NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjelang Puncak Kekacauan

11 hari sebelum duel

Di sebuah gedung tua yang ditinggalkan di pinggiran kota—jauh dari wilayah manapun—suasananya sangat berbeda dan jauh lebih menakutkan. Gedung ini dulunya adalah pabrik tekstil yang bangkrut puluhan tahun lalu, sekarang hanya tinggal reruntuhan dengan atap yang bocor dan dinding yang mulai runtuh.

Tapi malam ini, gedung itu tidak sepenuhnya kosong.

Di lantai paling atas, di sebuah ruangan yang dulu mungkin adalah kantor manager pabrik, sekarang dijadikan semacam "war room" darurat. Ada meja besar di tengah dengan berbagai peta, foto, dan dokumen berserakan. Lampu portable menerangi ruangan dengan cahaya yang redup dan menciptakan atmosfer yang sangat mencekam.

Gus—pria besar yang pernah berhadapan dengan Vino di festival—dan Pria A—yang bahunya masih menggunakan perban setelah dilumpuhkan oleh Misca—sedang berdiri tegak dengan postur hormat dan sedikit tegang. Mereka menghadap ke sesosok figur yang identitasnya disamarkan oleh bayangan dan asap rokok yang mengepul tebal di udara.

Figur itu adalah petinggi The Phantom—organisasi kriminal yang sudah lama beroperasi dan sekarang mengincar wilayah ini sebagai basis operasi baru mereka.

Petinggi itu duduk santai di kursi besar yang terlihat tidak pada tempatnya di gedung bobrok ini—kursi kulit mahal yang jelas dibawa khusus untuk pertemuan ini. Di tangannya ada segelas wine merah yang ia sesap perlahan sambil menatap ke sebuah display board yang menampilkan foto-foto empat ketua wilayah: Misca dengan ekspresi dingin, Tino dengan senyum licik, Raka dengan wajah khawatir, dan Nanda dengan tatapan penuh amarah.

"Jadi," suara petinggi itu terdengar sangat dalam dan tenang, tapi penuh dengan ancaman terselubung yang membuat bahkan Gus yang besar dan kuat itu merasa sedikit uncomfortable, "laporanmu akurat? Anak Wilayah Utara itu, Misca... dia sekuat yang kamu perkirakan sebelumnya?"

Gus, yang biasanya sangat percaya diri dan suka mengintimidasi orang, kali ini berbicara dengan nada yang jauh lebih rendah hati dan hati-hati. Ia tahu siapa yang ia hadapi sekarang—ini bukan lagi dunia di mana ia bisa bertindak seenaknya.

"Lebih kuat, Tuan," jawabnya sambil mengangguk hormat. "Jauh lebih kuat dari perkiraan awal kami. Dia bergerak dengan... sangat rapi dan sangat mematikan. Seperti mesin yang sudah diprogram untuk satu tujuan: melumpuhkan lawan secepat mungkin dengan cara paling efektif. Dia melumpuhkan A—" ia menunjuk ke rekannya yang masih meringis setiap kali menggerakkan bahu, "—hanya dalam hitungan menit. Dan itu padahal A adalah salah satu petarung terbaik yang kami punya."

Pria A, yang masih merasa malu dan sedikit trauma dengan kekalahan telaknya, menambahkan dengan suara yang sedikit bergetar—bukan karena takut kepada petinggi, tapi karena mengingat pertarungan dengan Misca, "Dia bukan sekadar petarung yang kuat secara fisik, Tuan. Dia adalah seseorang yang sangat... dingin dan sangat perhitungan saat berkelahi. Setiap gerakannya punya tujuan. Tidak ada energi yang terbuang. Tidak ada emosi yang mengganggu judgementnya. Dia tidak bergerak karena dorongan amarah atau adrenalin seperti kebanyakan petarung—dia bergerak karena ia sudah menghitung dan tahu persis cara tercepat dan paling efektif untuk melumpuhkan lawannya."

