Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24
Malam kembali menghampiri para mahasiswa KKN untuk kesekian harinya. Ani masih menyimpan penasaran dengan rumah kosong tersebut, kini kedua matanya menatap kesana tanpa berkedip seolah ia sedang mencari kebenaran akan penghuni yang ada disana. Tak lama, ia pun menoleh dengan sebuah senyum kecil yang mengembang di wajahnya.
“nggak ada sandal.” ucapnya.
Tidak ada yang langsung membantah, karena kalimat itu bekerja di tempat yang salah, di logika yang sedang rapuh. Semua orang otomatis membayangkan teras rumah kosong itu lagi bersih dari jejak kaki. Tidak ada alas kaki yang terlihat disana, yang membuktikan seseorang baru saja keluar atau masuk. Dan di desa, sandal bukan cuma alas kaki, Ia adalah penanda hidup.
“Jadi?” tanya Ani.
“Jadi apa?” Udin mulai curiga.
“Kita cek.”
Reaksi yang lainnya langsung meledak.
“NGGAK.”
“ANI.”
“JANGAN.”
“KITA DILARANG KELUAR.”
Beberapa suara tumpang tindih. Ada yang refleks berdiri, ada yang menarik lengan Ani. Ada juga yang menutup mata, seolah kalau tidak melihat, ide itu akan batal sendiri. Ani sendiri hanya mengangkat bahu.
“Kita cuma… lihat. Sebentar. Dari dekat.”
“DEKAT ITU BERAPA METER?” tanya Surya.
“Ya… nyebrang dikit.”
“ITU NAMANYA KELUAR.”
Perdebatan itu tidak lagi soal jarak. Itu soal garis tipis antara patuh dan penasaran. Garis larangan yang mereka buat kini sudah diinjak pelan-pelan oleh mereka sendiri. Ithay yang sejak tadi duduk di lantai sambil scroll galeri foto, mendongak.
“Sebenernya,” katanya santai, “kalau rumah kosong, biasanya estetik.”
Semua menolehkan pandangan padanya. Tatapan mereka bukan marah, lebih ke lelah, karena kalimat itu masuk akal dengan cara yang menyebalkan.
“Dan,” lanjut Ithay, “kalau estetik, sayang banget nggak difoto.”
Bodat yang dasarnya memang manusia penakut, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Kenapa aku dikelilingi orang-orang tanpa rasa takut?”
“Bukan tanpa rasa takut,” sahut Ani. “Kami punya rasa penasaran.”
Dan rasa penasaran itu akhirnya menular. Ia seperti virus ringan, tidak mematikan, tapi cukup membuat orang melakukan keputusan bodoh bersama-sama. Moren yang sejak tadi diam, kini bangkit berdiri. Ia meraih ranselnya, membuka resleting dengan suara yang terlalu keras untuk malam setenang ini.
“Kalau cuma cek sebentar, aku bisa bawa alat.”
“ALAT YANG KEMARIN BUNYI SENDIRI ITU?” tanya Udin.
“Itu… kalibrasi.”
“ITU TERIAK.”
“Suara startup.”
Udin mengusap wajah. Ia tahu momen ini. Momen ketika satu alasan kecil melahirkan alasan lain, lalu membentuk keputusan kolektif yang nanti akan mereka sesali bersama-sama. Satu per satu, alasan mulai muncul. Bukan alasan kuat, tapi cukup untuk mendorong langkah pertama dan itu adalah langkah yang selalu menjadi yang paling berbahaya.
“Kalau rame-rame, aman,” kata Paijo optimistis.
“Kalau rame-rame kerasukan, sekalian semuanya kena,” balas Juleha.
Tidak ada yang menertawakan itu. Karena di titik ini, bercanda dan berdoa rasanya punya fungsi yang sama, menenangkan diri sendiri. Akhirnya pintu posko dibuka. Suaranya terdengar pelan, engselnya berdecit lirih, suara kecil yang membuat semua menoleh bersamaan. Beberapa spontan menahan napas, sementara yang lain menelan ludah. Tidak ada yang berani berkomentar, karena suara engsel itu sudah cukup menjadi komentar.
Angin malam menyambut mereka dengan dingin yang tidak ramah seolah udara itu tidak lewat, tapi berhenti sebentar untuk memastikan siapa saja yang melanggar batas. Langkah pertama keluar terasa seperti melanggar perjanjian tak tertulis. Langkah kedua terasa seperti keputusan buruk. Dan langkah ketiga, terlalu jauh untuk mundur. Mereka berdiri di jalan kecil itu, menghadap rumah kosong. Tidak ada suara yang terdengar dan tidak ada lampu yang terlihat hidup. Hanya pintu setengah terbuka yang seolah mengundang.
Dari dekat, rumah itu tidak terlihat seram secara konvensional. Tidak ada tengkorak, ataupun simbol aneh disana. Tidak ada bau busuk atau hawa mistis dramatis seperti di film-film.
“Kenapa rasanya kayak disuruh masuk?” gumam Aluh.
“Karena otak kita lagi stres,” jawab Moren.
