Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
berdansa
malam itu, acara dibuka dengan perkenalan sekali lagi dengan pengawas direktur operasional, semua yang hadir menyambut kedatangan devan yang bersedia bergabung ke perusahaan pusat. banyak para direksi yang sudah mengetahui sepak terjang devan dan juga kinerjanya di cabang luar negeri. semua di buat kagum. kecuali satu nama yaitu rayya.
ketika acara makan malam dimulai, semua berjalan lancar. tidak sesuatu yang mengganggu rayya akibat ulah devan. rayya lebih banyak berinteraksi dengan kepala divisi merchandise yang memang merupakan bawahan langsung rayya. tadinya, rayya ingin segera meninggalkan acara karena dia sudah membuktikan kehadirannya, namun ketika berdiri, sebuah sorot lampu tiba - tiba mengarah kepadanya, keadaan menjadi berubah. ternyata, rayya tidak mendengar perkataan mc yang mengatakan siapa yang bersedia untuk berdansa hari ini dengan pengawas direktur operasional silahkan berdiri.
Sorot lampu yang tiba-tiba mengarah padanya terasa seperti tudingan telanjang di depan umum.
Rayya membeku.
Ia baru menyadari keterlambatannya memahami situasi ketika ratusan pasang mata tertuju padanya. Tepuk tangan menggema, disusul sorakan riuh yang semakin menguat. MC tersenyum lebar, seolah baru saja menemukan momen yang sempurna.
“Baik, tampaknya kita sudah menemukan pasangan pertama malam ini,” ucap MC penuh semangat. “Silakan, ibu Direktur Rayya Assyura.” ucap sang MC. semua yang melihat bertepuk tangan memberikan semangat.
Rayya ingin tertawa getir.
Ingin mengatakan bahwa ia berdiri bukan karena bersedia berdansa, melainkan karena hendak pergi. Namun sebelum suara itu sempat keluar, matanya bertabrakan dengan tatapan Devan.
Pria itu berdiri tidak jauh darinya. Tenang. Tegap. Dengan senyum tipis yang sama sekali tidak ramah.
Tatapan itu,
Bukan tatapan meminta.
Melainkan menantang.
Rayya mengatupkan rahangnya.
Ia bisa saja duduk kembali, mengabaikan sorakan, dan menolak dengan dingin. Ia memiliki kuasa untuk itu. Ia adalah direktur. Putri pemilik perusahaan. Tidak ada yang bisa memaksanya.
Namun ucapan Devan sore tadi kembali terngiang di kepalanya, jelas dan menusuk.
Acara ini memang dikhususkan untuk orang-orang yang bernyali.
Dada Rayya menghangat oleh sesuatu yang bukan rasa malu, melainkan amarah yang keras kepala.
Baiklah.
Kalau ini permainan nyali, ia tidak akan mundur.
Rayya melangkah maju.
Langkahnya mantap, punggungnya tegak, wajahnya datar tanpa senyum. Tepuk tangan semakin riuh saat ia mendekat ke tengah ruangan. Devan mengulurkan tangannya dengan gestur sopan, nyaris klasik.
Rayya menatap tangan itu sepersekian detik lebih lama dari yang diperlukan.
Ia masih ingat tangan itu.
Tangan yang dulu sering memegang tas sekolahnya tanpa diminta.
Tangan yang dulu berdiri di antara dirinya dan dunia, atas perintah orang lain.
Kini, tangan itu kembali terulur, namun dalam posisi yang jauh berbeda.
Rayya meletakkan tangannya di atas telapak Devan.
Sentuhan pertama itu membuat jantungnya berdenyut tidak wajar. Hangat. Tegas. Seolah Devan tahu persis seberapa kuat ia harus menggenggam. tidak terlalu lembut, tidak pula memaksa.
Musik berubah. Tempo melambat. Lampu meredup sedikit, menciptakan suasana intim yang membuat Rayya semakin sadar akan jarak di antara mereka yang kini hampir tak ada.
Devan menarik Rayya mendekat dengan sopan. Tangan kanannya bertengger di pinggang Rayya, sementara tangan kiri mereka saling bertaut.
“Aku tidak menyangka kamu akan benar-benar datang,” ucap Devan pelan, cukup untuk didengar Rayya saja.
Rayya mengangkat dagunya. “Aku juga tidak menyangka kamu masih senang memancing emosi orang.” sahut rayya ketus.
