Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.
Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.
Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Nonosaurus
Dingin. Itu yang dirasakan gadis di balik selimut tebal. Dia menggigil, merengkuh, dan terdengar suara bersin berkali-kali. Dara masih tidak kuat untuk membuka matanya, terasa berat dan panas.
Sejak tengah malam tadi, tulangnya terasa seakan ditusuk udara dingin. Tubuhnya bergetar, ia menarik selimut agar menutup seluruh badannya hingga tidak terlihat sehelai rambut pun.
Dino sedang membuatkan minuman hangat untuk sang istri. Lelaki itu sangat terkejut saat tidak sengaja bersentuhan kulit dengan Dara, seperti disengat api. Di tidur lelapnya, Dino terbangun pukul 3 dini hari.
Suami yang baik, peduli dengan istrinya. Dino berjalan memasuki kamar setelah membuatkan sesuatu yang hangat untuk Dara. Dino meletakkan baskom berisi air, serta teh jahe di sampingnya. Lalu, dia duduk di tepi ranjang sambil memandang lamat selimut menutupi Dara.
"Ra," panggil Dino, dengan suara beratnya karena masih mengantuk. Namun, Dara seolah tidak mendengarkan, dia masih bersembunyi di balik selimut. "Dikompres dulu, Ra."
Setelah itu, Dara pun menurunkan selimutnya, memperlihatkan wajah pucat, mata sayu, dan hidung memerah. Dara tersentak kaget melihatnya. "Gue kompres, ya?" Dara mengangguk pelan.
Bahkan, untuk membuka mata saja rasanya tidak mampu. Gadis itu hanya diam ketika Dino menempelkan sapu tangan berwarna kuning di keningnya.
Terdapat rasa nyaman ketika benda itu menempel di dahi. Dara mencoba menetralisir napasnya agar teratur.
"Lo demam, Ra," ujar Dino. Lalu, dia mengambil gelas berisi teh jahe dari atas nakas. "Minum ini dulu!" Dino menyodorkan.
Dara mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangun, tetapi tulangnya seakan meleleh hingga membuatnya terbaring kembali. "Lemes banget, Ra," celetuk Dino.
"Bantuin," lirih Dara.
Dino mengulas senyum tipis, kemudian dia meletakkan kembali gelas tersebut ke atas nakas, agar dirinya dapat membantu Dara mendudukkan tubuh.
Dengan begitu lembut, Dino menuntun Dara untuk menegakkan tubuhnya. Sampai gadis itu benar-benar bisa duduk dan menyandarkan punggungnya di tembok.
Dino pun membantu Dara untuk minum teh jahe hangat itu sampai habis. Setelahnya, Dara kembali menidurkan tubuhnya, tetapi tanpa bantuan Dino.
Tubuhnya terasa lebih hangat, meski sedikit dingin dan merinding. Dara menyipitkan matanya karena terasa sangat panas bila dibuka sepenuhnya. "Lo tidur aja! Masih jam tiga," ujar Dino. "Gue biar di sofa."
Dara tidak menjawab, dia kemudian memejamkan mata sepenuhnya, membuat pengelihatannya menjadi gelap. Dino mengulas senyum melihatnya, jika bukan karena situasi seperti ini, dia tak akan bisa sedekat itu.
Dino mendaratkan tangan besarnya di pucuk kepala Dara, membelainya pelan sambil menarik kedua sudut bibir. "No." Suara Dara memeringatkan membuat Dino segera mengangkat tangannya. "Tidur!" pinta Dara.
"I-iya, Ra," jawab Dino dengan gugup. Mampus, dia ketahuan oleh Dara.
Di ujung timur, matahari terbit dari sana. Ia bersinar, menghangatkan penduduk bumi yang semalam dibuat kedinginan tanpa kehadirannya. Sisa air hujan menetes dari permukaan daun, musim penghujan di tengah bulan Desember.
