NovelToon NovelToon
REINKARNASI DARI MASALALU

REINKARNASI DARI MASALALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Reinkarnasi / Kutukan
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisikan dari Kota Pelabuhan

Kota itu menyimpan rahasia, dan rahasia itu mungkin adalah kunci untuk menemukan Rendra... dan untuk membebaskannya."

Setelah kejatuhan keluarga Handoko, Puri dan Rio merasa lega, tetapi juga dihantui oleh satu pertanyaan yang belum terjawab: di mana Rendra? Janji yang mereka buat pada diri sendiri, untuk menemukan teman mereka, masih membara.

Informasi dari dokumen keluarga Handoko yang disita polisi menyebutkan bahwa Rendra sempat melakukan perjalanan ke sebuah kota pelabuhan kecil di pesisir selatan, bernama Segara Jati, beberapa minggu sebelum kejadian KKN. Catatan itu samar, hanya berupa nama kota dan tanggal, tetapi di antara catatan itu terselip sebuah sketsa kasar Pulau Tengkorak, pulau kecil misterius yang letaknya tak jauh dari Segara Jati. Sketsa itu tampak digambar dengan tergesa-gesa, namun ada lingkaran yang ditarik tebal di sekitar sebuah gua di sisi timur pulau. Cukup untuk memicu harapan Puri dan Rio.

"Segara Jati..." gumam Puri sambil menatap peta usang yang mereka temukan di antara barang-barang Handoko. "Mbah Sastro bilang, firasatnya tentang Rendra sangat kuat. Kenapa Rendra tertarik dengan pulau ini? Apa yang dia cari di sana?"

Rio menghela napas. "Ingat, Puri? Rendra selalu tertarik dengan sejarah keluarga Handoko. Dulu dia pernah cerita, kalau dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari mereka, sesuatu tentang garis keturunan mereka."

Puri mengangguk, mengingat percakapan-percakapan larut malam mereka di bale pasanggrahan. Rendra sering membahas tentang kutukan yang menimpa keluarga Handoko, tentang bagaimana kekayaan dan kekuasaan mereka dibeli dengan harga yang sangat mahal.

"Mungkin dia pergi ke Segara Jati untuk mencari tahu lebih banyak tentang kutukan itu," kata Puri. "Mungkin dia percaya, kalau Pulau Tengkorak memegang kunci untuk membebaskan dirinya... dan kita semua."

Rio menatap Puri dengan tatapan serius. "Kalau begitu, kita harus pergi ke sana. Kita harus menemukan Rendra sebelum dia melakukan sesuatu yang berbahaya."

Ayu dan Dina, yang masih dalam proses pemulihan, bersikeras ingin ikut. Mereka merasa bersalah karena tidak menyadari bahwa Rendra sedang dalam masalah. Fahri juga setuju untuk ikut, merasa bertanggung jawab sebagai ketua kelompok KKN.

Dengan menggunakan sedikit uang sisa dari dana KKN dan bantuan dari beberapa penduduk desa yang bersimpati, mereka menyewa sebuah mobil tua dan memulai perjalanan panjang menuju Segara Jati.

Perjalanan itu memakan waktu berhari-hari. Mereka melewati jalanan berliku, hutan lebat, dan desa-desa terpencil. Semakin jauh mereka melaju, semakin kuat pula perasaan aneh yang menghantui mereka. Seolah-olah mereka sedang menuju ke tempat yang jauh dari peradaban, tempat di mana hukum dan logika tidak berlaku.

Akhirnya, mereka tiba di Segara Jati. Kota itu tampak sepi dan kumuh, dengan bangunan-bangunan tua yang lapuk dan jalanan berdebu. Aroma asin laut bercampur dengan bau amis ikan kering memenuhi udara.

"Kota ini... berbeda," kata Ayu dengan nada merinding. "Aku merasa ada sesuatu yang aneh di sini."

Puri merasakan hal yang sama. Ia merasa seolah-olah sedang diawasi oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Mereka memutuskan untuk mencari penginapan murah dan mulai mencari informasi tentang Rendra. Mereka bertanya kepada penduduk setempat, pemilik warung, dan nelayan yang sedang bersantai di dermaga.

Namun, tidak ada satu pun yang mengenal Rendra. Nama itu terasa asing di telinga mereka. Seolah-olah Rendra tidak pernah ada di kota ini.

"Maaf, Mas, Mbak," kata seorang pemilik warung kopi dengan nada menyesal. "Saya sudah lama berjualan di sini, tapi saya belum pernah lihat orang yang kalian sebutkan."

"Mungkin dia menggunakan nama lain," kata Rio dengan nada berpikir.

"Mungkin juga," jawab Puri. Ia mengeluarkan fotokopi sketsa Pulau Tengkorak itu dan menunjukkannya pada pemilik warung. "Apa Bapak tahu pulau ini? Apa ada yang pernah bertanya tentang pulau ini?"

