NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: tamat
Genre:Horor / Selingkuh / Dendam Kesumat / Tamat
Popularitas:244.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di usir Pak Haji

Matahari Minggu siang itu terasa seakan berada tepat di atas kepala Bimo, memanggang kulitnya yang kini tidak lagi sehat. Setelah kehilangan motornya di tangan dukun penipu dan ditinggalkan oleh Fajar yang tidak kuat menahan bau busuk di kontrakannya, Bimo terpaksa berjalan kaki pulang menuju arah kontrakannya sendiri.

Jarak tiga kilometer yang biasanya ia tempuh dalam hitungan menit dengan motor, kini terasa seperti perjalanan ribuan mil di padang pasir. Setiap langkah yang ia ambil membuat gesekan di selangkangannya terasa seperti sayatan silet.

"Bau apa ini? Astaga!" seorang ibu-ibu yang sedang menuntun anaknya tiba-tiba menutup hidung dengan jilbabnya saat Bimo melintas.

"Duh, kayak bau bangkai tikus yang sudah seminggu," bisik seorang pemuda yang sedang nongkrong di bengkel pinggir jalan.

Bimo menunduk dalam-dalam, menutupi wajahnya dengan tudung jaket yang kotor. Namun, ia tidak bisa menutupi bau anyir dan busuk yang menguar dari balik pakaiannya. Bau itu bukan lagi sekadar imajinasi; itu adalah bau daging yang membusuk dari dalam, sebuah aroma kematian yang mengikuti setiap jengkal langkahnya. Orang-orang di sepanjang trotoar menjauh, memberikan jalan lebar-lebar seolah-olah Bimo adalah wabah yang sedang berjalan.

Ledakan Amarah di Ruang Sempit

Begitu sampai di depan pintu kontrakannya, Bimo masuk dan membanting pintu hingga nyaris lepas dari engselnya. Di dalam ruangan sempit itu, oksigen terasa hilang, digantikan oleh hawa panas yang menyesakkan.

"AAAAAAAKKKHHHHH! RATIIIIIIH! SIALAAAN!"

Bimo mengamuk. Segala frustrasi, kehilangan motor, tertipu dukun, dan rasa sakit yang tak tertahankan meledak menjadi amarah buta. Ia menendang meja kayu hingga hancur, melempar televisi tabung kecilnya ke dinding sampai layarnya pecah berkeping-keping. Lemari plastik tempat ia menyimpan baju-baju mahalnya ia banting dan ia injak-injak.

"GUE NGGAK GILA! GUE NGGAK BUSUK! INI SEMUA SALAH LU, RATIH!"

Jeritan Bimo melengking, menembus dinding-dinding kontrakan yang tipis. Suara barang pecah dan hantaman keras membuat suasana di lingkungan padat itu mencekam. Beberapa tetangga yang sedang beristirahat terperanjat. Suara amarah Bimo terdengar sangat tidak manusiawi, lebih mirip suara binatang yang sedang disiksa.

Penghakiman Massa dan Bau Kematian

Kegaduhan itu akhirnya mencapai puncaknya. Beberapa penghuni kontrakan lain yang sudah lama memendam rasa tidak suka terhadap Bimo karena gaya hidupnya yang angkuh, segera melaporkan kejadian itu kepada Pak Haji, pemilik kontrakan.

"Pak Haji, tolong itu si Bimo di kamar ujung! Dia gila atau gimana, berisik sekali dan baunya... aduh, mual saya!" keluh seorang warga.

Pak Haji, pria tua yang biasanya sabar, datang dengan wajah merah padam diikuti oleh beberapa warga pria. Mereka mengetuk pintu Bimo dengan kasar.

"Bimo! Buka pintunya! Kamu jangan bikin onar di sini!" teriak Pak Haji.

Karena tidak ada jawaban selain suara barang yang dibanting, Pak Haji menggunakan kunci cadangan. Begitu pintu terbuka...

HUEEEKKK!

"Ya Allah! Bau apa ini?!" Pak Haji langsung menutup hidung dan mulutnya, matanya berair seketika.

