Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
API CEMBURU DI PUNCAK MENOREH
Waktu mengalir seperti air terjun di Padepokan Lingga—dingin, murni, dan tak kenal henti. Sudah sebulan berlalu sejak Tirta menginjakkan kaki di tempat keramat ini. Setiap fajar, sebelum matahari sempat menyapa pucuk-pucuk pohon pinus, Tirta sudah bersila di atas batu besar di tengah sungai yang membeku.
Suara gemuruh air yang menghantam bebatuan menjadi musik latarnya. Ki Ageng Lingga tidak memberinya pedang atau kitab jurus yang rumit. Sebaliknya, ia hanya disuruh diam. Membiarkan air dingin itu membasuh pundaknya, mencoba mencari titik nol di tengah badai ingatan tentang desanya yang hangus.
"Sinar Gadhing itu ibarat rembulan, Tirta," suara Ki Ageng Lingga terdengar lembut di balik kabut pagi. "Ia tidak butuh teriak untuk bersinar. Ia hanya butuh langit yang bersih dari awan hitam. Hati yang jernih adalah langitmu. Jika kau masih menyimpan lumpur kebencian, sinarmu hanya akan menjadi api yang membakar dirimu sendiri sebelum menyentuh musuhmu."
Tirta membuka mata perlahan. Nafasnya teratur, membentuk uap putih di udara dingin. Di tepian sungai, ia melihat sesosok wanita berdiri memperhatikannya. Mayangsari. Wanita itu mengenakan pakaian latihan berwarna biru gelap, rambutnya diikat tinggi, menonjolkan leher jenjang dan tatapan matanya yang setajam elang.
Selama latihan ini, Mayangsari adalah satu-satunya orang yang paling sering berada di sisi Tirta. Mereka sering berlatih tanding di bawah cahaya senja. Awalnya, Tirta begitu kaku, namun lama-kelamaan, ia mulai bisa mengimbangi gerakan Mayangsari yang secepat angin.
"Kau melamun lagi," tegur Mayangsari sambil melemparkan sebuah ranting kayu ke arah Tirta.
Tirta menangkapnya dengan refleks yang mengejutkan. Ia tersenyum tipis—sebuah pemandangan langka. "Aku hanya sedang memikirkan kata-kata Guru. Kedamaian terasa sangat jauh saat kau masih mencium bau asap di setiap mimpimu."
Mayangsari mendekat, duduk di akar pohon besar dekat sungai.
"Dendam itu seperti meminum racun dan berharap musuhmu yang mati. Aku pun pernah merasakannya, Tirta. Tapi lihatlah sekelilingmu... ada hal-hal yang lebih berharga untuk dilindungi daripada sekadar memburu kematian orang lain."
Ada keheningan yang hangat di antara mereka. Tirta menatap Mayangsari, menyadari bahwa di balik ketangguhan wanita itu, tersimpan kelembutan yang selama ini menjadi obat bagi jiwanya yang hancur. Namun, kedekatan itu tak bertahan lama.
"Indah sekali. Sebuah pemandangan yang menyentuh hati... atau mungkin memuakkan?"
Sebuah suara dingin dan angkuh membelah suasana. Dari balik rimbunnya semak, muncul seorang pemuda tegap berbalut jubah sutra hitam dengan sulaman elang perak di pundaknya. Langkah kakinya begitu ringan, hampir tak menyentuh tanah, menandakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi.
Ia adalah Rakapati, pendekar muda jenius dari Perguruan Elang Hitam. Wajahnya tampan namun kaku seperti pahatan es, dan matanya memancarkan rasa tidak suka yang amat besar saat melihat Tirta.
"Rakapati," suara Mayangsari berubah dingin seketika. "Untuk apa kau mendaki puncak ini tanpa izin?"
"Aku tidak butuh izin untuk melihat calon pendampingku," jawab Rakapati dengan senyum sinis. Ia beralih menatap Tirta, dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Jadi, inikah 'harta karun' yang disembunyikan Ki Ageng? Seorang pemuda desa yang baunya masih bau lumpur sawah?"
Tirta berdiri, air sungai masih menetes dari jubah latihannya. Hinaan itu terasa menyengat, membangkitkan harga diri yang selama ini ia tekan.
"Mayangsari tidak butuh penjemput yang tidak punya tata krama," ucap Tirta datar.
Rakapati tertawa mengejek, suaranya menggema di tebing-tebing bukit. "Berani juga kau bicara, Cacing Tanah. Dengar, Mayangsari adalah milik pendekar yang sejajar denganku. Bukan milik pengungsi malang yang bersembunyi di bawah ketiak Ki Ageng Lingga."
"Jaga bicaramu, Rakapati!" bentak Mayangsari, tangannya sudah menyentuh gagang pedang di pinggangnya.
Namun Tirta menahan tangan Mayangsari. "Biar aku yang mengurus ini," bisiknya. Tatapan Tirta berubah. Pupil matanya yang hitam perlahan memancarkan kilau keperakan yang redup namun intens.
"Ayo kita buktikan," tantang Tirta. "Siapa di antara kita yang lebih pantas berdiri di sini."
Tanpa peringatan, Rakapati melesat. Gerakannya adalah jurus Cakar Elang Membelah Langit. Tangannya melengkung tajam, mengincar tenggorokan Tirta dengan kecepatan yang sanggup merobek udara.
Tirta tidak menghindar. Ia menggunakan prinsip air yang diajarkan gurunya. Ia memutar tubuhnya, membiarkan serangan Rakapati lewat hanya seujung rambut dari dadanya. Kemudian, dengan satu gerakan dorongan telapak tangan yang terlihat sangat lambat, Tirta melepaskan sedikit tenaga dalamnya.
BUMMM!
Udara di sekitar mereka bergetar. Rakapati terkejut saat merasakan tekanan udara yang begitu berat menghantam dadanya. Ia terlempar mundur tiga langkah, kakinya meninggalkan jejak dalam di tanah. Wajahnya yang tadi tenang kini memerah karena malu dan marah.
"Kau... bocah sialan!" Rakapati menggeram. Ia hendak merapal jurus pamungkasnya ketika suara dehaman berat terdengar dari arah padepokan. Ki Ageng Lingga berdiri di kejauhan, hanya menatap mereka tanpa bicara, namun auranya cukup untuk meredam niat membunuh Rakapati.
Rakapati merapikan jubahnya yang kotor. Ia menatap Tirta dengan kebencian yang mendalam. "Hari ini kau beruntung karena ada gurumu. Tapi ingat ini, Tirta... badai yang sesungguhnya belum datang. Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku, termasuk Mayangsari."
Setelah Rakapati pergi, suasana kembali sunyi, namun ada sesuatu yang berubah. Tirta menatap telapak tangannya sendiri. Ia merasa takut. Ia menang, tapi ia merasa amarahnya tadi nyaris saja mengambil alih kendali.
Mayangsari mendekat, menyentuh lengan Tirta dengan lembut. "Jangan dengarkan kata-katanya. Kau... kau sudah jauh lebih kuat dari yang kau bayangkan."
Tirta menoleh, menatap mata Mayangsari. Di tengah kemenangan kecil itu, ia menyadari satu hal: musuh terbesarnya bukanlah Rakapati atau Demang Wirya. Musuh terbesarnya adalah api di dalam dadanya sendiri yang sewaktu-waktu bisa membakar segala hal indah yang mulai tumbuh di hidupnya yang baru.