Pria A menyentuh bahunya yang masih sakit. "Dan yang paling menakutkan... dia bisa mengimbangi—bahkan melampaui—kecepatanku. Padahal kecepatan adalah keunggulan terbesarku. Tapi di hadapannya, aku seperti bergerak dalam slow motion. Dia bisa membaca setiap gerakan yang akan aku lakukan bahkan sebelum aku melakukannya."

Petinggi itu mendengarkan dengan sangat serius, tidak ada ekspresi di wajahnya yang masih tertutup bayangan. Hanya terlihat ujung rokok yang menyala merah di kegelapan.

Kemudian, setelah jeda yang cukup panjang dan membuat Gus dan Pria A semakin nervous, petinggi itu tiba-tiba... tersenyum. Senyum yang sangat dingin dan sangat menyeramkan—senyum orang yang baru saja mendengar sesuatu yang sangat menarik baginya.

"Aku menyukai tantangan ini," ujarnya sambil meletakkan gelas winenya di meja dengan gerakan yang sangat pelan . "Aku menyukai kesulitan. Karena hanya dari kesulitan lah kita bisa tahu seberapa kuat sebenarnya organisasi kita."

Ia berdiri dari kursinya—untuk pertama kalinya sejak pertemuan dimulai—dan berjalan mendekati display board. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit hitam menyentuh foto Misca dengan gerakan yang hampir... penuh respect.

"Rencana kita tetap sama. Bahkan lebih baik lagi sekarang karena kita punya informasi yang lebih akurat," ujar petinggi itu sambil berbalik menghadap Gus dan Pria A. "Duel ini harus tetap terjadi tepat waktu. Tidak ada yang boleh menghalangi atau menundanya. Mereka harus dibiarkan saling menghancurkan satu sama lain. Misca memang sosok yang tidak terduga dan sangat berbahaya, tetapi justru itulah yang bisa kita manfaatkan."

Ia berjalan pelan mengelilingi meja, jari-jarinya menyentuh foto-foto dengan sangat thoughtful. "Misca adalah pedang bermata dua. Dia sangat kuat, sangat cerdas, dan sangat berbahaya—tapi justru karena itulah dia akan membuat ketiga ketua lainnya fokus untuk menjatuhkannya terlebih dahulu. Mereka akan menghabiskan semua energi mereka untuk melawan Misca, dan saat mereka semua babak belur... saat itulah kita masuk."

Petinggi itu menunjuk ke foto Raka dengan ujung rokoknya. "Si Barat itu sedang panik luar biasa. Dia yang paling mudah dimanipulasi karena ketakutannya yang berlebihan. Lanjutkan mengirimkan informasi kepadanya—campurkan fakta dengan kebohongan yang halus. Buat dia semakin panik dan bergantung sepenuhnya pada Misca untuk perlindungan. Saat Misca jatuh nanti, dia akan runtuh dengan sendirinya."

Lalu ia menunjuk ke foto Tino. "Si Timur itu licik dan sangat berhati-hati. Dia tidak akan bergerak sampai dia benar-benar yakin situasinya aman. Biarkan dia bermain-main dengan begal-begal murahan dan intelijennya yang setengah-setengah. Itu akan menguras energi dan fokusnya secara perlahan tanpa dia sadari. Saat waktunya tiba, dia akan terlalu lelah untuk melawan kita."

Terakhir, ia menunjuk ke foto Nanda dengan senyum yang semakin lebar. "Si Selatan itu... bodoh tapi sangat berguna. Dia hanya mengandalkan otot dan arogansi. Dia akan bertarung dengan amarah yang meluap-luap tanpa strategi yang jelas. Pria kami sudah berbicara dengannya tadi—menanamkan keyakinan palsu dan membuat dia semakin percaya diri. Biarkan dia yakin bahwa dialah yang terkuat di antara semuanya. Biarkan dia menjadi palu yang kita arahkan langsung ke kepala Misca."

Petinggi The Phantom berjalan kembali ke kursinya dan duduk dengan sangat santai, menyilangkan kakinya dengan elegan. Ia menjentikkan abu rokoknya ke asbak kristal yang ada di meja.

