NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Ruang rapat OSIS sore itu terasa pengap oleh aroma kopi dan tumpukan kertas proposal. Sebagai Sekretaris OSIS, Ayra baru saja menyelesaikan rapat koordinasi teknis untuk Pentas Seni (Pensi) SMA Nusantara yang tinggal menghitung minggu. Jadwal sudah disusun, vendor panggung sudah dikonfirmasi, dan kini saatnya setiap kelas menunjukkan kontribusi mereka.

Tahun ini, aturannya ketat: setiap kelas wajib menyumbangkan minimal dua penampilan. Kelas Ayra, 11 IPS 1, memutuskan untuk tampil beda. Mereka akan menyuguhkan tarian tradisional yang elegan dan satu tim modern dance yang enerjik.

Dan kejutan besarnya? Ayra, sang Sekretaris OSIS yang perfeksionis, terpilih masuk ke dalam tim modern dance.

"Ay, ayo! Anak-anak IPS 1 udah kumpul di aula bawah!" seru Sinta sambil melongokkan kepalanya ke ruang OSIS.

Ayra merapikan map terakhirnya. "Iya, sebentar. Aku ganti baju dulu."

Sepuluh menit kemudian, Ayra keluar dari ruang ganti dengan penampilan yang sangat berbeda. Jas almamater birunya telah berganti dengan kaos oversize berwarna putih dan celana training hitam dengan garis putih di sampingnya. Rambutnya yang biasa dibiarkan terurai dengan bando biru, kini ia ikat tinggi menjadi ponytail yang rapi.

Begitu ia melangkah masuk ke aula, musik upbeat dengan bass yang kental sudah berdentum. Teman-teman sekelasnya sedang melakukan pemanasan.

"Oke, gais! Karena ini latihan pertama, kita fokus ke blocking dan gerakan dasar dulu ya!" teriak Maya, koordinator dance kelas mereka.

Ayra mengambil posisi di barisan kedua. Awalnya, ia tampak sedikit ragu. Gerakannya masih terlihat agak kaku, sisa-sisa wibawa sekretarisnya masih menempel kuat. Namun, begitu Maya memberikan instruksi untuk masuk ke chorus, sesuatu dalam diri Ayra seolah "terlepas".

Ayra mengikuti ritme musik dengan sangat baik. Ternyata, di balik ketegasannya dalam menyusun anggaran, ia memiliki koordinasi tubuh yang luar biasa. Gerakan tangannya tajam, dan langkah kakinya presisi mengikuti ketukan.

Tanpa disadari oleh tim dance IPS 1, di pintu masuk aula, beberapa siswa laki-laki dari tim basket baru saja menyelesaikan latihan fisik mereka. Alano berdiri di barisan paling depan, memegang botol minum yang masih dingin, namun matanya tidak berkedip menatap ke tengah aula.

"Anjir... itu Ayra?" bisik Bima yang berdiri di samping Alano. "Gue kira dia cuma jago nulis notulen, ternyata badannya lentur juga."

Alano tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Ayra. Baginya, melihat Ayra yang berkeringat, dengan wajah serius namun tampak menikmati musik, adalah pemandangan yang jauh lebih indah daripada saat Ayra sedang berpidato di depan podium.

Ayra melakukan gerakan body wave yang halus, lalu diakhiri dengan posisi power pose yang kuat. Saat ia berputar untuk kembali ke posisi awal, matanya tidak sengaja menangkap sosok Alano yang sedang bersandar di pintu sambil tersenyum lebar ke arahnya.

Deg.

Konsentrasi Ayra buyar. Ia salah melangkah dan hampir saja menabrak Maya.

"Ay? Kamu nggak apa-apa?" tanya Maya bingung.

"Eh, maaf... maaf, tadi agak pusing dikit," bohong Ayra, sementara pipinya mendadak terasa lebih panas daripada suhu di aula.

"Istirahat 15 menit!" teriak Maya.

Ayra segera berjalan menuju pinggir aula untuk mengambil handuk kecilnya. Belum sempat ia duduk, sebuah botol air mineral dingin ditempelkan ke pipinya yang memerah.