Saat mereka sedang berdiskusi, seorang pria tua yang duduk di sudut warung mendekati mereka. Pria itu mengenakan pakaian lusuh dan topi jerami yang menutupi sebagian wajahnya.

"Kalian mencari anak muda yang hilang, ya?" tanya pria tua itu dengan suara serak.

Puri dan teman-temannya terkejut. Bagaimana pria tua ini bisa tahu?

"Siapa kamu?" tanya Fahri dengan nada curiga.

Pria tua itu tersenyum misterius. "Aku tahu banyak tentang kota ini," jawabnya. "Aku tahu siapa yang datang dan pergi, siapa yang menyimpan rahasia, dan siapa yang sedang mencari kebenaran."

"Kalau kau tahu sesuatu tentang Rendra, katakan padaku," kata Puri dengan nada memohon. "Dia teman kami. Kami sangat mengkhawatirkannya." Ia menunjukkan sketsa pulau itu pada pria tua tersebut. "Apa kau pernah melihatnya? Apa Rendra pernah bertanya tentang pulau ini?"

Pria tua itu terdiam sejenak. Ia tampak sedang berpikir keras. Matanya menatap tajam pada sketsa pulau itu, seolah mencoba mengingat sesuatu.

"Anak muda itu..." katanya akhirnya. "Dia datang ke kota ini mencari sesuatu. Sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang seharusnya tidak dia sentuh. Dia sangat terobsesi dengan pulau itu. Dia bilang, dia ingin membebaskan keluarganya dari kutukan."

"Apa maksudmu?" tanya Rio dengan nada penasaran.

Pria tua itu menunjuk ke arah sebuah pulau kecil yang terletak tidak jauh dari pantai. Pulau itu tampak gelap dan angker, dengan tebing-tebing curam dan hutan lebat yang menutupi sebagian besar permukaannya.

"Dia pergi ke Pulau Tengkorak," kata pria tua itu dengan nada berbisik. "Dia tidak pernah kembali.

"Jadi, Rendra pergi ke sana untuk mencari tahu tentang sejarah keluarganya?" tanya Puri dengan nada berpikir.

"Mungkin," jawab pria tua itu. "Atau mungkin dia mencari sesuatu yang lain. Beberapa orang bilang, keluarga Handoko menyembunyikan sesuatu yang sangat berharga di pulau itu sebelum mereka pergi. Sesuatu yang bisa memberikan kekuatan dan kekayaan yang tak terbayangkan."

"Kekuatan?" tanya Dina dengan nada curiga.

Pria tua itu mengangguk. "Kekuatan yang bisa mengubah dunia. Tapi kekuatan itu juga sangat berbahaya. Kekuatan itu bisa menghancurkan siapa saja yang berani menyentuhnya."

Puri merasakan jantungnya berdebar kencang. Kekuatan yang bisa mengubah dunia? Apakah itu yang dicari Rendra? Apakah itu yang membuatnya menghilang?

"Kami harus pergi ke pulau itu," kata Puri dengan nada tegas. "Kami harus menemukan Rendra dan memastikan dia baik-baik saja."

Rio mengangguk setuju. "Kita tidak tahu apa yang menunggunya di sana. Tapi kita tidak bisa meninggalkannya sendirian."

Fahri dan Ayu juga setuju. Mereka merasa bertanggung jawab untuk melindungi Rendra dan mengungkap kebenaran tentang Pulau Tengkorak.

"Tapi bagaimana caranya kita bisa sampai ke sana?" tanya Dina dengan nada khawatir. "Tidak ada nelayan yang berani mendekati pulau itu."

Pria tua itu tersenyum misterius. "Ada satu orang yang bisa membantu kalian," katanya. "Dia adalah seorang nelayan tua bernama Pak Tua yang tinggal di ujung desa. Dia tahu semua tentang pulau itu. Dia juga satu-satunya orang yang berani menginjakkan kakinya di sana."

"Pak Tua?" tanya Puri dengan nada penasaran. "Di mana kami bisa menemukannya?"

Pria tua itu memberikan petunjuk arah ke rumah Pak Tua. Puri dan teman-temannya berterima kasih padanya dan segera pergi mencari Pak Tua.

Mereka berharap, Pak Tua bisa membantu mereka menemukan Rendra dan mengungkap rahasia Pulau Tengkorak. Mereka tidak tahu, bahwa perjalanan mereka ke pulau itu akan membawa mereka ke dalam bahaya yang lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan.

Di kejauhan, di tengah lautan yang gelap, Pulau Tengkorak menjulang tinggi, menyimpan rahasia-rahasia kuno dan menanti kedatangan para pendatang baru. Pulau itu memanggil darah Handoko, dan Rendra telah menjawab panggilannya.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!