NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Pertemuan Pertama dengan Mertua

Ayuna berjalan turun dengan langkah sedikit kaku, tangannya masih digenggam Renan. Telapak tangan pria itu hangat, tapi jantungnya justru berdegup makin cepat. Ia merasa gugup, bukan karena takut, melainkan karena semua yang terjadi hari ini terlalu cepat untuk dicerna.

Ia bahkan belum sempat menenangkan diri, sekarang sudah harus berhadapan dengan orang tua Renan.

Begitu mereka duduk di meja makan, pandangan ketiga orang yang duduk di meja makan langsung tertuju padanya. Ayuna refleks meluruskan punggung, menahan rasa canggung yang naik ke tenggorokan.

Papa Herman dan Mama Reni menatap gadis yang berdiri di samping putra mereka. Keduanya sama-sama menarik napas pelan.

Apakah Renan benar-benar sedang mendapatkan rejeki nomplok? Pikir Papa Herman dan Mama Reni.

Anak itu memang sejak dulu menyukai wajah-wajah cantik.

Ayuna mengenakan gaun yang dipilihkan Renan untuknya. Potongannya sederhana namun elegan, mempertegas lekuk tubuhnya yang lembut. Kulitnya yang putih bersih terlihat semakin menonjol di bawah cahaya lampu ruang makan, seolah memantulkan sinar halus.

Ia tampak anggun, tenang… dan terlalu cantik untuk diabaikan.

“Halo, Om dan Tante. Halo, Pak Revan,” ucap Ayuna pelan. Suaranya sedikit bergetar, tapi ia tetap berusaha tersenyum.

“Kamu cantik sekali,” kata Mama Reni tanpa sadar. Ia lalu terdiam sejenak. “Nama kamu siapa, ya...?”

“Ayuna,” jawab Renan sebelum gadis itu sempat membuka mulut. Nada suaranya tegas, tanpa ragu. “Istriku.”

Pelipis Papa Herman berdenyut. Kepalanya terasa pusing hanya dengan mendengarnya. Namun, ia menahan diri dan tidak menunjukkan ketidaksenangannya di depan menantu barunya.

Ayuna menunduk, jantungnya berdebar tak karuan. Ia tahu, sejak kata itu diucapkan, tidak ada jalan mundur.

Papa Herman menghela napas pelan. “Duduklah. Kita makan dulu,” katanya akhirnya. “Mulai sekarang, kamu adalah bagian dari keluarga ini.”

Ucapan itu sederhana, tapi cukup membuat dada Ayuna terasa hangat dan sesak sekaligus.

Apakah ini artinya keluarga Renan menerimanya sebagai menantu? Batin Ayuna.

“Kami tidak sempat menyiapkan apa-apa karena semuanya mendadak,” ujar Mama Reni sambil memberi isyarat pada pelayan. “Bibi Meli.”

Bibi Meli yang dipanggil meletakkan sebuah amplop putih di depan Ayuna.

“Ini dari Papa dan Mama. Ambillah.”

Ayuna menatap amplop itu dengan ragu.

“Terima kasih, Tante… tapi aku tidak enak menerimanya.”

Ia berkata jujur. Bukan berpura-pura menolak.

Justru itu yang membuat Mama Reni terdiam sejenak.

Hatinya sedikit mencelos, apakah gadis ini tidak menyukai putranya?

“Kamu anak yang baik,” katanya pelan sambil mendorong amplop itu ke tangan Ayuna. “Terimalah. Mulai sekarang, kamu putriku juga.”

Tak lama kemudian, Bibi Meli kembali membawa sebuah nampan kecil. Di atasnya terletak sebuah gelang giok berwarna hijau bening.

Giok itu berbentuk bulat sempurna, permukaannya halus dan berkilau. Warna hijaunya pekat dan jernih, memancarkan kesan mewah tanpa berlebihan.

Saat Mama Reni mengangkatnya, giok itu terasa dingin di jari, lalu perlahan menghangat.

“Ini hadiah pernikahan,” kata Mama Reni sambil mengambilnya. “Calon istri Revan nanti juga akan mendapatkannya.” Ia memasangkan gelang itu ke pergelangan tangan Ayuna.

Giok bening itu tampak sangat serasi dengan kulitnya yang cerah, seolah memang dibuat khusus untuknya.

