Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bap 33
Musim semi datang lebih lembut tahun itu.
Bunga plum mekar lebih awal di taman dalam istana, kelopaknya jatuh perlahan seperti salju berwarna merah muda. Udara masih sejuk, tapi tidak lagi menggigit.
Song An berjalan menyusuri jalan setapak batu dengan gulungan laporan di tangannya. Di belakangnya, Mei terengah kecil mencoba mengimbangi langkah cepatnya.
“Yang Mulia… rapat sudah selesai, kelas membaca juga sudah dikunjungi, dapur umum sudah diperiksa… Anda mau menambah apa lagi hari ini?” tanya Mei putus asa.
Song An berhenti mendadak.
Mei hampir menabraknya.
Song An menoleh dengan wajah serius. “Aku lupa makan siang.”
Mei menatapnya datar. “Itu bukan tambahan pekerjaan. Itu kebutuhan dasar manusia.”
“Oh.” Song An mengangguk. “Masuk akal.”
Mei menghela napas panjang. “Kaisar benar. Kalau tidak ada yang mengingatkan, Yang Mulia bisa bekerja sampai pingsan sambil merasa itu hal wajar.”
Song An bergumam, “Dulu aku cuma pegawai lembur. Sekarang naik pangkat jadi lembur nasional.”
Mei menutup wajahnya. “Hamba menyerah.”
Dari kejauhan, tawa kecil terdengar.
Beberapa anak pelayan yang kini belajar di paviliun pendidikan berlari melewati taman, membawa papan kayu bertuliskan huruf-huruf latihan. Mereka berhenti mendadak saat melihat Song An, lalu membungkuk cepat.
Song An melambaikan tangan. “Hati-hati larinya! Hurufnya jangan sampai jatuh, nanti ilmunya kabur!”
Anak-anak itu tertawa sebelum berlari lagi.
Mei memperhatikan mereka dengan senyum lembut. “Dulu bagian ini sepi sekali.”
Song An menatap punggung anak-anak itu. “Tempat yang dulu cuma berisi bisik-bisik sekarang berisi suara baca. Jauh lebih enak didengar.”
-----
Sore harinya, suasana berubah lebih serius.
Di ruang kerja dalam, Kaisar Shen berdiri di depan meja besar, membaca surat bersegel militer. Alisnya sedikit berkerut.
Song An masuk tanpa suara, membawa semangkuk sup hangat.
“Kudengar Yang Mulia belum makan,” katanya santai.
Kaisar melirik mangkuk itu. “Dan kau?”
Song An duduk di kursi seberang. “Aku makan… setengah kue kacang Mei sebelum dia menyadari.”
Kaisar menggeleng pelan, tapi tetap menerima mangkuk itu. “Terima kasih.”
Beberapa saat mereka diam.
“Ada kabar buruk?” tanya Song An akhirnya.
“Kabar waspada,” jawab Kaisar. “Bukan perang. Tapi pergerakan mencurigakan di perbatasan utara. Bekas jaringan lama rupanya belum sepenuhnya mati.”
Song An menyandarkan punggung. “Sisa-sisa orang yang dulu memanfaatkan kekacauan dalam negeri?”
Kaisar mengangguk. “Mereka mungkin berharap negeri ini masih rapuh.”
Song An tersenyum miring. “Sayang sekali buat mereka.”
Kaisar mengangkat alis.
“Kali ini rakyat tidak sibuk takut pada istana,” lanjut Song An. “Mereka sibuk belajar, bekerja, dan makan cukup. Negeri yang perutnya kenyang lebih sulit diguncang.”
Kaisar menatapnya lama, lalu tertawa pelan. “Strategi pertahanan versi Song An adalah isi dapur dulu.”
“Itu strategi bertahan hidup dasar,” balasnya.
Namun wajahnya kemudian melunak. “Tapi tetap kirim bantuan ke wilayah utara. Bukan cuma prajurit. Kirim guru, tabib, benih tanaman. Biar mereka tahu istana mengingat mereka.”
Kaisar mengangguk pelan. “Sudah kusiapkan.”
Song An tersenyum puas. “Bagus. Berarti kita masih satu tim.”
Kaisar menatapnya dengan tatapan hangat yang jarang ia tunjukkan di depan orang lain. “Sejak awal.”
Song An cepat-cepat berdiri. “Baiklah, sebelum suasana jadi terlalu mengharukan, aku pamit. Masih ada laporan pajak gandum yang harus kubaca.”
“Kau sengaja kabur tiap pembicaraan mulai menyentuh hati,” kata Kaisar.
“Benar,” jawabnya ringan. “Aku lebih berani menghadapi pejabat galak daripada perasaan sendiri.”
-----
Malam itu, saat lampu-lampu lentera mulai dinyalakan, seorang kurir khusus datang membawa surat.
Tulisan di amplopnya langsung dikenali Song An.
“Dari Li Jie,” bisiknya.
Ia membukanya di paviliun kecil tempat ia biasa minum teh malam.
Song An,
Aku sudah mendirikan rumah baru. Tempatnya tidak semewah istana, tapi jendelanya menghadap sawah luas. Aneh rasanya bangun tanpa suara lonceng istana.
Aku mulai membantu mengatur sekolah kecil untuk anak perempuan di sini. Mereka pemalu sekali, tapi matanya berbinar saat belajar menulis nama sendiri. Entah kenapa aku selalu teringat dirimu setiap melihat mereka.
