Chen Kai menyaksikan kehancuran Klan Kristal dengan kedua matanya sendiri.Namun pelakunya bukan musuh… melainkan kakaknya sendiri.
Seolah kematian sekali belum cukup, ia dipaksa tenggelam dalam ilusi—menyaksikan pembantaian itu seribu kali, tanpa bisa berteriak, tanpa bisa mati.
Sejak hari itu, hidup Chen Kai hanya memiliki satu tujuan yaitu balas dendam.Ia menapaki jalan berdarah, mengejar bayangan sang kakak,mengasah kebencian sebagai kekuatan untuk bertahan hidup.
Namun, semakin dekat ia pada kebenaran,semakin retak keyakinannya.Karena di balik pembantaian Klan Kristal,tersimpan rahasia yang tak pernah ia bayangkan—sebuah kebenaran yang mungkin akan menghancurkan dendam itu sendiri.
Saat semuanya terungkap…
siapakah sebenarnya yang pantas disebut monster?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Badai Hitam di Gerbang Suci (Part 4)
Melihat salah satu saudara mereka hancur menjadi debu, enam Tetua yang tersisa saling bertukar pandang dengan tatapan yang penuh keputusasaan dan kegilaan. Mereka tahu, dalam pertarungan normal, mereka tidak akan pernah bisa menangkap bayangan maut yang bernama Chen Kai.
"Jika kita harus jatuh, maka kita akan membawanya bersamaku ke lubang terdalam neraka!" teriak Tetua Pemimpin. "Formasi Terlarang: Penghancuran Diri Bintang Jatuh!"
Keenam Tetua itu menusukkan pedang mereka ke jantung mereka sendiri secara bersamaan. Darah suci mereka tidak mengalir ke tanah, melainkan melayang ke udara, menyatu menjadi satu bola api putih raksasa yang mengandung seluruh basis kultivasi dan sisa umur mereka.
Chen Kai berdiri diam, matanya yang hitam tidak berkedip. "Pengorbanan yang sia-sia," gumamnya.
"LEDAKKAN!!!"
Bola api putih itu meledak dengan kekuatan yang setara dengan jatuhnya sebuah meteor kecil tepat di puncak gunung. Cahaya putih menyilaukan menelan seluruh lapangan, menghancurkan sisa-sisa bangunan, dan membuat tanah bergetar hingga ke kaki gunung. Suara ledakan itu begitu dahsyat hingga ribuan murid di kejauhan langsung tuli seketika.
Hening yang mematikan mengikuti ledakan itu. Asap putih tebal menyelimuti segalanya.
Namun, dari dalam kabut asap, terdengar suara langkah kaki yang tenang. Tak. Tak. Tak.
Chen Kai keluar dari kepulan asap dengan kondisi yang mengerikan, namun tetap berdiri tegak. Setengah dari jubah hitamnya telah terbakar habis, memperlihatkan tubuhnya yang kini dipenuhi oleh tato pembuluh darah berwarna biru gelap yang berdenyut. Sebuah perisai kristal hitam berbentuk kepompong yang kini retak seribu berada di belakangnya—ia baru saja menggunakan teknik pertahanan absolut yang hampir merenggut seluruh Qi-nya.
"Hanya itu?" Chen Kai meludah darah hitam ke tanah. Enam Tetua itu kini telah menjadi tumpukan tulang yang hangus.
Tiba-tiba, tekanan udara di seluruh puncak gunung mendadak membeku. Langit yang tadi gelap oleh asap, kini terbelah oleh sebuah kehadiran yang begitu murni namun menindas. Tekanan ini berbeda dari para Tetua; ini adalah tekanan yang berasal dari pemahaman mendalam tentang alam semesta.
Dari dalam Aula Agung yang paling tinggi, seorang pria paruh baya dengan rambut putih panjang yang terurai hingga ke lantai keluar dengan melayang. Ia mengenakan jubah sutra putih tanpa hiasan apa pun, namun kehadirannya membuat ruang di sekitarnya tampak melengkung.
Dia adalah Grandmaster Yun Che, Ketua Sekte Pedang Suci. Seorang legenda yang telah mencapai Ranah Transformasi Esensi Tahap 1.
"Tujuh ratus tahun sekte ini berdiri, dan hari ini aku melihatnya menjadi pemakaman," suara Yun Che terdengar lembut namun bergetar di dalam dada Chen Kai seperti dentuman lonceng besar. "Kau... anak kecil yang penuh dendam... kau telah melangkah terlalu jauh."
Chen Kai merasakan kakinya bergetar. Ranah Transformasi Esensi adalah tingkat di mana seorang kultivator bukan lagi manusia biasa; mereka mulai mengubah tubuh mereka menjadi energi murni. Perbedaan antara Jiwa Sejati dan Transformasi Esensi bagaikan sebutir pasir di hadapan gunung.
"Berikan Cermin Pelacak Langit itu, atau aku akan memastikan tidak ada satu pun batu yang tersisa di gunung ini." tantang Chen Kai, meski ia tahu peluangnya sangat tipis.
Yun Che menghela napas, matanya menatap sedih ke arah mayat-mayat muridnya. "Cermin itu hanya bisa digunakan oleh mereka yang memiliki hati yang murni. Kau... kau hanya akan melihat kegelapanmu sendiri di dalamnya. Tapi, jika itu yang kau cari, maka kau harus melewati mayatku lebih dulu."
Yun Che tidak mencabut pedang. Ia hanya mengangkat jari telunjuknya ke arah langit.
"Seni Surgawi: Pedang Penentu Takdir."
Seketika, cahaya matahari di atas awan berkumpul menjadi satu pedang raksasa sepanjang seratus meter yang terbuat dari cahaya murni. Tanpa gerakan yang berarti, Yun Che mengayunkan jarinya ke bawah.
Chen Kai membelalak. Ia belum pernah melihat kekuatan semacam ini. "Teknik Arus Surgawi: Pembalikan Arus Hitam!"
Chen Kai mencoba membelokkan serangan itu, namun pedang cahaya Yun Che menembus pertahanan kristal hitamnya seolah-olah itu hanya selembar kertas.
BOOOM!
Chen Kai terhempas sejauh ratusan meter, tubuhnya menghantam pilar aula utama hingga hancur. Pedang Iblis Keruntuhan miliknya terlempar jauh, tertancap di tanah.
"Di depan Transformasi Esensi, kristal hitammu hanyalah kotoran di jalanan." ucap Yun Che dingin sambil melayang mendekati Chen Kai yang terkapar.