NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25_JOGGING DIHARI MINGGU

Azka menyusul langkah Nayla sampai ke lantai atas. Namun ia tidak berhenti di depan kamar Nayla.

Langkahnya berbelok ke arah kamar sendiri. Pintu ditutup tanpa suara keras. Baru saat itu ia menyadari satu hal, dirinya masih mengenakan seragam sekolah, lengkap dengan dasi yang sudah agak longgar.

Azka menghela napas panjang.

Hari ini terlalu panjang.

Ia berjalan ke kamar mandi, membuka kancing kemeja satu per satu. Air dingin mengalir membasahi tubuhnya, membawa serta sisa emosi yang sejak pagi menumpuk tanpa sempat diurai.

Pertengkaran. Tatapan Nayla. Pantai. Perkelahian. Rumah orang tua Nayla. Dan… sentuhan tangan Nayla di sudut bibirnya.

Azka memejamkan mata sejenak di bawah aliran air. Entah kenapa, memori itu terasa lebih membekas dibanding rasa perih di wajahnya.

Selesai mandi, Azka mengganti pakaiannya dengan kaus hitam polos dan celana training abu-abu. Pakaian rumahan yang jarang ia pakai, tapi malam ini terasa paling nyaman.

Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

Empuk.

Azka menatap langit-langit kamar, kedua lengannya terlipat di belakang kepala. Rasa lelah tiba-tiba menyerang begitu saja, seperti tubuhnya baru diberi izin untuk berhenti.

Tapi pikirannya masih bekerja. Ia mengingat nada suara Nayla saat menyuruhnya duduk. Tatapan seriusnya. Cara Nayla mengomel pelan sambil mengobati lukanya.

Biasanya, orang-orang mendekatinya dengan takut atau kagum.

Tapi Nayla? Ia memperlakukannya seperti… manusia biasa.

Azka tertawa kecil tanpa suara.

Di sudut kamarnya, ponselnya bergetar. Pesan dari Devan.

>Lo aman?

Azka hanya membalas singkat.

>Iya.

Lalu ponsel itu diletakkan kembali.

Ia memejamkan mata, berharap tidur cepat datang. Tapi perasaan aneh itu masih menggantung di dadanya.

***

Di kamar lain, Nayla keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah. Ia mengenakan piyama sederhana berwarna lembut. Tidak ada riasan. Wajahnya terlihat lebih jujur di bawah cahaya lampu kamar.

Nayla duduk di depan meja rias.

Ia menatap bayangannya sendiri di cermin cukup lama. Perlahan, pikirannya kembali pada kejadian di ruang tamu tadi.

Tangannya yang menyentuh wajah Azka. Cara Azka meringis kecil. Tatapan bingungnya saat Nayla memerintahkannya duduk.

Nayla menghela napas.

“Itu terlalu perhatian,” gumamnya pada diri sendiri.

Ia memiringkan kepala, menatap pantulan matanya sendiri. Ada sesuatu di sana yang membuatnya gelisah.

Bukan karena Azka marah. Bukan juga karena Azka posesif. Tapi karena momen itu terasa… berbeda.

Sedikit manis. Sedikit berlebihan. Dan entah kenapa, terlalu nyata.

Nayla menggeleng pelan, seolah ingin mengusir pikiran itu.

“Aku nggak boleh salah paham,” bisiknya.

Ia berdiri, mematikan lampu meja rias, lalu merebahkan diri ke atas kasur. Selimut ditarik hingga menutupi sebagian tubuhnya.

Di balik kelopak mata yang terpejam, bayangan Azka kembali muncul.

***

Matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela besar rumah Mahendra.

Hari Minggu selalu terasa berbeda. Tidak ada suara langkah tergesa para pelayan, tidak ada jadwal sekolah, tidak ada panggilan rapat keluarga. Rumah itu terasa lebih tenang, meski tidak sepenuhnya hangat.

Nayla menuruni tangga dengan langkah pelan. Ia masih mengenakan piyama: kaus longgar dan celana pendek di atas lutut. Rambutnya dicepol asal, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya. Matanya masih sedikit berat karena baru bangun.

Ia menguap kecil sambil berjalan ke arah dapur.

Begitu memasuki ruang makan, langkah Nayla melambat.

Azka sudah ada di sana.

Duduk di kursi makan, satu tangan memegang sendok, satu tangan menopang piring. Ia mengenakan kaus olahraga berwarna gelap dan celana training. Rambutnya sedikit basah, seolah baru mencuci muka. Wajahnya segar, berbeda dari biasanya yang rapi dan kaku.

Azka juga melihat Nayla. Gerak sendoknya terhenti sepersekian detik.

Bukan karena Nayla belum mandi. Bukan juga karena rambutnya berantakan.

Tapi karena celana pendek itu.