Jangan bekerja terlalu keras. Kalau kau pingsan, aku akan datang kembali hanya untuk memarahimu.
— Li Jie
Song An tersenyum sendiri.
“Dia terdengar bahagia,” kata Kaisar yang entah sejak kapan berdiri di pintu.
Song An mengangguk. “Iya. Dan dia mengancam akan kembali kalau aku tidak menjaga diri.”
Kaisar duduk di seberangnya. “Ancaman yang cukup menakutkan.”
“Benar. Dia kalau marah ceramahnya bisa satu jam tanpa jeda napas.”
Mereka tertawa pelan.
Song An melipat surat itu hati-hati. “Aku senang mereka pergi bukan karena kalah… tapi karena memilih jalan baru.”
Kaisar memandang lentera yang bergoyang tertiup angin. “Istana ini dulu seperti sangkar emas.”
“Sekarang?”
“Sekarang lebih seperti rumah persinggahan. Orang datang, belajar, lalu pergi membangun tempat lain.”
Song An menatapnya. “Itu terdengar sepi.”
Kaisar tersenyum tipis. “Sedikit.”
Sunyi sejenak.
“Tapi,” lanjutnya, “lebih baik sepi karena orang menemukan hidupnya, daripada ramai karena orang terjebak.”
Song An menunduk pelan. “Kau berubah jauh.”
Kaisar menatapnya lembut. “Kau juga.”
------
Beberapa hari kemudian, kiriman dari wilayah selatan tiba, karung-karung kecil berisi bibit padi unggul.
Song An bersikeras melihatnya langsung di halaman penyimpanan.
“Yang Mulia tidak perlu turun tangan sendiri....” kata kepala gudang gugup.
Song An sudah jongkok membuka salah satu karung. “Aku hanya memastikan ini bukan batu dicat hijau.”
Para pekerja menahan tawa.
Kaisar yang ikut datang berdiri dengan tangan di belakang punggung. “Kepercayaan pejabat logistik kita benar-benar rendah.”
“Bukan rendah,” jawab Song An. “Hanya realistis.”
Ia mengambil segenggam bibit, menimangnya. “Dari benih sekecil ini bisa tumbuh makanan untuk ribuan orang. Aneh ya.”
Kaisar menjawab pelan, “Seperti perubahan.”
Song An menoleh. “Hm?”
“Hal besar sering dimulai dari sesuatu yang terlihat tidak berarti.”
Song An tersenyum kecil. “Kalau begitu, kita harus menjaga benih-benih ini baik-baik.”
Kaisar menatapnya. “Termasuk benih harapan yang kau tanam di istana ini.”
Song An pura-pura sibuk menutup karung. “Aku cuma cerewet sedikit. Mereka yang bekerja.”
“Kerja tanpa seseorang yang peduli akan arah, hanya jadi rutinitas kosong,” kata Kaisar tenang.
Song An berhenti bergerak sebentar… lalu berdiri. “Baiklah. Kalau Yang Mulia mulai bicara seperti penyair, itu tandanya aku harus kembali kerja sebelum suasana jadi terlalu dalam.”
Kaisar tertawa pelan. “Pergilah, Permaisuriku yang sibuk.”
Langkah Song An sempat terhenti satu detik… lalu ia berjalan lagi, wajahnya sedikit hangat.
-------
Larut malam, hujan tipis turun membasahi atap-atap istana.
Song An duduk di dekat jendela, membaca laporan dengan mata setengah tertutup.
Pintu diketuk pelan.
“Masuk,” katanya tanpa melihat.
Kaisar masuk membawa teko teh hangat.
Song An berkedip. “Yang Mulia sekarang belajar menyeduh teh sendiri?”
“Aku tidak ingin dicatat sejarah sebagai kaisar yang bahkan tidak bisa menuang air,” jawabnya santai.
Ia duduk di samping meja kecil.
Mereka tidak langsung bicara.
Hanya suara hujan.
“Apa kau pernah takut?” tanya Kaisar tiba-tiba.
Song An menoleh. “Takut apa?”
“Takut semua ini tidak berhasil. Bahwa perubahan yang kita mulai terlalu besar.”
Song An berpikir sejenak. “Sering.”
Kaisar terdiam.
“Tapi,” lanjutnya, “aku lebih takut kalau kita tidak melakukan apa-apa.”
Ia menatap hujan di luar. “Dulu banyak orang hidup tanpa pilihan. Sekarang mereka mulai punya sedikit. Meski kecil, itu sudah layak diperjuangkan.”
Kaisar memandangnya lama. “Kadang aku lupa… kau juga memikul beban yang sama beratnya.”
Song An tersenyum tipis. “Bedanya, kau memikul negeri di bahu. Aku memikulnya sambil mengomel.”
“Itu membantu lebih dari yang kau kira.”
Hening lagi, tapi hangat.
Di luar, hujan turun pelan menyuburkan tanah.
Di dalam, dua orang duduk berdampingan, tidak perlu kata-kata besar.
Karena mereka tahu
perubahan tidak selalu terdengar seperti sorak kemenangan.
Kadang ia tumbuh diam-diam,
seperti benih kecil yang suatu hari nanti akan menguning menjadi ladang luas.
Bersambung
kalau begini kapan babby launching nya.....