Nawalisya Nasyirah, berusia 28 tahun telah menikah dengan Fandyka Satya Mahardika yang telah berusia 21 tahun. Mereka menikah atas dasar perjodohan. Nawal menerima perjodohan itu atas dasar rasa sayang dan hormat kepada orang tuanya, Hingga akhirnya Nawal membuka hati dan belajar mencintai sang suami.
3 bulan awal pernikahan Fandy dan Nawal berjalan biasa saja, meski mereka tak saling dekat. Namun, setelah 3 bulan itu, Fandy memutuskan untuk menikahi kekasihnya, Mila.
Disitulah cinta Nawal di uji. Akan kah mereka tetap bertahan? Ditambah lagi dengan masalah usia Nawal yang lebih matang dari fandy?
Simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi menjelang pernikahan
Nawalisya
Aku menatap wajahku di cermin. Polesan make up sederhana selalu mendominasi wajahku dalam setiap waktu. Aku menatap dan mengecup cincin pemberian Tristan tempo hari di jari manisku.
Bahagia, itulah gambaran yang tengah aku rasakan. Setelah sekian banyak usaha yang aku lakukan untuk membujuk bapak dan ibu, Akhirnya, mereka membuka hati dengan menerima Tristan untuk menjadi suamiku.
Dengan menjadikan Tristan sebagai muallaf, Aku yakin, Tristan benar-benar sangat mencintaiku. Apapun yang ia lakukan, semua demi aku. Aku benar-benar sangat bahagia dengan semua ini. Bahkan di seumur hidupku, tak pernah ada pria yang rela berkorban dan benar-benar tulus mencintaiku.
Namun, entah mengapa. Ada sudut hatiku yang teriak protes seakan hendak berontak dengan keputusanku ini. Rasa bersalah kian menyeruak saat aku mengingat kembali mas Fandy. Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Apa pun yang terjadi di antara aku dan mas Fandy, hanyalah masa lalu. Kami sudah melupakannya dan berusaha membuka lembaran baru.
Lama aku terhanyut dalam lamunanku. Ponselku tiba-tiba berdering dengan sangat nyaring. Nama Tristan tertera di sana. Jantungku mendadak berdegup tak karuan. Sudah seperti remaja ABG yang baru jatuh cinta. Sepertinya, hatiku sudah mantap ingin kembali membina rumah tangga dengannya.
Kegagalan di masa lalu, memberiku banyak pelajaran. Kini, aku ingin memulai semuanya dari awal. kegagalanku di masa lalu, juga karna usiaku dan mas Fandy yang menjadi faktornya. Namun, dengan Tristan, aku merasa benar-benar sangat cocok dengannya.
"Hallo", Aku menyapa Tristan lebih dulu dengan perasaan gugup.
"Lisya? Apa sekarang kau sudah siap? Tunggulah sebentar lagi, jalanan masih sangat macet".
"Tidak apa-apa Tristan. Jangan tergesa. Pelan-pelan saja, asalkan selamat". Sahutku dengan lembut. Ku dengar Tristan terkekeh di sebrang sana.
"Baiklah, Dandan lah yang cantik untukku, sweetheart". ucapan Tristan berakhir setelah itu panggilan di matikan. Jantungku semakin berdegup tak karuan.
Aku beranjak dari tempat dudukku, ku sibakkan gorden jendela depan di rumahku ini. Hingga suara deru mobil terdengar, seperti berhenti di depan rumahku. Aku pun bergegas untuk membukanya. Itu pasti Tristan.
Klek
Pintu ku buka lebar. Ku lihat Tristan turun dari mobil dan berjalan pelan ke arahku dengan menyunggingkan senyum tipisnya. Pria ini, selalu mempesona di setiap momen apapun itu.
"Lama menungguku?", tanyanya dengan mengecup pelan keningku.... Entah seperti apa wajahku saat ini. Mungkin sudah merah serupa warna jambu.
"Tidak juga. Apa kau sudah dah sarapan?". jawabku dengan berjalan pelan menuju sofa dan di ikuti Tristan dari belakang. Duduk di sofa sebentar.