Ia lalu menatap Ayuna dengan penuh arti.

“Renan sangat menyukaimu. Kami harap kamu mau memberinya kesempatan.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih lembut. “Renan memang keras kepala. Kalau suatu hari dia menyusahkanmu ceritakan pada kami.”

“Atau bilang saja pada Revan. Kami tidak akan tinggal diam.”

Apakah ini benar-benar tanda penerimaan, atau hanya formalitas keluarga kaya?

Gelang giok itu terasa dingin di kulit Ayuna.

Ia menatapnya sejenak, lalu mengangkat kepala.

Entah mengapa melihat wajah orang tua dan kakak Renan, Ayuna merasa mereka berbeda dari keluarga kaya yang dia bayangkan.

*****

Mama Reni ternyata cukup menyukai gadis ini.

Terlebih lagi karena putranya menyukainya. Jika Renan sudah memilih, maka ia tak keberatan memberikan kasih sayang yang sama.

Memang, latar belakang keluarganya tidak istimewa. Namun keluarga Morris tidak pernah membutuhkan pernikahan sebagai alat perjodohan atau kepentingan bisnis.

Mereka tidak kekurangan apa pun.

Karena itu, selama putranya bahagia, baginya sudah cukup.

Ayuna terkejut saat mendengar sikap dan kata-kata Mama Reni.

Apakah… beliau benar-benar menerimanya?

Hari ini terlalu banyak hal terjadi. Kepalanya masih terasa ringan, seolah semua ini hanya mimpi yang bisa hilang kapan saja.

“Karena pertemuan kita terlalu mendadak, saya belum sempat menyiapkan hadiah,” ujar Mama Reni dengan nada santai. “Ini salah Renan.”

Ia tersenyum tipis, lalu melanjutkan, “Besok saya akan mengurus pengalihan satu properti dan sebuah mobil atas namamu. Anggap saja hadiah perkenalan dari kami.”

Ayuna tertegun.

“Itu… terlalu berlebihan, Tante.”

“Terimalah,” potong Renan dengan tenang. “Kalau kamu sudah menerimanya, berarti panggilanmu ke mereka juga harus berubah.”

Nada suaranya datar, tapi sudut matanya sedikit melengkung.

Ayuna meliriknya.

Ia… tersenyum?

Apakah Renan benar-benar senang menikah dengannya?

“Papa… Mama… Kakak,” ucap Ayuna akhirnya.

Suaranya lembut, jernih, seperti aliran air yang perlahan menenangkan suasana.

Ketiganya mengangguk hampir bersamaan.

Bagaimanapun juga, Ayuna kini adalah istri Renan.

Dan jika sudah menikah, maka yang terpenting adalah menjalani hidup dengan baik.

“Papa dan Mama akan mengurus persiapan pesta pernikahan kalian,” kata Mama Reni. “Kamu dan Renan hanya perlu hadir. Besok Mama akan memilihkan tanggal yang baik.”

"Terserah Mama. Kami akan menurut." Renan tidak

menolak.

“Mari makan.” Imbuhnya.

Ia mengambil sendok lebih dulu dan meletakkan sepotong ikan ke piring Ayuna.

“Terima kasih,” ucap Ayuna pelan.

Baru saat itu ia menyadari, semua hidangan di meja adalah makanan yang ia sukai. Ia sedikit terkejut, namun tidak terlalu memikirkannya.

Lagipula, Renan bahkan tidak tahu bahwa ia alergi terhadap udang. Tidak mungkin ia juga mengingat seleranya.

Namun tiba-tiba, Mama Reni bersuara, “Bibi Meli, bukankah hari ini ada udang laut segar yang dikirim lewat udara? Kenapa tidak dimasak? Udang seharusnya dimakan selagi segar.”

“Begini, Nyonya,” jawab Bibi Meli dengan hormat. “Tuan Muda Kedua bilang Nyonya Muda Kedua alergi terhadap udang, jadi saya tidak memasaknya. Tapi saya sudah menyiapkan sup udang khusus untuk Anda dan Tuan.”

Setelah itu, Bibi Meli pergi ke dapur.

Meja makan mendadak hening.

Semua mata tertuju pada Renan.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Temanya memang itu 😊
total 3 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!