NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Fajar menyingsing dengan cahaya pucat yang menembus kabut di dasar jurang. Suara gemuruh air terjun menjadi satu-satunya musik latar di tempat yang terisolasi itu.

Arkan terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur bahunya. Matanya mengerjap, menyesuaikan diri dengan cahaya. Ia tergeletak di atas bongkahan batu datar yang licin di pinggir air terjun.

Beruntung, tas taktisnya memiliki bantalan udara otomatis yang sempat terbuka saat ia menghantam air, namun benturan itu tetap saja membuatnya sempat kehilangan kesadaran selama beberapa jam.

"Naura..." bisik Arkan, suaranya parau.

Ia memaksakan diri untuk duduk. Kepalanya berdenyut hebat. Ingatan terakhirnya adalah melihat punggung Naura yang terjun bebas ke dalam kegelapan. Dengan gerakan tertatih, Arkan menyeret kakinya menyusuri tepian sungai yang alirannya mulai tenang sekitar sepuluh meter dari posisinya semula.

Lalu ia melihatnya. Jaket hitam yang dikenakan Naura tampak kontras di atas pasir sungai yang kelabu. Gadis itu tergeletak dengan posisi miring, separuh kakinya masih terendam air.

"Naura!" Arkan berteriak, kali ini lebih keras. Ia mengabaikan rasa nyeri di kakinya dan berlari mendekat.

Arkan berlutut di sampingnya, tangannya gemetar saat memeriksa denyut nadi di leher Naura. Kulitnya terasa sangat dingin. Ia menepuk pipi Naura perlahan, lalu semakin keras.

"Nau, bangun! Naura!"

Tidak ada reaksi. Arkan mulai panik. Selama ini ia selalu bisa mengendalikan emosinya di bawah tekanan apa pun, tapi melihat wajah pucat Naura yang tidak bergerak membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia mendekatkan telinganya ke dada Naura, mencoba mencari detak jantung atau napas.

Deg

"Naura, gue minta maaf sudah panggil lo manja! Bangun, Nau! Jangan mati di tempat kayak gini!" Arkan mengguncang bahu Naura dengan putus asa.

Tepat saat Arkan hendak melakukan resusitasi jantung CPR, bahu Naura mulai bergetar. Awalnya pelan, lalu berubah menjadi suara isakan kecil. Arkan membeku. Namun, isakan itu tiba-tiba meledak menjadi tawa yang sangat renyah.

"Hahahaha! Jangan mati di tempat kayak gini? Serius, Arkan? Lo barusan kedengaran kayak aktor drama picisan!" Naura mendadak duduk tegak, tawanya meledak semakin keras sampai ia harus memegangi perutnya.

Arkan tersentak mundur hingga terduduk di atas pasir. Wajahnya yang tadinya pucat pasi kini berubah menjadi merah padam. Matanya menatap tajam ke arah Naura yang masih tertawa terpingkal-pingkal hingga air mata keluar dari sudut matanya.

"Lo... lo bercanda?" suara Arkan rendah, penuh dengan nada tidak percaya sekaligus kemarahan yang tertahan.

"Muka lo, Arkan! Sumpah, muka Cowok Kulkas lo pecah total! Gue udah bangun dari dua menit yang lalu pas lo teriak-teriak panggil nama gue," Naura menyeka sisa tawanya, meski napasnya masih tersengal karena geli. "Gue cuma pengen tahu, apa lo bakal nangis kalau gue beneran lewat."

Arkan berdiri dengan kasar, mengibaskan pasir dari celananya. "Gue hampir kena serangan jantung karena mikir tim kita bakal kehilangan satu agen bodoh, dan lo malah main-main?"

"Tapi lo lega kan?" Naura menghentikan tawanya, menatap Arkan dengan binar jenaka yang kembali menghiasi matanya. "Lo lega gue masih hidup."

Arkan membuang muka, mencoba menyembunyikan embusan napas panjang yang ia lepaskan secara diam-diam. Dadanya yang tadi terasa sesak kini melonggar. Ada rasa hangat yang aneh yang menjalar di hatinya saat melihat gadis di depannya ini masih bisa bertingkah menyebalkan seperti biasa.

"Terserah," gumam Arkan ketus, meski ia tidak bisa menyembunyikan sedikit rasa lega dalam nada bicaranya. "Ayo berdiri. Black Ledger mungkin sudah pergi, tapi kita masih harus cari jalan keluar dari lubang ini sebelum mereka berubah pikiran."

Naura menjulurkan tangannya ke arah Arkan, tersenyum lebar. "Bantuin dong, Pak Komandan. Kaki gue kram nih."

Arkan mendengus, namun ia tetap meraih tangan Naura dan menariknya berdiri dengan satu sentakan kuat.

