Freya Rodriguez seorang wanita cantik anggun dan dewasa dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria misterius yang dingin bahkan tak seorangpun tau kehidupannya dengan jelas. Pria itu bernama Pablo Xander seorang pria yang hidup sendirian setelah kakeknya meninggal, kakeknya menjodohkan dia dengan freya yang mau tak mau harus menurut karena kakeknya adalah kesayanganya.
_
Tanpa disadari mereka berdua telah saling mencintai satu sama lain setelah pertemuan pertama. Freya yang menerima semua kekurangan Pablo begitupun sebaliknya membuat mereka berdua sangat bahagia dengan keluarga kecilnya bersama dengan anak Pablo yang selama ini di rahasiakan dari publik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Returning to the Rodryguez mansion
Udara malam menyambut Freya saat ia keluar dari gerbang tinggi kediaman Xander. Perjalanan menuju rumah orang tuanya memakan waktu tiga puluh menit, namun baginya terasa seperti selamanya. Pikirannya masih tertinggal di kediaman Alaric dimana dia mengetahui seorang anak kecil yang disembunyikan oleh keluarga Xander.
Begitu mobilnya berhenti di depan rumah bergaya kolonial milik keluarganya, Freya menarik napas panjang. Ia merindukan bau kayu cendana dan kehangatan yang tidak menuntut apa-apa darinya.
Saat ia membuka pintu depan, cahaya kuning hangat dari ruang tamu menyambutnya. Di sana, di atas sofa beludru hijau, Papa dan Mamanya duduk berdampingan. Sang Papa sedang membaca jurnal bisnis, sementara Mama sedang menyesap teh chamomile-nya.
"Freya?" Mama meletakkan cangkirnya dengan terburu-buru. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam "Sayang, kau pulang?"
Freya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mendekat dan menjatuhkan dirinya di antara mereka berdua. Papa meletakkan jurnalnya, lalu merangkul bahu putri tunggalnya itu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Papa pelan. Beliau tidak perlu menyebut nama; semua orang tahu siapa yang dimaksud.
"Dia sudah lebih baik pa" bisik Freya. Suaranya serak. "Aku juga sudah bertemu dengan anaknya."
Mama mengusap rambut Freya dengan lembut. "Apakah dia benar anaknya Pablo? Siapa namanya?."
"Namanya adalah Nael Xander ma"
Papa Freya memandangnya dengan lekat "Nael Xander? Calon pewaris yang tersembunyi, jadi bagaimana saat kamu pertama kali bertemu dengannya" dia meraih tangan anaknya dan menggenggam dengan erat.
"Dia anak yang pintar pa. Dia juga sangat percaya diri dan cerdas, kecerdasannya bahkan menurutku menurun dari Pablo karena bisa dilihat dia memang sangat mirip dengannya."
"T.. Tapi" freya bahkan tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Tapi kenapa?" tanya papanya
Freya menghela nafas lelah "Aku tidak tahu apakah aku sanggup membesarkannya berama Pablo karena dia sangat pintar dan aku takut dia masih menginginkan ibunya." kesedihan terlihat dimatanya bahkan pikirannya lebih berkecamuk.
"Anak Mama pasti bisa melakukannya!" Pelukan hangat dari sang mama membuatnya lebih baik.
Papanya mendekat ke arahnya dan memeluk mereka berdua dengan sangat erat, "Your Mom is exactly right Freya we trust you!"
Freya rasanya ingin menangis setelah kedua orang tuanya mengatakan hal yang membuat dirinya terharu tak lupa dengan pelukan hangat yang erat.
Freya melepaskan pelukan kedua orang tuanya "Alright aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang aku mau ke kamar, bersih-bersih dan melanjutkan tidurku" Freya berdiri melangkahkan kaki menaiki tangga menuju ke kamarnya yang berada di atas.
Papa dan mamanya saling melirik setelah melihat Freya pergi ke atas "Aku yakin anak kita bisa melakukan semuanya dengan baik jo" lantas Joice memeluk sang istri dan mengangguk mengiyakan perkataan yang dirasa benar.
"I know that."
...----------------...
Kamar Freya Rodriguez didominasi oleh palet warna monokrom dan abu-abu arang; pencahayaan hidden LED di sudut langit-langit memberikan kesan futuristik sekaligus intim yang menonjolkan setiap detail furnitur minimalisnya.
Tidak ada ruang untuk kekacauan di kamar Freya; rak buku yang tersusun menurut warna dan meja kerja berbahan marmer yang bersih mencerminkan kepribadiannya yang tegas, anggun, disiplin, dan penuh kendali.
Freya meletakkan tasnya di atas meja rias miliknya lalu dia menyiapkan air hangat di bathtub dengan sabun cair dan fresh bunga.
Dia berjalan ke arah bathtub setelah membuka seluruh pakaian miliknya lalu masuk kedalam bathtub.
Dia merilekskan tubuhnya yang terasa pegal dengan pikiran yang berkecamuk belum mereda "Oh Lord jadikan aku seorang wanita yang tangguh dan memiliki kecerdasaan agar bisa mendidik seorang anak yang akan menjadi anakku nanti"
...----------------...
Sedangkan disisi lain Nael sedang bersama ayahnya. Mereka berdua menghabiskan waktu di malam hari bersama setelah Freya pulang.
Nael menghampiri ayahnya yang berdiri di depan jendela "Daddy, Freya sangat cantik ya kurasa kalian cocok" Pablo menoleh ke arahnya.
Dia menyamakan posisinya dengan Nael yang berada di depannya sekarang "Really so kau menyukainya baby boy?" tanyanya.
"Of course she's not only pretty but she's a mature and good woman i guess" Pablo mencium pipinya dengan gemas, dia meraih anaknya kemudian menggendong dan melihat dunia luar dari jendela.
"Dia adalah wanita yang dijodohkan dengan Daddy dan yap kau benar dia baik, dewasa dan wanita yang anggun juga keibuan." Nael juga menyetujui hal itu.
Nael meraih wajah Pablo dengan kedua tangannya agar dia melihat ke arahnya, "Tapi kau tidak mencintai ibuku kan? Aku tidak ingin Freya hidup bersama orang yang masih mencintai masa lalunya" Pablo terkejut saat Nael mengatakan hal itu.
"Tentu tidak aku sudah melupakan ibumu i mean kau tahu ibumu hanya masa lalu dan masa depan masih panjang, aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu sakit hati karena melupakan ibumu tapi ini adalah opini ku dan perasaanku yang jujur."
Dengan nada sungguh-sungguh Nael berkata "I know Dad Kau berhak bahagia aku juga tahu bahwa ibuku bukan wanita yang baik itulah sebabnya dia tiada saat melahirkan ku" Pablo lebih terkejut lagi setelah ucapan yang Nael katakan padanya .
"Hey but she's still your Mom apapun kesalahannya okay so jangan pikirkan hal ini lagi aku tidak mau mengingatkan hal yang membuatmu sedih sayang."
Nael menatapnya dengan kehangatan "It's okay Dad aku mengerti semuanya but thanks for everything" Nael mengecup dahinya dengan pelan "I love you Best Dad Ever".