Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 30
Benda kecil berbentuk cakram perak itu berkilau tertimpa cahaya ledakan dari kejauhan. Arlan menekan tombol pusat pada alat tersebut hingga lampu indikatornya berkedip biru cepat. Kecepatan torpedo yang mengejar mereka mencapai titik kritis di radar penglihatan Arlan.
[Sistem: Mengaktifkan Pulsa Magnetik Terarah]
[Sasaran: Hulu Ledak Torpedo Tipe-X]
[Status: Penguncian Sinyal Selesai]
"Tegar, miringkan kapal tiga puluh derajat ke kanan sekarang juga!" teriak Arlan dengan suara yang mengatasi raungan mesin.
Tegar membanting kemudi dengan sisa tenaga yang ia miliki hingga lambung kapal miring tajam. Arlan melemparkan cakram perak itu ke arah buih air yang ditinggalkan torpedo di belakang mereka. Alat itu meledak dalam sunyi, melepaskan gelombang elektromagnetik yang mengacaukan sensor navigasi senjata pengejar itu.
Torpedo tersebut mendadak kehilangan arah dan menghantam karang dangkal di sisi kiri jalur pelarian mereka. Ledakan air raksasa membumbung tinggi ke langit, menciptakan ombak besar yang mendorong kapal cepat Arlan melesat lebih jauh. Siska mencengkeram tepian kursi dengan buku jari yang memutih karena tekanan gravitasi.
"Kita berhasil lolos dari maut untuk kesekian kalinya hari ini," ucap Siska sambil berusaha mengatur napasnya.
"Jangan santai dulu, karena perahu patroli Aquila masih memiliki radar jarak jauh yang aktif," sahut Arlan sambil memantau tablet di pangkuannya.
[Peringatan: Energi Sistem Menurun ke 2%]
[Status: Sinkronisasi Isogen-9 Diperlukan untuk Pemulihan Daya]
Arlan menoleh ke arah peti kecil yang sempat ia selamatkan dari pangkalan sebelum ledakan tadi. Benda di dalam sana bukan sekadar isotop langka, melainkan kunci evolusi teknologi yang diinginkan seluruh dunia. Kekayaan Arlan Corp yang mencapai 1,8 miliar rupiah hanyalah butiran debu dibandingkan nilai potensial benda ini.
"Apa yang harus kita lakukan dengan Isogen-9 ini, Arlan?" tanya Siska sambil menunjuk peti baja di sudut kabin.
"Kita akan membawanya ke laboratorium rahasia di bawah rumah Ibu di desa," jawab Arlan dengan nada suara yang mantap.
"Bukankah tempat itu terlalu terbuka untuk target kelas dunia seperti ini?" tanya Maya melalui sambungan audio yang kembali tersambung.
"Justru karena terlihat sederhana, mereka tidak akan menyangka kita menyimpan jantung teknologi dunia di sana," sahut Arlan sambil memasukkan koordinat baru ke sistem navigasi kapal.
Tegar mengarahkan kapal menuju teluk tersembunyi yang hanya diketahui oleh nelayan lokal. Hutan bakau yang lebat menutupi pergerakan mereka dari pengawasan satelit Aquila Logistics. Arlan berdiri di buritan, memastikan tidak ada jejak minyak yang tertinggal di permukaan air.
[Sistem: Pemindaian Area Selesai]
[Status: Tidak Ada Pengejar dalam Radius 5 Kilometer]
Kapal itu akhirnya merapat di dermaga kayu yang sudah lapuk di pinggiran desa terpencil. Arlan segera mengangkat peti baja itu, sementara Tegar memastikan kapal mereka disembunyikan di bawah jaring nelayan. Siska berjalan di samping Arlan dengan mata yang terus waspada memantau jalan setapak yang gelap.
"Rumah Ibu adalah benteng terakhir yang kita miliki sekarang," ucap Arlan sambil melangkah menuju pintu belakang rumah kayu yang tampak biasa saja.
Begitu masuk, Arlan menekan sebuah sakelar tersembunyi di balik lemari kain tua milik ibunya. Lantai kayu bergeser tanpa suara, memperlihatkan tangga beton yang menuju ke ruang bawah tanah yang sangat canggih. Maya sudah menunggu di sana dalam bentuk proyeksi hologram yang jernih.
"Data dari pangkalan maritim sudah berhasil aku dekripsi sepenuhnya, Arlan," kata Maya dengan nada suara yang penuh semangat.
"Apa temuan terbesarmu mengenai keterlibatan pihak asing dalam sabotase ini?" tanya Arlan sambil meletakkan peti Isogen-9 ke meja laboratorium.
"Aquila Logistics hanyalah pion dari entitas yang lebih besar bernama Megantara Global yang berpusat di Singapura," jawab Maya sambil menunjukkan struktur organisasi raksasa di layar.
Arlan menyentuh layar hologram tersebut, membedah setiap lapisan kepemilikan saham perusahaan saingannya. Ia melihat sebuah nama yang sangat ia kenal berada di jajaran direktur kehormatan Megantara Global.
"Wiratama masih memiliki pengaruh meski berada di dalam sel penjara," ucap Arlan dengan nada suara yang dingin.
