NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: REUNI BERDARAH

#

Hendrawan jatuh.

Jatuh dengan lubang di dadanya yang mengucurkan darah. Banyak. Terlalu banyak.

Arjuna berlari, jatuh berlutut di samping ayahnya. Tangannya gemetar menyentuh luka itu, coba tutup dengan tangannya sendiri tapi darahnya tetep mengalir lewat sela-sela jarinya.

"Ayah," raungnya. "Ayah kumohon jangan. Jangan tinggalin aku lagi. Kumohon..."

Hendrawan batuk. Darah keluar dari mulutnya. Tapi matanya... matanya masih terbuka. Masih lihat anaknya.

"Arjuna," bisiknya. Suaranya pelan banget, nyaris gak kedengaran. "Anakku..."

"Jangan bicara," Arjuna nangis sekarang. Nangis keras tanpa malu. "Jangan buang energi. Kita akan bawa kau ke rumah sakit. Kau akan selamat. Kau harus selamat..."

"Bohong yang lebih baik," Hendrawan tersenyum. Senyum yang penuh darah. "Kita berdua tau... tau aku gak akan bertahan."

"TIDAK!" Arjuna menggeleng keras. "Tidak kau akan bertahan! Kau janji! Kau janji kita akan hidup bareng setelah semua ini selesai! Kau janji!"

"Maafkan ayah," bisik Hendrawan. Tangannya yang gemetar naik, menyentuh pipi Arjuna yang basah air mata. "Maafkan ayah yang... yang selalu mengecewakan. Selalu bohong. Selalu..."

"Aku gak peduli kau bohong," Arjuna pegang tangan ayahnya erat. "Aku gak peduli kau sempurna atau gak. Aku cuma peduli kau ada. Kau hidup. Kau... kau tetep jadi ayahku."

"Dan kau... kau tetep jadi anak terbaik... yang ayah punya," Hendrawan batuk lagi. Lebih keras. Lebih banyak darah. "Ayah bangga... sangat bangga padamu..."

"Ayah kumohon," Arjuna hampir tidak bisa bicara karena tenggorokannya tersumbat. "Kumohon jangan pergi. Aku masih butuh kau. Aku..."

"Kau gak butuh aku lagi," potong Hendrawan pelan. "Kau udah jadi... jadi pria yang lebih baik dari ayah. Lebih kuat. Lebih berani. Lebih..."

Napasnya mulai terputus-putus sekarang.

"Jaga Sari," katanya. "Jaga dia... seperti ayah gak bisa jaga ibumu. Cintai dia... seperti ayah cinta kau. Dan hidup... hidup bahagia untuk ayah yang... yang gak sempet..."

Napasnya berhenti.

Matanya yang tadinya menatap Arjuna sekarang menatap kosong ke langit-langit.

Tangannya yang pegang pipi Arjuna jatuh.

"Ayah?" bisik Arjuna. "Ayah? AYAH!"

Tapi tidak ada jawaban.

Tidak akan pernah ada jawaban lagi.

Hendrawan Surya sudah mati.

Dan kali ini beneran mati. Bukan pura-pura. Bukan strategi. Mati dengan lubang di dada dan darah yang membentuk genangan di sekitar tubuhnya.

Arjuna meraung. Raung seperti binatang yang terluka. Suaranya memenuhi gudang, memantul di dinding, menusuk hati semua orang yang dengar.

Sari jatuh berlutut juga. Tangannya menutupi mulutnya, mata tidak percaya, air mata mengalir tanpa henti.

Pixel dan Ratna, yang masih diikat, juga menangis diam-diam. Ratna yang biasanya kuat sekarang terlihat hancur, bahunya bergetar.

Tapi Adrian... Adrian cuma berdiri di sana. Pistol masih di tangannya. Wajahnya datar. Tidak ada penyesalan. Tidak ada apapun.

"Satu pengkhianat sudah diurus," katanya dingin. "Sekarang tinggal kalian."

Arjuna mengangkat kepalanya perlahan. Matanya merah. Wajahnya basah air mata dan darah ayahnya. Dan di mata itu ada sesuatu yang membuat bahkan Adrian mundur satu langkah.

Kebencian murni.

"Aku akan bunuh kau," bisik Arjuna. Suaranya rendah, berbahaya. "Aku akan bunuh kau dengan tangan kosongku. Perlahan. Menyakitkan. Sampai kau merasakan sepersekian dari apa yang ayahku rasakan."

"Coba saja," Adrian angkat pistolnya lagi. Tapi sebelum dia sempat tembak, ada suara dari luar.

