Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpustakaan
Mobil SUV Noah membelah jalanan yang masih basah sisa hujan semalam. Di dalam kabin, suasana yang biasanya berisik dengan perdebatan kecil, kini terasa sedikit canggung. Viona berkali-kali menoleh ke arah Noah, lalu membuang muka, lalu menoleh lagi, seolah ada beban pikiran yang tertahan di ujung lidahnya.
Noah yang sadar sejak tadi dipandangi, akhirnya mengembuskan napas pendek. Ia memutar setir dengan satu tangan sementara tangan lainnya tetap santai di atas tuas transmisi.
"Ada apa sih, Vio? Noleh ke gue terus. Muka gue ada denah proyeknya?" tanya Noah tanpa menoleh, namun ada nada geli di suaranya.
Viona meremas tali tasnya. Ucapan Nyonya Rumah semalam soal "wanita karier yang manja" ternyata cukup membekas di kepalanya. "Hm... emang iya ya, istri itu harus bisa masak?" tanya Viona pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin mobil.
Noah terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab dengan kalimat puitis seperti di novel-novel, melainkan berpikir secara logis sebagaimana dirinya yang seorang akademisi.
"Kalau buat gue pribadi sih, nggak harus ya," jawab Noah jujur. "Tapi at least, sebagai manusia, minimal harus bisa masak telur atau mie instan sendiri lah. Itu kan survival skill dasar."
Viona mengerutkan kening. "Cuma telur sama mie instan?"
"Iya. Sisanya? Kita kan hidup di zaman yang apa-apa tinggal klik di ponsel, Vio. Lagian gue juga bukan tipe suami yang bakal nungguin meja makan penuh hidangan lima bintang setiap jam enam sore. Gue lebih butuh istri yang nggak pingsan karena telat makan daripada istri yang maksain masak tapi malah bikin tangan melepuh," jelas Noah sesuai realita hidupnya yang praktis.
Viona terdiam, menatap jalanan di depannya. Ada rasa lega, tapi juga ada sedikit tantangan yang muncul di hatinya. "Tapi kalau gue mau belajar... lo mau jadi kelinci percobaannya?"
Noah terkekeh, kali ini menoleh sekilas ke arah Viona dengan senyum miring yang khas.
"Boleh. Tapi tolong, sedia pemadam api sama nomor telepon rumah sakit terdekat ya. Gue masih mau lihat proyek villa lo jadi, jangan sampai gue mati konyol gara-gara keracunan garam kebanyakan."
"Noah!" seru Viona sambil menggeplak bahu Noah kesal.
Noah tertawa lepas. "Bercanda, Vio. Lo mau bisa masak atau nggak, itu nggak ngerubah status lo sebagai pemilik kursi sebelah gue ini. Fokus aja sama bisnis lo. Urusan perut, kita bisa cari solusi bareng-bareng."
Viona tersenyum tipis. Ternyata, standar Noah tidak serumit ekspektasi orang-orang di luar sana. Baginya, Viona yang ambisius sudah lebih dari cukup, meski hanya bisa menyajikan seiring mie instan dengan telur mata sapi yang mungkin sedikit gosong di bagian pinggirnya.
Viona adalah tipe wanita yang tidak akan membiarkan tantangan lewat begitu saja. Jika Noah menganggap memasak adalah survival skill dasar, maka bagi Viona, itu adalah proyek baru yang harus ia selesaikan dengan predikat cumlaude.
Tanpa menunggu lama, jemarinya bergerak lincah di layar ponsel, mencari kelas memasak privat yang lokasinya tidak jauh dari kantornya. Ia harus melakukan ini secara rahasia. Gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa ia sedang berupaya menjadi "istri idaman" demi pria yang biasanya ia ajak adu mulut itu.
"Vio, lo denger gue nggak?" Suara Noah membuyarkan lamunan Viona yang sedang membayangkan dirinya memakai celemek layaknya koki profesional.
"Eh? Apa?" Viona buru-buru menyembunyikan layar ponselnya.
Noah melirik curiga, namun ia kembali fokus pada kemudi. "Gue bilang, lo udah harus siapin tesis ya, Vio. Semester depan itu waktu yang krusial buat angkatan lo."
Viona menghela napas, ia teringat tumpukan revisi yang akan menunggunya. "Iya, gue tahu. Gue udah mulai riset dikit-dikit kok soal arsitektur berkelanjutan."
"Bagus. Ingat ya, dosen pembimbing lo kan bukan gue. Jadi gue nggak bisa kasih lo 'jalur orang dalam' buat dapet tanda tangan persetujuan," kata Noah dengan nada menggoda. "Lo harus berjuang sendiri, jadi siap-siap dari sekarang."
Viona mendengus geli. "Siapa juga yang mau dibimbing sama lo? Yang ada gue malah kena semprot tiap hari di ruang bimbingan. Gue lebih milih dosen yang lebih ramah daripada dosen yang hobi kasih nilai pelit kayak lo."
Noah tertawa kecil. "Ramah atau nggak, yang penting lo lulus tepat waktu. Gue nggak mau punya istri yang kelamaan di kampus cuma gara-gara galau masalah judul tesis."
