"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 22
BAB 22 — Permainan Jujur Berani
Malam turun di Puncak dengan cara yang dramatis. Kabut tebal merayap turun dari lereng gunung, menyelimuti Villa Grand Hills dalam selimut putih yang dingin. Suhu udara anjlok hingga 16 derajat Celcius.
Di halaman belakang villa yang luas, api unggun besar telah dinyalakan. Kayu-kayu pinus kering terbakar, meletupkan bunga api oranye ke udara malam, melawan kabut.
Ratusan siswa kelas sepuluh duduk melingkar di atas matras dan bean bag yang disebar di rumput. Mereka memakai jaket tebal, syal, dan topi kupluk. Tawa dan petikan gitar sumbang mengisi udara, bercampur dengan aroma jagung bakar dan cokelat panas.
Mayang berdiri di teras belakang, memegang checklist logistik. Dia memakai sweater cokelat kusam milik mendiang bapaknya, dilapisi jaket panitia. Di lehernya, peluit perak pemberian Vino menggantung dingin.
"Stok kayu bakar aman untuk dua jam," gumam Mayang, mencentang papan jalannya. "Cokelat panas gelombang kedua siap didistribusikan jam sepuluh."
Tugasnya sebagai Sekretaris selesai untuk hari ini. Seharusnya dia bisa istirahat.
"Mayang!"
Suara Vivie terdengar dari pusat lingkaran api unggun. Vivie berdiri, memegang microphone portable. Dia terlihat mencolok dengan jaket bulu angsa putih dan penutup telinga earmuff berbulu merah muda.
"Sini dong, Bu Sekretaris! Jangan kerja mulu. Gabung sama kita!" seru Vivie. Suaranya diperkeras oleh pengeras suara, membuat semua kepala menoleh ke arah Mayang.
Mayang menggeleng sopan. "Saya masih harus rekap absen, Vie. Kalian lanjut aja."
"Ih, nggak asik!" Vivie cemberut, lalu menoleh ke massa. "Guys, masa panitia inti nggak mau gabung? Kita paksa nggak?"
"PAKSAAA!" seru teman-teman geng Vivie, diikuti sorakan siswa lain yang hanya ikut-ikutan.
Vivie berjalan menghampiri Mayang, menarik lengan gadis itu. Cengkeramannya kuat, meski wajahnya tersenyum.
"Ayo," bisik Vivie tajam, mic-nya dijauhkan. "Jangan sok eksklusif. Lo di sini buat melayani peserta, kan? Hibur kami."
Mayang menatap mata Vivie. Ada kilatan licik di sana. Vivie sedang merencanakan sesuatu.
Mayang tidak punya pilihan. Menolak berarti dianggap sombong. Dia meletakkan papan jalannya di meja teras, lalu mengikuti Vivie ke lingkaran api.
"Nah, gitu dong!" seru Vivie. "Duduk di tengah sini. Kursi panas."
Mayang didudukkan di sebuah kotak kayu bekas peti kemas, tepat di samping api unggun. Panas api menyengat pipi kirinya, sementara punggungnya diterpa angin dingin.
Naufal, yang duduk di barisan depan sambil memeluk gitar, tersenyum lebar. "Sini, May! Deket gue aja!"
Mayang ingin pindah ke dekat Naufal, tapi Vivie menahannya.
"Eits, posisi ditentukan oleh takdir botol," kata Vivie. Dia mengeluarkan sebuah botol kaca bekas sirup marjan.
"Kita main Truth or Dare. Jujur atau Berani. Yang kena tunjuk botol, harus pilih. Kalau nggak berani jawab atau lakuin tantangan, hukumannya..." Vivie menunjuk kolam renang di sisi kanan yang airnya pasti sedingin es. "...nyebur ke kolam."
Semua bersorak ngeri sekaligus antusias.
Mayang melihat sekeliling. Dia mencari satu wajah.
Vino.
Vino duduk jauh di belakang, di luar lingkaran cahaya api, di atas kursi lipat camping sendirian. Dia memakai jaket parka hitam tebal, tudung kepalanya dinaikkan. Wajahnya separuh tertutup bayangan. Dia memegang cangkir stainless, uap panas mengepul.
Mata mereka bertemu sekilas. Vino tidak memberi kode apa-apa. Dia hanya diam, mengamati seperti elang di dahan pohon gelap.
"Oke, putaran pertama!" seru Vivie.
Dia memutar botol itu di atas papan kayu datar di tengah lingkaran.
Kreeek... wusshhh.
Botol berputar kencang. Semua menahan napas.
Botol melambat. Melambat. Dan berhenti.
Moncong botol menunjuk ke arah... Jerry.
