NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Waktu seakan berhenti. Udara di ruang VIP rumah sakit terasa membeku, dipenuhi ketegangan yang hampir bisa disentuh. Anindita menatap Zaverio yang berdiri di ambang pintu dengan buket mawar putih di tangannya—bunga yang dia tahu Anindita suka sejak lima belas tahun lalu, bunga yang bahkan Hardana tidak pernah tahu menjadi favoritnya.

Detail kecil seperti itu yang paling menyakitkan.

Anindita mengalihkan pandangannya dari Zaverio ke Kirana yang berdiri canggung di sudut ruangan. Mata Anindita menyipit, kecurigaan mulai tumbuh seperti racun yang menyebar perlahan.

"Kirana," panggil Anindita dengan suara yang terlalu tenang—ketenangan sebelum badai. "Bagaimana Kak Zaverio tahu aku di sini?"

Kirana terlihat seperti rusa yang terjebak di lampu sorot mobil. Matanya melirik ke langit-langit, ke lantai, ke mana saja kecuali ke mata nyonyanya. Tangannya meremas rok kerjanya dengan gugup.

"Aku tidak sengaja ke perusahaanmu," potong Zaverio cepat, suaranya tenang tapi ada nada tegang di sana. "Aku melihatmu dibawa ke ambulans saat aku baru tiba di lobby."

Bohong. Anindita tahu itu bohong. Dia bisa membacanya dari cara mata Zaverio berkedip sedikit lebih cepat dari biasanya—kebiasaan kecil saat dia berbohong yang Anindita hapal di luar kepala.

"Tidak sengaja?" Anindita mengangkat alis, nada suaranya sinis. "Oh ya? Untuk apa kakak ipar datang ke perusahaanku? Setahu aku, tidak ada urusan bisnis antara Kusuma Group dan Paramitha Corp yang memerlukan kehadiran CEO langsung."

Zaverio melangkah masuk, meletakkan buket mawar di meja samping ranjang dengan gerakan yang terlalu hati-hati, terlalu lembut. "Aku datang untuk membahas kerja sama dengan Tuan Darma. Proyek joint venture untuk pengembangan kawasan industri di Jawa Timur."

Anindita terdiam. Itu benar. Kakek memang tidak pernah melibatkan dia dalam urusan kerja sama dengan keluarga Kusuma—justru untuk menghindari konflik kepentingan dan situasi canggung seperti ini. Semua negosiasi langsung ditangani kakek.

Tapi tetap saja... terlalu kebetulan.

Anindita menarik nafas panjang, mencoba mengontrol emosi yang bergemuruh di dadanya. Tangannya menggenggam selimut rumah sakit dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Terserah," katanya datar, memasang topeng dingin yang sudah sangat dia kuasai. "Aku tidak peduli." Dia menatap Zaverio dengan tatapan yang berusaha terlihat acuh, padahal hatinya berteriak dalam kekacauan. "Oh ya, kakak ipar, kumohon jangan terlalu dekat denganku. Suamiku tidak akan suka."

Setiap kata 'kakak ipar' dan 'suamiku' keluar dengan penekanan—seperti menusukkan pisau ke jantung Zaverio, sekaligus ke jantungnya sendiri.

"Kirana," Anindita beralih ke asistennya, suaranya kembali profesional. "Siapkan mobil. Aku ingin pulang ke apartemen sekarang."

"Tapi Nyonya, dokter bilang Anda harus—"

"Sekarang, Kirana." Nada yang tidak bisa dibantah.

"Baik, Nyonya." Kirana membungkuk dan bergegas keluar, meninggalkan Anindita dan Zaverio sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa terlalu kecil, terlalu sempit.

Anindita turun dari ranjang, kakinya sedikit goyah tapi dia menolak menunjukkan kelemahan. Dia mengambil tasnya, merapikan dress yang kusut, bersiap untuk pergi.

Tapi sebelum dia melangkah keluar, dia berhenti tepat di samping Zaverio. Jarak di antara mereka hanya sejengkal—cukup dekat hingga Anindita bisa mencium aroma cologne-nya yang familiar, cukup dekat hingga dia bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

Tapi jarak emosional di antara mereka? Selebar samudra.

"Aku masih menghormatimu sebagai kakak dari suamiku, Zaverio Kusuma." Suara Anindita keluar pelan tapi tegas, setiap kata dipilih dengan hati-hati. "Kuharap kau tidak mengharapkan lebih dari itu. Hubungan kita sekarang hanya kakak ipar dan adik ipar. Tidak lebih."

Dia berhenti sejenak, menarik nafas dalam untuk mengumpulkan keberanian.

"Dan dulu... kau yang meninggalkan aku tanpa kejelasan apapun. Tanpa penjelasan. Tanpa kesempatan untuk bertanya kenapa." Suaranya bergetar sedikit, tapi dia memaksa tetap tegak. "Jadi kumohon, jangan pernah mencoba peduli kepadaku lebih dari sekadar hubungan kakak ipar dan adik ipar. Karena aku... aku tidak bisa lagi mempercayaimu."

Anindita melangkah menuju pintu.

"Bagaimana jika aku bilang aku pergi karena dirimu?"

Suara Zaverio menghentikan langkah Anindita seketika. Tubuhnya membeku di ambang pintu, tangan masih memegang gagang pintu yang terasa dingin di telapak tangannya.

Karena... dirinya?

Anindita perlahan berbalik, menatap Zaverio dengan mata yang berkaca-kaca—campuran marah, bingung dan terluka.

"Apa maksudmu?" bisiknya.