Bukan sesuatu yang berlebihan. Tapi cukup membuat Azka secara refleks mengalihkan pandangan.

Ia berdehem kecil, lalu kembali menyantap sarapannya seolah tidak terjadi apa-apa.

Nayla mengambil gelas dan menuangkan air minum. Alisnya terangkat sedikit saat ia melirik Azka dari sudut mata.

"Biasanya dia negur", pikir Nayla. "Atau minimal komentar".

Tapi tidak.

Azka diam saja.

Nayla menyesap air, lalu menatap Azka lebih jelas. Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan pakaiannya.

“Kenapa kamu pakai baju gitu?” tanya Nayla spontan.

Azka melirik singkat. “Kenapa emangnya?”

“Keliatan kayak mau pergi,” jawab Nayla jujur.

Azka menelan makanannya, lalu menyandarkan punggung sebentar. “Emang mau.”

“Kemana?”

“Jogging.”

Nayla mengernyit. “Jogging?”

Azka mengangguk. “Iya. Hari ini kan hari Minggu.”

“Oh,” Nayla mengangguk pelan. “Jarang.”

Azka meliriknya lagi. Kali ini lebih lama. “Kenapa?”

Nayla mengangkat bahu. “Aku pikir kamu tipe yang olahraga di gym mahal, bukan lari pagi.”

Azka tersenyum tipis. Hampir tak terlihat. “Sekali-kali.”

Ia berdiri, mengambil botol minum. Lalu, seolah tanpa beban, ia bertanya, “Kenapa? Mau ikut?”

Pertanyaan itu membuat Nayla membeku.

“Ng—ikut?” ulang Nayla.

“Iya.”

Nayla menatap gelas di tangannya, lalu kembali ke wajah Azka. “Emang boleh?”

Azka menjawab singkat, seolah itu bukan hal besar. “Boleh.”

Jawaban itu justru membuat Nayla makin bingung.

“Tapi aku belum mandi,” katanya ragu.

Azka melirik penampilannya sekilas. “Nggak usah mandi.”

Nayla langsung menatapnya. “Hah?”

“Abis jogging baru mandi,” lanjut Azka santai. “Keburu lama kalau kamu mandi sekarang.”

“Tapi—”

“Sana ganti baju,” potong Azka tanpa nada kasar. “Aku tunggu.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Tegas. Tapi tidak memaksa.

Nayla terdiam beberapa detik. Biasanya, ia akan menolak. Atau mencari alasan. Tapi pagi ini terasa… berbeda. Tidak ada tekanan. Tidak ada nada mengatur seperti biasanya.

“Oke,” jawab Nayla akhirnya. “Sebentar.”

Ia berbalik naik ke tangga.

Azka memperhatikannya pergi, lalu baru menyadari detak jantungnya sedikit tidak stabil.

"Kenapa gue nawarin?", pikirnya.

***

Beberapa menit kemudian, Nayla turun lagi.

Kali ini ia mengenakan kaus olahraga berwarna abu muda dan celana training hitam. Rambutnya masih dicepol, tapi lebih rapi. Wajahnya polos, tanpa riasan.

Azka berdiri di dekat pintu.

Ia menoleh.

Dan lagi-lagi, ia harus menahan diri untuk tidak menatap terlalu lama.

“Kamu lama,” katanya singkat.

“Katanya tunggu,” balas Nayla santai.

Azka mengambil kunci mobil. “Ayo.”

Mereka keluar rumah berdampingan.

Udara pagi terasa sejuk. Matahari belum terlalu tinggi. Jalanan kompleks masih lengang, hanya beberapa orang yang jogging atau berjalan santai.

Azka memutuskan untuk jogging di area sekitar rumah saja. Tidak terlalu jauh.

Langkah mereka sejajar, awalnya canggung. Tidak ada yang bicara selama beberapa menit.

Nayla mengatur napas. “Kamu sering jogging?”

“Kadang,” jawab Azka. “Kalau kepala penuh.”

“Oh.”

Beberapa langkah lagi.

“Kepalamu penuh?” tanya Nayla.

Azka melirik sekilas. “Sekarang iya.”

Nayla tersenyum kecil tanpa sadar.

Mereka terus berlari ringan. Tidak cepat. Tidak juga lambat. Azka sengaja menyesuaikan langkahnya dengan Nayla, meski tidak mengatakannya.

Setelah beberapa menit, Nayla mulai kelelahan.

“Kamu… kuat juga,” katanya sambil terengah.

Azka berhenti, ikut melambat. “Kamu kepaksa?”

“Enggak,” jawab Nayla jujur. “Cuma jarang olahraga.”

Azka mengangguk. “Pelan aja.”

Mereka berjalan santai sekarang.

Sunyi itu kembali hadir, tapi kali ini tidak canggung. Justru terasa tenang.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!