"Yaaah!" Jerry mengeluh. "Oke, oke. Gue pilih Truth. Gue nggak mau lari keliling villa."
"Oke, Jerry," kata Vivie. "Jujur, siapa guru yang paling lo benci di sekolah?"
Pertanyaan mudah. Jerry nyengir. "Pak Hendra. Soalnya dia pelit nilai dan mukanya kayak tembok."
Semua tertawa. Bahkan Pak Hendra yang memantau dari jauh ikut tersenyum tipis (dia tahu dia dibenci dan dia bangga).
Botol diputar lagi.
Kali ini menunjuk ke Sarah. "Dare!" seru Sarah. "Joget TikTok lagu viral sekarang di depan api unggun!" Sarah melakukannya dengan senang hati. Suasana makin cair.
Putaran ketiga. Keempat. Kelima.
Vivie memegang kendali botol itu. Mayang menyadari sesuatu. Setiap kali Vivie memutar, tangannya melakukan gerakan flick tertentu. Vivie sudah berlatih memutar botol ini agar berhenti di sektor yang dia mau.
"Putaran spesial!" seru Vivie. Matanya menatap Mayang.
Vivie memutar botol itu. Kali ini putarannya pelan, tapi terarah.
Botol berputar malas. Melewati Naufal. Melewati Oline. Melewati Jerry.
Dan berhenti tepat, tegak lurus, menunjuk dada Mayang.
"Ups," kata Vivie, menutup mulutnya dengan gaya kaget yang palsu. "Mayang Sari. Kena deh."
Jantung Mayang berdegup kencang. Dia sudah menduganya.
"Pilih, May," desak Vivie. "Truth... or Dare?"
Mayang berpikir cepat. Dare sangat berisiko. Vivie bisa menyuruhnya melakukan hal memalukan, seperti "cium kaki gue" atau "teriak saya miskin". Hukuman nyebur kolam juga berbahaya bagi kesehatannya yang baru sembuh flu.
"Truth," jawab Mayang. Kebenaran lebih mudah dikendalikan daripada tindakan fisik. Atau setidaknya, dia pikir begitu.
"Pilihan bagus," Vivie tersenyum lebar. Senyum predator yang baru saja menjebak kelinci.
Vivie berjalan mendekati Mayang. Dia mendekatkan mic ke wajah Mayang, seolah sedang mewawancarai tersangka kriminal.
Suasana hening. Hanya suara kretek kayu bakar yang terdengar.
"Pertanyaannya simpel," kata Vivie. Dia melihat ke arah Naufal sekilas, lalu melirik ke arah kegelapan di mana Vino duduk.
"Jujur, Mayang. Siapa cowok yang lo suka di sini, di angkatan kita, sekarang?"
Pertanyaan klasik remaja. Tapi di situasi ini, itu adalah ranjau darat.
Ratusan pasang mata menatap Mayang.
Naufal menegakkan punggungnya. Matanya berbinar penuh harap. Tangannya mencengkeram leher gitar erat-erat. Dia yakin. Dia sangat yakin Mayang akan menyebut namanya, atau setidaknya memberi kode. Mereka sudah dekat sejak awal. Mayang tertawa bersamanya di bus.
Di belakang, di area gelap, Vino menurunkan cangkirnya. Gerakannya terhenti. Dia tidak bergerak. Matanya yang tajam terpaku pada punggung Mayang. Dia menunggu.
Mayang terdiam.
Lidahnya kelu.
Dia menatap api yang menari-nari.
Siapa yang dia suka?
Otaknya memutar memori seminggu terakhir. Bukan Naufal yang memberinya tumpangan motor. Tapi Vino yang memberinya payung Brigg saat hujan badai. Bukan Naufal yang membelanya dengan teriakan. Tapi Vino yang memberinya kursi ergonomis dan vitamin agar dia tidak sakit. Bukan Naufal yang mengajaknya tertawa. Tapi Vino yang mengajaknya berpikir, yang menyebutnya "Partner".
Hatinya berteriak satu nama: Vino.
Tapi logikanya—logika dingin yang diajarkan Vino sendiri—langsung memveto.
Kalau aku sebut Vino, apa yang terjadi?
Satu: Vivie akan mengamuk. Perang terbuka. Posisi sekretarisnya terancam. Dua: Orang tua Vino akan tahu. Gosip akan sampai ke Yayasan. Beasiswa terancam. Tiga: Reputasi Vino. Pangeran sekolah disukai oleh anak tukang bubur? Itu akan jadi lelucon satu angkatan. Vino akan malu.
Mayang tidak bisa melakukan itu. Dia tidak bisa egois.
