NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:647
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: TEROR YANG MENAKUTKAN

#

Malam itu hujan masih turun deras.

Aku tidur gak nyenyak. Mimpi buruk terus. Mimpi dipukulin. Mimpi rumah dibakar lagi. Mimpi ibu meninggal.

Aku terbangun berkali-kali. Keringat dingin.

Jam dua pagi, hape aku bunyi.

DRRRT. DRRRT.

Aku ambil hape. Layarnya terang di tengah kegelapan kamar.

Pesan dari Arjuna.

"Sat, lu udah tidur? Gue gak bisa tidur. Gue takut."

Aku balas. "Gue juga gak bisa tidur. Besok kita ke KPK. Semua bakal beres."

"Lu yakin?"

"Gue harus yakin. Gak ada pilihan lain."

"Oke. Kita jaga diri baik-baik ya."

"Iya. Lu juga."

Aku taruh hape. Aku coba tidur lagi.

Tapi gak bisa. Mata melek terus.

Jam tiga pagi, hape bunyi lagi.

Kali ini telpon. Dari Vanya.

Aku angkat cepat. "Van? Kenapa telpon malem-malem?"

Suara Vanya gemetar. Kayak lagi nangis. "Sat... Nares... Nares diserang..."

Jantungku berhenti.

"APA?! Dimana?!"

"Di depan rumahnya. Dia baru aja pulang dari warnet. Terus ada orang gak dikenal mukul dia. Sekarang dia di rumah sakit. Aku lagi di jalan mau ke sana. Lu bisa dateng?"

"AKU DATENG SEKARANG!"

Aku tutup telpon. Aku bangunin Pak Hadi yang tidur di ruang depan.

"Pak Hadi! Pak Hadi bangun! Temen aku diserang! Aku harus ke rumah sakit!"

Pak Hadi langsung bangun. Mukanya kaget. "Apa? Siapa yang diserang?"

"Nareswari. Temen aku. Dia dipukul orang. Sekarang di rumah sakit."

Pak Hadi langsung ambil kunci motor. "Ayo. Bapak anter."

***

Kami sampe di rumah sakit pukul setengah empat pagi.

Rumah sakit yang sama tempat ibu dirawat kemarin.

Di ruang tunggu UGD, Vanya udah ada. Adrian juga. Arjuna baru sampe bareng kami.

Mukanya pucat semua.

"Gimana keadaan Nares?!" tanya aku cepat.

Vanya nangis. "Dia dipukulin. Mukanya babak belur. Tulang rusuknya retak. Tangannya patah. Sekarang lagi dirawat di dalam."

Adrian ngepal tangan. "Sialan! Mereka... mereka gak ada hatinya! Nares itu cewek! Kenapa mereka mukul dia?!"

Arjuna duduk di bangku. Tangannya gemetar. "Ini... ini buat nakut-nakutin kita. Buat bikin kita berhenti."

Aku duduk juga. Kepala pusing. "Kita... kita gak boleh takut. Kita harus tetep lanjut."

Tapi dalem hati... aku takut. Takut banget.

Satu jam kemudian, dokter keluar.

"Keluarga Nareswari Kirana?"

Kami semua berdiri.

"Iya, Dok. Kami temennya. Gimana keadaannya?"

Dokter liat clipboard. "Dia mengalami luka memar di wajah, tulang rusuk kiri retak, tangan kanan patah, dan beberapa luka lecet. Kami sudah pasang gips di tangannya. Dia harus istirahat minimal satu bulan. Tidak boleh beraktivitas berat."

Vanya nangis lagi. "Dok... dia... dia bakal sembuh kan?"

Dokter senyum tipis. "Insya Allah. Dia anak yang kuat. Dia sadar dan bisa bicara sekarang. Tapi dia masih shock. Kalian bisa jenguk sebentar. Jangan lama-lama."

Kami masuk ke ruang rawat.

Nareswari terbaring di kasur. Mukanya babak belur. Mata kanan bengkak. Bibir pecah. Tangan kanan digips. Tubuhnya dibalut perban.

Di sebelahnya ibunya duduk sambil nangis. Ibu yang kurus dan tua. Mukanya penuh air mata.

"Nares..."

Aku jalan pelan ke kasurnya.

Nareswari buka mata. Mata kirinya yang masih bisa dibuka. Dia liat aku. Dia senyum tipis.

"Sat... lu dateng..."

Suaranya lemah. Serak.

Aku pegang tangan kirinya yang gak digips. "Nares... maafin aku... maafin kita semua... gara-gara kita lu jadi kayak gini..."

Nareswari geleng pelan. "Bukan... bukan salah kalian... ini pilihan aku sendiri..."

Ibunya berdiri. Dia pegang pundak aku. Matanya merah.

"Nak... kumohon hentikan semua ini. Anak ibu... anak ibu sudah seperti ini. Ibu tidak mau kehilangan dia seperti ibu kehilangan suaminya dulu. Kumohon... kumohon hentikan..."

Suara ibu Nareswari bergetar. Penuh kesedihan.

Aku gak bisa jawab. Tenggorokan tercekat.

Nareswari pegang tangan ibunya. "Bu... aku gak akan berhenti. Kalau aku berhenti... berapa banyak anak lain yang akan menderita seperti kita dulu? Seperti waktu ayah meninggal karena gak ada uang buat berobat?"

Ibu Nareswari nangis makin keras. "Tapi ibu tidak mau kehilangan kamu, Nak... ibu tidak mau..."

