Ricky Riswan ( Yasir Hamdan)seorang pekerja di kota Jakarta yang baru saja mendapatkan gelombang PHK dari perusahannya tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, di mana tanah kelahirannya berada ,ia berencana untuk mengembangkan dan mengolah lahan milik keluarganya , hanya saja di tengah jalan ,mobil bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan meledak ,dan saat ia sadar ia berada di desa yang sangat asing bagi dirinya dan baru mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan sebagai pengantin pria untuk dua gadis yang tidak dia kenal , bagaimana kelanjutan cerita ini, masih lama bro ,mungkin nunggu dua tahun atau lebih...!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta timur10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31 kejutan yang luar biasa
Keesokan harinya , suasana desa Plarangan terlihat biasa biasa saja , para warga dan juga anak anak remaja berjalan menuju hutan atau sekedar pergi ke pasar .
Kembali seperti sebelumnya, para pria desa ,langsung tanpa basa basi naik ke atas bukit dan mulai kembali meneruskan pembangunan rumah panggung yang belum selesai.
Setengah hari , pekerjaan gotong royong membangun rumah panggung akhirnya selesai, semua orang bersorak meriah dan menatap senang ke arah rumah panggung yang cukup untuk menampung tujuh hingga sepuluh orang anggota keluarga.
" aku juga merasa tertarik untuk membangun rumah panggung ini " kata salah satu pekerja mengangkat Palu yang ada di tangannya.
" kalau begitu kamu harus bekerja keras seperti bang Yasir, dia seorang pekerja di pasar desa dan kota , jadi ia tidak kekurangan uang, walaupun dulu suka menghamburkan setiap gajinya ke rumah judi atau sabung ayam , tapi sekarang 180 derajat sudah berubah total " kata yang lain menimpali .
" semuanya berkumpul..!"
Suara teriakan menggema diantara perbincangan para pekerja, segera semua orang terdiam dan berjalan mendekat ke arah sumber suara.
Mata mereka sangat antusias dan juga bersyukur, tidak ada rasa iri dan dengki saat melihat keberuntungan bedah rumah yang telah terjadi itu , dan mereka tahu bahwa balas budi harus dibalas dengan setara.
" terimakasih telah berkumpul ,alhamdulillah akhirnya pembangunan rumah secara gotong royong ini telah selesai, dan telah kita lihat sendiri , bahwa rumah ini adalah rumah pertama yang telah kita buat secara bersama sama , "
Plok plok...
Setelah sambutan singkat, semua orang mulai berjalan menuruni bukit ,mereka mulai melakukan pekerjaan sehari hari , di atas bukit hanya tersisa lima orang pria dan satu wanita .
" umi , kami membangun rumah ini untuk kehidupan jang Yasir dan keluarganya , kami sengaja membangun rumah ini tanpa memberi tahu jang Yasir, karena kami semua warga desa tidak mau membebani pikiran jang Yasir " kata kepala kampung memberikan tanda nomor rumah.
" terimakasih pak haji. .!".
" ya sudah kami akan segera pergi dan membawa jang Yasir pulang , dia mungkin sudah tidak betah tidur di rumahku "
Karena sebelumnya sudah tujuh puluh persen dalam pembangunan rumah panggung, dan sudah setengah hari akhirnya selesai .
Momen yang ditentukan datang , terlihat pemuda yang tampak sedikit bingung naik ke atas bukit , ditemani oleh dua wanita muda yang terus menerus memperlihatkan senyumnya yang sangat lebar.
" sungguh kepala kampung, aku lagi istirahat siang, malah kasurku di balik begitu saja " gerutunya dengan wajah sewot .
" sudah mas , jangan marah , nanti lukanya terbuka lagi " kata wanita muda yang memakai pakaian putih polos lengan panjang dengan nada sabar.
" ya , aku tahu , tapi ini seperti pengusiran paksa !"
Kedua wanita muda yang menuntunnya itu hanya bisa tersenyum kecut dan mata kedua saudari kembar itu begitu jernih saat keduanya saling pandang satu sama lain.
Yasir menghilangkan rasa kesalnya dan matanya dengan heran memandang ke kanan dan kiri , di mana jalan untuk naik ke atas bukit sangat lebar dan banyak bekas telapak kaki .
" aneh.. seperti habis ada perang, banyak sekali telapak kaki , bahkan bekas cetakan sepatu juga terlihat jelas " pikirnya berhenti .