Dia melirik Naufal. Cowok itu menatapnya dengan tatapan memohon. Sebut namaku, May. Please.
Kalau dia sebut Naufal, dia berbohong. Dan itu akan memberi harapan palsu yang kejam.
"Ayo dong, May," desak Vivie, menikmati kegugupan Mayang. "Lama banget mikirnya. Apa cowoknya ada di sini? Atau... jangan-jangan selera lo ketinggian? Lo naksir Vino ya?"
Nama Vino disebut. Beberapa siswa tertawa, menganggap itu lelucon mustahil.
Mayang menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Dia tidak berani menoleh ke belakang. Dia tidak berani mencari mata Vino di kegelapan. Dia takut jika dia menoleh, pertahanannya akan runtuh.
Mayang menatap bara api yang mulai memutih jadi abu.
"Jawab, May. Atau nyebur kolam," ancam Vivie.
Mayang mengangkat wajahnya. Wajahnya datar. Topeng Iceberg terpasang sempurna.
"Tidak ada," jawab Mayang. Suaranya tenang, diperkeras oleh mic.
Hening.
Naufal ternganga. Bahunya merosot drastis. Harapan di matanya padam seketika, digantikan oleh kehampaan. Tidak ada? Bahkan gue pun enggak?
Vivie mengernyit. Jawaban itu membosankan. "Bohong. Masa nggak ada? Naufal? Jerry? Atau siapa?"
"Saya di sini untuk belajar dan kerja, Vivie," kata Mayang, suaranya lebih tegas. "Saya punya prioritas lain. Urusan asmara... itu variabel yang tidak masuk dalam hitungan saya saat ini."
Bahasa Vino. Mayang menggunakan bahasa Vino untuk menyangkal Vino.
"Jadi... lo nggak naksir siapa-siapa? Hati lo beku?" ejek Vivie.
"Mungkin," jawab Mayang singkat. "Bisa kita lanjut?"
Vivie kecewa. Dia mengharapkan pengakuan skandal atau penolakan dramatis. Tapi Mayang memberinya jawaban birokratis.
"Cih. Dasar ngebosenin," cibir Vivie. Dia menarik mic-nya kembali. "Oke, lanjut putaran berikutnya!"
Permainan berlanjut. Botol diputar lagi. Sorakan kembali terdengar.
Tapi Mayang sudah tidak di sana. Jiwanya sudah pergi.
Dia duduk diam di kotak kayunya. Dia merasa dingin. Lebih dingin daripada sebelum api dinyalakan.
Di belakang, di luar lingkaran cahaya.
Vino duduk mematung.
Tangannya memegang cangkir stainless itu begitu erat hingga penyok sedikit di bagian samping.
Tidak ada. Variabel yang tidak masuk hitungan.
Kata-kata itu terngiang di telinga Vino. Logis. Rasional. Pragmatis. Persis seperti yang dia ajarkan.
Mayang adalah murid yang sempurna. Dia menerapkan ajaran Vino dengan sempurna: Lindungi aset. Jangan ambil risiko yang tidak perlu.
Tapi kenapa rasanya sesakit ini?
Vino merasakan dadanya sesak. Seperti ada batu besar yang menindih paru-parunya.
Dia mengharapkan apa? Mayang menyebut namanya di depan Vivie? Itu bunuh diri sosial. Vino tahu itu. Secara logika, jawaban Mayang adalah jawaban terbaik untuk menyelamatkan situasi (Win-Win Solution).
Tapi secara emosi... itu adalah penolakan mutlak.
Vino berdiri. Kursi lipatnya berdecit pelan.
Dia tidak bisa berada di sana lagi. Dia tidak bisa melihat punggung Mayang yang tegar itu.
Dia menyiramkan sisa cokelat panasnya ke tanah. Srrrt. Cairan cokelat itu meresap ke dalam tanah basah, hilang tak berbekas.
Vino berbalik. Dia berjalan menjauh dari api unggun, menuju kegelapan hutan pinus di belakang villa.
Dia berjalan tanpa menoleh lagi.
Mayang mendengar suara langkah kaki yang menjauh di atas ranting kering. Krek. Krek.
Dia tahu itu langkah Vino. Dia hafal ritmenya.
Mayang menunduk, menahan air mata yang mendesak keluar. Dia menggigit bibir bawahnya sampai terasa perih.
Maafin aku, Partner, batin Mayang. Aku bohong. Kamu ada. Kamu satu-satunya yang ada.
Tapi kebohongan itu perlu. Untuk melindungi sang Pangeran dari noda lumpur yang melekat pada Upik Abu.
Satu Jam Kemudian.
Acara api unggun selesai. Siswa-siswa mulai kembali ke kamar masing-masing.
