"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: SOSOK DI BALIK BAYANG-BAYANG
Suara pecah laptop dan teriakan histeris Maya di ruang makan masih terngiang, namun kakiku terus melangkah menjauh. Aku menyelinap keluar melalui pintu samping, menuju kegelapan taman belakang yang luas. Udara malam di tahun 2026 ini terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hatiku yang sedang membeku karena ketakutan.
Setiap langkahku di atas rumput basah terasa berat. Aku memegangi perutku, merasakan detak halus di sana. Tunggu sebentar lagi, Nak. Ibu harus tahu siapa yang sedang bermain dengan nyawa kita, bisikku dalam hati.
Gudang tua itu berdiri di pojok lahan, tertutup rimbunnya pohon kamboja yang aromanya menyengat. Pintunya sedikit terbuka, memancarkan cahaya remang-remang dari dalam. Aku mendorong pintu itu dengan tangan gemetar.
"Aku sudah datang. Keluar dan tunjukkan dirimu!" suaraku bergema, mencoba terdengar berani meski lututku lemas.
Seorang pria duduk di atas tumpukan peti kayu, membelakangiku. Dia mengenakan jaket kulit hitam yang usang. Saat dia berbalik, jantungku seolah berhenti berdetak.
"Lama tidak jumpa, Yati... atau haruskah aku memanggilmu Widya sekarang?"
Wajah itu. Luka parut yang melintang di pipi kirinya tidak bisa menghapus ingatanku. "Kak... Kak Surya?"
Dia adalah Surya, kakak kandungku yang dikabarkan meninggal dalam kecelakaan kerja di tambang lima tahun lalu tepat sebulan sebelum aku menikah dengan Stevanus. Kematiannya adalah alasan mengapa aku merasa sendirian dan akhirnya jatuh ke pelukan Stevanus yang pura-pura peduli.
"Kau... kau masih hidup?" air mataku jatuh tanpa tertahan. Rasa sesak luar biasa menghantam dadaku.
"Hidup sebagai mayat berjalan, sama sepertimu," Surya turun dari peti, langkahnya pincang. "Stevanus tidak hanya merampas tanah kita, Yati. Dia yang mengatur kecelakaan tambang itu agar aku 'lenyap' sehingga dia bisa menikahimu dan mengambil alih kuasa atas harta Ayah tanpa gangguan dariku."
Aku ambruk di lantai gudang. Ternyata pengkhianatan Stevanus jauh lebih dalam dari yang kubayangkan. Dia tidak hanya menghancurkanku, dia menghancurkan seluruh keluargaku sejak awal.
"Rekaman itu... Kakak yang mengirimnya?" tanyaku terengah.
"Ya. Aku sudah mengawasi rumah ini dari lubang tikus selama bertahun-tahun. Aku melihat saat dia mendorongmu jatuh. Aku ingin menolongmu malam itu, tapi Aris lebih dulu membawamu," Surya mendekat, matanya berkilat penuh amarah. "Sekarang, dengan rekaman itu, mereka akan saling gigit. Stevanus akan mengira Maya yang mengkhianatinya, dan Maya akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan dirinya."
Aku mendongak, menatap kakakku. "Kenapa Kakak tidak menemuiku lebih awal?"
"Karena aku ingin memastikan kau punya api yang cukup besar untuk membakar rumah ini, Yati. Dan sekarang, kau memilikinya." Surya memberikan sebuah kunci kecil padaku. "Kunci ini untuk laci rahasia di meja kerja Ayah yang sekarang ada di gudang kantor Stevanus. Di sana ada surat wasiat asli yang tidak bisa dipalsukan oleh siapa pun."
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar mendekat ke gudang. Cahaya senter menyinari celah pintu.
"Widya! Kau di sana?!" Itu suara Stevanus. Suaranya terdengar sangat dekat, dipenuhi amarah dan kecurigaan.
"Pergi, Yati! Lewat jendela belakang! Jangan sampai dia melihat kita bersama!" perintah Surya sambil mendorongku.
Aku berlari sekuat tenaga, melompati jendela kecil dan bersembunyi di balik semak-semak tepat saat Stevanus menendang pintu gudang hingga terbuka lebar. Dari tempat persembunyianku, aku bisa melihat Stevanus masuk dengan pistol di tangannya.
Namun, gudang itu kosong. Surya menghilang seperti hantu.
Aku berusaha kembali ke kamarku lewat pintu dapur, mencoba menenangkan diri. Namun, saat aku masuk ke dalam kamar, lampu tiba-tiba menyala. Maya sudah duduk di tepi tempat tidurku, memegang botol obat yang kukenali.
Itu adalah vitamin penguat kandungan yang kusembunyikan di dalam tas.
Maya mengangkat botol itu dengan senyum iblis yang paling mengerikan. "Vitamin untuk ibu hamil? Menarik sekali, Widya. Aku baru saja memeriksa riwayat medis Yati, dan dia keguguran sebelum 'mati'. Jadi, katakan padaku... anak siapa yang sedang kau kandung ini? Atau perlukah aku berteriak agar Stevanus datang dan memeriksanya sendiri dengan kakinya?"
Tangannya sudah memegang gagang pintu, siap memanggil suamiku yang sedang kalap di luar sana.
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...