" tari , imah apakah kamu tahu sesuatu?"
" tidak mas , ayo segera berjalan, imah sudah lapar " kata Halimah menghindari mata tajam pemuda yang ada di sampingnya .
" oke!"
Yasir menekan kecurigaannya sementara , dan semakin naik ke atas , semakin banyak bekas telapak kaki yang berhamburan di jalan menuju atas bukit itu .
" mas hati hati, jangan cepat cepat .. " ujar Lestari memegang erat pergelangan tangan kanan pemuda yang ada di sampingnya.
" iya .. !"
Tak lama kemudian, matanya seketika terpaku saat melihat apa yang ada dalam pandangannya di depan .
Tangannya menggosok kedua matanya dengan cepat, tapi pemandangan di depannya masih sama seperti semula.
" apakah kita tidak salah bukit?"
" tidak mas , ini benar... tempat tinggal kita, lihat rumah kita sebelumnya, sudah menjadi begitu " katanya menunjukkan ke arah rumah sederhana bambu yang sekarang tampak terlihat jelas di dalamnya.
Lestari lalu menceritakan perlahan mengapa ada rumah panggung di samping rumah bambu sederhana itu , dan mengapa sebelumnya Yasir tidak diperbolehkan untuk naik ke atas bukit dalam dua hari.
" tari , imah, kita harus berterimakasih kepada seluruh penduduk desa ini, mereka sungguh sangat baik pada kita sekeluarga "
" tentu mas , ayo mas , barang barang sudah ada di rumah baru " kata Halimah berjalan cepat ke arah rumah panggung yang sangat luas dan besar itu.
Yasir tidak menyangka bahwa rancangan rumah panggung modernnya akan menjadi kenyataan , ia naik dan melihat di dalamnya yang cukup terang, di mana ada lampu minyak tanah yang menyala terang .
Ia melihat tiga ruangan kecil yang ada di dalamnya, dan tahu bahwa itu adalah kamar tidur .
" ya kita sudah selangkah lebih maju, "
Yasir keluar dari rumah panggung, matanya menatap ke arah kejauhan, di mana hatinya sudah memutuskan untuk melindungi desa dan membantu warga untuk kesejahteraan bersama.
" mas kamu istirahat lagi , sudah sore ... !"
" masih sore , mas tidak lelah , dan luka ini sudah sembuh " ujar Yasir mengangkat kedua istrinya ke dalam pangkuannya .
Matanya menerawang jauh, hatinya terasa hangat dan ia bisa melihat bahwa rancangan rumah panggungnya ada yang mengerti dan itu sama persis seperti yang telah ia gambar sebelumnya.
" tari , imah , mas akan membuka ladang besok , hutan kecil di belakang rumah akan mas buka, "
" iya mas !"
Yasir tersenyum, dengan lembut mengelus wajah kedua wanita muda yang tampak sangat nyaman itu dengan perlakuan pemuda yang ada di belakang mereka berdua .
Wajah merah samar tercetak di kedua wajah wanita muda itu, ketiganya tampak bercengkrama, bersantai di depan rumah yang di mana ,pemandangan sore hari yang cerah , tidak ada awan mendung ataupun hujan turun, bersih.
" kalian berdua besok pagi , ikut mas ke pasar desa , mau membeli bahan makanan untuk acara syukuran membangun rumah ini dan mengundang seluruh warga desa datang !"
" iya mas ..!"
Yasir perlahan berdiri, ia berjalan masuk ke dalam rumah, diikuti dua wanita muda yang tampak sudah siap untuk malam yang akan datang .
Sampai di dalam rumah, ketiganya mulai menikmati makanan yang sudah mereka masak , sedangkan untuk orang tua mereka, sudah terlebih dahulu makan sore dan beristirahat saat itu juga di kamar yang ada di ujung kiri .
Yasir memakan semua hidangan yang ada di depannya, ia meraba luka yang ada di pinggang kanannya, entah secara ajaib atau kebetulan, luka di pinggangnya itu seketika langsung menghilang dan hanya menampilkan bekas luka yang sudah tidak terlihat jelas .
Ia merasa bahwa kekuatannya sudah menerobos hal yang baru ,dan sanggup untuk melawan lima sampai sepuluh orang pendekar biasa yang berpengalaman.
" saatnya tidur dan menyongsong hari esok yang cerah. ." Gumamnya dengan tenang.