Mayang membereskan sampah di sekitar area api unggun. Dia memunguti botol plastik dan bungkus jagung. Naufal sudah pergi duluan, terlalu patah hati untuk bicara padanya.
Mayang membawa kantong sampah besar ke tempat pembuangan di samping villa.
Di sana, dia melihat Vino.
Vino sedang berdiri bersandar di dinding batu, merokok. (Kali ini rokok beneran, mungkin dia minta dari sopir bus).
Asap putih mengepul di udara dingin.
Mayang berhenti. Dia ingin putar balik, tapi Vino sudah melihatnya.
"Kerja lembur, Sekretaris?" tanya Vino. Suaranya datar. Sangat datar. Tidak ada nada sarkasme atau kehangatan. Kosong.
Mayang meletakkan kantong sampahnya.
"Iya. Memastikan area bersih," jawab Mayang.
"Bagus. Kebersihan sebagian dari iman. Dan kebohongan sebagian dari... strategi?"
Tembakan langsung.
Mayang menunduk. "Kakak denger tadi?"
"Satu villa denger. Lo pake mic."
Vino menjatuhkan rokoknya, menginjaknya dengan ujung boots militernya.
Dia berjalan mendekati Mayang.
"Jawaban yang cerdas," kata Vino. "Taktis. Lo menghindari konflik sama Vivie. Lo menjaga perasaan Naufal (dengan tidak menolak dia secara spesifik). Dan lo menjaga reputasi... target lo."
"Saya nggak punya target, Kak."
"Bagus. Pertahankan itu," potong Vino dingin. "Karena target lo seharusnya cuma satu: Beasiswa. Jangan biarkan cowok manapun, termasuk gue, jadi variabel pengganggu."
Vino menekankan kata termasuk gue. Dia sedang membangun tembok lagi. Tembok yang lebih tinggi dan lebih tebal daripada sebelumnya.
"Vino, saya..." Mayang ingin menjelaskan.
"Cukup," Vino mengangkat tangan. "Gue capek. Besok trekking jam 6 pagi. Pastikan semua peserta bangun. Jangan ada yang telat."
Vino berjalan melewati Mayang.
Saat bahu mereka sejajar, Vino berhenti sejenak.
"Syal gue," kata Vino tanpa menoleh. "Masih ada di lo?"
"Ada. Di koper."
"Simpen aja. Gue nggak butuh barang bekas."
Mayang tersentak. Barang bekas? Itu syal yang dipakaikan Vino dengan penuh perhatian di pesta. Sekarang disebut barang bekas?
Vino melangkah pergi, masuk ke pintu samping villa. Pintu terbanting tertutup.
Mayang berdiri sendirian di samping tempat sampah. Udara Puncak terasa semakin dingin, menusuk sampai ke tulang sumsum.
Peluit perak di lehernya terasa berat seperti batu nisan.
Malam itu, Mayang belajar satu hal lagi tentang Iceberg Theory: Kadang, hal yang tidak diucapkan justru yang paling menghancurkan. Dan jawaban "Tidak ada" malam ini telah menciptakan lubang hitam yang menyedot habis kehangatan di antara mereka.
Kamar 304 (Kamar Vivie).
Vivie duduk di kasurnya, tersenyum puas sambil menghapus make-up.
"Liat kan?" kata Vivie pada Sarah. "Dia bilang nggak ada. Berarti dia nggak berani ngakuin perasaannya. Atau emang Vino nggak nganggep dia."
"Tapi tadi mukanya Naufal kasihan banget, Vie," kata Sarah.
"Biarin. Naufal butuh reality check. Cewek miskin itu nggak pantes buat siapa-siapa di sini."
Vivie membuka dompet Prada-nya. Dia mengeluarkan segepok uang tunai. Uang iuran acara yang dipegang dia sebagai bendahara dadakan (karena dia tidak percaya Mayang pegang duit).
"Besok pagi," kata Vivie, matanya berkilat jahat. "Kita mainkan skenario B."
"Yakin, Vie? Vino bisa marah," Sarah ragu.
"Vino lagi kecewa sama Mayang. Gue liat mukanya tadi pas api unggun. Dia langsung cabut. Ini momen emas. Saat pelindungnya lagi lengah, kita habisi pionnya."
Vivie mengambil beberapa lembar uang merah. Dia menyalipkan uang itu ke dalam saku jaket hoodie Mayang yang tergantung di gantungan baju dekat pintu (kamar panitia digabung, Mayang sekamar dengan Sarah dan Oline karena kekurangan kamar).
"Tidur yang nyenyak, Mayang," bisik Vivie. "Besok lo bangun sebagai pencuri."
Bersambung.....