Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-21
Persiapan menuju jamuan makan malam resmi yang di adakan keluarga Mahendra dimulai bukan dengan hingar bingar pesta yang meriah tapi melainkan dengan keheningan yang disiplin di dalam ruang perpustakaan mansion. Bagi Elisa, seminggu terakhir terasa seperti sekolah kilat untuknya yang harus menguras energi mentalnya lebih banyak daripada saat ia harus mengejar target pengantaran makanan di bawah terik matahari di Jakarta.
Di bawah bimbingan sang mertua, Nyonya Siska. Elisa banyak belajar bahwa menjadi seorang Mahendra bukan hanya tentang apa yang akan dikenakan, tetapi tentang bagaimana cara bernapas di ruangan yang akan penuh dengan orang-orang yang berkuasa.
"Duduk yang tegak, sayang. Dan Jangan biarkan punggungmu itu menyentuh sandaran kursi. Karena itu terlihat terlalu santai," ujar Siska lembut namun tegas. Ia menaruh sebuah buku tipis di atas kepala Elisa. "Anggap saja ini adalah mahkota kecilmu. Dan jika buku ini jatuh, maka harga dirimu akan ikut jatuh di depan mata mereka."
Elisa menarik napas perlahan, menyeimbangkan buku yang ada di atas kepalanya. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Mungkin karena Kondisi kehamilannya yang baru mau memasuki minggu kedelapan membuatnya cepat lelah, namun ia menolak untuk menyerah.
"Kenapa mereka sangat peduli dengan cara saya duduk, Ma?" tanya Elisa lirih.
Siska tersenyum tipis, ia duduk di hadapan Elisa sambil menyesap teh mawarnya. "Karena di dunia ini, orang-orang akan mencari celah sekecil apa pun untuk merendahkanmu. Jika mereka melihatmu ragu, mereka akan menerjang. Tapi jika mereka melihatmu tenang dan bermartabat, mereka akan berpikir dua kali sebelum membuka mulut."
Siska bangkit dan mengusap bahu Elisa. "Mama tahu ini sangat berat. Apalagi dengan kondisi yang lagi hamil dan mualmu yang masih sering datang. Tapi ingat, kamu sedang melindungi dua hal yaitu dirimu sendiri dan bayi yang ada di dalam sana."
...----------------...
Di sisi lain kota, Kalandra sedang berada di dalam mobilnya bersama dengan Bimo. Mereka baru saja selesai dari pertemuan rahasia dengan beberapa pemegang saham. Wajah Kalandra terlihat tampak kaku. Ia terus melihat ke jam tangannya entah kenapa selalu merasa gelisah karena sudah terlalu lama meninggalkan Elisa.
"Danu sudah mulai menyebar undangan tandingan di hari yang sama, Lan," lapor Bimo. "Dia tahu kita akan membuat perjamuan, jadi dia juga bikin acara amal palsu supaya kolega kita bingung mau datang ke mana."
"Biar saja," sahut Kalandra dingin. "Orang-orang yang setia pada Papa tidak akan tergoda oleh acara murahan Danu. Fokus kita sekarang adalah keamanan di dalam mansion saat acara berlangsung. Gue nggak mau ada penyusup yang bawa kamera tersembunyi atau mencoba memprovokasi Elisa."
"Kalau untuk keamanan Gery sudah atur bersama tim di lapangan. Semua pelayan yang bertugas besok adalah orang-orang lama yang sudah disaring ketat," Bimo menjeda. "Tapi Lan, gimana kondisi lo? Gue liat lo tadi pas rapat berkali-kali megang perut."
Kalandra menghela napas, ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. "Kramnya makin sering, Bim. Sepertinya Elisa lagi stres berat belajar sama Mama. Setiap kali dia merasa tertekan, perut gue yang rasanya kayak diperas."
"Lo bener-bener udah jadi human barometer buat dia ya," Bimo terkekeh pelan namun matanya menunjukkan rasa prihatin. "Sabar, ya Lan. Trimester pertama emang masa-masa yang paling berat."
...----------------...
Sore harinya, Kalandra pulang dan mendapati perpustakaan sudah sepi. Ia menemukan Elisa sedang tertidur di sofa panjang dengan buku etiket yang masih terbuka di atas dadanya. Wajah gadis itu tampak sangat lelah, namun ada gurat ketegasan yang mulai terbentuk di sana.
Kalandra berjalan mendekat, ia berlutut di samping sofa dan mengambil buku itu dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan Elisa. Ia memperhatikan wajah istrinya. Ada memar kecil di jarinya, mungkin itu karena sang istri terlalu kencang meremas sendok saat latihan tata krama meja makan tadi siang.
Tiba-tiba, mata Elisa terbuka. Ia tersentak dan langsung mencoba duduk tegak. "Maaf, Ma... saya ketiduran..."