Nareswari nangis juga. "Aku janji aku bakal hati-hati, Bu. Aku janji aku bakal baik-baik aja. Tapi kumohon... kumohon dukung aku, Bu. Ini... ini yang harus aku lakuin."

Ibu Nareswari peluk anaknya. Hati-hati. Takut sakit lukanya.

Mereka nangis bareng.

Kami semua nangis juga. Gak bisa nahan.

***

Kami keluar dari ruang rawat setengah jam kemudian.

Duduk di bangku ruang tunggu.

Diem semua. Gak ada yang ngomong.

Tiba-tiba hape Adrian bunyi.

Pesan masuk.

Adrian buka hapenya. Mukanya langsung pucat.

"Sat... liat ini..."

Dia kasih hapenya ke aku.

Di layar ada pesan dari nomor gak dikenal.

"Hentikan atau ibumu yang di rumah sakit akan kami apa-apakan. Kamu punya waktu 24 jam."

Di bawah pesan ada foto. Foto ibu Adrian yang lagi tidur di kasur rumah sakit. Difoto dari luar jendela.

Darahku langsung dingin.

"Mereka... mereka tau ibumu dimana..."

Adrian langsung berdiri. "Gue harus ke rumah sakit sekarang! Nyokap gue dalam bahaya!"

Dia lari keluar. Kami semua ikut lari.

***

Rumah sakit tempat ibu Adrian dirawat jaraknya lima kilometer dari sini.

Kami naik taksi online. Cepet banget.

Sampai di rumah sakit, Adrian langsung lari ke ruang rawat ibunya. Lantai tiga. Ruang 305.

Kami ikut lari di belakangnya.

Sampai di depan pintu ruangan, Adrian buka pintu cepat.

"NYOKAP!"

Di dalam, ibu Adrian lagi duduk di kasur. Mukanya kaget liat Adrian masuk terburu-buru.

"Dri? Kenapa kamu dateng malem-malem? Jam berapa ini?"

Adrian langsung peluk ibunya. Erat banget. "Nyokap... nyokap gak papa kan? Ada yang ganggu nyokap gak?"

Ibu Adrian bingung. "Gak ada. Kenapa emangnya?"

Adrian nangis. "Gue... gue dapet ancaman. Mereka bilang mau ganggu nyokap. Gue takut..."

Ibu Adrian belai rambut Adrian. "Dri... kamu kenapa? Siapa yang ancam kamu?"

Adrian gak jawab. Cuma nangis di pelukan ibunya.

Kami berdiri di pintu. Aku liat sekeliling. Aku liat jendela.

Aku jalan ke jendela. Aku buka.

Di luar ada tangga darurat. Dari situ orang bisa naik dan foto lewat jendela.

Berarti... berarti mereka beneran udah kesini. Mereka udah ngintai.

"Dri... kita harus pindahin ibumu. Sekarang. Gak aman di sini."

Adrian angkat kepala. Mukanya basah air mata. "Pindah kemana?"

"Ke rumah sakit yang lebih aman. Yang ada satpam ketat. Atau... atau ke tempat lain. Yang gak ada yang tau."

Arjuna ngangguk. "Gue setuju. Kita harus lindungin keluarga kita semua. Gak cuma ibu Adrian. Tapi juga ayah ibumu, Sat. Sama keluarga kita semua."

Aku mikir. "Kita... kita minta bantuan Bu Ratna. Dia punya koneksi. Mungkin bisa bantuin kita."

Vanya ngangguk. "Oke. Aku telpon Bu Ratna sekarang."

***

Jam enam pagi, Bu Ratna datang.

Dia bawa dua orang temannya yang kerja di lembaga perlindungan saksi.

"Anak-anak... kalian harus masuk program perlindungan saksi. Keluarga kalian juga. Ini sudah terlalu berbahaya."

Aku geleng. "Bu... kita gak bisa. Kita harus ke KPK hari ini. Kita harus serahin bukti."

Bu Ratna pegang pundak aku. "Satria... keselamatan kalian lebih penting. Bukti bisa diserahin kapan aja. Tapi nyawa kalian cuma satu."

"Tapi Bu... kalau kita tunda... mereka bisa kabur. Mereka bisa musnahin bukti lain. Kita harus sekarang."

Bu Ratna diem. Dia liat kami semua.

Kami berlima. Penuh luka. Penuh ketakutan. Tapi tetep berdiri.

"Baiklah. Kalau kalian tetep mau ke KPK hari ini... ibu akan atur pengawalan. Ibu akan minta bantuan teman ibu di kepolisian yang masih bersih. Mereka akan kawal kalian ke KPK. Tapi setelah itu... kalian harus masuk program perlindungan. Setuju?"

Kami semua ngangguk. "Setuju, Bu."

***

Jam sembilan pagi.

Kami berlima naik mobil. Mobil Bu Ratna. Di depan sama belakang ada mobil polisi. Pengawalan.

Di tangan aku ada map tebal. Bukti dari Pak Joko. Bukti korupsi lima belas miliar rupiah.

Kami jalan ke kantor KPK.

Sepanjang jalan, aku liat jendela. Liat jalanan Jakarta yang rame. Orang-orang pada sibuk sendiri. Gak tau apa yang kami alamin.

Aku pegang map itu erat.

"Ini... ini untuk kalian semua. Untuk istri Pak Joko. Untuk ayah Nareswari. Untuk semua anak miskin yang jadi korban. Kami gak akan mundur."

Bisikku pelan.

Vanya pegang tanganku. "Kita bareng, Sat. Apapun yang terjadi."

Adrian, Arjuna, Nareswari yang duduk di belakang juga ngangguk.

"Kita bareng."

***

*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!