Bagaimana rasanya ketika suami yang Aurel selalu banggakan karena cintanya yang begitu besar kepadanya tiba-tiba pulang membawa seoarang wanita yang sedang hamil dan mengatakan akan melangsungkan pernikahan dengannya? Apakah setelah ia dimadu rumah yang ia jaga akan tetap utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Tiga Puluh Tiga
Aurel panik ketika mendapati si kembar demam tinggi setelah semalam keduanya tidak berhenti menangis, sudah seminggu ini Aurel kewalahan dengan si kembar yang sangat rewel saat malam, sampai membuat para ART di rumahnya terbangun karena tangisan si kembar, bahkan beberapa hari ini para ARTnya saling bergiliran tidur di dalam kamarnya untuk membantu Aurel ketika si kembar menangis lagi di tengah malam.
Dan setelah seminggu mereka yang rewel ketika malam hari, pagi ini Aurel mendapati si kembar yang demam tinggi, Padahal ketika awal-awal mereka membawa si kecil ke dalam rumah dya minggu awal Aurel tidak terlalu kelelahan karena Tamara dan Tamada tidak rewel baik di pagi hari maupun di tengah malam. tapi begitu berjalan pada minggu ketiga, keduanya langsung rewel bahkan bisa sampai pagi dan Aurel tidak tahu lagi bagaimana cara membuatnya tenang, ia sudah memberikan asi, sudah mengganti popok dan bajunya tapi keduanya tidak menunjukkan reaksi jika mereka tenang.
Pagi ini, Aurel pergi ke rumah sakit dengan bi Marni dan Yasmin yang mengendarai mobil, untung pagi ini Yasmin datang untuk melihat perkembangan keponakannya, tapi bukannya ia di sambut penuh kehangatannya, ia malah disambut dengan Aurel yang menangis panik karena si kembar yang suhu tubuhnya panas.
Ia pun buru-buru menyuruh Aurel dan bi Marni membawa si kembar ke dalam mobilnya, si kembar harus segara pendapatkan pertolongan dari seorang dokter.
Sesampainya di rumah sakit, dan si kembar sudah ditangani dokter dan para perawat di dalam ruangan, Aurel malah semakin panik, ia tidak bisa duduk tenang karena khawatir dengan keadaan si kembar, ia hanya takut sesuatu terjadi kepada kedua anaknya, Aurel tidak mau lagi kehilangan, si kembar satu-satunya harapan dia bisa melanjutkan kehidupannya.
"Aurel, kamu tenang dulu ya, Tamada dan Tamada gak kenapa-nepa kok, mereka cuman demam biasa aja, jangan terlalu berpikir negatif, nanti malah akan menjadi doa untuk mereka," nasehat Yasmin menepuk pelan pundak Aurel yang kaku.
"Bagaimana bisa tenang Yasmin, Tamada dan Tamada demam sampai harus di bawa ke rumah sakit, aku gak tahu kenapa mereka bisa sampai sakit, aku pikir mungkin karena selama seminggu penuh keduanya terus menangis di sepanjang malam, aku tidak tahu jika menjadi seorang ibu tidak semudah ini," tangis Aurel pecah saat itu juga, ia merasa gagal menjadi seorang ibu, ia merasa tidak bisa mengurus anak-anaknya dengan baik, ia merasa telah menjadi ibu yang buruk untuk anak-anaknya.
Yasmin menggeleng tidak setuju, "Enggak, kamu jangan terlalu berpikir buruk dulu, yang terpenting kamu sekarang doa biar Tamada dan Tamada tidak mengalami hal yang serius,"
Aurel mengangguk, Yasmin benar, seharusnya ia mendoakan keduanya agar tidak ada hal serius yang terjadi kepada si kembar, bukan malah menangis sesenggukan dan terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.
Selang lima belas menit sejak si kembar masuk ke dalam ruang pemeriksaan anak-anak, dokter keluar dan menanyakan keberadaan ibu dari si kembar yang mereka periksa.
"Ibu dari bayi kembar," panggil dokter itu menatap bergantian antara Aurel, Yasmin dan bi Marni.
Aurel mengangkat tangannya, "saya dok,"
"Bisa ikut saya untuk masuk ke dala?" tanya dokter itu.
Aurel mengangguk, lalu melangkah mengikuti dokter yang sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan pemeriksaan anak-anak.
Aurel mendapati putra dan putrinya tertidur dengan napas teratur, ia sampai meneteskan air matanya, entah kenapa menyangkut soal anak-anaknya, Aurel secengeng ini.
"Jadi, ada apa dengan anak-anak saya dok?" tanya Aurel menatap sang dokter yang hanya diam saja melihat dirinya malah menangis.
Dokter itu menghela napasnya, "Sebelumnya saya ingin bertanya, apakah kedua bayi anda lahir secara prematur?" tanya sang dokter.
Aurel menganggukkan kepalanya, "prematur tujuh bulan, dok," jawab Aurel.
"Berapa lapis biasanya kamu memasangkan pakaian pada kedua anakmu?" tanya dokter itu lagi.
"Saya memakaikannya biasa kok dok, tidak tebal dan tidak tipis," jawab Aurel, ia pernah diingatkan oleh salah satu perawat jika bayi prematur yang baru keluar dari inkubator jangan dipakaikan pakaian terlalu tebal, ataupun terlalu tipis, bayi prematur masih belum bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri.
Mendengar itu dokter tersenyum, "Itu artinya kedua anak anda hanya belum bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri, itu wajar jika terjadi kepada bayi prematur,"
"Jadi tidak terjadi apapun kepada mereka kan dok?" tanya Aurel memastikan jika memang tidak terjadi hal apapun kepada kedua anaknya.
Dokter itu menggeleng, "Suhu tubuhnya akan turun berangsur-angsur, anda tenang saja tidak ada hal serius yang terjadi kepada anak-anak anda,"
Aurel mengucap syukur di dalam hatinya, lain kali ia berjanji akan lebih memperhatikan kedua anak-anaknya.