"Sudah tadi di rumah. Apa kau belum sarapan? Jika belum, aku tak keberatan untuk singgah ke rumah makan barang sebentar saja. Aku tak mau wanita ku kelaparan", ucapnya dengan terkekeh kecil.
"Berhenti menggodaku", kata ku dengan mengerucutkan bibir.
"Oh tuhan, kau menggemaskan sekali....", gerutunya dengan mendaratkan sebuah ciuman pada pipi ku. Oh tuhan, aku semakin merona di buatnya.
"Tristan, cukup. Kau belum resmi meminangku. Jangan macam-macam ya".
Tristan menggelengkan kepalanya pelan. Raut wajahnya berubah menjadi lebih serius.
"Lisya.... Boleh aku bertanya?".
"Katakan saja". Ucapku santai sembari menuangkan teh untuk Tristan.
"Kau mengundang Fandy, suamimu?".
"Ya, tentu saja".
"Apa itu tidak apa-apa?".
"Memangnya kenapa?", tanyaku. Tristan hanya diam dan menyunggingkan senyum tipis sembari menggeleng perlahan kepalanya.
"Tristan, dengarkan aku!. Hubungan kami sudah berakhir, berpisahpun sudah lama. Aku hanya sebisa mungkin menjaga hubungan baik dengannya, juga keluarganya. Apa lagi di antara kami ada Kenan. Aku hanya menjaga hubungan baik dengannya. Jadi, kau tak perlu khawatir, oke?".
"Ya ya ya, baiklah. Ngomong-ngomong, kita akan pergi kemana?".
"Aku ingin mengajakmu ke tempat yang sejuk. Apa kau setuju?".
"Setuju saja. Memangnya dimana itu?".
"Bedugul". ujarku mantap.
"Hmmm baiklah. Kedengarannya menyenangkan".
🌲🌳🌲🌳🌲🌳
Aku menapaki jalanan dengan hati gembira, menikmati pemandangan dan udara segar di area pariwasata, Bedugul. Sejenak melepaskan penat dan rasa lelah karna padatnya aktifitas.
"Lisya", Tristan memanggilku hati-hati. Kami berjalan perlahan dengan jemari yang saling bertautan. Ahh betapa bahagia aku, diperlakukan dengan lembut dan merasa sangat terlindungi. Kenymanan yang tak pernah ku rasakan saat bersama mas Fandy. Aku mendesah lelah. Lagi-lagi aku teringat mas Fandy.
"Boleh aku bertanya?".
"Katakan saja, Tristan. Kenapa bertanya lebih dulu. Langsung saja". jawabku lembut.
"Setelah menikah nanti, benarkah kau benar-benar akan melupakan masa lalu mu? Aku tak memintamu memutuskan hubungan baik dengan mantan suami mu. Kau boleh tetap berhubungan dengannya, meski hanya sebagai teman. Hanya saja, Aku berharap kau mengerti batasan-batasan mu sebagai istriku".
Aku menghentikan langkahku, Kutatap lekat Tristan yang juga menghentikan langkahnya. Entah mengapa, jantungku mendadak berdetak lebih cepat.
"Apa yang kau katakan, Tristan? Kau ..... tidak mempercayaiku?".
"Bukan. Aku hanya memiliki pengalaman yang tak menyenangkan. Aku pernah terjebak cinta yang rumit dengan Orang di masa lalu ku. Aku tak ingin mengalami hal yang sama seperti masa-masa itu. Itu lah sebabnya, aku berkata demikian".
"Tristan, bukankah semua orang pernah memiliki masa lalu?" Tristan mengangguk. "Aku tak akan mempermasalahkan apapun. Aku juga sudah yakin dengan keputusan ku. Yakin dengan jalan yang ku ambil. Jadi, bolehkah aku memohon? Jangan meragukan ku lagi, seperti aku yang tak pernah memiliki keraguan sedikitpun kepadamu!". Jawabku dengan tegas.
Tristan tersenyum simpul, kemudian dengan perlahan Tristan membawaku dalam pelukannya. Aku semakin malu di buatnya. Banyak pasang mata yang memperhatikan kelakuan kami yang bak remaja ABG ini.
