Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arven Monolog
Pertama kali aku melihatmu, tidak ada petir yang menyambar, tidak ada musik yang tiba-tiba mengalun seperti di film-film murahan. Dunia tetap berjalan seperti biasa orang-orang lalu lalang, suara kendaraan saling bertabrakan, langit berdiri tanpa peduli.
Tapi sesuatu di dalam dadaku bergeser.
Sebelum kamu, hidupku seperti pagi yang terlalu pucat. Ada cahaya, tapi tidak pernah benar-benar hangat. Ada warna, tapi seperti dicuci berulang kali sampai tinggal bayangannya saja. Aku menjalani hari-hari dengan tenang, teratur, tanpa gelombang. Tidak ada yang benar-benar menyakitkan, tapi juga tidak ada yang benar-benar berarti.
Aku tidak pernah merasa kehilangan, karena aku tidak pernah merasa memiliki apa pun.
Lalu kamu berdiri di sana dan untuk pertama kalinya, aku merasa dunia memilih satu titik untuk bersinar.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Kamu tidak melakukan apa-apa yang luar biasa. Kamu hanya menoleh. Hanya tersenyum kecil. Hanya berbicara dengan suara yang mungkin biasa saja bagi orang lain. Tapi bagiku, setiap gerakmu seperti seseorang meneteskan warna ke dalam air bening pelan, menyebar, mengubah segalanya tanpa bisa ditarik kembali.
Sejak saat itu, dunia tidak lagi hitam dan putih.
Langit menjadi lebih biru ketika kamu ada di bawahnya. Angin terasa lebih lembut ketika menyentuh rambutmu. Bahkan diam pun terasa hidup jika itu bersamamu. Kamu tidak sekadar hadir kamu membuatku sadar bahwa aku punya jantung yang benar-benar berdetak.
Aku mencintaimu bukan karena kamu sempurna. Aku mencintaimu karena kamu adalah satu-satunya hal yang terasa nyata ketika segala sesuatu di sekitarku terasa datar. Kamu adalah satu-satunya alasan aku ingin bangun lebih pagi, ingin pulang lebih cepat, ingin menjadi lebih baik dari diriku yang kemarin.
Seren, kamu tidak pernah tahu betapa sunyinya duniaku sebelum kamu masuk tanpa izin dan tinggal begitu saja di sana.
Karena kamu adalah merah dalam darahku.
Kamu adalah emas dalam cahaya pagiku.
Kamu adalah biru dalam langit yang kupandangi terlalu lama hanya untuk memastikan kamu masih ada di bawahnya
Aku mencintaimu dengan cara yang mungkin sulit dipahami. Bukan hanya sebagai seseorang yang ingin memelukmu, atau menggenggam tanganmu. Aku mencintaimu seperti seseorang yang akhirnya menemukan rumah setelah lama tersesat dan pura-pura baik-baik saja.
Aku mencintaimu dengan cara yang pelan namun tak tergoyahkan. Seperti akar yang tumbuh diam-diam di bawah tanah, semakin hari semakin dalam, semakin sulit dicabut. Aku mencintaimu bukan dengan gemuruh, melainkan dengan keyakinan yang tenang bahwa di antara begitu banyak kemungkinan, hatiku hanya memilih satu arah, dan arah itu selalu menuju kamu.
Ketika kamu tertawa, aku merasa dunia ini pantas dipertahankan.
Ketika kamu sedih, aku ingin memindahkan semua rasa itu ke dadaku.
Ketika kamu ragu, aku ingin menjadi kepastian yang tidak pernah goyah.
Kamu bukan hanya warna dalam hidupku. Kamu adalah seluruh spektrum yang membuatku melihat bahwa aku selama ini hidup dalam bayangan.
Jika suatu hari semuanya runtuh ambisi, pekerjaan, dunia yang kukenal aku tahu satu hal yang tidak akan pernah berubah aku akan tetap memilihmu. Lagi dan lagi. Tanpa lelah.
Karena sejak pertama kali aku melihatmu, aku tahu.
Kamu adalah duniaku. Dunia yang akan kujaga dengan kedua tanganku. Dunia yang tidak akan pernah kulepaskan.
She's my everything.