Suara sirene. Banyak.

"Polisi," bisik salah satu anak buah Adrian yang berdiri di pintu. "Bos, polisi datang. Banyak. Mungkin puluhan mobil."

Adrian mengutuk. "Bagaimana mereka bisa tau kita di sini?"

"Aku yang panggil," kata Ratna. Senyumnya penuh darah karena dia dipukul tadi, tapi tetap senyum. "Sebelum aku ditangkap, aku sempat kirim lokasi ini ke kontak darurat. Kontak yang langsung ke kepala polisi yang jujur. Satu-satunya polisi yang tidak kau beli."

"Kau..." Adrian jalan ke arahnya. Tendang perutnya keras. Ratna jatuh ke samping, batuk darah. "Kau pikir polisi bisa tangkap aku? Aku punya pengacara terbaik! Aku punya bukti alibi! Aku punya..."

"Kau punya video pembantaian yang udah ditonton puluhan juta orang," potong Pixel. "Video yang sekarang udah viral di mana-mana. Di semua media sosial. Di semua berita. Seluruh negara tau siapa kau sebenarnya. Dan gak ada pengacara di dunia yang bisa bela kau dari itu."

Adrian terdiam. Lalu dia tertawa. Tertawa yang kedengarannya gila.

"Kalian pikir itu cukup?" tanyanya sambil jalan bolak-balik. "Kalian pikir video itu akan jatuhkan aku? Aku masih punya The Protocol! Aku masih bisa lumpuhkan seluruh negara! Aku bisa..."

"Sistem sudah mati," kata Sari tiba-tiba. Suaranya pelan tapi jelas. "Shutdown selesai dua detik sebelum kau tembak komputer."

Adrian berhenti. "Apa?"

"98 persen itu cukup," lanjut Sari sambil berdiri pelan. "Hendrawan design sistemnya supaya kalau shutdown udah lewat 95 persen, proses akan lanjut otomatis di server backup. Jadi walau kau hancurkan komputer itu, The Protocol tetap mati."

Adrian menatapnya. Lalu menatap anak buahnya. "Check! Check sekarang!"

Anak buahnya ambil ponsel, coba akses sistem. Wajahnya pucat.

"Bos... sistemnya... sistemnya offline. The Protocol tidak merespons."

"TIDAK!" Adrian berteriak. Dia tembak ke langit-langit berkali-kali sampai pelurunya habis. "TIDAK INI GAK BISA TERJADI! AKU SUDAH RENCANAKAN SEGALANYA! AKU..."

Pintu gudang didobrak. Polisi masuk. Puluhan polisi dengan senjata teracung.

"TANGAN DI ATAS KEPALA! SEKARANG!"

Adrian berdiri di sana. Pistolnya kosong. Tubuhnya gemetar. Di sekelilingnya polisi mengepung, tidak ada jalan keluar.

Dia kalah.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian Mahendra kalah.

Tapi kemudian dia tersenyum lagi. Tersenyum sambil menatap Sari yang berdiri beberapa meter dari dia.

"Sari," katanya. "Anakku. Ayo. Ayo ke sini. Kita pergi bersama."

"Apa?" Sari menatapnya tidak percaya.

"Kita keluarga," lanjut Adrian. Tangannya terulur ke arahnya. "Darah yang sama mengalir di tubuh kita. Kita bisa kabur dari sini. Mulai hidup baru di negara lain. Aku punya uang tersembunyi. Punya koneksi. Kita bisa..."

"Aku bukan anakmu," potong Sari. Suaranya dingin sekarang. "Aku anak Wulandari. Wanita yang kau jual seperti barang. Wanita yang mati karena kau. Aku tidak punya darah yang sama denganmu karena darahmu adalah darah monster. Dan aku... aku manusia."

"Sari kumohon," Adrian melangkah maju. Polisi langsung teriak peringatan tapi dia tidak peduli. "Kumohon dengarkan aku. Aku tau aku buat kesalahan. Banyak kesalahan. Tapi itu semua aku lakukan untuk bertahan. Untuk..."

"Untuk dirimu sendiri," potong Sari lagi. "Semua yang kau lakukan adalah untuk dirimu. Untuk kekuasaanmu. Untuk egomu. Tidak pernah untuk orang lain. Bahkan tidak untuk aku."

"Itu tidak benar," Adrian hampir memohon sekarang. "Aku selalu tau kau hidup. Selalu mengawasi dari jauh. Aku sengaja tidak mendekati karena aku takut... takut musuhku akan gunakan kau untuk menyakiti aku. Aku melindungimu dengan cara..."

