NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Gila

Langkah kaki Seto dan anak buahnya terdengar semakin dekat, memecah kesunyian taman yang basah. Frans menarik Dona masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu dengan gerakan secepat kilat, dan langsung menginjak pedal gas hingga ban mobil berdecit di atas aspal yang licin.

​Di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit, hanya suara wiper yang bekerja keras menghalau air hujan dari kaca depan. Dona duduk menyamping, menatap Frans dengan senyum kemenangan yang belum pudar.

​"Kita tidak bisa ke apartemenku. Itu tempat pertama yang akan mereka datangi," ujar Frans dengan nada tegang. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih.

​"Bawa aku ke mana saja, Frans. Asal jangan kembali ke rumah Kak Brian," sahut Dona santai, seolah-olah mereka tidak melarikan diri dari pengepungan.

​Frans membelokkan mobil ke arah kawasan industri di pinggiran Jakarta, menuju sebuah gudang logistik milik keluarganya yang sudah lama tidak beroperasi. Ia tahu itu satu-satunya tempat yang tidak ada dalam daftar pantauan keluarga Aditama maupun ayah Lena.

​Setibanya di sana, Frans mematikan mesin. Ia bersandar di kursi pengemudi, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. Ia menoleh ke arah Dona, yang kini tampak sedikit gemetar karena kedinginan. Jaket dan syal yang dipakainya tampak basah.

​"Kenapa Anda harus sejauh ini, Nona?" tanya Frans lembut.

​"Karena kamu pengecut," jawab Dona lirih. Matanya berkaca-kaca, kontras dengan sifat bar-bar yang ia tunjukkan sebelumnya. "Kamu lebih takut pada posisi dan kekuasaan daripada kehilangan aku. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."

​Frans terdiam. Ia meraih tangan Dona, menggenggamnya erat. "Ayah Lena memiliki bukti transaksi gelap yang dilakukan ayah saya sepuluh tahun lalu. Jika pernikahan ini batal, ayah saya akan membusuk di penjara. Ini bukan soal saya tidak mencintai Anda, Nona Dona. Ini soal nyawa dan kehormatan keluarga saya."

​Dona tersentak. Ia tidak menyangka beban yang dipikul Frans seberat itu. Keberaniannya yang tadi meluap-luap seketika berubah menjadi rasa bersalah yang mendalam.

​"Kenapa... kenapa kamu tidak bilang dari awal?" bisik Dona.

​"Karena saya ingin Anda tetap menganggap saya asisten yang pengecut, membosankan dan kaku, agar Anda mudah melupakan saya," balas Frans dengan senyum pahit.

​Dona terdiam sejenak, otaknya yang cerdas mulai bekerja. Ia menghapus air matanya dan menatap Frans dengan tatapan tajam.

​"Kalau begitu, kita tidak bisa bersembunyi" kata Dona tegas. "Kita harus menyerang balik. Jika ayah Lena menggunakan pemerasan untuk mendapatkan menantu, maka kita akan menggunakan skandal untuk menghancurkan kredibilitasnya."

​"Apa maksud Anda?"

​Dona mengambil ponselnya, menunjukkan sebuah folder foto yang ia dapatkan dari seorang informan di New York sebelum ia berangkat ke Jakarta. "Ayah Lena tidak sebersih yang kamu kira. Dia punya hubungan gelap dengan kartel di luar negeri yang juga musuh bisnis keluargaku. Jika aku merilis ini, dia tidak akan punya waktu untuk mengurusi pernikahanmu atau mengancam ayahmu. Dia akan sibuk menyelamatkan lehernya sendiri."

​Frans terpaku. Ia menatap Dona dengan rasa tidak percaya sekaligus kagum. Gadis di depannya ini bukan lagi sekadar Nona Muda yang manja, melainkan seorang Aditama yang sesungguhnya. Licik, berani, dan tak terkalahkan.

​"Tapi risikonya besar, Nona. Jika ini gagal..."

​"Tidak akan gagal," potong Dona. Ia mendekat, membelai pipi Frans yang basah. "Malam ini, aku bukan lagi Nona Muda mu. Malam ini, kita adalah pasangan gila yang akan menghancurkan keserakahan bandot tua itu ."

​Tepat saat itu, ponsel Frans bergetar. Nama 'Lena' muncul di layar. Dona mengambil ponsel itu, lalu dengan gerakan tenang, ia melemparnya ke kursi belakang.

​"Biarkan dia menunggu," ujar Dona. "Sekarang, bantu aku menyusun rencana ini. Besok pagi, Jakarta akan punya berita yang jauh lebih menarik daripada sekadar kudeta pernikahan."

...***...

Suasana di ruang tamu yang luas itu terasa mencekam. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit seolah tak mampu menghangatkan atmosfir dingin yang diciptakan oleh sang pemilik rumah.