"11 hari lagi," ujarnya dengan nada yang sangat puas. "Hanya 11 hari lagi sebelum semua kekacauan ini mencapai puncaknya. Begitu duel selesai dan hanya tersisa satu atau dua dari mereka dalam keadaan sangat lemah dan terluka parah, itulah saatnya kita bergerak. Kita akan ambil alih wilayah ini dengan mudah—tidak akan ada perlawanan yang berarti. Dan wilayah ini akan menjadi basis operasi baru kita yang sempurna."

Gus dan Pria A mengangguk paham, wajah mereka menunjukkan kelegaan karena petinggi terlihat sangat puas dengan laporan mereka meskipun berisi tentang kekuatan Misca yang melebihi ekspektasi.

Tapi kemudian petinggi itu mengangkat tangannya—isyarat untuk mereka tetap diam karena ada satu hal lagi yang perlu dibahas. Ekspresinya berubah menjadi sedikit lebih serius.

"Dan ada satu hal lagi," ujarnya sambil membuka folder tebal yang ada di mejanya. Ia mengeluarkan beberapa foto dan dokumen, lalu menyebarkannya di meja. "Kirimkan tim kedua untuk menyelidiki laporan tentang organisasi misterius yang lain itu. Organisasi yang katanya juga beroperasi di wilayah ini dengan target yang... spesifik."

Ia menunjuk ke salah satu dokumen yang berisi laporan intelijen tentang aktivitas mencurigakan yang melibatkan penculikan dan perdagangan. "Organisasi yang mengincar siswi-siswi sekolah. Aku tidak suka ada kompetisi di wilayah yang akan segera menjadi milikku. Wilayah ini akan menjadi basis operasi The Phantom, dan aku tidak mau ada gangguan dari organisasi lain—terlepas dari apa pun agenda mereka."

Gus mengerutkan kening. "Tuan, apa kita perlu menghabiskan sumber daya untuk urusan mereka? Bukankah lebih baik kita fokus pada—"

"Tidak," potong petinggi dengan nada yang sangat tegas, membuat Gus langsung menutup mulutnya. "Aku tidak suka ada faktor yang tidak terkontrol. Organisasi itu—jika mereka benar-benar nyata dan bukan sekadar rumor—adalah faktor yang sangat berbahaya. Mereka bisa menarik perhatian polisi lebih cepat dari yang kita inginkan. Mereka bisa membuat situasi menjadi terlalu panas sebelum waktunya. Dan yang paling penting—" ia menatap tajam ke arah Gus dan Pria A, "—aku tidak berbagi wilayah kekuasaan dengan siapapun."

"Jika mereka benar-benar ada dan benar-benar beroperasi di sini, cari tahu siapa mereka, di mana markas mereka, dan berapa kekuatan mereka. Lalu..." petinggi itu menghentakkan tangannya di meja dengan keras, membuat Gus dan Pria A tersentak, "...hancurkan mereka tanpa ampun. Tidak ada saksi. Tidak ada yang tersisa. Buat mereka tahu bahwa wilayah ini hanya akan dikuasai oleh The Phantom dan tidak ada yang lain."

"Mengerti, Tuan," jawab Gus dan Pria A bersamaan dengan nada hormat.

"Bagus," petinggi itu tersenyum dingin lagi. "Sekarang pergi dan laksanakan tugasmu. Aku mau sendirian."

Gus dan Pria A membungkuk hormat, lalu berjalan mundur beberapa langkah sebelum berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah cepat. Pintu ditutup dengan bunyi yang menggema di gedung kosong itu.

Petinggi The Phantom duduk sendirian di ruangan yang sunyi itu, menatap foto-foto empat ketua wilayah dengan ekspresi yang sangat puas. Ia mengambil foto Misca dan memegangnya dengan kedua tangan, mengamatinya dengan sangat detail.

Ia meletakkan foto itu kembali, lalu menyalakan rokok baru sambil menatap ke luar jendela yang pecah—menatap kota yang berkelap-kelip di kejauhan dengan pandangan seorang predator yang sudah mengunci targetnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!