NovelToon NovelToon
My Annoying Step-Brother

My Annoying Step-Brother

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Tamat
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Pagi itu, kamar Araluna dipenuhi energi yang meledak-ledak. Ia berdiri di depan cermin besar, memulas lip tint berwarna stroberi sambil sesekali bersenandung kecil. Pikirannya masih melayang pada kejadian di tangga semalam—napas hangat Arsen, tatapan tajamnya, dan jemari cowok itu yang sempat menyentuh rahangnya.

"Gila, dikit lagi gue jadi ratu di hati Arsen Sergio," gumamnya sambil menyisir rambut.

Hari ini Luna memilih tampil berani. Ia mengenakan blouse berwarna merah menyala yang kontras dengan kulit putihnya, dipadukan dengan rok hitam di atas lutut dan sepatu kets putih agar tetap terlihat sporty. Warna merah adalah simbol keberanian, dan hari ini Luna merasa sangat berani untuk menagih "kelanjutan" momen semalam.

Dengan langkah riang dan senyum yang tak kunjung luntur, ia menuruni tangga menuju ruang makan. Ia sudah membayangkan akan melihat Arsen yang sedang menyeruput kopi dengan wajah kaku tapi salah tingkah.

Namun, setibanya di bawah, senyum itu membeku. Kursi yang biasanya ditempati Arsen kosong melompong. Hanya ada Papa Arga yang sedang membaca koran digital dan Bunda yang sibuk menata piring.

"Kak Arsen mana, Bun?" tanya Luna, suaranya naik satu oktav karena panik.

Bunda menoleh, tersenyum maklum. "Lho, Arsen sudah berangkat dari jam enam tadi, Sayang. Katanya ada kelas tambahan pagi. Kamu nggak dibangunin?"

Luna mengerucutkan bibirnya sampai maksimal. Dadanya sesak oleh rasa kesal. "Enggak! Ih, Kak Arsen jahat banget! Padahal kan dia janji mau bareng!"

"Mungkin dia lupa, Luna. Tadi dia buru-buru sekali," sahut Papa Arga tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Luna menghentakkan kakinya ke lantai. Ia tahu betul itu bukan karena lupa. Itu adalah cara Arsen melarikan diri! Arsen sengaja menghindar karena tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah momen "nyaris" semalam.

"Oke... oke fine!" batin Luna meradang. "Gue bakal bikin perhitungan sama lo, Kak. Lo pikir bisa lari dari Araluna? Lo bakal kelimpungan ngadepin gue. Saatnya taktik baru: Gue bakal diemin lo sampai lo yang mohon-mohon minta diperhatiin!"

Operasi 'Silent Treatment' di Kampus

Luna tiba di fakultas dengan aura yang berbeda. Tidak ada lagi Araluna yang teriak-teriak memanggil nama Arsen dari kejauhan. Ia berjalan dengan angkuh, dagu terangkat, dan tatapan mata yang lurus ke depan.

Di kantin fakultas, ia melihat Arsen sedang duduk bersama gerombolan temannya—Rian, Galaksi, dan beberapa anak organisasi lainnya. Arsen terlihat gelisah, matanya berkali-kali melirik ke arah pintu masuk, seolah-olah sedang mencari seseorang. Begitu mata mereka bertemu, Arsen tampak menarik napas lega, namun ia segera memasang wajah kaku andalannya.

Arsen sudah bersiap-siap akan mendengar ocehan Luna tentang kenapa dia ditinggal tadi pagi. Ia sudah menyiapkan jawaban "Lupa" yang paling dingin.

Namun, prediksinya meleset total.

Luna berjalan melewati meja Arsen tanpa menoleh sedikit pun. Seolah-olah Arsen hanyalah sebuah kursi kosong atau pajangan dinding.

"Hai, Kak Rian! Hai, Kak Galaksi! Duh, makin ganteng aja hari ini!" sapa Luna dengan suara yang sangat manis dan ceria, lengkap dengan senyum lebar yang tidak pernah ia berikan pada orang lain selain Arsen.

Rian dan Galaksi melongo. "Eh, hai Luna! Tumben banget nggak nempel sama 'pawangnya'?"

