NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 7

Suasana di halaman depan Perguruan Lembah Teratai berubah menjadi neraka terbuka.

Api masih membakar beberapa bangunan di kejauhan, cahaya merahnya memantul di genangan darah yang menutupi tanah. Angin malam berhembus pelan, namun tidak lagi membawa kesejukan pegunungan. Yang tersisa hanyalah bau anyir darah, bau daging terbakar, dan aroma kematian yang begitu pekat hingga membuat tenggorokan terasa kering.

Para tetua Perguruan Awan Mengalir berdiri membentuk setengah lingkaran. Tatapan mereka tajam, angkuh, dan penuh keyakinan. Di mata mereka, gadis bergaun hitam yang berdiri di tengah halaman hanyalah penyimpangan kecil yang kebetulan memiliki metode aneh.

Julukan Dewi Kematian tidak lebih dari dongeng yang dibesar-besarkan.

Aura yang memancar dari tubuhnya memang dingin, namun tetap berada di ranah Pendekar Guru. Bagi para tetua yang telah hidup puluhan tahun di dunia persilatan, itu bukan sesuatu yang pantas ditakuti, namun tetap memiliki status untuk dihormati.

“Kalian berdua,” suara Tetua Besar menggema, penuh wibawa dan tekanan, “habisi gadis itu sekarang. Jangan biarkan dia mengganggu keseimbangan pertempuran.”

Dua Pendekar Guru Perguruan Awan Mengalir melangkah maju. Mata mereka menyala oleh nafsu membunuh. Pedang di tangan mereka masih meneteskan darah murid Lembah Teratai yang belum lama roboh.

“Dimengerti, Senior.”

Mereka tersenyum lebar, seolah sudah melihat kematian lawan di depan mata.

Namun ketika dua Pendekar Guru itu bergerak ke arah gadis bergaun hitam, Ziang Guang merasakan firasat buruk yang menyesakkan dadanya.

“Aku peringatkan kalian!” teriaknya sambil memaksa Tetua Besar mundur setengah langkah. “Jangan pernah mengukur gadis itu dengan nalar kalian. Dia bukan makhluk yang berjalan di jalur Pendekar biasa!”

“Hmph!” salah satu Pendekar Guru tertawa meremehkan. “Ziang Guang, kamu sudah tua. Ketakutanmu membuatmu kehilangan akal. Kami berdua tidak mungkin kalah dari satu gadis kecil!”

Tetua Besar menyeringai dingin. “Urus dirimu sendiri. Setelah gadis itu mati, aku akan memastikan kepalamu menghiasi gerbang lembah ini.”

Benturan kembali terjadi. Ziang Guang tidak lagi menahan diri. Goloknya mengayun dengan kekuatan penuh, setiap tebasan membawa tekanan seperti runtuhan gunung. Tetua Besar terpaksa bertahan, namun matanya sesekali melirik ke arah gadis hitam itu.

Dua Pendekar Guru Perguruan Awan Mengalir kini telah berdiri tepat di hadapan sang Dewi Kematian.

Untuk sesaat, mereka terdiam. Bukan karena takut, melainkan karena kecantikan gadis itu begitu tidak wajar. Kulit putihnya kontras dengan gaun hitam yang membalut tubuhnya. Rambut panjangnya tergerai, bergerak lembut tertiup angin. Namun ketika mereka menatap matanya, hawa dingin langsung menjalar dari tulang belakang hingga ke tengkuk.

Pupil merah darah itu tidak memantulkan emosi apapun. Tidak ada amarah. Tidak ada kebencian. Tidak ada kesenangan. Hanya ketetapan mutlak.

“Majulah,” bisik sang Dewi Kematian.

Suaranya lembut, nyaris seperti angin malam, namun entah bagaimana suara itu terdengar jelas di telinga mereka, seolah dibisikkan langsung di dalam kepala.

Salah satu Pendekar Guru tertawa kaku, tawanya terdengar dipaksakan seolah ingin menepis rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dadanya.

“Sayang sekali. Wajah secantik ini seharusnya tidak mati di medan perang. Jika di tempat lain, mungkin aku masih bisa menikmatinya sebelum mengakhiri hidupmu.”

Ucapan itu diiringi tatapan cabul yang singkat, namun saat mata mereka bertemu dengan pupil merah darah milik sang Dewi Kematian, senyum itu langsung membeku. Ada sesuatu di balik tatapan itu yang membuat naluri bertahan hidup mereka berteriak, namun harga diri sebagai Pendekar Guru memaksa mereka untuk tetap maju.

Keduanya menghentakkan kaki bersamaan. Tanah di bawah mereka retak seperti kaca yang diinjak benda berat. Debu dan kerikil melonjak ke udara. Tenaga Dalam yang telah dipadatkan mengalir liar ke pedang mereka, menciptakan dengungan rendah yang membuat udara bergetar.

“Gelombang Awan Kembar!”

Dua bilah pedang bersinar terang, cahaya perak menyilaukan menyelimuti tubuh mereka. Energi tajam meledak keluar, menyatu menjadi dua gelombang berputar yang saling menguatkan. Angin menderu keras, udara terbelah, dan batu-batu di tanah terangkat lalu hancur berkeping-keping. Jurus itu adalah teknik pembunuh, cukup untuk membelah baja dan merobek tubuh Pendekar Guru lain hanya dalam satu tarikan nafas.

