"Kamu adalah laki-laki yang bisa membuatku percaya, bahwa tidak semua laki-laki itu brengsek" ~Rania
"Kamu adalah wanita yang membuatku mengerti apa itu cinta" ~Aldrich
Aldrich yang tidak percaya pada cinta semenjak pengkhianatan yang dilakukan oleh suami kakaknya dan membuat kakak satu-satunya meninggal karena bunuh diri.
Akhirnya dipertemukan dengan Rania yang tidak percaya kepada laki-laki, setelah melihat sahabatnya sendiri meninggal karena bunuh diri akibat ditinggal kekasih yang telah menghamilinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anugrah Utarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan
Semua mata tertuju kepada pengantin wanita yang sedang digandeng oleh Ayahnya. Aldrich yang mendengar musik pertanda pengantin wanita masuk langsung berbalik. Matanya langsung terbelalak saat melihat gaun pengantin yang dipakai Rania.
Kenapa gaunnya jadi berubah? Awas kamu Rania..
Aldrich menatap tajam Rania namun dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Agar Ayah Rania tidak curiga kalau dia sedang marah.
"Paman serahkan Rania padamu Aldrich" Ayah Arya menyerahkan tangan Rania ke tangan Aldrich.
"Baiklah Paman" Aldrich langsung menggenggam tangan Rania dan segera berbalik menghadap laki-laki paruh baya yang akan menikahkan mereka.
Rania merasakan perubahan raut wajah dan tatapan Aldrich. Oh my God, dia pasti marah. Bagaiamana ini?
"Bisa kita mulai?" tanya laki-laki itu kepada keduanya. Aldrich dan Rania kompak menganggukkan kepalanya.
"Biarkan dia dulu yang mengucapkan" tanpa diduga Rania berkata seperti itu.
Aldrich menoleh sejenak, kemudian menarik napas panjang. "Rania Adriana Aline, aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."
Tibalah giliran Rania untuk mengucapkan janjinya. Ia menarik napas dalam-dalam karena jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan. "Aldrich Kavindra Bagaskara, aku mengambil engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."
Setelah pengucapan janji pernikahan, mereka saling memasangkan cincin peenikahan di jari manis mereka. Setelah itu Aldrich mencium kening istrinya dan mengecup singkat bibir istrinya.
Orang tua keduanya langsung naik ke atas pelaminan dan memberikan selamat serta doa kepada mereka berdua.
"Rania, akhirnya ya nak. Selamat berbahagia ya sayang, semoga rumah tangga kalian di limpahi keberkahan" doa Bunda Livana tulus.
"Bunda... " Rania memeluk Ibunya cukup lama, karena besok dia sudah harus ikut suaminya ke London.
Ayah Arya mendekati putrinya dan langsung memeluk putri satu-satunya. Ia tak sanggup mengatakan apa-apa, hanya dekapan hangat dan ciuman di puncak kepala yang ia berikan. Rania paham, pasti Ayahnya sangat berat melepaskan dirinya. Tapi memang sudah waktunya, kalau anak perempuan menikah akan menjadi milik suaminya.
"Makasih Ayah atas kasih sayang dan perhatian Ayah selama ini. Cinta Rania tetap akan sama pada Ayah, karena Ayah tetaplah cinta pertama Rania."
Cup
Rania memberikan ciuman manis di pipi Ayahnya dan melirik suaminya yang masih menatapnya dengan tatapan kesal.
"Ya ampun, menantu Mommy. Kamu cantik banget sayang. Gimana, berhasil nggak bikin suami kamu kesal?" tanya Mommy Agneta pelan sambil memeluk Rania.
"Mommy liat saja bagaimana tampangnya sekarang?" jawab Rania berbisik di telinga Ibu mertuanya.
Mommy Agneta melepaskan pelukannya dan melirik putranya sekilas. Kemudian dia langsung tersenyum. "Semoga pernikahan kalian dilimpahi keberkahan, cepat diberikan keturunan yang tampan dan cantik seperti kalian" doa Mommy Agneta tulus.
"Aamiin" jawab keduanya berbarengan.
