Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Basecamp Alaxtar
Leo memarkirkan motornya di depan basecamp Alaxtar. Dulu nya tempat itu adalah tempat gudang yang ukurannya tidak begitu besar. Leo meminta pada ayahnya untuk menjadikan tempat gudang itu menjadi basecamp berhubung tempat nya jarang di isi jadi Leo meminta teman-teman nya untuk menyulap tempat itu menjadi tempat berkumpul geng motor mereka. Desain nya pun terlihat rapih dengan warna hitam putih.
“Singa kita sudah datang, guys!” seru Wain sambil membuka pintu, mendengar suara motor Leo yang baru saja parkir di halaman.
“Lah, Singa siapa?” tanya Davin bingung.
“Si Leo lah, siapa lagi!” ketus Wain.
“Anjir… lagian nama orang kok ganti-ganti sih lo!” sahut Davin sambil menggeleng kepala.
“Udah lama kalian di sini?” tanya Leo sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Enggak, cuman Wain yang lama di sini. Gue sama Zayyan baru datang barusan,” sahut Davin sambil rebahan di kasur.
Ruang itu memang cukup luas—terdiri dari lima kamar, satu ruang tamu dengan sofa panjang, meja kaca di depannya, dan tentu saja… guling pisang milik Zayyan. Ya, Zayyan memang pecinta pisang, bukan hanya di kamar, tapi juga wajib ada di ruang tamu. Basecamp ini benar-benar terasa seperti rumah kedua mereka.
“Btw, kalian berdua udah makan belum?” tanya Davin kepada Leo dan Alex sambil mengikuti langkah mereka ke sofa.
Leo dan Alex hanya menggeleng.
“Tuh di meja banyak makanan, bekas kita,” ucap Davin.
“Anjir, sialan lo… yakali bos kita makan bekas anak buahnya,” sahut Wain sambil menyudahi gamenya.
“Masih ada nggak, tuh?” celetuk Alex.
“Tuhhh…” Davin menunjuk ke arah kotak-kotak makanan. Leo dan Alex segera mengambilnya dan membuka kotak itu.
“Enggak ada ayam geprek?” tanya Leo sambil memelas.
“Sisa sayap doang,” sahut Zayyan sambil menaruh pisangnya di meja.
“Yaelah, gue udah nayal makan bagian bokongnya, apalagi kulitnya enak,” gumam Leo.
“Hihhh… lo nggak geli apa makan ayam bagian itu?” komentar Wain sambil bergidik.
“Enak woy! Lo semua harus nyobain,” sahut Leo.
“Enak bagi lo! Daging dada sama bokongnya beda banget rasanya,” ucap Davin sambil tersenyum puas.
“Huekkkk… enggak-enggak!” gumam Wain sambil menahan geli.
“Mendingan dada empuk, kalau bokong kan licin, aneh,” celetuk Zayyan sambil memakan pisangnya.
“Nah, bener kata Zayyan,” ucap Wain sambil mengangguk.
“Udah deh, perkara bokong ayam aja dibuat ribut. Makan dulu, habis ini kita diskusi soal geng Black Tigger,” ucap Alex tegas.
“Eh, yang jadi ketua itu sebenarnya siapa sih, Leo atau Alex?” tanya Zayyan polos.
“Ya menurut lo, cil?” balas Davin sambil menatap Zayyan.
“Tapi kenapa yang selalu mengintruksikan soal rapat selalu Alex? Emang ya, Leo itu nggak berguna banget jadi ketua,” celetuk Zayyan santai.
Mendengar itu, mata Leo melotot seram. “Lo bilang apa sekali lagi?” geramnya.
“Udah, stop! Enggak usah ribut terus!” tahan Alex sambil menahan tawa kecil.
“Iya tuh…” Zayyan tetap santai, tak merasa bersalah sedikit pun, sambil terus mengunyah pisangnya.
Geng Alaxtar memang sudah paham sifat Zayyan—berhadapan dengan sang bungsu, kesabaran memang wajib dijaga.
...---------------...
Akhirnya Mereka memulai makananya, Leo, Alex, Wain, Davin, makan nasi goreng telur, sedangkan Zayyan sibuk memakan buah pisang. Biasanya sebelum memulai obrolan, mereka menetralan makanan terlebih dulu.
Setelah 15 menit mereka makan akhirnya selesai. merekapun kembali membahas soal obrolan yang tadi sempat terhenti.
"Tadi lo mau ngomong soal apa? " tanya Leo dengan wajah yang serius.
"Gue ketemu sama Alfino abis nge jemput lo tadi,” Ucap Alex,
"Mereka menghadang gue pas di gang sepi, gue gugup dong, mereka berenam dan gue cuman seorang" sambungnya lagi dengan mata melebar.
"Terus gimana? Lo enggak di apa-apain sama mereka ? " tanya Zayyan, jujur saja ia terkejut.
"Pertanyaan lo ambigu banget. " Sahut davin kesal.
"Ya, maksud gue kan enggak mungkin mereka menghadang lo aja ?" Ucap Zayyan meralat.
"Dia ngomong apa aja, Lex? " tanya leo.
"Dia ngancem. Katanya kalau Leo tetap enggak nerima Balapan nanti malam, kita bakal celaka. "
"Ckkk... emang kurang ajar tuh orang, kurang kerjaan. " decak Wain mulai kesal.
"Jadi gimana? " tanya Davin.
Merekapun fokus dengan pikirannya masing-masing.
"Oke, bilangin sama dia nanti malam gue tunggu jam 10 malam di lintasan balap." ucap Leo.
"Serius lo? " tanya Davin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
PRANGG!!!
"ALLAHU AKBAR! "
"ASTAGA NAGA! "
"Siapa tuh? "
Leo bangkit dari duduknya Alex yang melihat Leo langsung mencekal lengannya.
"Hati-hati, bisa aja ada batu susulan. " ucap Alex kepada Leo.
"Kaya gempa njir, " gumam Wain.
Dengan hati-hati, Leo membuka pintu ruangan itu. Jalanan gerimis, halaman sekitar sunyi, hanya tersedia pemandangan kendaraan dan mobil berlalu lalang di jalan raya.
"Siapa sih? " gumam Leo.
"Woy!!! Batunya ada surat ! " teriak Leo kepada teman-teman nya.
Leo menoleh pada alex yang baru saja memungut batu berukuran genggaman anak kecil. Leo pun mendekat ke arah mereka.
"Coba buka." pinta Davin.
"Bentar, pake plester njir, ini orang pasti kebanyakan nonton film, " gerutu Leo sambil membuka kertas itu.
Mereka semua mendekatkan diri pada Leo untuk turut membaca surat misterius itu. Alex mengambil alih surat itu dan membukanya lebar-lebar agar semua temannya bisa melihat.
Dear, pecundang
Gue tunggu malem ini di sirkuit balap, kalau ketua lo masih nolak bakal gue akui bahwa ketua lo itu memang banci !!!
"Nggak salah lagi ini ulah Alfino, "timpal Alex geram sambil meremas kertas itu.