Viona hanya bergumam menanggapi.
Pikirannya terbagi dua: antara judul tesis yang rumit dan jadwal les memasak yang harus ia selipkan di sela-sela kesibukannya. Ia membayangkan skenario di mana ia berhasil menyajikan steak sempurna untuk Noah, lalu dengan sombongnya berkata, "Gimana? Masih mau bilang gue cuma bisa masak mie instan?"
Tanpa disadari Viona, Noah sesekali meliriknya dengan senyum tipis. Ia tahu Viona sedang merencanakan sesuatu, karena setiap kali istrinya itu diam sambil tersenyum misterius, biasanya akan ada kejutan besar yang menyusul.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Noah.
"Kepo! Urus aja tuh mahasiswa lo yang belum kumpulin tugas," jawab Viona ketus, namun wajahnya merona merah.
———
Sinar matahari subuh baru saja mengintip dari ufuk timur, namun bagi Noah, dunianya seolah sedang dilanda gempa hebat. Ia terbangun dengan tangan yang meraba sisi ranjang sebelah kiri, namun yang ia temukan hanyalah seprai dingin yang sudah rapi.
"Vio?" panggil Noah dengan suara serak khas bangun tidur.
Nihil. Tidak ada suara gemericik air dari kamar mandi, pun tidak ada aroma parfum floral yang biasanya memenuhi ruangan.
Noah menyambar ponselnya. Sepuluh panggilan keluar, tak satu pun terjawab. Ia bahkan nekat menelepon Mama Rose dan Bunda Siska di jam yang tidak sopan ini, hanya untuk mendapatkan jawaban yang sama: Viona tidak ada bersama mereka.
Gedung perpustakaan pusat masih terlihat suram dengan lampu-lampu yang belum sepenuhnya menyala. Noah melangkah lebar, derap langkah pantofelnya menggema di lorong sunyi. Ia mengikuti titik lokasi hingga sampai di meja pojok paling belakang, area referensi tesis tua yang jarang dikunjungi.
Di sana, di antara temaram cahaya fajar, Noah menemukan "rumahnya".
Viona tampak meringkuk mungil di atas kursi kayu. Kepalanya ditenggelamkan di antara tumpukan buku tebal, wajahnya tertutup sebagian oleh helai rambut yang berantakan.
"Viona..." bisik Noah, suaranya yang tadi penuh kepanikan mendadak melembut. Ada rasa nyeri yang mencubit dadanya melihat sang istri tampak begitu kelelahan.
"Hm?" Viona bergumam kecil tanpa mengangkat kepala. Suaranya serak, tanda ia benar-benar baru saja terlelap beberapa saat.
"Kenapa tidur di sini?" tanya Noah sambil berlutut di samping kursi Viona. Matanya beralih ke atas meja. Ia tertegun. Di sana bukan hanya ada draf arsitektur, tapi tumpukan tesis bisnis angkatan lama, materi yang sebenarnya jauh dari bidang arsitektur Viona.
Dia beneran mau serius belajar bisnis demi mengimbangi gue? batin Noah haru.
"Tidur di ruangan gue dulu yuk? Di sini dingin," ajak Noah lembut. Viona tidak menjawab, ia hanya bergerak sedikit mencari posisi nyaman di atas meja keras itu.
Tanpa banyak bicara, Noah mulai merapikan barang-barang Viona ke dalam tas. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah sedang memegang porselen mahal, Noah menyusupkan tangannya ke bawah lutut dan punggung Viona. Ia mengangkat tubuh istrinya itu dalam satu gendongan mantap, bridal style.
Saat kepala Viona terkulai di ceruk lehernya,
Noah mengerutkan kening. Hidungnya menangkap sesuatu yang asing. Alih-alih aroma parfum mahal, tercium aroma samar bumbu dapur, seperti bawang putih yang ditumis dan rempah-rempah, yang menempel di jaket Viona.
Bau bumbu? Sejak kapan Vio main ke dapur? Noah sempat terdiam sejenak, menatap wajah istrinya yang terlelap pulas. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Baginya, misteri bau bawang itu bisa menunggu. Yang terpenting sekarang adalah membawa "hartanya" ini ke sofa nyaman di ruangannya, menjaganya agar tidak ada satu pun orang yang berani mengusik tidur lelapnya.
Noah melangkah keluar dari perpustakaan, memeluk Viona lebih erat di tengah suhu pagi yang menusuk, seolah dunia hanya milik mereka berdua di sela-sela rak buku tua itu.
Jantung Noah berdegup kencang. Ia segera mengakses fitur Find My Device yang diam-diam mereka bagikan untuk keadaan darurat. Titik biru itu berkedip pelan.
Kampus.
"Ngapain dia ke kampus jam segini?" gerutu Noah panik. Tanpa memedulikan rambutnya yang berantakan, ia menyambar kunci mobil dan melesat membelah jalanan Seoul yang masih sepi.
kurang promosi nih
atau judulnya kurang bar bar kk, biyar pada penasaran terus mmpir baca