Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Jerat yang Ditenun Pelan
Pagi itu, Luo Han tetap datang bekerja seperti biasa.
Ia memeriksa daftar bahan makanan, mencatat jumlah beras, daging, dan anggur untuk dapur istana. Wajahnya tenang. Senyumnya sopan seperti selalu.
Tidak ada yang berubah dari luar.
Dan justru itu yang membuatnya berbahaya.
Dari kejauhan, Song An berdiri bersama Selir Li dan Selir Zhang di lorong terbuka yang menghadap halaman logistik.
“Itu dia,” bisik Selir Zhang.
Selir Li menelan ludah. “Sulit dipercaya…”
Song An mengangguk pelan. “Orang paling berbahaya biasanya yang paling membosankan.”
----
Di ruang dalam, Kaisar Shen berbicara pelan dengan kepala pengawal elit.
“Kita tidak tangkap dia. Kita buat dia bergerak sendiri.” ujar Kaisar Shen
“Umpan, Yang Mulia?” tanya sang pemimpin pasukan elit
Kaisar mengangguk. “Sebarkan kabar palsu. Katakan pesta tahunan dimajukan. Semua logistik tambahan harus disiapkan cepat.”
“Kalau dia penghubung jaringan luar, dia akan mengirim kabar.” lanjut Kaisar Shen “Dan kita ikuti jalurnya,” kata Kaisar tenang.
-----
Siang itu, pengumuman resmi keluar: pesta tahunan kekaisaran dipercepat satu bulan.
Seluruh bagian logistik panik kecil.
“Kenapa mendadak sekali?” keluh seorang pelayan.
Luo Han mengangkat tangan menenangkan. “Tenang. Kita hanya perlu kerja lebih cepat.”
Namun malamnya, ia tidak langsung pulang ke kediaman staf.
Ia berjalan ke gudang kecil belakang dapur.
Song An yang sejak tadi “kebetulan” membantu memilih buah melihatnya.
Ia pura-pura sibuk menyortir apel, tapi matanya mengawasi bayangan itu.
Luo Han masuk gudang.
Beberapa menit kemudian, seorang kurir berpakaian pelayan keluar dari pintu samping, membawa keranjang kosong.
Song An berbisik pada penjaga tersembunyi di balik tembok,“Yang itu. Ikuti.”
Penjaga menghilang tanpa suara.
-----
Malamnya di paviliun, Selir Li mondar-mandir.
“Aku lebih gugup sekarang daripada saat pertama kali masuk istana.”
Selir Zhang duduk sambil memeluk bantal. “Dulu kita takut dimarahi guru etika. Sekarang kita takut jaringan pengkhianat.”
Song An mengunyah kacang santai. “Perkembangan hidup memang aneh.”
“Kau kenapa tenang sekali?” tanya Selir Li.
Song An mengangkat bahu. “Kalau panik, tetap harus dijalani. Jadi mending paniknya nanti saja kalau sudah selesai.”
Selir Zhang menatapnya. “Kadang aku ingin meminjam otakmu.”
“Tidak mau,” jawab Song An cepat. “Di dalamnya berantakan.”
Mereka tertawa kecil, ketegangan sedikit mencair.
-----
Keesokan paginya, laporan datang.
“Kurir itu keluar istana lewat gerbang timur,” kata kepala pengawal. “Ia bertemu pedagang gandum di pasar. Dari sana pesan diteruskan lagi.”
“Ke mana akhirnya?” tanya Kaisar.
“Rumah teh di tepi kanal utara.”
Song An langsung menunjuk peta. “Tempat itu dekat jalur sungai dagang. Mudah kirim pesan keluar kota.”
Kaisar Shen tersenyum tipis. “Jaringnya mulai terlihat.”
----
Sore itu, Song An sengaja melewati kantor logistik.
Luo Han memberi hormat. “Selir butuh sesuatu?”
“Aku ingin memastikan buah untuk pesta nanti segar,” jawab Song An santai.
“Tentu. Semua akan kualitas terbaik.” jawab Luo Han sopan
Song An tersenyum. “Tuan Luo selalu bisa diandalkan.”
Mata pria itu berbinar bangga. “Itu tugas saya.”
Song An berjalan pergi dengan langkah ringan.
Begitu berbelok, senyumnya hilang.“Dia bahkan bangga,” gumamnya.
-----
Kaisar memutuskan menaikkan tekanan.“Beri tahu bagian logistik bahwa anggur khusus dari wilayah barat gagal dikirim,” perintahnya.
“Itu stok mahal untuk tamu asing,” kata kepala pelayan.
“Justru itu,” jawab Kaisar.
Berita itu sampai ke Luo Han sore hari.
Malamnya, ia kembali mengirim kurir.
Kali ini dua penjaga bayangan mengikuti sampai ke luar kota.
Kurir itu masuk ke gudang tua… gudang yang sama jaringan Gu Wei gunakan dulu.
“Jadi jalurnya masih aktif,” kata Song An saat laporan tiba.
Kaisar mengangguk. “Dan Luo Han adalah nadinya.”
----
Namun titik terang sesungguhnya datang dari arah tak terduga.
Seekor burung kecil mendarat di jendela paviliun Song An malam itu.
Surat dari luar.
Tulisan tangan yang dikenal Selir Li langsung membuatnya gemetar.
Song An membacakan pelan.
“Kami melihat Tuan Luo bertemu utusan asing. Bukan pedagang. Lambangnya sama dengan yang dulu mendukung Dao.”
Selir Zhang menutup mulutnya. “Berarti ini bukan hanya pengkhianatan dalam negeri…”
“Ini kerja sama dengan kekaisaran lain,” kata Song An pelan.
Kaisar yang datang tak lama kemudian membaca ulang surat itu. Rahangnya mengeras.
“Jadi selama ini… mereka bukan hanya ingin menggulingkanku,” katanya pelan, “tapi membuka gerbang negeri.”
Ruangan itu sunyi.
Lalu Song An berkata pelan tapi jelas,“Kalau begitu, kita tidak hanya menjebak pengkhianat.”
“Kita sedang menyelamatkan negara,” lanjut Selir Li.
Selir Zhang mengangguk pelan. “Dan kita sudah sangat dekat.”
Kaisar Shen memandang mereka bertiga.
Bukan sebagai selir.
Bukan sebagai penghuni harem.
Tapi sebagai orang-orang yang berdiri bersamanya di garis depan.
“Besok malam,” katanya pelan,“kita tangkap Luo Han saat dia mengirim pesan berikutnya.”
Song An tersenyum tipis.
Akhirnya.
Bayangan terakhir mulai memiliki wajah yang jelas.
Dan jerat yang mereka tenun perlahan…
sudah hampir menutup sepenuhnya.
Bersambung