Bau busuk yang amat sangat, campuran antara daging busuk, nanah, dan amis darah—menyeruak keluar seperti gas beracun. Beberapa warga yang berdiri di belakang Pak Haji, yang kebetulan sedang memegang piring makan karena jam makan siang, langsung muntah di tempat. Nasi dan lauk pauk mereka berserakan di tanah karena perut mereka teraduk oleh aroma yang tidak masuk akal itu.

"Ini bukan bau manusia! Ini bau bangkai!" teriak seorang warga sambil menunjuk ke arah Bimo.

Bimo berdiri di tengah kekacauan kamarnya. Rambutnya berantakan, matanya merah menyala, dan bajunya yang basah oleh keringat menempel di tubuhnya yang mulai kurus.

"Apa lihat-lihat?! Pergi kalian!" bentak Bimo dengan suara serak.

"Bimo! Kamu ngapain di sini? Kamu pelihara apa sampai baunya seperti ini?!" Pak Haji bertanya dengan nada jijik, ia tidak berani melangkah masuk.

"Heleh, Pak Haji! Jangan ditanya baik-baik! Saya sering lihat dia bawa perempuan malam ke sini! Pasti dia kena penyakit kotor!" teriak seorang pemuda dari kerumunan. "Itu azab, Bim! Kamu makan uang haram, main perempuan di bar depan gang, sekarang kamu busuk sendiri!"

"DIAM LU! DIAM!" Bimo menerjang ke arah pintu, mencoba memukul orang yang menghinanya. Namun, warga justru mundur dengan jijik, takut jika kulit Bimo menyentuh mereka.

"Lihat itu! Ada cairan di kakinya!" pekik seorang wanita sambil menunjuk ke arah betis Bimo yang terluka karena ia menggaruknya terlalu keras tadi.

Pengusiran dan Titik Nadir

Pak Haji melihat situasi yang semakin tidak kondusif. Ia tidak ingin kontrakannya dicap sebagai sarang penyakit atau tempat terkutuk.

"Sudah! Cukup!" Pak Haji berteriak menenangkan warga, lalu menatap Bimo dengan pandangan dingin. "Bimo, saya tidak peduli kamu sakit apa atau kamu habis melakukan apa. Tapi hari ini juga, kamu harus angkat kaki dari kontrakan saya!"

"Pak Haji... tapi saya mau ke mana?!" Bimo merintih, amarahnya mulai berganti dengan keputusasaan.

"Saya tidak mau tahu! Kamu sudah mengganggu ketenangan dan kesehatan warga di sini. Saya beri waktu sampai nanti malam pukul tujuh. Angkut barang-barangmu yang masih bisa dipakai, sisanya saya bakar! Kalau jam tujuh kamu masih di sini, warga yang akan menyeret kamu keluar!"

Pak Haji dan warga pergi meninggalkan Bimo yang jatuh terduduk di ambang pintu. Mereka terus memaki sambil menjauh, menutup hidung seolah-olah udara di sekitar kamar Bimo sudah terkontaminasi selamanya.

Bimo sendirian di tengah puing-puing barangnya. Ia kehilangan motor, kehilangan martabat di kantor, dan kini ia kehilangan tempat bernaung. Ia tidak punya uang untuk menyewa tempat baru, dan tidak ada teman yang sudi menampungnya dengan bau seperti ini.

Senyum di Balik Bayangan

Di seberang jalan, di lantai dua bangunan kos yang menghadap langsung ke depan kontrakan Bimo, Ratih berdiri di balik gorden tipisnya. Ia mendengar setiap teriakan, ia melihat Bimo yang diusir seperti anjing buduk, dan ia menghirup aroma kepuasan yang jauh lebih nikmat daripada parfum mahal manapun.

Ratih menyesap air putihnya dengan tenang. Sebuah senyum tipis—senyum yang murni mengandung dendam yang tuntas—terukir di wajahnya.

"Sakit, kan, Bimo? Malu, kan?" bisik Ratih. "Dulu kamu mengusirku dari hatimu seolah aku ini sampah tak berguna. Sekarang, dunia sendiri yang mengusirmu karena kamu memang sudah menjadi sampah."