"Ini saya, Elisa. Bukan Mama," ucap Kalandra lembut, tangannya menahan bahu Elisa agar tetap berbaring. "Istirahatlah. Mama sudah selesai dengan sesinya."
Elisa mengerjapkan mata, menyadari kehadiran Kalandra. Ia menghela napas lega dan kembali menyandarkan kepalanya. "Mas, kamu sudah pulang? Jam berapa emang sekarang?"
"Hampir jam enam. Kamu terlalu memaksakan diri."
"Saya harus bisa, Mas. Saya tidak mau Papa malu punya menantu kayak saya," bisik Elisa.
Kalandra duduk di lantai di samping sofa, membiarkan tangannya digenggam oleh Elisa. "Papa tidak akan pernah malu. Dan saya juga tidak akan pernah malu. Yang saya takutkan hanyalah kamu yang akan merasa tersiksa."
"Aneh ya, Mas," Elisa tersenyum kecil. "Dulu saya pikir tantangan terbesar hidup saya adalah gimana caranya bayar kontrakan untuk bulan depan. Sekarang, tantangan terbesar saya adalah gimana caranya jalan pake gaun panjang tanpa tersandung."
Kalandra ikut tersenyum. Ia membawa tangan Elisa ke bibirnya dan mengecupnya lama. "Kamu akan terlihat luar biasa nanti. Saya sudah menyiapkan sesuatu untukmu."
...----------------...
Dua hari sebelum jamuan di adakan, sebuah kotak besar berwarna perak sampai di kamar Elisa. Dan Kalandra sendiri yang membawanya. Di dalam kotak itu terdapat sebuah gaun sutra berwarna biru dongker tua dengan potongan yang sangat elegan namun sopan. Tidak banyak payet yang berkilau, namun kualitas kainnya menunjukkan kemewahan yang tenang.
"Biru?" tanya Elisa saat melihat gaun itu.
"Ya, Biru adalah warna ketenangan dan otoritas. Saya ingin kamu terlihat seperti samudra yang tenang namun dalam," jelas Kalandra. "Dan ini..."
Kalandra mengeluarkan sebuah kotak perhiasan. Di dalamnya terdapat satu set anting dan kalung safir yang dikelilingi berlian kecil. "Ini adalah milik mendiang nenek saya. Mama yang memberikannya untukmu. Dia bilang, mutiara kemarin untuk menyambutmu, dan safir ini untuk mengukuhkan posisimu."
Elisa menyentuh kalung itu dengan gemetar. "Ini…ini terlalu berharga, Mas."
"Sama berharganya denganmu di mata kami," sahut Kalandra.
Namun, di tengah momen manis itu, Elisa mendadak menutup mulutnya. Rasa mual yang hebat kembali menyerang tiba-tiba tanpa aba-aba. Ia berlari menuju kamar mandi, diikuti oleh Kalandra yang juga ikut merasakan gejolak di lambungnya.(lucunya…jadi gemesss deh papa sang cabang bayi juga ikut-ikutan merasakan🤭😅)
Setelah beberapa menit mereka bergelut dengan rasa tidak nyaman, mereka berdua terduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Kalandra mengelap keringat di dahi Elisa dengan handuk kecil.
"Kita benar-benar tim yang kompak dalam hal muntah ya," canda Kalandra dengan wajah pucat.
Elisa tertawa di sela lemasnya. "Bayi ini pasti senang melihat orang tuanya yang kompak menderita."
"Kalau begitu, mari kita buat dia bangga di jamuan besok," Kalandra memeluk bahu Elisa. "Setelah jamuan ini selesai, saya janji kita akan punya waktu tenang tanpa ada gangguan dari siapa pun."
...----------------...
Malam dihari di pesta jamuan itu akhirnya tiba. Mansion Mahendra bermandikan cahaya lampu kristal yang hangat. Karpet merah dibentangkan di lobi utama. Satu per satu mobil mewah mulai berdatangan. Nama-nama besar di dunia bisnis dan politik Indonesia mulai memenuhi ruangan utama.
Elisa berdiri di puncak tangga lantai dua. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah-olah ingin melompat keluar. Ia mengenakan gaun biru dongker pemberian sang suami, rambutnya disanggul modern yang sangat rapi. Ia terlihat sangat berbeda, bukan lagi kurir makanan yang lusuh, melainkan sosok wanita yang anggun dan berkelas.
Kalandra berdiri di sampingnya, mengenakan setelan jas hitam yang sangat pas di tubuhnya yang tegap. Ia menatap Elisa, matanya menunjukkan rasa bangga yang tidak bisa ditutupi.
"Siap?" tanya Kalandra, menawarkan lengannya.
Elisa menarik napas panjang, mengingat semua latihan dengan Nyonya Siska. Ia menaruh tangannya di lengan Kalandra. "Siap, Mas."