"Aduh! Dingin!" Ayra menjauhkan wajahnya dan mendapati Alano sudah berdiri di hadapannya.

"Nih, buat penari paling galak se-IPS 1," ucap Alano sambil memberikan botol itu. "Gue nggak nyangka, Ay. Ternyata gerakan lo lebih asik daripada gerakan pulpen lo di atas kertas laporan."

Ayra merebut botol itu dengan ketus, mencoba menutupi rasa malunya. "Ngapain kamu di sini? Bukannya tadi latihan basket?"

"Udah selesai. Terus gue denger ada suara musik kenceng banget, kirain ada konser, ternyata ada sekretaris gue lagi mau audisi jadi idol," goda Alano. Ia duduk di lantai di samping Ayra yang sedang menyeka keringat di lehernya.

"Jangan berlebihan deh. Ini tuntutan kelas, tiap kelas harus ada dua penampilan. Kebetulan anak-anak kurang personil buat dance, ya udah aku ikut," jelas Ayra.

Alano mencondongkan tubuhnya ke arah Ayra. "Tapi serius, Ay. Gerakan lo tadi keren banget. Terutama pas bagian akhir. Kayaknya lo cocok deh jadi center."

"Nggak usah aneh-aneh. Aku di barisan belakang aja udah syukur," balas Ayra. Ia meneguk air mineralnya dengan cepat.

"Gini aja," Alano mengambil pulpen dari saku jaketnya—kebiasaan yang sering ia lakukan. "Kalau lo bisa dapet nilai terbaik buat penampilan kelas lo nanti, gue bakal turutin satu permintaan lo. Apa pun itu."

Ayra menatap Alano dengan curiga. "Apa pun? Termasuk kalau aku minta kamu buat nggak tebar pesona lagi selama sebulan?"

Alano terdiam sejenak, lalu ia tertawa kecil. "Deal. Tapi kalau lo kalah, lo harus temenin gue nonton pertandingan final basket tanpa pake jas almamater OSIS. Harus pake jersey basket atas nama gue. Berani?"

Ayra terdiam. Memakai jersey Alano di tengah keramaian suporter basket adalah hal paling "berbahaya" bagi imejnya. Namun, melihat tantangan di mata Alano, jiwa kompetitif Ayra bangkit.

"Oke, deal!" Ayra menjabat tangan Alano dengan mantap.

Latihan dilanjutkan. Kali ini, Ayra menari dengan energi dua kali lipat lebih besar. Ia ingin membuktikan pada Alano bahwa ia bisa melakukan apa saja dengan sempurna. Alano tetap di sana, duduk di pinggir lapangan, menjadi penonton paling setia yang memberikan tepuk tangan setiap kali Ayra berhasil melakukan gerakan sulit.

Sinta yang melihat dari kejauhan hanya bisa menyenggol lengan Bima. "Tuh liat, dua-duanya emang udah nggak bener. Yang satu kecanduan nonton, yang satu kecanduan pamer."

Bima tertawa. "Biarin aja, Sin. Jarang-jarang kan liat Ayra se-ekspresif itu."

Saat matahari mulai terbenam dan lampu aula mulai meredup, latihan berakhir. Ayra berjalan menuju tasnya dengan nafas terengah-engah. Alano sudah menunggunya dengan jaket motor di tangan.

"Ayo pulang, Calon Center. Nanti otot lo kaku semua kalau nggak buru-buru istirahat," ajak Alano.

Ayra tersenyum kecil, ia merapikan ikat rambutnya yang mulai longgar. "Besok latihan lagi. Jangan bosen ya nontonnya."

"Nonton lo? Sampe pensi tahun depan pun gue nggak bakal bosen, Ay," bisik Alano sambil membukakan pintu aula untuknya.

Sore itu, Ayra belajar bahwa hidup tidak melulu soal aturan dan organisasi. Terkadang, mengikuti ritme musik dan membiarkan tubuhnya bergerak bebas adalah cara terbaik untuk merasa hidup—apalagi dengan Alano yang selalu ada sebagai pengagum rahasia yang paling berisik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!