Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan Kabut Hitam dan Darah Pertama
Hutan Kabut Hitam terletak lima puluh mil di sebelah utara Kota Batu Hijau. Seperti namanya, hutan ini selalu diselimuti kabut tipis yang tidak pernah hilang sepanjang tahun. Konon, kabut ini adalah napas sisa dari Naga Iblis yang mati di sana ribuan tahun lalu.
Bagi penduduk biasa, hutan ini adalah zona kematian. Bagi kultivator, ini adalah ladang harta karun sekaligus kuburan tanpa nisan.
Srak... Srak...
Sepatu bot kulit menginjak tumpukan daun kering yang lembap. Lin Xiao melangkah masuk ke dalam ketebalan hutan. Dia mengenakan pakaian berburu berwarna abu-abu gelap yang menyatu dengan lingkungan sekitar. Di punggungnya, pedang hitam "Xuan" terikat miring, beratnya yang mencapai 50 kilogram membuat jejak kaki Lin Xiao tercetak agak dalam di tanah lunak.
"Energi spiritual di sini lebih padat daripada di kota, tapi juga lebih kotor," gumam Lin Xiao. Dia menghirup udara lembap itu, memilah mana Qi murni dan mana Miasma (racun alam).
Tujuan utamanya hari ini sederhana: Berburu dan Membunuh.
Kultivasi normal dengan menyerap Qi dari alam terlalu lambat. Untuk mengejar ketertinggalan dalam tiga minggu tersisa, dia membutuhkan Inti Monster (Beast Core)—sumber energi terkonsentrasi yang terdapat di dalam tubuh Binatang Iblis.
Baru satu jam berjalan, telinga Lin Xiao bergerak.
Krosak!
Dari balik semak belukar di sebelah kirinya, bayangan hitam melesat cepat. Bau amis darah langsung menyengat hidung.
Itu adalah Serigala Angin (Wind Wolf). Binatang Iblis Tingkat 1. Ukurannya sebesar anak sapi, dengan bulu abu-abu kaku dan taring yang meneteskan air liur. Matanya merah menyala menatap Lin Xiao sebagai santapan makan siang.
"Hanya seekor anjing kecil," komentar Lin Xiao datar.
Serigala itu menggeram, merasa terhina karena mangsanya tidak lari. Dengan satu hentakan kaki belakang yang kuat, ia menerjang. Cepat! Sesuai namanya, Serigala Angin mengandalkan kecepatan. Cakar depannya yang setajam pisau mengarah ke tenggorokan Lin Xiao.
Lin Xiao tidak mundur. Matanya yang tajam mengikuti lintasan serangan itu.
Di kehidupan sebelumnya, dia pernah melawan Raja Serigala Neraka berkepala tiga. Serangan serigala tingkat 1 ini terlihat seperti slow motion baginya.
Tangan kanan Lin Xiao bergerak ke punggung. Dia tidak mencabut pedang Xuan sepenuhnya, hanya memegang gagangnya.
Menggunakan teknik langkah kaki Bayangan Awan, tubuh Lin Xiao bergeser sepuluh sentimeter ke samping. Cakar serigala itu menyambar udara kosong, hanya menggores sisa bayangan Lin Xiao.
Tepat saat tubuh serigala itu melayang di sebelahnya, Lin Xiao menghantamkan siku kirinya ke rusuk serigala itu, lalu dengan gerakan memutar, dia mengayunkan pedang hitam yang masih terbungkus sarung kulit di punggungnya, memanfaatkannya sebagai gada.
BUM!
Hantaman itu brutal.
Pedang Xuan yang berat menghantam tulang belakang serigala itu dengan telak. Terdengar suara tulang remuk yang mengerikan. Serigala Angin itu terpelanting menabrak pohon besar hingga batangnya retak, lalu jatuh ke tanah, kejang-kejang, dan mati.
Satu serangan. Mati.