"Hentikan Tristan, banyak yang memperhatikan kita". Pinta ku dengan lembut.
"Aku tidak peduli".
"Oh, ayolah Tristan. Jangan mempermalukan diri dengan sikap yang seperti ini". Ku dengar Tristan hanya terkekeh kecil menanggapi ku.
"Baiklah, baiklah. Apa kau sudah puas berjalan-jalan?".
"Tentu saja. Aku tak akan keberatan untuk kau ajak lagi lain waktu".
"Apapun untukmu, sayang". Aku pun tersipu malu di buatnya. "Apa kita sudah bisa pulang?".
"Entahlah, aku seperti enggan pergi dari sini".
"Kau ingin menginap?".
"Heheheh,,, tentu saja tidak".
Entah mengapa, aku enggan pergi dari sini. Seperti tak ingin berpisah dari Tristan. Bukankah ini hanya sementara? Tapi, aku seperti merasa akan jauh dari Tristan. Apa aku benar-benar mencintai Tristan dan tidak mau berpisah darinya? Tingkah ku benar-benar seperti bocah remaja saja.
"Ayo". Tristan semakin mengeratkan genggaman tangannya. Aku semakin malu karena nya.
Aku bergegas berjalan menghampiri mobil. Setelah mobil mulai melaju perlahan, Tristan tak henti-hentinya Tristan mengecup pelan punggung tanganku yang masih terus dalam genggamannya. "Aku mencintaimu Lisya. Sangat, dan sangat. Sepanjang waktuku, Aku akan selalu mencintaimu, Menghabiskan sisa umurku bersamamu. Akan aku pas......."
Ucapan Tristan berhenti kala mobil yang kami tumpangi, tiba-tiba saja terguncang hebat. Sebuah mobil besar yang entah berjenis apa itu, menabrak mobil yang kami kendarai. Aku pun panik dengan keadaan mobil yang masih terus terdorong. "Oh my God".
Ku dengar Tristan pun tak kalah panik. Ku cengkeram ujung bawah jaket yang di kenakan tristan.
"Aku mencintaimu Lisya".
"Tristaaan", aku menjerit histeris ketika mobil kami menabrak sebuah pohon karena dorongan mobil besar di belakang kami. Badan kami pun terjepit body mobil.
Dengan susah payah, Tristan membuka pintu di sebelahku. Ia sama sekali tak peduli dengan kondisinya sendiri.
"Pergilah Lisya. larilah. Selamatkan dirimu. Aku mencintaimu". ucapnya di tengah-yengah nafas yang mulai tersengal.
"Tidaaaak. Tristan. Ayo keluar".
"Keluarlah dulu. Aku akan menyusul mu nanti Selamatkan dulu dirimu. Jangan pedulikan aku". Ku lihat darah segar mulai keluar merembes dari hidung mancungnya.
"Tidak. aku tidak akan membiarkanmu apa lagi meninggalkanmu".
"Kau mencintaiku kan? jika ya,ayo keluarlah dulu". Hingga pintu di sampingku berhasil di buka nya. Tristan mendorong ku keluar.
Aku tak lagi mempedulikan keadaanku sendiri. Hingga bantuan datang dan menolong kami. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Tristan sudah tak sadarkan diri. Aku menangis histeris karena nya.
Lama kami dalam perjalanan, Tristan tiba-tiba tersadar dan menggenggam erat tanganku, nafasnya mulai terdengar berat. Suara nya terbata-bata.
"Lisya, Hiduplah dengan baik untukku. Aa aku... aku sungguh mencintaimu". Hanya itu suara Tristan yang terakhir kali ku dengar, hingga seorang polisi yang membawa kami ke rumah sakit menyatakan.... "Korban... nadinya berhenti..." mereka panik. Aku pun syok.
Tiba-tiba saja, kepalaku seperti di hantam sesuatu yang berat. Dadaku terasa sesak dan pandanganku terasa kabur, kepalaku berkunang-kunang, dan aku.... tidak lagi merasakan apapun.
pengen kesel, kok ada cewe mcm bgono, mslhnya ini cuma novel