"Pawang? Pawang apa? Aku kan single, Kak. Bebas mau menyapa siapa aja," jawab Luna sambil tertawa renyah. Ia sengaja berdiri di dekat Galaksi, bahkan menyentuh lengan cowok itu pelan. "Kak Gal, nanti temenin aku ke perpus ya? Ada buku yang aku nggak paham."

"Boleh banget, Lun! Jam berapa?" sahut Galaksi antusias.

Sepanjang interaksi itu, Luna sama sekali tidak melirik Arsen. Padahal, dari sudut matanya, ia bisa melihat Arsen sedang meremas botol air mineral di tangannya sampai berbunyi kretek-kretek. Rahang Arsen mengeras, dan aura di sekitar cowok itu mendadak jadi sangat mencekam.

"Araluna," panggil Arsen pelan, suaranya berat dan penuh penekanan.

Luna pura-pura tidak mendengar. Ia malah sibuk membetulkan letak bando di rambutnya sambil bercermin di ponsel. "Eh, Kak Rian, aku duluan ya! Takut telat masuk kelas. Dadah!"

Luna melengos pergi begitu saja. Ia tidak menoleh, tidak tersenyum, bahkan tidak memberikan kiss jauh seperti biasanya.

Satu jam, dua jam, hingga jam pulang kampus tiba, Luna tetap konsisten dengan aktingnya. Setiap kali berpapasan dengan Arsen di koridor, ia akan asyik mengobrol dengan teman seangkatannya atau sengaja menelepon seseorang (padahal cuma pura-pura) sambil tertawa-tawa.

Arsen yang biasanya kaku dan tenang, kini benar-benar kelimpungan. Ia terus mengikuti Luna dari kejauhan seperti bayangan yang tersakiti. Puncaknya adalah di parkiran kampus.

Luna sedang berdiri di samping motor Galaksi, tampak asyik mengobrol. Baru saja Luna mau naik ke motor Galaksi, sebuah tangan besar menarik tas ransel Luna dari belakang hingga gadis itu terhuyung mundur.

"Eh! Apa-apaan sih!" Luna berteriak kesal, berbalik dan mendapati Arsen dengan wajah yang sudah merah padam karena menahan cemburu dan emosi.

"Pulang sama gue," ucap Arsen pendek, tegas, dan tidak menerima bantahan.

Luna melipat tangan di dada, menatap Arsen dengan tatapan datar yang sangat asing bagi Arsen. "Maaf, Kak Arsen Sergio. Gue udah ada janji sama Kak Galaksi. Lagian, lo kan hobi berangkat sendiri, jadi pulang sendiri juga bukan masalah buat lo, kan?"

"Araluna, jangan mancing emosi gue di sini," bisik Arsen, suaranya rendah dan berbahaya.

"Oh, lo bisa emosi juga? Gue pikir lo itu robot kaku yang nggak punya perasaan," balas Luna pedas. Ia melirik Galaksi yang tampak bingung. "Kak Gal, maaf ya, kayaknya 'kakak' gue lagi kumat penyakit protektifnya. Kita lain kali aja ya!"

Luna langsung berjalan menuju motor Arsen, naik ke jok belakang tanpa dibantu, dan memakai helmnya sendiri. Ia duduk dengan jarak yang cukup jauh dari punggung Arsen, tidak memeluk pinggang cowok itu seperti biasanya.

Arsen naik ke motornya dengan emosi yang meluap-luap. Di sepanjang jalan, tidak ada percakapan. Arsen sengaja memacu motornya dengan kencang agar Luna ketakutan dan memeluknya, tapi Luna justru tetap memegang pegangan besi di belakang motor dengan erat, menolak untuk menyentuh Arsen.

Arsen membatin dalam hati dengan frustrasi, "Gue lebih suka dia yang 'cegil' gila daripada dia yang diem kayak begini. Sial, gue beneran bisa gila kalau didiemin terus."

Taktik Luna berhasil. Arsen yang kaku kini benar-benar berada di bawah kendalinya tanpa perlu berteriak "Sayang" satu kali pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!