"Dia bukan sekadar mantan ketua aliansi, dia adalah jembatan bagi modal asing untuk menguasai jalur logistik kita," sahut Siska sambil memeriksa laporan keuangan yang baru saja ditarik dari server rahasia.
[Misi Baru: Operasi Memutus Rantai]
[Tujuan: Melakukan Akuisisi Balik Terhadap Saham Megantara Global]
[Hadiah: Kendali Mutlak Atas Jalur Distribusi Asia Tenggara]
"Gunakan sisa modal likuid kita untuk membeli opsi saham mereka di bursa Singapura secara anonim," perintah Arlan kepada Maya.
"Tapi itu akan menghabiskan hampir seluruh cadangan kas Arlan Corp, Arlan," sahut Maya dengan nada cemas.
"Risiko ini harus diambil jika kita ingin menghentikan mereka selamanya," jawab Arlan sambil mulai menghubungkan Isogen-9 ke reaktor sistem di kepalanya.
Cahaya biru terang terpancar dari peti baja itu, menerangi seluruh ruangan bawah tanah tersebut. Arlan merasakan aliran energi yang sangat murni mengalir ke dalam saraf pusatnya, memperbarui setiap baris kode sistem panduan kariernya.
[Sistem: Integrasi Isogen-9 Berhasil]
[Level Sistem: Meningkat ke Level 10]
[Fitur Baru: Prediksi Ekonomi Global & Manipulasi Pasar Real-time]
"Aku baru saja melihat pergerakan dana sebesar 500.000 USD yang dikirim ke pangkalan maritim tadi," ucap Arlan sambil menatap Maya.
"Siapa pengirim aslinya menurut analisis sistemmu?" tanya Siska dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Bukan Aquila, tapi salah satu orang dalam di Federasi Logistik Terbuka yang selama ini kita percaya," jawab Arlan dengan nada suara yang sangat misterius.
Maya segera melakukan penelusuran ulang pada setiap akun anggota federasi yang memiliki akses ke kode keamanan pangkalan. Layar monitor menunjukkan satu nama yang membuat Siska terduduk lemas di kursinya.
"Pak Yudha? Mentor pertamamu yang melakukan pengkhianatan ini?" tanya Siska dengan suara yang bergetar.
"Kecewa adalah perasaan yang tidak boleh kita pelihara di tengah perang bisnis ini," sahut Arlan sambil mematikan layar hologram.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas rumah kayu tersebut. Arlan memberikan isyarat kepada semua orang untuk diam dan mematikan seluruh lampu laboratorium. Melalui kamera pengawas tersembunyi, Arlan melihat sesosok pria dengan setelan jas rapi sedang berdiri di ruang tamu ibunya.
"Dia sudah tahu kita ada di sini," ucap Arlan dengan nada suara yang sangat rendah.
Pria di atas sana adalah Pak Yudha, yang memegang sebuah dokumen bersegel emas di tangannya. Ia meletakkan dokumen itu di atas meja makan kayu dan kemudian berjalan keluar rumah dengan tenang.
"Dia tidak membawa senjata atau tim taktis," kata Tegar sambil memantau sensor gerak di sekitar rumah.
Arlan naik ke atas dan mengambil dokumen tersebut dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ia membuka segelnya dan membaca isinya yang tertulis dalam bahasa hukum internasional yang sangat rumit.
"Ini adalah surat panggilan dari Mahkamah Bisnis Internasional untuk akuisisi paksa Arlan Corp," ucap Arlan sambil menunjukkan surat itu kepada Siska.
"Mereka menggunakan jalur hukum karena jalur kekerasan gagal menghancurkanmu," sahut Siska dengan nada penuh kekesalan.
"Biarkan mereka mencoba, karena besok pagi nilai saham Arlan Corp akan melampaui valuasi seluruh anggota aliansi mereka," jawab Arlan dengan senyum penuh determinasi.
Arlan menatap Isogen-9 yang kini telah menyatu dengan sistem operasional perusahaannya. Kekayaan pribadinya mungkin baru menyentuh angka 1,8 miliar rupiah, namun kekuatan informasi di tangannya bernilai tanpa batas. Perjalanan pemuda desa ini menuju puncak dunia baru saja memasuki babak yang paling berbahaya namun juga paling menjanjikan.
"Mbak Maya, aktifkan protokol Arlan Corp Global sekarang juga," perintah Arlan.
"Semua sistem sudah siap untuk melakukan serangan balik di pasar saham Singapura dalam tiga menit lagi, Bos Arlan," jawab Maya dengan penuh keyakinan.
Arlan berdiri di depan jendela rumahnya, menatap kegelapan desa yang menyimpan rahasia besar. Ia tahu bahwa matahari esok pagi akan membawa berita tentang kehancuran raksasa logistik dunia di tangan seorang analis data yang tidak pernah menyerah pada kebohongan.
[Status Kekayaan: Meningkat Menjadi 2,1 Miliar Rupiah (Prediksi Pasar Sesaat)]
[Misi: Menghancurkan Hegemoni Megantara Global Dimulai]