Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ppm19
“Semalam aku capek,” potong Mia singkat. Nada suaranya datar, tanpa emosi, tanpa penjelasan. Ia menyendok nasi, makan perlahan, seolah tidak ada hal lain yang perlu dibahas.
Johan menghela napas, lalu ikut duduk. Ia mencoba membaca wajah Mia, mencari celah amarah, kecemburuan, atau setidaknya kekecewaan.
Tapi yang ia temukan hanya ketenangan yang asing. Ketenangan yang membuat dadanya terasa sempit.
“Kamu marah sama aku?” tanyanya lagi.
Mia berhenti makan. Ia mengangkat wajahnya, menatap Johan lurus.
“Marah untuk apa?! ”
Jawaban itu justru membuat Johan makin gelisah.
Mia kembali menunduk, melanjutkan sarapannya. “Ayo makan nanti kita telat.”
Tidak ada tuduhan tidak ada pertengkaran.
Hanya pagi yang dingin dan jarak yang perlahan, tapi pasti, menjauhkan mereka.
Mobil melaju pelan, terjebak arus pagi yang padat. hanya ada suara musik yang mengalun melalui radio , tidak ada obrolan ringan seperti dulu.
Johan akhirnya menyerah pada sunyi itu.
“Mia, kamu kenapa sih?” ucapnya agak meninggi. “Kalau ada yang nggak kamu suka, bilang. Jangan diam saja. Kita ini suami istri, harus saling terbuka.”
Mia menoleh sebentar, lalu kembali menatap jalan di depan. Senyum tipis tersungging di bibirnya bukan senyum hangat, melainkan senyum yang membuat Johan merasa tidak nyaman.
“Saling terbuka?,” ulang Mia pelan.
“Dalam hal apa?.”
“Ya… dalam segala hal,” jawab Johan cepat, seolah ingin segera menutup topik itu.
Mia mengangguk kecil, masih dengan senyum yang sama.
“Baik,” katanya tenang lalu suaranya berubah, lebih tajam.
“Kenapa nggak dimulai dari kamu saja?.”
Johan terhenyak. Tangannya mencengkeram setir lebih kuat. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras, tapi ia tak bisa berkata apa-apa. Jalanan semakin padat, menuntut seluruh perhatiannya.
Di dalam mobil itu, tidak ada lagi ruang untuk berkelit hanya waktu yang menunggu, dan kebenaran yang mulai mendesak untuk keluar.
Johan menurunkan Mia tepat di depan gedung kantornya. Tidak ada ucapan penyemangat, tidak ada kecupan singkat seperti biasa. Begitu pintu tertutup, Johan langsung menginjak gas, menuju kantornya.
Sesampainya di kantor, wajah Johan tampak masam. Ia yang biasanya mudah melempar candaan pagi hanya duduk di balik meja, menatap layar tapi fokusnya buyar.
Pikirannya berputar liar Sikap Mia terlalu berbeda untuk diabaikan. Terlalu dingin ada ketakutan yang mulai merayap bukan takut kehilangan Mia, melainkan takut kebohongannya telah terendus.
Menjelang makan siang, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Mey.
"Yang, sudah makan siang belum? Jangan lupa makan ya. I love you."
Johan membaca sekilas. Tidak ada senyum, tidak ada rasa berbunga seperti beberapa hari lalu. Jemarinya bergerak cepat pesan itu dihapus. Ia meletakkan ponsel terbalik di meja, menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, Johan merasa terjepit di antara dua dunia yang sama-sama mulai menuntut harga.
Sore itu Mia pulang lebih dulu. Ia membuka pintu rumah dengan gerakan yang sama seperti biasanya, menyalakan lampu, meletakkan tas, dan mengganti bajunya tidak ada yang berbeda, kecuali dadanya yang terasa kosong. Ia masuk ke dapur, menyiapkan makan malam.
Semua dilakukan rapi, terukur seolah ia sedang menata sesuatu yang lebih besar dari sekadar makan malam..
Lalu ia berhenti sejenak, menatap meja makan yang sunyi. Tangannya bergerak perlahan memindahkan satu piring kembali ke rak. Mia duduk, makan sendiri. Hanya bunyi sendok yang sesekali menyentuh piring, dan jam dinding yang berdetak terlalu jelas.