​Brian Aditama berdiri tegak dengan kaki kokoh dan kedua tangan bersilang di depan dada. Tatapannya tajam, terkunci pada sosok Arumi yang duduk di sofa beludru di hadapannya. Arumi tampak begitu kecil, kepalanya tertunduk dalam, jemarinya sibuk memilin ujung gaun dengan gelisah hingga keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

​Tak jauh dari mereka, Hendra berdiri dengan raut wajah kaku. Matanya tak lepas dari layar ponsel, jemarinya bergerak cepat memantau koordinat GPS dan jaringan informasi untuk melacak keberadaan Frans.

​"So, my wife..." suara Brian memecah keheningan, berat dan penuh penekanan. "Jelaskan padaku, apa benar kamu yang memberikan nomer frans untuk Dona dan meminta mereka untuk bertemu?"

​Arumi tidak menjawab. Ia hanya bisa menunduk, merasa seolah oksigen di ruangan itu perlahan habis.

​"Sayang," lanjut Brian lagi. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, sebuah senyum miring tersungging di wajah tampannya yang dingin. "Kira-kira... hukuman apa yang paling cocok untukmu karena sudah bermain di belakangku?"

​"Aku... Aku terpaksa, Brian," cicit Arumi akhirnya. Suaranya nyaris hilang, bergetar karena takut. "Aku hanya kasihan melihat mereka. Aku tidak tahan melihat Frans dan Dona tersiksa seperti itu."

​Brian berjalan pelan, langkah sepatunya terdengar seperti detak jam kematian di telinga Arumi. Ia membungkuk, lalu jemari panjangnya mencengkeram dagu Arumi, memaksa istrinya itu untuk mendongak menatap matanya.

​"Kau tahu, Dona itu anak nakal," bisik Brian dengan nada yang sangat rendah namun mengancam. "Sekali kamu memberi umpan, anak bar-bar itu akan semakin gila. Kami ini keluarga Aditama, Arumi. Perlu kau ingat itu baik-baik, sayang."

​Brian mengecup bibir Arumi singkat, lalu mendaratkan sebuah ciuman di puncak kepala istrinya dengan gerakan yang terasa lebih seperti klaim kepemilikan daripada kasih sayang. Setelah itu, ia menegakkan tubuhnya kembali, berubah menjadi sosok pemimpin yang tanpa ampun.

​Ia menoleh ke arah tangan kanannya. "Hendra. Cari sampai ketemu. Bawa Dona ke hadapanku sekarang juga."

​"Baik, Tuan Muda," jawab Hendra sambil membungkuk hormat.

​"Kirim pesan pada Paman Scott," tambah Brian dengan nada datar. "Katakan padanya untuk duduk manis di New York. Biar aku yang mengurus anak gadisnya yang nakal ini dengan caraku sendiri."

​Hendra mengangguk tegas, lalu berbalik pergi diikuti oleh sepuluh bodyguard berbadan tegap yang sudah bersiaga di luar. Deru mobil mereka yang meninggalkan pelataran rumah menjadi pertanda bahwa perburuan besar malam itu telah dimulai.

Di dalam mobil, ia memantau tiga layar sekaligus. Sebagai tangan kanan Brian yang paling taktis, ia tahu persis cara berpikir Frans.

​"Unit 1, tutup akses menuju bandara. Unit 2, pantau apartemen Frans dan kerabat dekatnya," perintah Hendra melalui earphone.

​Salah satu anak buahnya menyahut, "Tuan Hendra, GPS mobil Tuan Frans dimatikan lima kilometer dari Hotel Hipton. Namun, kami menangkap sinyal transmisi radio singkat dari arah pinggiran kota. Sepertinya dia menggunakan jalur lama."

​Hendra menyipitkan mata. Ia teringat sesuatu. "Gudang logistik lama keluarga Frans. Dia pikir tempat itu sudah terlupakan."

​Hendra menyeringai tipis. Ada rasa hormat sekaligus kasihan pada Frans. Ia tahu Frans sedang bertaruh nyawa demi seorang gadis yang memang sulit untuk ditolak. "Arahkan semua unit ke kawasan industri timur. Ingat, jangan ada kekerasan pada Nona Muda Dona. Tapi untuk Frans... Tuan Muda Brian meminta dia dibawa dalam keadaan hidup, meski tidak harus dalam keadaan utuh."

1
Miss Kay
Hai readers, Pernikahan Panas Sang Aktor sedang mempersiapkan season dua. Ceritanya nanti lebih hot and danger. Di tunggu yah... 👍
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
masak udh tamat thor, bagus in, knp tamatnya gantung
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
top
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
in sebenarnya yg lbh kaya siapa ya diantara ke 3 sahabat in, brian, reno, apa juan, harusnya yg kaya raya jadi raja kan brian sang tokoh utama, kok sprtinya dsn yg paling berkuasa si juan, mulai àgak ilfill sm jl critanya, maaf thor sekedar bertanya
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰: jg tamat dl ya soalnya bnr2 buagus
total 2 replies
kal sum
lanjut toorr
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ini kok ceritanya gt juan ya, juan ini sapa ya, terus kelanjutan yg reno gimana ya, kok kd2 bingung, tokoh utama brian dan arumin jg gak ad
Miss Kay
nice
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!