Sudut bibir Devan terangkat tipis. “Aku hanya memastikan tantanganku diterima.”
“Jangan merasa terlalu penting,” balas Rayya dingin. “Aku datang bukan karena kamu.”
“Lalu karena apa?” tanya Devan, nada suaranya tenang, nyaris santai.
Rayya tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangan, mengikuti irama musik, membiarkan tubuhnya bergerak mekanis. Ia menari dengan baik, selalu demikian. Setiap langkahnya presisi, setiap putaran terkendali.
Namun Devan bukan pasangan dansa yang mudah diabaikan.
Ia mengikuti setiap gerakan Rayya dengan sempurna, seolah telah mempelajari ritmenya. Setiap kali Rayya hendak menjauh, Devan menariknya kembali dengan gerakan halus. Tidak mencolok. Tidak memaksa. Tapi cukup untuk membuat Rayya sadar bahwa ia tidak bisa sembarangan melepaskan diri.
“Kamu masih membenciku,” ujar Devan tiba-tiba.
Rayya tertawa kecil, hambar. “Kamu terlalu percaya diri.”
Devan menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya. “Aku hanya membaca bahasa tubuhmu.”
“Kalau begitu kamu salah baca.”
“Mungkin,” sahut Devan. “Tapi aku tidak salah mengenali tatapan itu.”
Rayya menatapnya tajam. “Tatapan apa?”
“Tatapan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya.”
Rayya berhenti sejenak, nyaris kehilangan hitungan langkah. Untungnya, Devan sigap menyesuaikan, menjaga ritme agar tak ada yang menyadari keganjilan itu.
“Kamu tidak punya hak bicara soal masa laluku,” desis Rayya.
Devan tidak langsung menjawab. Ia memutar Rayya perlahan, membuat gaunnya berputar anggun sebelum menariknya kembali ke posisinya semula.
“Aku tahu,” katanya kemudian. “Dan aku tidak bermaksud mengungkitnya.”
“Kamu baru saja melakukannya.”
“Aku hanya menyatakan apa yang kulihat.”
Rayya menarik napas, berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin tidak teratur. Ia membenci kenyataan bahwa Devan masih memiliki kemampuan untuk mengusiknya, bahkan tanpa berusaha keras.
“Kamu berubah,” ucap Rayya akhirnya.
“Begitu juga kamu.”
“Aku berubah karena aku mau,” tegas Rayya. “Bukan karena keadaan.”
Devan tersenyum samar. “Kadang, keadaanlah yang membentuk kita menjadi versi terbaik dari diri sendiri.”
Rayya menatapnya sinis. “Atau versi yang paling terluka.”
Devan terdiam sejenak. Ada sesuatu di matanya yang meredup, meski hanya sesaat. Namun Rayya menangkapnya.
“Tidak semua luka harus ditunjukkan,” kata Devan pelan. “Sebagian cukup dijadikan pengingat.”
Rayya ingin mengatakan banyak hal. Tentang rasa kesalnya. Tentang cemburu yang dulu ia anggap hina. Tentang bagaimana keberadaan Devan pernah membuatnya merasa tidak lagi menjadi pusat dunia ayahnya.
Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Musik perlahan mendekati akhir. Tepuk tangan kembali terdengar saat lagu usai. Devan melepaskan pegangan dengan sopan, memberi sedikit anggukan formal.
“Terima kasih atas dansanya, Direktur Rayya,” ucapnya, nada profesional sepenuhnya.
Rayya membalas anggukan itu, ekspresinya kembali dingin. “Anggap saja ini kewajiban sosial.”
Devan tersenyum tipis. “Apa pun alasannya, aku senang kamu datang.”
Rayya tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah pergi, menembus kerumunan tamu yang kembali berbincang. Wajahnya tetap tenang, namun pikirannya kacau.
Ia tidak menyangka satu tarian bisa mengaduk begitu banyak hal yang selama ini ia kubur rapi.
Di sisi lain ruangan, Devan menatap punggung Rayya yang menjauh. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya sendiri.
Pertemuan ini,
Lebih rumit dari yang ia perkirakan.
Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke perusahaan pusat, Devan menyadari satu hal dengan sangat jelas:
Musuh lamanya bukan sekadar masa lalu.
Rayya Assyura adalah badai yang belum sepenuhnya ia pahami dan mungkin, belum siap ia hadapi.