Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.
Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Lima belas menit kemudian, Zhao Si kembali dengan napas terengah-engah. Pelayan gemuk itu membawa sebuah nampan kayu besar berisi tumpukan nasi putih, seekor ayam panggang utuh, tumis sayuran, dan sebotol arak beras. Di belakang Zhao Si, dua pelayan muda lainnya mengikuti dengan membawa ember besar berisi air panas untuk mandi, wajah mereka pucat pasi karena ketakutan—jelas Zhao Si telah memperingatkan mereka tentang "kegilaan" Tuan Muda Ketiga.
Han Feng tidak membuang waktu. Setelah para pelayan itu pergi dan pintu tertutup rapat, Han Feng langsung menyambar ayam panggang itu. Han Feng makan dengan cara yang sangat barbar, merobek daging langsung dari tulangnya, mengunyah tulang-tulang rawan itu hingga hancur, dan menelannya bulat-bulat.
Perut Han Feng terasa seperti tungku pembakaran yang tidak memiliki dasar. Begitu makanan masuk ke lambung, Sutra Hati Naga Purba yang berdiam di dalam tubuh Han Feng langsung beroperasi secara otomatis. Teknik ini menggiling makanan itu menjadi esensi energi murni dalam hitungan detik, menyebarkannya ke seluruh otot dan darah yang kelaparan.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, nampan itu sudah bersih tak bersisa. Bahkan nasi sebutir pun tidak tertinggal.
"Masih kurang," Han Feng menepuk perutnya yang terasa sedikit lebih nyaman, namun rasa lapar akan energi yang sebenarnya belum terpuaskan.
Panel status transparan kembali muncul di pandangan Han Feng.
[Status: Energi Fana Terisi (15%)] [Peringatan: Makanan biasa mengandung terlalu banyak kotoran. Efisiensi penyerapan rendah. Disarankan mencari Sumber Energi Roh Tingkat Rendah.]
Han Feng menghela napas. "Tentu saja. Nasi dan ayam hanyalah bahan bakar untuk manusia biasa. Untuk menggerakkan mesin Tubuh Dewa Naga ini, aku butuh bahan bakar nuklir, bukan kayu bakar."
Setelah membersihkan diri dengan air panas dan menggosok daki hitam yang menempel di kulitnya hingga bersih, Han Feng bercermin kembali. Sosok di cermin kini terlihat jauh lebih segar. Wajah tampan Han Feng mulai memancarkan aura ketegasan, meskipun tubuhnya masih tergolong kurus. Memar di wajahnya telah memudar secara signifikan berkat regenerasi awal dari teknik kultivasi.
Han Feng mengenakan jubah bersih berwarna biru tua yang ditemukannya di lemari. Pikirannya berputar cepat, mencari solusi untuk masalah sumber daya. Sebagai Tuan Muda yang tidak disukai, Han Feng tidak memiliki akses ke Gudang Harta Keluarga Han. Han Feng juga tidak punya uang sepeser pun untuk membeli pil di pasar kota.
Tiba-tiba, sebuah ingatan dari pemilik tubuh asli melintas di benak Han Feng.
Di bagian paling belakang kompleks Kediaman Keluarga Han, terdapat sebuah lembah kecil yang curam dan tertutup kabut. Tempat itu disebut Lembah Kabut Sisa. Itu adalah tempat pembuangan sampah bagi Paviliun Alkemis Keluarga Han. Setiap hari, para murid alkemis membuang pil-pil yang gagal (pil racun atau pil gosong) dan sisa-sisa tanaman herbal yang sudah layu ke lembah itu.
Bagi kultivator normal, tempat itu adalah area terlarang karena udara di sana dipenuhi racun dari campuran berbagai pil gagal. Menyerap energi di sana sama saja dengan bunuh diri karena kotoran (impurities) akan menyumbat meridian dan merusak organ dalam.
Namun, mata Han Feng berbinar cerah.
"Teknik Sutra Hati Naga Purba dideskripsikan sebagai teknik tirani yang 'menelan dan memurnikan segala bentuk energi'," gumam Han Feng, menganalisis peluangnya. "Jika teknik ini bisa memurnikan kotoran di tubuhku sendiri, seharusnya teknik ini juga bisa memisahkan racun dari sisa-sisa pil gagal itu."