Saat mereka mulai menuruni tangga, seluruh mata di ruangan pesta jamuan itu tertuju pada mereka. Suasana yang tadinya bising dengan percakapan mendadak menjadi hening selama beberapa detik. Tatapan-tatapan penuh rasa ingin tahu, kecurigaan, dan kekaguman bertemu pada satu titik yaitu sosok Elisa.
Tuan Baskoro berdiri di kaki tangga, menatap mereka dengan tatapan seorang singa yang bangga akan keluarganya. Ia melangkah maju saat Kalandra dan Elisa sampai di lantai bawah.
"Hadirin sekalian," suara Baskoro menggelegar, meredam sisa-sisa bisikan. "Terima kasih telah hadir di undangan kami Malam ini, dan di malam ini saya ingin secara resmi memperkenalkan anggota keluarga baru kami. Menantu saya, istri dari putra saya Kalandra...Elisa Mahendra."
Tepuk tangan terdengar, meski di beberapa sudut ada bisikan-bisikan tajam yang belum sepenuhnya hilang.
"Bukankah dia yang ada di foto itu?" bisik seorang wanita sosialita di sudut ruangan.
"Katanya dia hanya orang biasa. Lihat perhiasannya, pasti hasil merayu Kalandra," sahut yang lain.
Elisa mendengar bisikan mereka itu. Ia merasa lututnya sedikit lemas. Namun, ketika merasakan remasan lembut tangan Kalandra di lengannya. Ia teringat kata-kata Sang mertua, nyonya Siska. Tegakkan kepalamu.
Elisa memaksakan sebuah senyuman yang tenang. Ia menatap kerumunan itu satu per satu dengan pandangan yang jernih. Di tengah kerumunan itu, ia melihat sosok pria yang sangat ia kenali, Pak Danu.
Pria itu berdiri di dekat meja prasmanan, memegang gelas sampanye dengan seringai kemenangan. Ia seolah sedang menunggu saat yang tepat untuk meledakkan bom yang ia bawa.
Danu melangkah maju mendekati mereka, membuat beberapa pengawal Kalandra langsung bersiaga.
"Selamat, Tuan Baskoro. Selamat, Kalandra," ujar Danu dengan nada meremehkan. "Pilihan yang sangat berani. Saya tidak menyangka Mahendra Group sekarang begitu terbuka terhadap aset dari jalanan."
Suasana mendadak tegang. Beberapa tamu mulai mendekat, ingin melihat konfrontasi tersebut.
Kalandra hendak membuka mulut, namun Elisa lebih dulu melangkah maju satu langkah. Ia melepaskan tangan Kalandra dan berdiri tegak di hadapan Danu.
"Terima kasih atas perhatiannya, Tuan Danu," ucap Elisa dengan suara yang tenang namun terdengar jelas di seluruh ruangan. "Jalanan memang tempat yang keras, tapi ia mengajarkan saya satu hal yang mungkin tidak pernah diajarkan di kantor-kantor mewah bahwa bagaimana cara mengenali serigala yang bersembunyi di balik setelan mahal."
Beberapa tamu terkesiap. Danu tampak terkejut, senyumnya sedikit memudar.
"Dan saya juga bersyukur," lanjut Elisa, "bahwa keluarga Mahendra tidak menilai seseorang dari masa lalunya, melainkan dari masa depan yang sedang kami bangun bersama. Bukankah begitu, Tuan Danu? Atau mungkin Tuan lebih suka membahas masa lalu? Em…mungkin seperti pajak perusahaan Tuan yang baru saja diaudit?"
Wajah Danu berubah menjadi merah padam. Kalandra menatap istrinya dengan takjub. Ia tidak menyangka Elisa akan berani melakukan serangan balik secerdas itu.
Baskoro tertawa kecil di samping mereka. "Sepertinya menantuku benar, Danu. Mari kita nikmati makan malamnya, selagi kamu masih punya alasan untuk merayakannya."
Danu mendengus dan berbalik pergi dengan langkah gusar. Serangan pertamanya gagal total.
Kalandra kembali menggenggam tangan Elisa. "Itu luar biasa, Elisa."
"Saya hanya melakukan apa yang Mama ajarkan, Mas," bisik Elisa, napasnya sedikit memburu karena adrenalin. "Tapi Mas, sekarang saya merasa benar-benar mual."
Kalandra tertawa lembut. "Saya juga. Mari kita selesaikan ini dengan cepat, lalu kita kembali dan makan bubur instan di kamar."
Malam itu, di tengah kemewahan yang menekan, Elisa menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar korban. Ia adalah seorang Mahendra. Dan ia memiliki pelindung yang bersedia menanggung setiap mual dan sakitnya. Trimester pertama mungkin penuh dengan racun dari orang-orang seperti Danu, namun Elisa baru saja membuktikan bahwa ia adalah obat bagi keluarganya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat membaca☺️🥰...
...Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya ya. Karena dukungan teman-teman sangat berarti…yuhuiii🙏🏻🙌🏾❤️...
...Terimah kasih🌹🥰...