"Aldrich, jaga istrimu baik-baik. Jangan kamu sakiti dia, ingat bagaimana kakakmu dulu begitu hancur saat di sakiti dan dikhianati" pesan Mommy Agneta dengan air mata yang sudah berlinang saat terkenang putri sulungnya.
"Iya Mom, Al tidak akan pernah melupakan semua itu. Al juga akan selalu menjaga dan mencintai Rania sampai kapanpun" jawab Aldrich mantap dan langsung memeluk Ibunya.
Daddy Aiden mendekat kepada keduanya "Semoga kalian berdua selalu diberkati oleh Tuhan" kemudian langsung memeluk keduanya.
"Kakak" Arshad langsung berlari ke arah Rania dan diikuti oleh Alden setelah para orang tua memberikan wejangan.
"Kak Al jagain kak Rania ya, jangan bikin kak Rania sedih ya. Kalau kak Al bikin kak Ranja sedih, Ars nggak akan pernah maafin kak Al" ancamnya dengan tangan bersedekap.
"Iya sayang, kak Al janji nggak akan bikin kak Rania sedih dan akan bikin kak Rania senyum terus" Aldrich mencubit gemas pipi Arshad yang padat berisi.
Arshad langsung tersenyum dan meminta keduanya merunduk. Lalu mencium pipi keduanya secara bergantian.
"Kakak, selamat ya. Kakak sekarang sudah jadi seorang istri. Sudah tidak menyandang prediket perawan tua lagi. Semoga bahagia selalu ya kak dan semoga cepat dapat keturunan" Alden memeluk kakaknya dan memeluk kakak iparnya.
"Makasih ya dek, kakak titip Ayah dan Bunda ya" Rania memeluk adik laki-lakinya dan Alden melepaskan pelukanku. Lalu berdiri di hadapan Aldrich.
"Kak, aku titip kak Rania ya. Jangan pernah kakak sakiti dia, kalau sampai itu terjadi. Kakak akan berhadapan langsung denganku" Alden menepuk pundak kakak iparnya..
"Iya Ken, kakak akan jaga kakakmu baik-baik dan nggak akan menyakitinya" janji Aldrich kepada Alden.
Setelah orang tua dan keluarga memberikan selamat. Para tamu undangan mulai memberikan selamat dan selalu memuji pasangan tersebut.
"Selamat ya, kalian serasi sekali."
"Terimakasih."
"Pengantin prianya tampan dan pengantin wanitanya cantik. Kalian benar-benar cocok, semoga selalu berbahagia."
"Terimakasih atas doanya" jawab keduanya.
"Apakah masih lama? Kakiku pegal" bisik Rania di telinga suaminya. Aldrich yang kesal tidak mengiraukan perkataan istrinya.
"Ihh, kok dicuekin sihh" cebik Rania dan Aldrich hanya meliriknya sekilas.
Emang enak dicuekin. Makanya kalau omongan suami itu di dengar.
Kaki Rania rasanya sudah kebas karena kelamaan berdiri. Sedangkan tamu undangan masih ada beberapa yang masih menghadiri pernikahan mereka. Ia memutuskan untuk duduk sebentar sebelum tamu kembali menyalami mereka.
Akhirnya rangkaian acara mulai dari pemberkatan sampai pesta pernikahan telah selesai di laksanakan. Mereka berdua juga sudah memasuki kamar hotel yang disediakan untuk pengantin baru.
Saat membuka pintu, mata Rania tertuju pada ranjang yang dipenuhi kelopak bunga mawar. Ia langsung melepas high heels yang sedari tadi ia pegang dan menghampiri ranjang. Sedangkan Aldrich langsung duduk di sofa untuk membuka sepatu dan kaus kakinya. Kemudian ia membuka jas yang masih menempel di tubuhnya dan melepaskan dasi. Setelah itu masuk ke kamar mandi tanpa bicara.
Rania menyadari kalau Aldrich mendiamkannya. Haduhhh, dia marah beneran. Bagaimana cara membujuknya?