Ratih melihat Bimo mulai mengemasi baju-bajunya ke dalam sebuah tas kain besar dengan tangan gemetar. Ia melihat Bimo sesekali berhenti untuk menggaruk tubuhnya yang mulai mengamuk kembali karena stres dan amarah yang meluap.

"Ulat-ulat itu lapar, Bimo. Mereka menyukai kemarahanmu juga ternyata. Semakin kamu membenci orang-orang itu, semakin dalam mereka akan menggali liang di dagingmu," Ratih berbicara seolah Bimo bisa mendengarnya.

Ratih tahu, malam ini Bimo akan menjadi gelandangan. Dengan bau seperti itu, tidak ada angkutan umum yang mau membawanya. Tidak ada masjid atau emperan toko yang akan membiarkannya tinggal. Bimo akan dipaksa untuk terus berjalan di bawah kegelapan malam, membawa bangkai tubuhnya sendiri sampai ia tidak punya pilihan lain selain mencari sumber dari segala penderitaannya.

"Cari aku, Bimo," kata Ratih sambil menutup gorden kamarnya. "Sujudlah sebelum ulat-ulat itu mencapai jantungmu."

Langkah Menuju Kegelapan

Pukul tujuh malam tepat, Bimo keluar dari gang kontrakan. Ia hanya membawa satu tas ransel yang isinya baju-baju kusam. Ia tidak lagi memakai kemeja necis; ia memakai jaket tebal bertudung untuk menutupi tubuhnya, meski bau busuk itu tetap menembus serat kain.

Lampu-lampu jalan Jakarta mulai menyala, namun bagi Bimo, kota ini terasa sangat asing dan kejam. Ia berjalan kaki menyusuri trotoar, mencoba menjauh dari keramaian agar tidak dihina lagi. Setiap beberapa meter, ia harus berhenti karena rasa sakit di selangkangannya tak tertahankan.

Ia teringat kata-kata dukun palsu, ia teringat kata-kata Abah Kamad, dan akhirnya, pikiran yang paling ia takuti mulai menguasainya.

Ratih.

Hanya Ratih yang bisa menghentikan ini. Hanya Ratih yang tahu cara mematikan ulat-ulat ini. Bimo mulai menyadari bahwa segala egonya tidak akan bisa menyelamatkannya dari pembusukan hidup-hidup. Dengan langkah yang terseok-seok dan napas yang sesak oleh bau tubuhnya sendiri, Bimo mulai berjalan menuju arah kontrakan lama Ratih, berharap wanita itu masih ada di sana, atau setidaknya ada jejak yang bisa ia ikuti.

Bimo tidak tahu bahwa Ratih tidak pernah pergi jauh. Ratih ada di dekatnya, mengawasinya dari bayangan, menanti saat yang tepat untuk melihat predator itu bersujud dan mencium kaki sang "babu" yang telah ia hancurkan hidupnya.

Malam itu, Jakarta menjadi sangat dingin bagi Bimo, sang pria tampan yang kini berubah menjadi bangkai berjalan yang terusir dari peradaban.