Zaverio berdiri di sana dengan postur yang terlihat lelah—sangat berbeda dari Zaverio Kusuma yang biasanya tegap dan penuh wibawa. Tangannya terkepal di samping tubuh, rahangnya mengeras, matanya menatap Anindita dengan intensitas yang membakar.

Tapi dia tidak menjawab. Hanya diam, seolah kata-kata yang baru saja dia ucapkan adalah kesalahan, seolah dia ingin menariknya kembali.

Anindita tertawa pahit—tawa yang terdengar lebih seperti isak tangis.

"Seharusnya kau menjelaskannya kepadaku," katanya, air mata mulai mengalir di pipinya. "Bukan menghilang dan hanya meninggalkan selembar kertas. Selembar kertas sialan yang bahkan tidak menjelaskan apa-apa!"

Suaranya meninggi, semua emosi yang sudah dia pendam selama dua belas tahun akhirnya meledak.

"Dua belas tahun yang lalu, Zaverio! Selama tujuh tahun aku menunggumu! Tujuh tahun aku mencari jawabannya—kenapa kau pergi? Apa yang salah dengan kita? Apa aku kurang baik? Apa cintaku tidak cukup? Tujuh tahun aku hidup dalam ketidakpastian, dalam rasa sakit yang tidak pernah sembuh!"

Air matanya mengalir deras sekarang, tapi dia tidak menghapusnya. Biarkan Zaverio melihat. Biarkan dia tahu betapa menyakitkannya.

"Tapi kau tahu apa?" Anindita menarik nafas gemetar. "Hardana Kusuma—adikmu—dialah yang menemaniku keluar dari kegelapan itu. Dia yang ada saat aku menangis di malam-malam sepi. Dia yang sabar mendengarkan ceritaku tentangmu berulang-ulang tanpa bosan. Dia yang perlahan membuatku percaya bahwa aku masih berharga, bahwa aku masih pantas dicintai."

Setiap kata keluar seperti pisau yang menikam Zaverio. Anindita bisa melihatnya—bagaimana wajah Zaverio memucat, bagaimana rahangnya mengeras, bagaimana tangannya terkepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Dia membuatku sadar," lanjut Anindita pelan, "bahwa aku berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik darimu. Seseorang yang tidak akan meninggalkanku tanpa kata. Seseorang yang akan memilihku, bukan meninggalkanku."

Keheningan menggantung berat di antara mereka.

Anindita memutar tubuhnya, tangan kembali menyentuh gagang pintu. "Selamat tinggal, Zaverio."

Dia melangkah keluar, meninggalkan Zaverio sendirian di ruangan yang terasa kosong dan dingin.

Tapi yang tidak Anindita dengar—karena pintu sudah tertutup—adalah bisikan pelan Zaverio yang penuh penyesalan:

"Aku senang kau bisa melanjutkan hidupmu, Aninditaku. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Dia menutup mata, air matanya jatuh—untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun. "Tapi jika adikku itu membuatmu menangis... jika dia berani menyakitimu... aku akan mengambilmu menjadi milikku. Walau itu artinya aku harus menghancurkan seluruh dunia."

Yang tidak Anindita ketahui—yang tidak pernah akan dia ketahui kecuali seseorang memberitahunya—adalah kebenaran yang tersembunyi di balik kepergian Zaverio dua belas tahun lalu.

Zaverio lah yang menyelamatkan Paramitha Corp dari kebangkrutan. Zaverio lah yang mengganti 100 triliun rupiah yang dicuri Savitha dengan uang pribadinya—uang yang dia peroleh dari menjual sebagian sahamnya, dari meminjam ke bank dengan agunan properti pribadi, dari menggadaikan masa depannya.

Tapi ada harga yang harus dibayar.

Untuk mendapatkan dana sebesar itu dalam waktu singkat, Zaverio harus membuat perjanjian dengan seseorang—seseorang yang sangat berkuasa, seseorang yang memiliki dendam pribadi terhadap keluarga Paramitha.

Perjanjian itu simple tapi menghancurkan. Zaverio akan mendapatkan uang untuk menyelamatkan Paramitha Corp, tapi sebagai gantinya, dia harus meninggalkan Anindita selamanya. Tidak boleh ada kontak, tidak boleh ada penjelasan, tidak boleh ada penutupan.

Dan kalau Zaverio melanggar perjanjian? Paramitha Corp akan dihancurkan total, tidak hanya bangkrut tapi juga akan didiskreditkan hingga nama Paramitha menjadi aib di dunia bisnis Indonesia.

Jadi Zaverio memilih. Dia memilih untuk mengorbankan kebahagiaannya demi melindungi wanita yang dia cintai. Dia memilih untuk menjadi penjahat dalam kisah cinta mereka agar Anindita bisa tetap memiliki perusahaan yang dia warisi dari ayahnya.

Dan sebagai jaminan bahwa Anindita tidak akan terluka lagi, Zaverio meminta Hardana—adik tirinya yang dia percaya—untuk menjaga Anindita. Untuk ada di sana saat Anindita membutuhkan seseorang. Untuk mengisi kekosongan yang Zaverio tinggalkan.

Hardana setuju. Dan perlahan, seiring waktu, persahabatan berubah menjadi sesuatu yang lebih.

Tapi yang tidak pernah Zaverio bayangkan, yang membuat perjanjian itu semakin menyiksa... adalah melihat Anindita jatuh cinta dan menikahi adiknya sendiri.

Setiap kali melihat mereka bersama, setiap kali mendengar Anindita menyebut Hardana sebagai 'suamiku', setiap kali melihat cincin pernikahan di jari manis Anindita... hati Zaverio remuk berkeping-keping.

Tapi dia tetap diam. Dia tetap menjaga dari kejauhan. Karena itulah satu-satunya cara dia bisa melindungi Anindita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!