Lebih kurang 15 menit berada dalam kamar mandi, Aldrich keluar hanya dengan menggunakan handuk sebatas pinggang. Rania hampir berteriak, tapi ia cepat sadar kalau sekarang mereka sudah menikah.
Rania berusaha meredakan rasa gugupnya dengan tersenyum dan menghampiri suaminya. "Kamu marah?" tanya Rania dengan jantung berdebar, karena ia akui suaminya terlihat sangat seksi dan menggoda saat ini. Apalagi perutnya yang kotak-kotak seperti roti sobek, membuat Rania ingin memakannya.
Aldrich menatap istrinya yang berdiri di hadapannya. "Untuk apa aku marah? Omonganku saja tidak kamu dengarkan!" kemudian langsung berjalan masuk ke walk in closet untuk memakai pakaiannya.
Rania masih berdiri mematung dan bergeming dari posisinya tadi. Ia sadar, kalau suaminya sedang marah saat ini.
"Mandilah, kamu pasti gerah memakai gaun itu seharian" ucapnya datar setelah keluar dari walk in closet dengan menggunakan celana panjang dan baju kaos lengan pendek.
Rania langsung melangkah menuju kamar mandi dengan hati nelangsa. Dia pun menyesali perbuatannya, tanpa sadar cairan bening itu jatuh begitu saja membasahi wajahnya. Cukup lama Rania dalam kamar mandi, menjernihkan pikiran dan membersihkan tubuhnya yang lengket. Selesai mengeringkan tubuhnya dan membungkus tubuh polosnya dengan handuk. Rania segera keluar dari kamar mandi dengan mata sedikit sembab.
Saat keluar dari kamar mandi, ia melangkah menuju walk in closet melewati suaminya yang duduk di sofa dengan tatapan tidak bisa ia artikan. Rania membuka kopernya dan menhambil baju tidur selutut tanpa lengan. Kemudian segera memakainya.
Setelah berpakaian ia langsung keluar dan langsung kaget karena Aldrich berdiri di depan pintu walk in closet.
"Kamu mau bikin aku jantungan?" tanya Rania dengan mata melotot.
"Nggak!" Aldrich melangkah masuk ke dalam walk in closet melewati Rania.
Rania memutar bola matanya melihat sikap cuek dan dingin suaminya. Kemudian langsung melangkah menuju ranjang, karena tubuhnya sudah sangat lelah kalau harus berdebat atau harus membujuk suaminya.
Namun baru akan menaikkan kakinya ke atas ranjang, Aldrich langsung memeluknya dari belakang.
"Huhh" Rania menghembuskan napas kasar. "Ada apa? Kalau mau merajuk atau marah silahkan, tapi jangan peluk-peluk" Rania memukul tangan Aldrich yang melingkar di perutnya.
"Iya, aku marah dan kesal. Dari tadi kamu bikin darahku mendidih setiap kali mata laki-laki menatap kamu. Aku tidak suka kalau wanitaku di tatap laki-laki lain!" akhirnya Aldrich mengeluarkan apa yang sejak tadi dia pendam.
Rania langsung berbalik dan menatap kedua manik mata suaminya. Ia langsung tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di wajah suaminya.
Cup
Rania mengecup sekilas bibir Aldrich "Maafin aku ya, kalau sudah membuat kamu marah."
Cup
"Aku tau dari tadi kamu cuekin aku dan bersikap dingin."
Cup
"Aku mencintaimu Al" Rania langsung memeluk erat laki-laki yang sudah resmi jadi suaminya.
Aldrich langsung terpana mendapat perlakuan manis dari wanita yang sudah sah jadi istrinya itu. Ia tidak menyangka, kalau Rania bisa semanis dan se romantis ini.
"Aku juga mencintaimu sayang" Aldrich mencium puncak kepala istrinya, menghirup dalam-dalam wangi rambut Rania yang begitu memanjakan hidungnya.
.
.
.
.
bersambung
gimana Kenzie dan Liana?
gimana anak2 Riana dan Aldrich?
walaupun akan menghadapi kemarahan suami tapi setidaknya sudah menggigit dan menjambak Leo...