Lin Xiao menghampiri bangkai itu. Dia mencabut pisau kecil dari pinggangnya dan dengan ahli membedah dada serigala itu. Dia mengambil sebuah kristal seukuran kelereng berwarna hijau pudar yang berlumuran darah.
"Inti Monster Tingkat 1. Kualitas rendah, tapi lumayan untuk pemanasan," gumamnya.
Tanpa ragu, Lin Xiao membersihkan inti itu sekilas, lalu melemparkannya ke dalam mulut dan menelannya bulat-bulat!
Jika kultivator lain melihat ini, mereka akan berteriak gila. Inti Monster mengandung energi liar dan racun binatang buas. Orang biasa harus memurnikannya dulu menjadi pil atau menyerapnya perlahan selama berhari-hari. Menelannya langsung sama saja bunuh diri; organ dalam bisa meledak.
Tapi perut Lin Xiao bersinar samar. Teknik Naga Surga Purba di dalam tubuhnya meraung, mengubah perutnya menjadi tungku pembakaran. Energi liar dari inti itu digiling habis dalam hitungan detik, dimurnikan, dan disalurkan ke Dantian.
"Hangat," desis Lin Xiao. Dia merasakan Qi-nya bertambah sedikit. "Tapi satu ekor tidak cukup. Aku butuh ratusan."
Tiga hari berlalu di dalam hutan.
Lin Xiao bergerak semakin dalam, memasuki area di mana Binatang Iblis Tingkat 2 (setara kultivator Qi Gathering Tingkat 4-6) berkeliaran.
Pakaiannya kini penuh noda darah kering—darah binatang buas. Aura membunuh di sekitar tubuhnya semakin pekat. Selama tiga hari ini, dia telah membantai lebih dari lima puluh Binatang Iblis.
Dia telah bertarung melawan Ular Sanca Batu, Kera Tangan Besi, hingga Laba-laba Racun. Setiap pertarungan mematangkan kendali tubuh barunya. Pedang Xuan di tangannya mulai terasa ringan, menjadi perpanjangan tangannya.
Malam itu, Lin Xiao sedang memanggang daging paha rusa di atas api kecil di sebuah gua tersembunyi.
Tiba-tiba, dia berhenti mengunyah.
Hutan menjadi sunyi. Suara jangkrik dan burung malam yang tadinya ramai, mendadak hilang.
Kesunyian yang tidak wajar.
Lin Xiao memadamkan apinya dengan satu injakan kaki. Dia berdiri, menyatu dengan kegelapan gua. Napasnya diperlambat hingga nyaris tak terdengar.
"Keluarlah," suara Lin Xiao bergema dingin ke arah pintu gua yang gelap. "Kalian sudah mengikuti jejakku sejak dua jam yang lalu. Bau kalian lebih busuk dari kotoran babi hutan."
Hening sejenak.
Lalu, terdengar suara tepuk tangan pelan.
Prok. Prok. Prok.
Tiga sosok melangkah keluar dari balik pepohonan, masuk ke area mulut gua yang remang-remang. Mereka mengenakan pakaian hitam ketat dengan penutup wajah, hanya menyisakan mata yang berkilat kejam.
"Indra yang tajam untuk seekor sampah," ujar sosok di tengah. Suaranya serak, sengaja disamarkan. Dari aura yang memancar, dia adalah kultivator Qi Gathering Tingkat 6. Dua orang di kiri kanannya berada di Tingkat 5.
Ini adalah tim pembunuh elit. Kekuatan tempur mereka jauh di atas preman pasar seperti Wu Gang.
"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Lin Xiao tenang. Tangannya santai tergantung di samping tubuh, tidak terlihat panik sedikit pun. "Lin Zhen? Atau Wang Tian? Atau mungkin dua anjing tua itu bekerja sama?"
Mata si pemimpin menyipit di balik topengnya. "Orang mati tidak perlu tahu. Tapi karena kau akan mati, aku akan berbaik hati. Kami adalah 'Pembersih'. Seseorang membayar mahal untuk kepalamu, Tuan Muda Lin."