Lelaki itu mengaduk dengan telaten nasi yang sudah dicampuri air di dalam panci. Dino mengintip bahan itu tercampur di dalam sana. Dia menghela napas panjang, menjauh beberapa centimeter dari kompor. "Semoga jadi," katanya.
Dino membuatkan bubur untuk sang istri yang tengah sakit. Dia berinisiatif karena demam Dara tak kunjung mereda sampai pagi hari. Hingga detik ini, gadis itu masih menutup rapat matanya dan tubuhnya mengenakan selimut.
Pertama kali, Dino merasakan cemas untuk seorang perempuan, selain mamanya. Dia takut dan kalut. Jantungnya sudah beberapa kali berdebar ketika melihat istrinya dalam keadaan lemas, tidak berenergi seperti itu.
Dino mengambil mangkok dan menuangkan bubur yang masih menguap itu ke wadah tersebut. Lembut sekali, dia benar-benar melakukan dengan setulus hati.
Ini adalah kali pertama bagi seorang Dino membuat bubur, bahkan bukan untuk dirinya sendiri. Jika dirinya sakit pun, Pavi sang mama yang akan membuatkan bubur, dan Dino hanya akan tiduran di kasur, sama seperti Dara saat ini. Namun, jarang sekali lelaki itu jatuh sakit.
Dino membuka pintu dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya membawa nampan berisi bubur dan susu di sana. Dia memandang wajah tidak tenang Dara, gadis itu sudah berani membuka selimutnya.
Dino meletakkan benda itu di nakas, kemudian duduk di tepi ranjang. "Bangun dulu, Ra," ujar Dino, membangunkan istrinya.
Dino tahu, Dara sedang tidak tidur, hanya menutup mata. Lalu, gadis itu perlahan membuka kelopak matanya dan memperlihatkan sorot sayu. Dino tertawa ringan sejenak, membuat Dara keheranan. "Kasian banget gue lihat lo kayak gini," seloroh Dino.
Dara menutup matanya lagi. "Eh, Ra! Jangan tidur lagi! Makan dulu!" Seruan Dino terdengar seperti penuh penekanan.
"Nggak mau," jawab Dara. Bibirnya hanya bergerak sedikit, seperti tidak terbuka sedikit pun. "Perutku nggak nyaman."
"Gue udah masak ini buat lo, gak menghargai banget," seru Dino, memperlihatkan wajah kecewanya.
Dara membuka sedikit matanya. Tubuhnya bergerak dan duduk bersandar ke belakang. Melihat apa yang dilakukan Dino, Dara harus berterimakasih. "Iya, aku makan," katanya.
"Gitu, dong." Dino menarik sudut bibirnya, kemudian membantu Dara untuk mengambil mangkok bubur itu. "Gue bantu suapi?" tawar Dino.
"Nggak usah." Dara mengambil benda itu dari tangan Dino. Namun, Dara seperti tidak kuat mengangkatnya hingga mangkok tersebut hendak jatuh. Untungnya, Dino masih memegangi.
Keduanya saling melemparkan tatapan kosong. Netra mereka beradu. "Lo lemes banget, mau makan aja gak kuat," ledek Dino, kemudian kembali mengambil mangkok itu dan menyiapkan sesendok bubur. "Nih!"
Dara pasrah, dia membuka mulutnya dan mengisinya dengan suapan bubur suaminya.
Keduanya terlihat sangat serasi. Sering saling melemparkan tatapan hangat secara tidak sengaja.
Sarapan Dara pun akhirnya selesai. Dino berdiri dari sana, membuka tirai jendela hingga membuat cahaya matahari masuk dan kamar menjadi terang. "Susunya diminum!" pinta Dino, berdiri di samping Dara.
Dara mengangguk pelan, meski tidak bergerak untuk mengambil gelas susu itu. Ah, dia tidak terlalu menyukai susu vanila, jika rasa coklat maka Dara akan bersemangat meminumnya. "No, nanti anterin ambil pakaian, ya?" ujar Dara.