Jika teori Han Feng benar, Lembah Kabut Sisa bukanlah tempat pembuangan sampah, melainkan surga harta karun gratis yang belum terjamah.
Han Feng menunggu hingga matahari terbenam dan langit berubah menjadi jingga kemerahan. Dengan memanfaatkan ingatan tentang rute patroli penjaga yang longgar di sekitar gubuknya yang terpencil, Han Feng menyelinap keluar.
Gerakan Han Feng jauh lebih ringan dari sebelumnya. Meskipun belum mempelajari teknik langkah kaki (footwork) apa pun, insting Han Feng untuk bergerak dalam senyap—kemampuan yang diasah saat menyusup ke situs-situs kuno yang dijaga ketat di kehidupan sebelumnya—sangat membantunya.
Lembah Kabut Sisa terletak di kaki tebing curam di sisi utara kediaman. Begitu Han Feng mendekati bibir tebing, bau menyengat dari bahan kimia dan herbal busuk langsung menusuk hidung. Kabut berwarna kehijauan tampak menggantung di dasar lembah, tanda bahwa udara di sana memang beracun.
Tanpa ragu, Han Feng mencari jalan setapak tersembunyi yang tertutup semak belukar dan mulai menuruni tebing.
Semakin dalam Han Feng turun, semakin panas liontin giok imajiner (Pustaka Ilahi) di dalam jiwanya bereaksi.
[Terdeteksi Lingkungan Beracun Tingkat Rendah] [Mengaktifkan Mode Filtrasi Sutra Hati Naga]
Han Feng merasakan kulitnya sedikit gatal, lalu pori-porinya seolah menutup rapat, membentuk lapisan pelindung energi tipis yang tak kasat mata. Han Feng bisa bernapas dengan lega di tengah kabut beracun itu tanpa merasa pusing.
"Luar biasa," puji Han Feng. "Pustaka Ilahi benar-benar curang."
Sesampainya di dasar lembah, pemandangan di sana sangat berantakan. Tumpukan sampah menggunung di beberapa titik. Ada pecahan kuali, abu hitam bekas pembakaran, dan ribuan tanaman herbal kering yang dibuang begitu saja.
Han Feng berjalan hati-hati di antara tumpukan sampah itu. Matanya menyapu sekeliling, mencari sesuatu yang berguna.
"Pustaka Ilahi, pindai area ini. Cari objek yang mengandung Energi Roh."
[Memindai...]
Seketika, pandangan Han Feng berubah. Beberapa titik cahaya redup muncul di antara tumpukan sampah, seperti kunang-kunang yang terperangkap di dalam lumpur. Han Feng segera menghampiri titik cahaya terdekat.
Itu adalah sebuah pil berwarna abu-abu kusam yang tergeletak di antara pecahan keramik.
[Pil Pengumpul Qi (Gagal/Cacat)] [Kandungan Energi: 15%] [Racun Api: 85%] [Dapat dimurnikan.]
Han Feng memungut pil itu. Bagi orang lain, menelan pil yang 85% isinya racun api akan membakar tenggorokan dan menghancurkan lambung. Tapi Han Feng tidak ragu. Dia memasukkan pil itu ke dalam mulutnya dan menelannya.
Blarr!
Sensasi panas meledak di perut Han Feng. Namun, sebelum racun api itu sempat merusak organ dalam, pusaran energi emas dari Sutra Hati Naga Purba muncul seperti hiu yang mencium darah. Pusaran itu melahap racun api, menghancurkan struktur kimianya, membuang residu berbahaya melalui keringat, dan hanya menyisakan energi murni yang kemudian dialirkan ke otot-otot Han Feng.
"Hah..." Han Feng menghembuskan napas yang sedikit berasap. "Energinya sedikit kasar, tapi ini sepuluh kali lebih baik daripada makan ayam panggang."
Han Feng menyeringai lebar. Dia seperti tikus yang jatuh ke lumbung padi.
Han Feng mulai bergerak cepat, memungut satu per satu pil gagal dan tanaman herbal layu yang masih memiliki sisa energi.
Satu pil. Dua pil. Akar Ginseng Darah yang layu setengah.