Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Pagi di Qingyun.
[PoV Shen Yu]
Udara pagi di desa kecil Qingyun masih dingin, meski matahari mulai menampakkan sinarnya di balik pegunungan.
Aku, Shen Yu, sedang duduk di pangkuan Ibu di teras rumah kayu kami.
Tubuh bayi ini masih lemah, tapi mataku yang pernah menjadi milik Ma'Ling Sheng sudah mulai bekerja lebih keras dari yang seharusnya.
"Lihat, Nak," bisik Ibu sambil menunjuk ke jalan tanah di depan rumah. "Itu Qi dari bumi dan langit bertemu."
Aku mengikuti arah jarinya. Dengan mata biasa, yang kulihat hanyalah jalan berdebu dan beberapa rumah kayu sederhana. Tapi dengan mata spiritual yang Ibu tanamkan di dahiku—biji cahaya—dunia tampak sama sekali berbeda.
Jalan itu memancarkan cahaya kuning lembut dari dalam tanah, Qi bumi. Sementara dari langit, butiran-butiran cahaya biru pucat turun seperti salju halus, Qi langit. Di mana mereka bertemu, tercipta pola cahaya keemasan yang berputar perlahan.
Cantik, ingin kukatakan. Tapi yang keluar dari mulut bayi ini hanyalah.
“Goo ... aaah ...”
Ibu tertawa lembut.
"Kau mengerti, bukan? Aku tahu kau mengerti."
Dia memang tahu. Selama bulan-bulan terakhir, Ibu terus melatih persepsi spiritualku. Bukan dengan kata-kata yang rumit, tapi dengan menunjukkan. Dengan membiarkanku merasakan.
Tiba-tiba, sesuatu menarik perhatianku.
Dari ujung jalan, muncul tiga remaja lelaki—mungkin berusia 12 atau 13 tahun. Dengan mata biasa, mereka hanya anak-anak desa dengan pakaian sederhana.
Tapi dengan mata spiritualku.
Mereka bersinar.
Bukan bersinar baik. Cahaya mereka kacau, berantakan.
Qi mereka berwarna abu-abu keruh, dengan bercak-bercak merah, amarah? Dan hitam, keserakahan? Bercampur di dalamnya.
Dan di tengah mereka, ada seorang gadis.
Gadis itu berjalan tertunduk, langkahnya terhuyung-huyung. Rambutnya yang hitam panjang sebagian menutupi wajahnya. Usianya jauh dengan anak-anak lelaki itu, dia masih sangat kecil.
Tapi cahayanya ...
Aku menahan napas, sebisanya untuk bayi.
Gadis itu memancarkan cahaya perak pucat, lembut seperti cahaya bulan. Tapi cahaya itu tertutup oleh lapisan abu-abu tebal.
Rasa takut?
Di beberapa titik, ada semburat merah tua.
Sakit?
"Lihat mereka, Nak?" bisik Ibu, suaranya tiba-tiba tegang. "Terkadang, Qi manusia bisa ... sakit."
Mataku terkunci pada gadis itu.
Tiga remaja lelaki itu mengelilinginya. Yang tertinggi, dengan cahaya paling kacau, mendorong bahunya.
"Yu Yan, kemana lagi? Bukannya berterima kasih kami temani pulang?" suaranya kasar, penuh ejekan.
Gadis itu, bernama Yu Yan, dia hanya menggeleng dan mencoba terus berjalan.
"Jangan sok tidak tahu!" yang kedua mengejek. "Ayahmu sudah tidak bisa bayar hutang, kamu pikir kamu masih putri kecil?"
Aku merasa darah mendidih. Pikiran dewasa Ma'Ling Sheng berteriak dalam kepalaku. Bajingan kecil. Di kehidupan sebelumnya, aku juga benci preman seperti ini.
Tapi aku hanya bayi.
Apa yang bisa kulakukan?
Lalu, tanpa kusadari, mata spiritualku bekerja lebih dalam. Seperti lensa yang berfokus, pandanganku menembus lapisan cahaya Yu Yan.
Aku melihat meridian-nya.
Sungai-sungai energi di tubuhnya.
Dan yang kulihat membuatku terkesiap.
Meridian Yu Yan ... mereka indah. Jernih. Berpotensi besar. Tapi ... mereka tersumbat.
Khususnya di titik Ren Mai, jalur tengah depan tubuhnya. Ada simpul energi gelap yang menghambat aliran Qi. Simpul itu seperti tumor di sungai yang jernih.
Dan simpul itu berdenyut dengan rasa sakit setiap kali salah satu anak lelaki itu menyentuhnya.
"Berhenti," desis Ibu tiba-tiba.
Aku menoleh. Ibu sudah berdiri, masih menggendongku. Wajahnya dingin. Matanya yang biasanya hangat seperti madu kini berkilau dengan cahaya keemasan yang dalam.
Tiga remaja itu menoleh. Melihat Ibu, mereka sedikit ragu. Tapi yang tertinggi, si pemimpin, mencoba bersikap berani.
"Ibu Shen, ini urusan kami dengan Yu Yan. Ayahny—"
"Pulang," kata Ibu. Satu kata. Tapi kata itu mengandung tekanan Qi yang membuat udara bergetar.
Aku bisa melihatnya. Dari tubuh Ibu, gelombang energi keemasan menyebar seperti riak di air. Gelombang itu menyentuh ketiga anak lelaki itu.
Dan cahaya kacau mereka bergetar. Seperti terkena kejutan listrik kecil.
Mereka mundur.
Takut.
"Kami ... kami pergi saja," gumam si pemimpin. Mereka berbalik dan pergi dengan langkah tergesa-gesa.
Tinggallah Yu Yan, berdiri gemetar di tengah jalan.