"Sayang sekali," Lin Xiao menggelengkan kepala pura-pura sedih. "Padahal aku baru saja mulai menikmati hidup ini."
"Habisi dia! Jangan biarkan dia bicara lagi!" perintah si pemimpin.
Dua pembunuh di sisi kiri dan kanan langsung melesat. Mereka menggunakan belati ganda yang diolesi racun hijau. Gerakan mereka sinkron dan cepat, menutup jalan lari Lin Xiao dari dua arah.
"Mati!"
Serangan itu terkoordinasi dengan sempurna. Satu mengincar leher, satu mengincar jantung.
Lin Xiao tidak bergerak sampai detik terakhir.
Saat ujung belati itu berjarak satu inci dari kulitnya, mata Lin Xiao berkilat.
Teknik Langkah: Kilatan Hantu.
Tubuh Lin Xiao tampak bergetar, meninggalkan bayangan residu di tempatnya berdiri.
Sreeet!
Dua belati pembunuh itu hanya membelah bayangan Lin Xiao. Mereka terkejut karena menikam udara kosong.
"Terlalu lambat," bisik suara dingin tepat di belakang telinga pembunuh di sebelah kiri.
Sebelum pembunuh itu sempat berbalik, tangan Lin Xiao sudah mencengkeram leher belakangnya. Dengan kekuatan fisik murninya yang mengerikan, Lin Xiao membanting wajah orang itu ke dinding batu gua.
KRAK!
Tengkorak bertemu batu granit. Darah muncrat. Pembunuh pertama tewas seketika tanpa sempat berteriak.
Pembunuh kedua terbelalak ngeri. Rekannya, seorang Tingkat 5, mati dalam satu gerakan?
"Kau...!" Pembunuh kedua mencoba mundur, mengayunkan belatinya membabi buta.
Lin Xiao menangkap pergelangan tangan si pembunuh. Cengkeramannya sekuat catut besi.
"Kau bermain dengan racun?" Lin Xiao menatap belati hijau itu. "Biar kuberitahu, di hadapan leluhur Alkemis, racunmu ini hanya bumbu dapur."
Lin Xiao memutar tangan pembunuh itu, memaksanya menusukkan belati beracunnya sendiri ke pahanya.
"ARGHHH!"
Pembunuh itu menjerit saat racun saraf miliknya menyebar cepat ke dalam aliran darahnya sendiri. Dia jatuh ke tanah, mulut berbusa, tubuh kejang-kejang.
Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, dua kultivator Tingkat 5 telah lumpuh total.
Sekarang, hanya tersisa si pemimpin di mulut gua.
Matanya yang tadi penuh arogansi kini dipenuhi kewaspadaan tingkat tinggi. Dia menyadari informasi intelijen mereka salah besar. Target ini bukan domba. Ini serigala berbulu domba.
"Kau menyembunyikan kekuatanmu," geram si pemimpin. Dia menarik pedang panjang dari punggungnya. Aura Tingkat 6 meledak penuh. Cahaya Qi berwarna kuning tanah menyelimuti tubuhnya—atribut elemen tanah, pertahanan tinggi.
"Tidak menyembunyikan," jawab Lin Xiao sambil melangkahi mayat pembunuh pertama. Dia perlahan menarik pedang hitam Xuan dari sarungnya.
Ini pertama kalinya dia mencabut pedang itu untuk bertarung sungguhan.
Bilah hitam pekat itu menyerap sedikit cahaya bulan yang masuk ke gua. Hawa dingin yang menusuk tulang menyebar.
"Hanya saja, kalian terlalu lemah untuk memaksaku serius," lanjut Lin Xiao.
"Bocah sombong! Aku akan memotong-motongmu!" Si pemimpin meraung, menerjang maju dengan teknik pedang berat. Tebasan Pemecah Batu!
Pedangnya bersinar kuning terang, membawa tekanan berat yang bisa membelah batu besar.