"Dengan membiarkan aku hidup miskin di panti asuhan?" Sari tertawa pahit. "Dengan membiarkan aku tidak tau siapa ayahku? Dengan membuat aku tumbuh merasa tidak berharga? Itu yang kau sebut perlindungan?"

"Aku..." Adrian tidak bisa menjawab. Untuk pertama kalinya dia terlihat... terlihat seperti manusia biasa yang bingung. Yang tidak tau harus bilang apa.

"Kau tau apa yang paling menyedihkan?" tanya Sari sambil berjalan lebih dekat. "Bukan karena kau jahat. Tapi karena kau benar-benar percaya kau melakukan yang benar. Kau cuci otakmu sendiri sampai kau tidak bisa bedakan lagi antara cinta dan kepemilikan. Antara melindungi dan mengontrol."

Dia berhenti tepat di depan Adrian. Menatap matanya yang sama dengan matanya.

"Tapi aku tidak akan jadi sepertimu," bisiknya. "Aku tidak akan biarkan darahmu mengubah aku jadi monster. Karena aku punya sesuatu yang kau tidak punya. Aku punya orang yang bener-bener cinta aku. Bukan karena aku milik mereka. Tapi karena aku adalah aku."

Dia berbalik. Berjalan ke Arjuna yang masih berlutut di samping tubuh Hendrawan.

"Aku memilih mereka," katanya tanpa menoleh ke Adrian. "Aku memilih keluarga yang aku bangun sendiri. Bukan keluarga yang kau paksa pada ku."

Adrian berdiri di sana. Tangan masih terulur. Tapi sekarang dia terlihat... kecil. Kesepian. Seperti anak yang ditinggalkan.

"Sari," bisiknya. "Kumohon... jangan tinggalkan aku. Kau satu-satunya yang... yang aku punya..."

"Kau punya banyak," jawab Sari tanpa berbalik. "Kau punya kekayaan. Kau punya kekuasaan. Kau punya semua yang kau mau. Tapi kau tidak punya yang paling penting. Kau tidak punya cinta. Karena kau tidak pernah belajar cara mencintai tanpa menyakiti."

Polisi maju. Menangkap Adrian. Memborgol tangannya di belakang.

"Adrian Mahendra," kata kepala polisi. "Kau ditangkap atas tuduhan pembunuhan massal, perdagangan manusia, korupsi, dan berbagai kejahatan lainnya. Kau punya hak untuk diam. Segala yang kau katakan dapat digunakan melawanmu di pengadilan."

Adrian tidak melawan. Tidak berteriak. Cuma berdiri di sana sambil menatap Sari yang sekarang memeluk Arjuna.

"Aku selalu mencintaimu," bisiknya. Tapi Sari tidak dengar. Atau pura-pura tidak dengar.

Mereka menyeret Adrian keluar. Keluar dari gudang. Keluar dari kehidupan orang-orang yang dia hancurkan.

Dan saat pintu gudang ditutup, saat suara sirene polisi perlahan menjauh, Arjuna akhirnya melepaskan tubuh ayahnya.

Melepaskan dengan lembut. Dengan penuh kasih. Tangannya menutup mata Hendrawan yang masih terbuka.

"Selamat jalan, Yah," bisiknya. "Selamat jalan ke tempat yang lebih baik. Ke tempat di mana kau bisa ketemu Ibu lagi. Ke tempat di mana kau tidak perlu sembunyi lagi."

Sari berlutut di sebelahnya. Pegang tangannya yang masih penuh darah.

"Dia bangga padamu," bisiknya. "Aku lihat di matanya. Dia sangat bangga."

"Aku tau," jawab Arjuna. Air matanya jatuh lagi tapi dia tidak sob. Cuma membiarkan air mata itu jatuh diam-diam. "Aku cuma berharap... berharap aku sempat bilang ke dia kalau aku juga bangga. Bangga punya ayah yang mau korbankan segalanya untuk anak dan orang yang dia sayang."

Mereka duduk di sana. Di samping tubuh Hendrawan. Dengan Pixel dan Ratna yang sudah dibebaskan dari ikatan, duduk di dekat mereka dalam diam yang penuh hormat.

Di luar, matahari mulai terbit. Cahayanya masuk lewat celah-celah dinding gudang yang rusak. Hangat. Lembut.

Seperti pelukan terakhir dari orang yang sudah pergi.

Seperti janji bahwa walau malam sudah sangat gelap, pagi akan tetap datang.

Dan kehidupan, entah bagaimana, akan terus berlanjut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!