1
Argeymi Frananda Lestary
Dari semua cerita novel yg prnah qw baca, kyaknya cuma ini yg bisa bikin pembaca ikut deg"an pas perang gaib, dan bner" bnyak bgtt pljrannya, bner" bisa BKIN orang sadar klau d dunia cuma buat cari bekal d akhirat nanti , untuk authornya💪💪💪💪 semangat trus kk, qw tunggu novel selanjutnya
🔵🌹 Widian🧕
baca novel ini bikin emosi naik turun, luar biasa author nya .
Dengan bahasa dan deskripsi yang mudah dipahami, berasa kita menyaksikan sendiri.
Semangat berkarya Thor /Good//Good//Good//Good/
🔵🌹 Widian🧕
wahh....bagus sekali cerita nya, di bagian endingnya, aku sampe nangis karena perjuangan dan jalan taubat Ratih yang penuh rintangan.
keren Thor 👍👍👍
Halwah 4g: terimakasih kka
total 1 replies
🔵🌹 Widian🧕
aku kagum dengan sosok Ratih, perempuan lemah yang dulu menyimpan dendam ,kini sudah menemukan jalan Nya.
moga kedepannya Ratih selalu Istiqomah dan bahagia dengan jodoh yg sudah Allah siapkan.
Srikandi Dewi Larasati
banyak komentar yg menyudutkan Ratih.. meski dia adalah korban.. dan aq bisa memaklumi hingga diriny mmpunyai dendam terhadap Bimo.. karena sikapny terhadap Ratih sdah sangat keterlaluan.. Jika bnyak yg komentar Ratih bodoh karena terlalu percaya pada Bimo.. yaa, wajarlah.. jika lagi bucin sperti kalian jga jika bertemu dgn cwo cakep dan terlihat tajir..
sekarang yg tobat justru Ratih.. yg kalian sdutkan.. bukan Bimo yg kalian anggap kasihan gara2 perilaku Ratih.. Itu yg di sebut karma.. apa yg mereka tanam.. itu juga yg kelak mereka petik hasilnya.. dan itu jga yg di sebut hukum semesta.. atau sebab akibat yg tidak bisa terbantahkan..
Halwah 4g: namnya juga pelajaran hidup ka..hehehehehe.. makasih ya ka...buat komennya
total 1 replies
Srikandi Dewi Larasati
fitnah memang sangatlah keji dan kejam.. dan penulisnya bikin yang baca jadi geram sendiri.. itulah penulis terbaik.. yg bisa membuat pembacanya ikut larut ke dalam ceritanya.. sukses selalu..
Fadhliyah
aku sangat terharu thor😥😭. beneran
selama ini merasa jadi orang yg paling menderita. hidup sendiri di usia tua. dan apa apa selalu minta sama Allah. aku sadar ibadahku masih kurang🥲
Halwah 4g: peluk jauh kka sayang...kka hebat selalu menjadikan Allah sebagai tempat sandaran satu satunya..
total 1 replies
Widia Cupu
plongh rasanya
Widia Cupu
akirnya
Widia Cupu
udah lah Bimo tobat o lee kasian juga
Widia Cupu
lagi2ratih jadi korban
Srikandi Dewi Larasati
kirain tulus tobat.. trnyata...
Srikandi Dewi Larasati
Kadang hati seorang pendendam akan puas bila melihat orang yg telah menyakitinya sdah tersiksa oleh penderitaan hingga lupa diri dan menjadi sombong.. dan kesombongan itu justru adalah sifat dasar iblis..
jadi jgan heran jika orang sombong itu biasanya perilakukannya jga kek iblis.. tak punya rasa iba lgi.. seperti Ratih..
Srikandi Dewi Larasati
ini yang di sebut hukum sebab akibat..
Bimo menjadi seperti itu pasti ada sebab.. dan apapun kejahatan pasti ada timbal balik yang harus di terima.. dan itu adalah hukum karma..
Tak ada kejahatan akan berbuah manis bukan.. jadi seperti itulah hukum alam bekerja..
Rhea Kim
😭kereennmn ceritanyaaa

tapi yg bunuh rani, bunuh anak pak kades.bunuh sinden....
belum terungkap ke polisi yak... jasadnya rani belum ketemu...

bang aryaa.... jugaaaa kagak ketemu ketemu🤣🤣🤣... nyasar kali yakkk...

tapi bagusss jalan ceritanya.... pilihan katanya baguss.... jadi nyaman membacanya🥰🥰🥰
Rhea Kim: iyaa bagusss ceritanya kakak.... 🔥🔥🔥🥰🥰
total 2 replies
Rhea Kim
ceritanyaaaa baguss bangett kakak🥰🥰🥰🥰
Rhea Kim
Alhamdulillah... ikut lega😭😭😭
sunardi imogiri
mungkin itu yg di sebut menyimpan bangkai serapat mngkin.. tpi akhirnya tetap baunya akan trcium jga..
Rhea Kim
syariiiiiiee
kadang insting ortu itu bener lo
Rhea Kim
ya Allah nagiss aq ... kayak terhanyut kasian gtu ama orang2 yg baik ...

cobaan nya g main2...
Halwah 4g: hehehehhehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!