Lin Xiao menatap serangan itu. Dia memegang pedang Xuan dengan dua tangan. Dia tidak menggunakan teknik rumit. Dia tidak menghindar.
Dia memilih untuk beradu kekuatan secara frontal.
"Hancur!"
Lin Xiao mengayunkan pedang hitamnya secara vertikal. Sederhana. Brutal.
Pedang hitam bertemu pedang kuning.
CLAAANG!
Suara logam beradu itu begitu keras hingga menciptakan gelombang kejut yang menerbangkan debu di dalam gua.
Mata si pemimpin membelalak. Dia melihat retakan muncul di pedang bajanya. Retakan itu menjalar cepat seperti jaring laba-laba.
"Tidak mungkin... Pedangku adalah Baja Tempa Dingin..."
PRANG!
Pedang si pemimpin hancur berkeping-keping.
Pedang hitam Lin Xiao tidak berhenti. Momentumnya terus turun ke bawah, membelah aura pelindung Qi si pemimpin seperti pisau panas membelah mentega.
Si pemimpin berusaha menahan dengan tangan kosong, tapi itu sia-sia.
SPLAT.
Pedang Xuan berhenti tepat di bahu si pemimpin, mematahkan tulang selangka dan membuatnya berlutut paksa karena beban berat pedang itu menekan tubuhnya ke tanah.
"Arghhh!"
Lin Xiao menekan pedangnya sedikit lagi, membuat si pemimpin tidak bisa bergerak. Darah mengalir deras.
"Sekarang," Lin Xiao menunduk, wajahnya sedingin iblis. "Mari kita bicara. Siapa yang memberimu perintah? Wang Tian? Atau Lin Zhen?"
Si pemimpin menggertakkan gigi, menahan sakit. Dia tahu dia akan mati bagaimanapun juga. "Heh... Kau pikir aku akan bicara? Tuan Wang Tian akan... membunuhmu... di turnamen..."
"Jadi Wang Tian," potong Lin Xiao. "Terima kasih konfirmasinya."
Si pemimpin terbelalak. Dia baru sadar telah dipancing.
Lin Xiao mengangkat pedangnya. "Sebagai hadiah atas kejujuranmu, aku akan memberikan kematian yang cepat."
Sret.
Satu tebasan horizontal mengakhiri hidup si pemimpin pembunuh.
Gua itu kembali sunyi. Tiga mayat tergeletak di tanah.
Lin Xiao menyeka darah di pedang Xuan dengan baju salah satu mayat. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut atau jijik. Ini adalah pemandangan biasa baginya.
Dia menggeledah tubuh mereka. Menemukan beberapa kantong uang, pil penyembuh luka, dan sebuah token giok dengan ukiran elang kecil—tanda rahasia pasukan bayangan Keluarga Wang.
"Keluarga Wang benar-benar tidak sabar," gumam Lin Xiao, menyimpan token itu. "Ini akan jadi bukti yang bagus nanti."
Dia melihat ke luar gua. Fajar mulai menyingsing.
Pertarungan ini membuatnya sadar satu hal. Tingkat 3 tidak cukup aman. Dia butuh terobosan lagi.
"Aku butuh lawan yang lebih kuat. Atau sumber energi yang lebih besar."
Matanya tertuju ke arah puncak gunung di tengah Hutan Kabut Hitam. Di sana, terdengar auman pelan yang membuat seluruh hutan bergetar.
Itu adalah wilayah Raja Hutan. Binatang Iblis Tingkat 3 Puncak (Setara Qi Gathering Tingkat 9).
"Di sarang raja hutan, biasanya tumbuh tanaman spiritual langka," pikir Lin Xiao. Senyum nekat terukir di bibirnya. "Mari kita lihat, apakah nasib baik berpihak padaku."
Lin Xiao melangkah keluar gua, meninggalkan mayat-mayat itu membusuk, menuju bahaya yang lebih besar.