” batin Theo. “Apa aku salah dengar?”
Matanya tetap menatap ke arah atas, perasaannya tiba-tiba terasa tidak enak.