Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.
Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.
Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.
penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Aku tidak akan menyentuhmu.
Malam itu terasa sunyi, semua tamu sudah pulang kerumah masing masing dan Alyssa pun sudah berada didalam kamar pengantinnya.
Krek...
Suara pintu yang dibuka dengan perlahan mengalihkan perhatian Alyssa, Brayen masuk dengan mendorong kursi rodanya.
Alyssa ingin membantu suaminya namun tiba tiba saja ia merasa gugup. Tak ingin keadaan menjadi canggung Alyssa memilih diam dan menatap Brayen dari kejauhan.
Brayen menghentikan kursi rodanya, matanya menatap lurus ke arah Alyssa yang saat ini tengah duduk di tepi ranjang. Gaun tidur yang ia kenakan sangat sederhana namun rambutnya terurai dengan rapi.
Ini kali pertamanya Brayen melihat Alyssa tanpa hijab dan sejujurnya ia mengakui Alyssa cukup cantik malam ini.
Glek...
Brayen menelan ludahnya kasar, malam ini adalah ujian terberat baginya dan ia tidak boleh goyah, ia harus ingat bahwa dalam hatinya hanya ada mayra dan tidak seharusnya ia terpesona dengan wanita lain.
Hening mereka hanya diam dan saling pandang, hanya suara jam dinding yang berdetak, terasa semakin nyaring di antara keheningan mereka berdua.
“Kamu… tidak perlu duduk setegang itu,” ucap Brayen akhirnya, suaranya datar namun lebih pelan dari biasanya.
“Maaf… aku hanya belum terbiasa kak.”
Brayen mendekat, menghentikan kursi rodanya beberapa langkah dari Alyssa.
“Aku juga.”
Jawaban itu membuat Alyssa terdiam. Ia tak menyangka Brayen akan jujur walau hanya sesederhana itu.
“Apa kamu takut?” tanya Brayen lagi, kali ini nada suaranya sedikit berubah.
Alyssa menelan ludahnya kasar meskipun ini bukan pertama kalinya untuknya tapi tetap saja ia merasa gugup.
"Jangan khawatir, aku tidak akan menyentuhmu."
" Aku tau kita menikah bukan karena cinta, pernikahan ini hanya formalitas saja jadi tidak perlu ada sentuhan fisik diantara kita." Lanjut Brayen.
Meskipun apa yang dikatakan laki laki dihadapannya memang benar tapi entah mengapa hati Alyssa sedikit sakit.
"Mungkinkah aku telah mengharapkan hal yang tidak seharusnya aku harapkan." Batin Alyssa menghela nafasnya, ia berusaha mengusir pikiran pikiran itu dari otaknya.
Hening kembali turun
Brayen menatap wajah Alyssa lama. Ia merasa bingung karena Alyssa tidak mengatakan apapun, apa mungkin wanita itu tersinggung dengan ucapannya.
Atau ia masih memikirkan ibunya entahlah Brayen tidak tau ia hanya bisa menebak nebak.
"Alyssa..." Panggil Brayen pelan. Alyssa mengangkat wajahnya menatap pria yang kini telah sah menjadi suaminya.
"Ya kak ada apa?"
"Apa kamu masih menghawatirkan ibumu?" Alyssa menggguk perlahan menutupi rasa kecewa yang sempat ia rasakan.
"Kamu tidak usah khawatir, ada orang yang akan menjaganya. Jika terjadi sesuatu mereka akan memberitahuku." Ucap Brayen berusaha menyajikan istrinya.
"Aku tau kak, Tante lita sudah memberitahuku."
"Syukurlah kalau mama sudah memberitahumu itu akan membuatmu sedikit lebih tenang. Ya sudah kalau begitu aku mau mandi dan berganti pakaian dulu. Memakai jas seharian membuatku gerah aku tidak tahan lagi memakainya." Ucap Brayen ingin beranjak dari sana namun Alyssa menahan kursi rodanya.
"Ada apa?" Tanya Brayen mengerutkan dahinya heran.
"Em... Itu kak." Ucap Alyssa terlihat gugup pipinya memerah beberapa kali ia memainkan jari jarinya seolah olah ragu untuk mengatakannya kepada Brayen.
"Itu apa?" Tanya Brayen mengangkat alisnya meminta penjelasan kepada Alyssa.
"Apa kakak membutuhkan bantuanku?" Brayen tersenyum, ia mengerti apa yang Alyssa maksud.
Namun ia sama sekali tidak marah. Mungkin istrinya itu berpikir ia tidak bisa melakukannya sendiri mengingat kakinya yang tidak bisa berdiri lagi.
"Apa kamu yakin mau membantuku?" Ucap Brayen malah menggoda Alyssa.
Alyssa yang mendengarnya pun menjadi gelisah.
"Em... Aku... Hanya ingin menjalankan tugasku sebagai istri kak." Lirih Alyssa terdengar takut.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri kalau hanya sekedar mandi dan mengganti pakaianku." Alyssa menghela nafas lega.
Brayen tersenyum sebelum akhirnya berlalu meninggalkan istrinya dalam keheningan.
30 menit berlalu akhirnya pintu kamar mandi pun terbuka dengan perlahan, Brayen mendorong kursi rodanya hingga tiba disamping ranjang, ditatapnya Alyssa yang kini sudah berbaring memunggunginya.
Tak lama ranjang itu pun bergoyang dan kini Brayen suda berada disamping Alyssa.
"Kamu sudah tidur?" Tanya Brayen memastikan.
Merasa tidak ada jawaban akhirnya Brayen mengeser tubuhnya sedikit lebih dekat agar bisa melihat wajah Alyssa dan benar saja, istrinya sudah tertidur lelap.
"Mungkin dia kelelahan." Ucap Brayen tersenyum tipis.
Tangan laki laki itu terulur menutupi tubuh Alyssa dengan selimut agar tidurnya semakin nyenyak.
Setelah selesai barulah ia merebahkan diri disamping Alyssa.
Matanya menatap langit langit kamar sementara pikirannya menerawang jauh berfikir akan menjadi seperti apa kehidupannya nanti.
Akankah lebih bahagia atau justru sebaliknya.