Namun sang Dewi Kematian tetap berdiri di tempatnya. Ia tidak berusaha menghindar. Tidak mengangkat Tenaga Dalam untuk bertahan. Tidak juga menunjukkan sedikit pun kepanikan.

Ia hanya mengangkat kipas hitamnya dengan gerakan pelan dan anggun, seolah sedang menyambut irama musik yang hanya bisa ia dengar. Gerakan itu begitu ringan hingga terlihat tidak masuk akal di tengah badai energi mematikan.

Dengan satu ayunan ringan, energi hitam pekat keluar dari kipasnya. Energi itu tidak meledak. Tidak berisik.

Namun begitu muncul, udara seakan membeku. Cahaya perak dari jurus lawan meredup seketika, seperti lilin yang kehilangan nyala di hadapan kegelapan mutlak.

Bukan Tenaga Dalam. yang dikenal para Pendekar. Energi itu terasa berat, tua, dan hidup. Seolah berasal dari tempat yang jauh lebih dalam dari dunia persilatan, dari sesuatu yang telah ada sebelum manusia belajar menghitung tingkat kekuatan.

BUM!

Ledakan keras mengguncang seluruh halaman Perguruan.

Gelombang energi perak hancur tanpa perlawanan, ditelan habis oleh kegelapan yang terus melaju tanpa kehilangan bentuk. Energi hitam itu menghantam dada kedua Pendekar Guru dengan kekuatan yang tidak bisa mereka pahami.

Tubuh mereka terpental keras seperti boneka kain, menghantam pilar batu, tembok, dan beberapa murid Awan Mengalir di belakang mereka. Suara tulang patah terdengar jelas, bercampur dengan jeritan pendek yang langsung terputus. Darah menyembur ke udara, memercik ke tanah dan dinding.

Keduanya jatuh tersungkur, berguling beberapa kali sebelum akhirnya terdiam di tanah. Mereka memuntahkan darah kehitaman, napas tersengal, mata mereka dipenuhi ketidakpercayaan.

“Mustahil…” suara mereka bergetar, hampir seperti rintihan anak kecil.

“Dia hanya… Pendekar Guru…”

Bayangan hitam tiba-tiba muncul di belakang mereka.

Suara dingin terdengar tepat di tengkuk, begitu dekat hingga nafas itu terasa menyentuh kulit mereka.

“Pendekar Guru biasa?” bisik sang Dewi Kematian. “Jangan samakan aku dengan makhluk yang masih menghitung kekuatan dengan angka.”

Tubuh mereka gemetar hebat. Rasa takut yang murni, bukan ketakutan Pendekar di medan perang, melainkan ketakutan makhluk hidup yang sadar bahwa ajal telah tiba.

Sebelum sempat berbalik, tangan mungil nan pucat itu telah mencengkeram ubun-ubun mereka.

Dingin. Sangat dingin. Seolah kepala mereka digenggam oleh es dari alam kematian.

Kabut hitam pekat keluar dari telapak tangan sang Dewi, menyelimuti tubuh mereka sepenuhnya. Pekikan mengerikan bergema, bukan jeritan manusia, melainkan suara jiwa yang dicabik paksa dari raga. Suara itu menusuk telinga dan membuat banyak Pendekar Awan Mengalir menutup telinga mereka sambil berlutut ketakutan.

Dalam hitungan detik, tubuh kedua Pendekar Guru itu menyusut. Kulit mereka mengeriput, menghitam, lalu menempel erat pada tulang. Mata mereka kosong, membelalak tanpa cahaya kehidupan. Mulut terbuka, namun tak satupun suara keluar. Seluruh esensi kehidupan, darah, Tenaga Dalam, dan jiwa mereka disedot hingga bersih.

Dua mayat kering jatuh ke tanah. Sesaat kemudian, tubuh itu retak dan hancur menjadi debu halus yang tertiup angin malam.

Keheningan membunuh menyelimuti medan perang.

Para anggota Perguruan Awan Mengalir membeku. Napas mereka tersendat, jantung berdetak liar di dada. Lutut mereka gemetar tanpa bisa dikendalikan.

“Dia… dia membunuh dua Pendekar Guru…” gumam seseorang dengan suara hampir tidak terdengar.

Tetua Besar terhuyung mundur satu langkah. Wajahnya pucat, matanya dipenuhi ketakutan yang tidak bisa disembunyikan lagi. Namun rasa takut itu segera berubah menjadi amarah dan keputusasaan.

“Serang dia bersamaan!” teriaknya parau. “Dia pasti sudah menguras seluruh tenaganya! Jangan beri dia waktu!”

Puluhan Pendekar Awan Mengalir meraung dan menyerbu dari segala arah.

Namun mereka tidak menyadari satu hal.Sang Dewi Kematian berdiri diam bukan karena lemah.

Ia menutup matanya, wajahnya tenang, hampir terlihat damai. Energi hitam di sekitarnya berputar perlahan, menyerap energi murni dari jiwa-jiwa yang baru saja ia cabut. Aura kematian semakin pekat, udara terasa berat, dan tanah di bawah kakinya mulai menghitam seperti hangus.

Ketika matanya terbuka kembali, pupil merah darah itu bersinar lebih terang dari sebelumnya.

Malam itu, di bawah rembulan yang tertutup awan, Dewi Kematian berdiri di atas dua mayat.

Dan halaman Perguruan Lembah Teratai bersiap berubah menjadi kuburan massal bagi mereka yang berani meremehkan kegelapan.

1
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!