Di kepalanya, potongan-potongan kecil mulai tersusun pesan yang dihapus, alasan yang janggal, sentuhan yang terasa asing. Ia tidak menuduh ia mengingat.
Malam kian larut, Johan belum pulang. Mia membersihkan meja, mematikan lampu dapur, lalu berdiri lama di depan cermin kamar. Wajahnya terlalu tenang untuk seseorang yang hatinya baru disayat.
“Imbangi Mia” bisiknya pada pantulan diri sendiri. Mia berbaring, memunggungi sisi ranjang yang kosong. Bukan untuk menunggu, melainkan untuk memastikan satu hal ia tidak lagi bergerak karena cinta semata, melainkan karena kebenaran yang ingin ia genggam dengan tangan sendiri.
Pagi itu Mia terbangun dan mendapati Johan sudah berada di sisinya. Tidak ada sisa percakapan semalam, tidak juga pertanyaan. Mia bangkit lebih dulu, menjalankan rutinitasnya seperti biasa mandi, berganti pakaian, lalu ke dapur. Saat ia menata sarapan di meja makan, Johan muncul dengan kemeja kerja yang sudah rapi, wajahnya tampak segar tapi matanya tampak gelisah
“Mau pakai krimer?” tanya Mia datar sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir kopi Johan.
“Tidak usah,” jawab Johan cepat.
Mia mengangguk, mengaduk kopi itu pelan, lalu meletakkannya di hadapan suaminya. Gerakannya tenang,
Mereka duduk berhadapan tidak ada pertanyaan jam berapa Johan pulang semalam, Mia , menghabiskan sarapannya tanpa banyak bicara, seolah pagi itu hanyalah pagi biasa. Justru ketenangan itulah yang membuat dada Johan semakin tidak nyaman. Ia beberapa kali melirik Mia, menunggu sesuatu marah, curiga, atau setidaknya pertanyaan. Tapi Mia tidak memberinya apa-apa. Dan di situlah kegelisahan Johan mulai tumbuh, pelan tapi pasti.
Usai sarapan, Mia berdiri lebih dulu. Ia merapikan piring, mencucinya seperti biasa, lalu mengambil tas kerjanya. rutinitas yang dijalankan dengan tenang.
“Aku sudah siap yuk berangkat” ucap Mia singkat.
Di mobil, suasana jauh lebih sunyi dari biasanya. Bukan sunyi canggung melainkan sunyi yang terkontrol. Mia menatap jalan di depannya, sesekali mengecek ponsel, tidak sekali pun menoleh ke arah Johan.
Johan justru gelisah. Tangannya beberapa kali mengencang di setir. Ia ingin bertanya, ingin memancing reaksi, tapi takut jawabannya.
Sesampainya di depan kantor Mia, Johan menghentikan mobil.
Mia membuka pintu, lalu berhenti sejenak.
“Johan,” katanya pelan.
Johan menoleh cepat, jantungnya berdebar akhirnya.
Namun Mia hanya menambahkan,
“Jangan lupa jemput tepat waktu malam ini.”
Nada suaranya netral.
Mia turun, menutup pintu, dan berjalan pergi tanpa menoleh.
Johan terpaku.
Kalimat itu terdengar biasa, tapi baginya seperti ancaman halus. Bukan karena apa yang diucapkan melainkan karena apa yang tidak diucapkan.
Di dalam gedung kantor, Mia melangkah mantap. Wajahnya tenang, bahunya tegak. Tak satu pun rekan kerja tahu bahwa di balik ketenangan itu, ia sedang menyusun sesuatu. Bukan ledakan. Bukan drama.Ia memilih diam.
Dan diamnya Mia, perlahan, mulai membuat Johan runtuh.
Sore itu Johan menunggu di pinggir jalan kantor Mia. Mesin mobil menyala, AC dingin, tapi telapak tangannya basah. Ia tak yakin apa yang akan ia hadapi. Marah? Diam? Atau dingin seperti pagi tadi?
Pintu mobil terbuka.
Mia masuk dengan senyum senyum yang sudah lama tidak Johan lihat.
“Maaf nunggu lama,” ucap Mia lembut sambil merapikan tas di pangkuannya.
Nada suaranya manis. .
Johan tertegun beberapa saat sebelum menjawab
“Enggak… aku juga baru sampai.”