“ATAU KARENA ADA YANG BENARAN NGUNDANG,” sahut Bodat.
Ditengah kecanggungan mereka semua yang diselimuti ketakutan tapi menyimpan rasa penasaran, Ani akhirnya maju paling depan.
“Tenang,” katanya. “Aku duluan.”
“KENAPA KAMU SELALU DULUAN?” tanya Udin hampir putus asa.
“Karena kalau aku kenapa-kenapa,” jawab Ani ringan, “kalian jadi punya cerita.”
Tidak ada yang bisa membantah logika itu. Mereka mulai mendekat, dipimpin oleh Ani yang bertindak seperti kepala regu. Semakin dekat, rasanya semakin sunyi. Bahkan suara langkah kaki mereka sendiri terdengar asing, seperti bukan berasal dari tubuh masing-masing. Tanah terasa sedikit lembap disandal mereka karena embun malam. Ada juga terdengar suara kerikil kecil yang tergeser dan semua suara itu terdengar terlalu jelas.
KREKK.
Terdengar sebuah suara dari dalam rumah. Semua nya langsung berhenti melangkah, seperti seseorang menekan tombol pause. Surya langsung pegangan ke lengan Moren.
“ITU APA?”
“Kayu,” jawab Moren.
“KENAPA KAYUNYA HIDUP?”
Moren tidak menjawab. Ia sendiri sedang mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua bangunan memang berbunyi jika malam terlalu dingin. Ani kini sudah sampai di depan pintu. Ia lalu mengintip ke dalam rumah. Namun ia tidak bisa melihat apa-apa karena didalam sana gelap total karena tidak ada satupun lampu sebagai penerangan. Tidak ada bayangan bergerak juga tidak ada suara napas. Hanya hitam pekat yang menelan pandangan.
“Ternyata kosong,” katanya kecewa.
Nada kecewanya jujur untuk situasi seperti ini. Lalu,
BRAK.
Pintu tiba-tiba tertutup sendiri. Jeritan para mahasiswa KKN itu pun pecah. Kepanikan akhirnya meledak, dan semua berlarian ke arah berbeda. Ada yang jatuh. Ada yang nabrak. Ada yang teriak nama Tuhan dan ibu kos secara bersamaan. Ada juga yang spontan minta maaf, meski tidak tahu pada siapa.
Juned secara tidak sengaja menyalakan kamera, dan ajaibnya, kamera itu tiba-tiba juga bisa menyala disaat seperti itu.Layar kameranya hidup, lampu indikator berkedip dan Juned hampir menangis.
Anang mengangkat panci sebagai senjata. Tangannya gemetar, tapi pegangannya mantap. Dalam kepalanya, panci itu bukan lagi alat masak, tapi simbol pertahanan terakhir umat manusia.
Palui melindungi dompetnya. Ia memeluk saku celananya seperti menyelamatkan harta karun nasional.
Bodat siap marah ke siapa pun. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, seolah kalau memang ini hantu, ia siap memarahinya atas dasar etika bertamu.
Dan di tengah kekacauan itu, Lampu rumah kosong itu menyala dengan terang. Bukan redup atau kelap-kelip. Tapi terang penuh, seperti seseorang menekan saklar dengan yakin.
Semuanya mendadak berhenti ribut. Seorang bapak tua muncul dari dalam.
“WOY,” katanya kaget. “NGAPAIN MALAM-MALAM RIBUT?”
Semua membeku, namun tidak ada satu pun dari mereka yang pingsan. Otak mereka butuh waktu untuk memproses kenyataan yang baru saja menampar imajinasi mereka sampai jatuh. Mereka masih terhening dengan hal yang baru terjadi. Beberapa detik pun berlalu.
“Oh, Anak KKN, ya?” Katanya lagi setelah mengetahui siapa pelaku ribut-ribut dilingkungan rumahnya. Nada suaranya datar, bukan seperti orang yang marah. Tapi lebih ke heran, seperti baru sadar halaman rumahnya penuh dengan orang. Ani menoleh pelan.
“Ini… rumah Bapak?”
“Iya,” jawabnya. “Kosong dari luar aja. Listrik baru nyala.”
Para mahasiswa terdiam, menciptakan sunyi yang berbeda dari sebelumnya. Ini sunyi karena malu.
“JADI DARI TADI KITA TAKUT SAMA RUMAH ORANG??” teriak Bodat.
“Lah, kalian ngapain takut?”. Bapak itu mengernyit.
Tidak ada yang bisa menjawab. Udin membuka mulut namun kemudian menutupnya lagi, Susi menunduk, Surya tertawa kecil yang terdengar seperti tangis, Palui menghembuskan napas panjang, lega karena dompetnya selamat dari kerasukan. Juned menurunkan kamera perlahan. Rekaman itu sempurna. Tapi entah kenapa, ia tahu video ini tidak akan pernah ia unggah. Karena yang paling menakutkan malam itu bukan hantu, tapi imajinasi mereka sendiri.
...🍃🍃🍃🍃...
Bersambung....