"Lain kali kalau lo bercanda kayak gitu lagi," Arkan menatapnya tajam, "gue sendiri yang bakal lempar lo balik ke sungai."

"Galak banget sih," sahut Naura ringan sambil mulai memeriksa perangkat komunikator di pergelangan tangannya. "Tapi makasih ya, Arkan. Udah mau terjun bareng gue."

......................

Arkan dan Naura berjalan menyusuri tepian sungai, mengikuti arah aliran air yang mulai tenang. Namun, baru beberapa belas meter melangkah, Naura tiba-tiba meringis.

Langkahnya goyah, dan ia hampir saja jatuh tersungkur jika Arkan tidak dengan sigap menangkap lengannya.

"Ada apa?" tanya Arkan, matanya memindai sekitar dengan waspada.

"Kaki gue... ah, sial," desis Naura sambil mencoba memijat betisnya yang kaku.

"Sepertinya efek suhu air sungai tadi bikin otot gue kaget. Kaki gue keram parah."

Naura mencoba memaksakan langkah lagi, tapi rasa sakit yang menusuk membuatnya hampir terjatuh kembali. Melihat itu, Arkan menghela napas panjang. Tanpa banyak bicara, ia berbalik membelakangi Naura dan merendahkan tubuhnya.

"Naik ke punggung gue," perintah Arkan datar.

Naura terbelalak. "Hah? Enggak, enggak perlu. Gue bisa jalan sendiri. Tadi kan gue cuma becanda soal kram, tapi sekarang beneran, eh... maksud gue, gue masih bisa tahan!"

"Naura, jangan keras kepala. Kita dalam posisi terbuka. Kalau Black Ledger balik lagi dan lo jalan kayak siput begitu, kita berdua tamat," potong Arkan dengan suara yang tidak menerima bantahan.

"Gue berat, Arkan! Lagian ini memalukan kalau ada yang lihat—"

"Enggak ada siapa-siapa di sini kecuali pohon. Cepet naik, atau gue tinggal?" Arkan menoleh sedikit, memberikan tatapan dinginnya yang khas.

Naura mendengus kesal, pipinya sedikit merona meski ia berusaha menutupinya dengan ekspresi judes. Cowok otoriter gumamnya pelan. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, ia melingkarkan lengannya di leher Arkan dan naik ke punggung cowok itu.

Arkan berdiri dengan mantap seolah beban Naura tidak ada artinya bagi fisiknya yang sudah terlatih. Ia membetulkan posisi gendongannya, lalu mulai melangkah menembus semak belukar.

Setelah hampir satu jam berjalan dalam diam, dengan Naura yang sesekali masih mengomel kecil karena merasa harga dirinya sebagai agen jatuh, pemandangan di depan mereka mulai berubah. Di balik rimbunnya pohon pinus, mereka melihat kepulan asap dan deretan rumah panggung kayu yang sederhana.

"Arkan, lihat! Itu dusun," bisik Naura tepat di dekat telinga Arkan, membuat cowok itu sedikit bergeming. "Turunin gue, malu kalau dilihat warga."

"Kaki lo sudah bisa jalan?"

"Mungkin kalau dipaksa bisa..."

"Duduk tenang di situ," perintah Arkan lagi. Ia tetap menggendong Naura saat mereka memasuki batas desa, membuat beberapa warga yang sedang menjemur jagung berhenti dan menatap mereka dengan heran sekaligus iba.

Arkan mendekati seorang pria tua yang sedang duduk di depan rumahnya. "Permisi, Pak. Teman saya terluka saat kami mendaki di atas sana. Apa ada tempat untuk kami beristirahat?"

Pria tua itu melihat kaki Naura yang tampak bengkak dan pakaian mereka yang kotor. "Astagfirullah, kasihan sekali. Ayo, bawa masuk ke rumah saya. Mari, Nak."

Arkan membawa Naura masuk ke dalam rumah kayu yang sejuk itu dan mendudukkannya dengan hati-hati di atas balai-balai bambu. Begitu Arkan melepaskan gendongannya, Naura segera mengembuskan napas lega sekaligus canggung.

"Makasih," gumam Naura sangat pelan, hampir tidak terdengar.

Arkan hanya mengangguk singkat, lalu kembali ke mode siaga. "Pak, apa di sini ada kendaraan atau cara untuk kami menghubungi bantuan?"

"Hanya ada truk pengumpul sayur yang lewat setiap jam enam pagi, Nak. Tapi sekarang baru jam delapan pagi, kalian baru bisa ikut besok," jawab pria tua itu ramah sambil menyodorkan dua gelas air putih.

Naura dan Arkan saling pandang.

"Arkan," panggil Naura pelan sambil melirik ke arah tas taktisnya yang tersembunyi di balik jaket. "Kita harus hubungi Rio sekarang sebelum mereka pasang perimeter di sekitar gunung ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!