"Emangnya, lo udah enakan?" tanya Dino. "Kalau belum, biar gue sendiri yang ambilin." Dia melangkah menjauh, kemudian duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Dara menggelengkan kepala. "Udah enakan, kok," katanya.
"Ya udah, nanti siangan gue anterin. Sekarang istirahat dulu! Di luar masih dingin." Lalu, Dino berdiri dari duduknya, membawa jaket di tangannya. "Gue mau pergi dulu," ucapnya.
"Ke mana?"
"Bengkel."
"Eh? Kalau kerja gak apa-apa, deh. Biar nanti aku minta diantar Bunda bajunya."
"Gak. Nanti siang gue balik." Dino berjalan mendekati Dara, menepuk pelan kepala istrinya. "Istirahat!"
Dino melenggang pergi, kemudian tubuhnya menghilang di balik pintu. Dara bersemu, menahan pipinya yang panas hingga memerah. Sepertinya, demam ini akan berkelanjutan.
.....
"Dia lagi sakit, Bun. Tapi maksa buat dateng ke sini," kata Dino.
Sesuai janjinya untuk mengantar Dara, Dino bekerja setengah hari di bengkel miliknya sendiri. Kini, mereka berada di kediaman Norman, ayah Dara. Pria itu sedang bekerja, jadi tidak ada di rumah, hanya Bila sendirian. Adik dari Dara juga masih berada di sekolah.
"Udah minum obat?" tanya Bila, sambil mendudukkan tubuhnya di samping sang putri.
"Udah," jawab Dara.
"Kalian ke sini, ada apa?"
"Nggak boleh ya, Dara main?" Gadis itu menunjukkan wajah melasnya, ingusnya hendak menetes karena sedih. "Aku mau ambil pakaian, koperku ketinggalan di mobil Ayah."
"Oh? Bunda gak tahu," ungkap Bila.
Dara membulatkan mata. Dia menghembuskan napas panjang. "Ini aja pakai bajunya Dino," katanya.
"Pakaian dalam?" Kalimat yang keluar dari bibir Bila, membuat wajah Dara memerah.
"Dibeliin Dino," ucap Dara, dengan suara pelan, tetapi bisa didengar.
Sambil menunggu Dara selesai berbincang dengan bundanya, Dino berkunjung ke kamar Dara. Sebuah foto di nakas membuat Dino terpaku, dia pun mengambilnya karena penasaran.
Foto Dara bersama Agun, terlihat sangat bahagia. Keduanya mempunyai senyum yang begitu mirip. Lelaki itu tampan dan wajahnya ceria. Foto tersebut diambil saat Dara berulang tahun di umur 18. Jepretan terakhir.
Alasan lelaki itu meninggal di usia cukup muda, sungguh membuat Dino penasaran.
Setelah puas berkeliling menjelajahi kamar Dara, lelaki itu berjalan keluar rumah dan mendapati sang istri tengah duduk di kursi sambil makan es krim. Dengan cepat, Dino mengambil makanan tersebut dari tangan Dara. Sontak membuat Dara mendongak.
"Enak?" ucap Dino. Lalu, Dara berdiri dan menatap Dino dengan mata bulatnya. "Mau, makan bubur sama minum susu lagi?"
Dara menggeleng pelan. "Dikit, No," kata Dara dengan melas.
Dara mencoba mengambilnya, tetapi Dino malah mengangkat tangannya. Sehingga membuat Dara tidak bisa sampai ke sana karena tubuh suaminya terlalu tinggi. "No," rengek Dara.
"Lo sakit, Ra," ujar Dino.
"Udah sembuh." Dara melompat, berusaha menggapai tangan Dino. "Nono, dikit aja!"
Dino mematung. Panggilan sayang? Dia menatap istri pendek di bawahnya itu. "Lo panggil gue apa?"
Dara sama terkejutnya, dia baru sadar akan perbuatannya tadi. Karena Dino tidak fokus, Dara menarik tangan Dino dan mendapatkan es krimnya kembali.
"Nonosaurus!" pekik Dara, kemudian berlari ke dalam.